Tampilkan postingan dengan label Tasawuf Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Keutamaan Hizib Bahar (Diijazahkan Untuk Umum)

Oleh:

Syekh Mursyid As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
(Syekh Mursyid Beberapa Tarekat & Mufti Besar Kesultanan Palembang Darussalam)

As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh.

Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut : Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh. Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam. Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam. Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun. Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya. Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi. Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thariqah syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.


Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :


1. Surat Al Maaidah ayat 56 :


وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ


“Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang”.


2. Surat Al Kahfi ayat 12 :


ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا


“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu”


3. Surat Ar Ruum ayat 32 :


مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ


“dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka”


4. Surat Al Fathiir ayat 6 :


إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ


“Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”.


5. Surat Al Mujaadalah ayat 19 :


اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ


“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi”.


6. Surat Mujadalaah ayat 22 :


لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung”.


Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).


Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri. Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.


Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swty. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw. Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”. Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”. Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili: 1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya. 2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga : pertama, karena berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristiqhfar. Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah swt. sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik kembali oleh Allah swt. Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membikin Allah swt. untuk mengujimu.Kalau Allah swt. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi. Memang masih berada di bawah awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling darh dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah swt. dan tidak bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya. SEJARAH HIZIB BAHR Hizb al-bahr ini adalah hizib yang termasyhur disamping dua hizib lagi iaitu hizib an-Nawawi dan Ratib Hadad. Ketiga-tiga ini adalah milik wali-wali Qutub. Wali Qutub ialah ketua para wali atau pusat para wali di dunia ini pada zamannya. Yang mana mereka ini adalah orang yang amat bertakwa kepada Allah secara zahir dan batin. Tujuan asal amalan hizib-hizib adalah untuk membawa diri seseorang itu menjadi dekat dengan Allah S.W.T. Dalam arti kata lain, Mengharapkan redha Allah dalam mengamalkannya disamping melakukan amalan-amalan wajib seperti solat fardu, puasa, mengeluarkan zakat, jauhi maksiat dan sebagainya. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut. Terdapat banyak keistimewaan @ kelebihan @ fadhilat bagi sesiapa yang mengamalkankan hizib-hizib ini. Antaranya mendapat redha Allah, sentiasa dalam keadaan hati yang tenang, terpelihara dari hasad dengki khianat orang, terpelihara dari gangguan jin, syaitan serta iblis dan sebagainya. Apapun kelebihan-kelebihan yang ada itu adalah kurniaan Allah kepada hamba yang diredhainya, maka kita sebagai hamba Allah hendaklah mengikhlaskan niat terhadap apa jua amalan yang dilakukan. Berkenaan kelebihan-kelebihan itu kita serahkan kepada Allah dan jangan mengharapkannya. Kerana setiap musihabah yang berlaku keatas kita terkadang ada hikmah disebaliknya dan terkadang menjadi kaffarah (balasan untuk menghapus dosa) atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, cukuplah yang penting kita mengamalkannya hanya mencari redha Allah S.W.T. Kembali kepada Hizb al-Bahr, hizib inilah yang al-Imam selalu berwasiat kepada anak-anak muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Kerana di dalamnya mengandungi al-Ismul A’dzam (nama Allah yang Maha Agung). Hizb ini diajarkan oleh Rasulallah S.A.W melalui mimpi Imam Abu Hasan asy-Syazili sewaktu beliau berdukacita di tengah-tengah Laut Merah. Diceritakan, suatu hari Al-Imam ingin pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan fardu haji melalui jalan laut. Kapten kapalnya itu seorang nasrani (kristian). Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba angin tidak lagi bertiup, ini membuatkan kapal yang al-Imam naiki tidak boleh berlayar. Bukan setakat sehari, malah berhari-hari. Semua awak-awak kapal menjadi gelisah dan berdukacita. Dalam kegelisahan inilah, Imam Abu Hasan asy-Syazili bermimpi bertemu Rasulullah S.A.W. Baginda S.A.W mengajarkan al-Imam akan hizib ini. Apabila tiba waktu siang, al-Imam menyuruh kapten kapal itu bersiap-siap untuk berlayar. Dan ini menyebabkan kapten kapal itu kehairanan, lalu bertanya. Kapten kapal : “Mana Anginnya, tuan?”. Jawab al-Imam : ” Sudah! siap-siap, sekarang angin datang!”. Dengan Izin Allah S.W.T beberapa saat kemudian angin pun datang. Oleh kerana peristiwa yang luar biasa ini, kapten kapal yang seorang nasrani itu pun memeluk Islam. Masya Allah.Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :

Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :

Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari AllahMampu menggantikan Wali Qutub yang lain.Mampu membantu malaikat memikul Arsy.Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin.

Bacaan Hizib Bahar:

حزب البحرللشاذلي رضي الله عنه(بسم الله الرحمن الرحيم)اللهم يا علي يا عظيم يا حليم يا عليم أنت ربي، وعلمك حسبي فنعم الرب ربي ونعم الحسب حسبي تنصر من تشاء وأنت العزيز الرحيم، نسألك العصمة في الحركات والسكنات والكلمات والإرادات والخطرات من الشكوك والظنون والأوهام الساترة للقلوب عن مطالعة الغيوب فقد ابتلي المؤمنون وزلزلوا زلزالا شديدا....وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلا غُرُوراً..فثبتنا وانصرنا وسخر لنا هذا البحر كما سخرت البحر لموسي عليه السلام وسخرت النار لإبراهيم عليه السلام، وسخرت الجبال والحديد لداوود عليه السلام، وسخرت الريح والشياطين والجن لسليمان عليه السلام، وسخر لنا كل بحر هو لك في الأرض والسماء والملك والملكوت وبحر الدنيا وبحر الآخرة، وسخر لنا كل شيء، يا من بيده ملكوت كل شيءكهيعص (ثلاثا) انصرنا فإنك خير الناصرين، وافتح لنا فإنك خير الفاتحين وأغفر لنا فانك خير الغافرين وارزقنا فإنك خير الرازقين واهدنا ونجنا من القوم الظالمين، وهب لنا ريحا طيبة كما هي في علمك، وانشرها علينا من خزائن رحمتك، واحملنا بها حمل الكرامة مع السلامة والعافية في الدين والدنيا والآخرة إنك على كل شيء قدير.(اللهم)... يسر لنا أمورنا مع الراحة لقلوبنا وأبداننا والسلامة والعافية في ديننا ودنيانا وآخرتنا وكن لنا صاحبا في سفرنا وخليفة في أهلنا واطمس علي وجوه أعدائنا وأمسخهم على مكانتهم فلا يستطيعون المضي ولا المجئ إلينا. .وَلَوْ نَشَاء لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ..وَلَوْ نَشَاء لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيّاً وَلا يَرْجِعُونَ..يس..وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ. إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ.عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ.تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ. لِتُنذِرَ قَوْماً مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ.لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ.إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلاَلاً فَهِيَ إِلَى الأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ.وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدّاً وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدّاً فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ....شاهت الوجوه.................... (ثلاثا).وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْماً....طس..طسم..حم..عسق.. مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ....بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ..حم..حم.. حم ..حم ..حم.. حم ..حم.......حم الأمر وجاء النصر فعلينا لا ينصرون، .حم.تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ.غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ....بسم الله بابنا....تبارك حيطاننا...يس سقفنا....كهيعص كفايتنا....حم..عسق.حمايتنا. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.. (ثلاثا) سترالعرش مسبول علينا وعين الله ناظرة إلينا بحول الله لا يقدر علينا.. وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ.. بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ.فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ.فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.إِنَّ وَلِيِّيَ اللّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ.فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ. بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم ..... ( ثلاثا )ولا حول ولا قوة إلا بالله العلى العظيم ) ......( ثلاثا)


وصلي الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين ...نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ.هُوَ الاوَّلُ وَالاخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ. نعم المولى ونعم النصير. غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِير


Jumat, 20 September 2013

Nama-Nama Thariqah Seluruh Dunia (Sesuai Urutan Abjad)

Tulisan ini bersumber dari:

Kitab Ensiklopedi Thariqah Mu'tabarah Se-Dunia
Karya: Syekh Mursyid Habib Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

  1. Thariqah Mu'tabarah Abu Madyan
  2. Thariqah Mu'tabarah Adawaiyyah
  3. Thariqah Mu'tabarah Ahadiyyah
  4. Thariqah Mu'tabarah Ahmadiyyah (Bukan organisasi Ahmadiyyah Qadiyani atau Lahore)
  5. Thariqah Mu'tabarah Akbariyyah
  6. Thariqah Mu'tabarah Akmaliyyah
  7. Thariqah Mu'tabarah Alawiyyah
  8. Thariqah Mu'tabarah 'Aliyyah
  9. Thariqah Mu'tabarah Alwaniyyah
  10. Thariqah Mu'tabarah Ammariyyah
  11. Thariqah Mu'tabarah Anbiya Mursalin
  12. Thariqah Mu'tabarah Aqqadiyyah
  13. Thariqah Mu'tabarah Aqqadiyyah Syadziliyyah
  14. Thariqah Mu'tabarah Arqamiyyah (bukan organisasi Darul Arqam yang dulu pernah ada di Malaysia)
  15. Thariqah Mu'tabarah Asyaqiyyah
  16. Thariqah Mu'tabarah Asyrafiyyah
  17. Thariqah Mu'tabarah Asyratul Kiram
  18. Thariqah Mu'tabarah Attariyyah
  19. Thariqah Mu'tabarah Aufiyyah
  20. Thariqah Mu'tabarah Aufiyyah Arqamiyyah Nabawiyyah
  21. Thariqah Mu'tabarah A'zhamiyyah
  22. Thariqah Mu'tabarah Azmatkhaniyyah
  23. Thariqah Mu'tabarah Azmiyyah
  24. Thariqah Mu'tabarah Badariyyah
  25. Thariqah Mu'tabarah Badariyyah Qadiriyyah
  26. Thariqah Mu'tabarah Badawiyyah
  27. Thariqah Mu'tabarah Bakariyyah
  28. Thariqah Mu'tabarah Baktasyiyyah
  29. Thariqah Mu'tabarah Baqliyyah
  30. Thariqah Mu'tabarah Barzanjiyyah
  31. Thariqah Mu'tabarah Budsiyyah
  32. Thariqah Mu'tabarah Bunniyyah
  33. Thariqah Mu'tabarah Burhamiyyah
  34. Thariqah Mu'tabarah Burhaniyyah
  35. Thariqah Mu'tabarah Burhaniyyah Dasuqiyyah
  36. Thariqah Mu'tabarah Burhaniyyah Dasuqiyyah Syadziliyyah
  37. Thariqah Mu'tabarah Busthamiyyah
  38. Thariqah Mu'tabarah Darqawiyyah
  39. Thariqah Mu'tabarah Darqawiyyah Ar-Rusiyyah
  40. Thariqah Mu'tabarah Darqawiyyah Ar-Rusiyyah Al-Hasaniyyah
  41. Thariqah Mu'tabarah Dasuqiyyah
  42. Thariqah Mu'tabarah Fasiyyah
  43. Thariqah Mu'tabarah Fathimiyyah
  44. Thariqah Mu'tabarah Ghazaliyyah
  45. Thariqah Mu'tabarah Haqqiyyah
  46. Thariqah Mu'tabarah Harawiyyah
  47. Thariqah Mu'tabarah Hasaniyyah
  48. Thariqah Mu'tabarah Hashofiyyah
  49. Thariqah Mu'tabarah Husainiyyah
  50. Thariqah Mu'tabarah Ibnu Ajibah
  51. Thariqah Mu'tabarah Idrisiyyah
  52. Thariqah Mu'tabarah Imdadiyyah
  53. Thariqah Mu'tabarah Isawiyyah
  54. Thariqah Mu'tabarah Isawiyyah Qawiqaziyyah
  55. Thariqah Mu'tabarah Isawiyyah Qawiqaziyyah Syadziliyyah
  56. Thariqah Mu'tabarah Ja'fariyyah Sunniyyah (Bukan bagian dari Syi'ah Ja'fariyyah, karena Syiah anti Tarekat)
  57. Thariqah Mu'tabarah Jarullah
  58. Thariqah Mu'tabarah Jauziyyah
  59. Thariqah Mu'tabarah Jazuliyyah
  60. Thariqah Mu'tabarah Jistiyyah
  61. Thariqah Mu'tabarah Junaidiyyah
  62. Thariqah Mu'tabarah Kalabadiyyah
  63. Thariqah Mu'tabarah Kaznazaniyyah
  64. Thariqah Mu'tabarah Khalwatiyyah
  65. Thariqah Mu'tabarah Khatmiyyah
  66. Thariqah Mu'tabarah Khaznawiyyah
  67. Thariqah Mu'tabarah Khidiriyyah
  68. Thariqah Mu'tabarah Khaliliyyah
  69. Thariqah Mu'tabarah Khuzwiriyyah
  70. Thariqah Mu'tabarah Kubrawiyyah
  71. Thariqah Mu'tabarah Madaniyyah
  72. Thariqah Mu'tabarah Maghribiyyah
  73. Thariqah Mu'tabarah Mahdiyyah
  74. Thariqah Mu'tabarah Makkiyyah
  75. Thariqah Mu'tabarah Malamatiyyah
  76. Thariqah Mu'tabarah Maqdisiyyah
  77. Thariqah Mu'tabarah Masyisyiyyah
  78. Thariqah Mu'tabarah Maulawiyyah
  79. Thariqah Mu'tabarah Mawardiyyah
  80. Thariqah Mu'tabarah Mirghiniyyah
  81. Thariqah Mu'tabarah Mirghiniyyah Khatmiyyah
  82. Thariqah Mu'tabarah Muhammadiyyah (Bukan organisasi Muhammadiyyah)
  83. Thariqah Mu'tabarah Muhammadiyyah Syadziliyyah
  84. Thariqah Mu'tabarah Muhasibiyyah
  85. Thariqah Mu'tabarah Nabawiyyah
  86. Thariqah Mu'tabarah Naffariyyah
  87. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah
  88. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah 'Aliyyah
  89. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah Kabbaniyyah
  90. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah Khalidiyyah
  91. Thariqah Mu'tabarah Nawawiyyah
  92. Thariqah Mu'tabarah Nikmatullahi
  93. Thariqah Mu'tabarah Nur Muhammadiyyah
  94. Thariqah Mu'tabarah Qadhiyyah
  95. Thariqah Mu'tabarah Qadhiyyah Hashofiyyah
  96. Thariqah Mu'tabarah Qadhiyyah Hashofiyyah Syadziliyyah
  97. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah
  98. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Budsiyyah
  99. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Naqsabandiyyah
  100. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Naqsabandiyyah Shodiqiyyah
  101. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Rasyidiyyah
  102. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Walisongo
  103. Thariqah Mu'tabarah Qawiqaziyyah
  104. Thariqah Mu'tabarah Quraibiyyah
  105. Thariqah Mu'tabarah Quraniyyah
  106. Thariqah Mu'tabarah Qurtubiyyah
  107. Thariqah Mu'tabarah Qusyairiyyah
  108. Thariqah Mu'tabarah Qutubiyyah
  109. Thariqah Mu'tabarah Qutbul Aqtab
  110. Thariqah Mu'tabarah Rahmaniyyah
  111. Thariqah Mu'tabarah Rasyidiyyah
  112. Thariqah Mu'tabarah Rifaiyyah
  113. Thariqah Mu'tabarah Russiyyah
  114. Thariqah Mu'tabarah Sakandariyyah
  115. Thariqah Mu'tabarah Samaniyyah
  116. Thariqah Mu'tabarah Samarqandiyyah
  117. Thariqah Mu'tabarah Sanusiyyah
  118. Thariqah Mu'tabarah Syaththoriyyah
  119. Thariqah Mu'tabarah Sawirisiyyah
  120. Thariqah Mu'tabarah Shiddiqiyyah
  121. Thariqah Mu'tabarah Shiddiqiyyah Syadziliyyah
  122. Thariqah Mu'tabarah Shobiriyyah
  123. Thariqah Mu'tabarah Shodiqiyyah
  124. Thariqah Mu'tabarah Suhrawardiyyah
  125. Thariqah Mu'tabarah Sulamiyyah
  126. Thariqah Mu'tabarah Suyuthiyyah
  127. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah
  128. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Darqawiyyah
  129. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Darqawiyyah Alawiyyah
  130. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Darqawiyyah Habibiyyah
  131. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Walisongo
  132. Thariqah Mu'tabarah Syaikhiyyah
  133. Thariqah Mu'tabarah Sya'raniyyah
  134. Thariqah Mu'tabarah Syaukaniyyah
  135. Thariqah Mu'tabarah Sirhindiyyah
  136. Thariqah Mu'tabarah Tijaniyyah
  137. Thariqah Mu'tabarah Tirmidziyyah
  138. Thariqah Mu'tabarah Tustariyyah
  139. Thariqah Mu'tabarah Ulwaniyyah
  140. Thariqah Mu'tabarah Wahidiyyah
  141. Thariqah Mu'tabarah Walisongo
  142. Thariqah Mu'tabarah Walisuci
  143. Thariqah Mu'tabarah Wizaniyyah
  144. Thariqah Mu'tabarah Yahyawiyyah