Rabu, 21 Agustus 2013

Majapahit Runtuh Bukan Karena Kesultanan Demak (Menjawab Tuduhan Terhadap Raden Fattah)

oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan 


Runtuhnya Kerajaan Majapahit, sampai saat ini ternyata banyak fihak yang menyesalinya. Tidak terkecuali umat Islam sendiri. Seolah olah dengan runtuhnya Kerajaan yang besar ini akan timbul Kiamat. Keruntuhan Majapahit sering digambarkan sebagai sebuah tragedi peradaban di Nusantara, dan kambing hitam dari runtuhnya Kerajaan yang besar ini adalah islam. Begitu melankolisnya kisah kerajaan ini, kisah kerajaan yang satu ini telah banyak dibuat dalam bentuk, kidung, babad atau serat yang isinya menceritakan kebesaran Majapahit. Tentu dalam penulisan itu banyak unsur unsur yang berpengaruh, termasuk sisi subyektifitasnya, dan itu terbukti!. Dari sekian babad atau serat serat yang beredar, banyak isinya lebih mengagungkan Majapahit ketimbang Islam, dalam hal ini diwakili Kesultanan Demak. Dan yang paling menjadi sasaran bahasa "kemarahan" dari orang orang yang mencintai kerajaan ini adalah keluarga besar walisongo lebih khusus lagi Raden Fattah.

Sampai saat ini tokoh Raden Fattah sering dianggap sebagai biang keladi runtuhya majapahit, terutama ketika terjadinya penyerangan terhadap Majapahit tahun 1478 Masehi, sehingga menyebabkan Hancurnya Majapahit. Dengan adanya cerita pada tahun 1478 ini, beberapa orang menuduh Raden Fattah sebagai sumber perpecahan dan runtuhnya Majapahit. Permadi, salah seorang Paranormal yang kini menjadi anggota DPR fraksi Gerindra bahkan pernah mengatakan bahwa gara-gara Raden Fattah, negara ini sering kena bencana, dan Raden Fattah haruslah tanggung jawab atas bencana bencana selama ini karena telah meruntuhkan majapahit. Manusia aneh!!! kesalahan bencana hanya ditujukan pada satu orang, manusia aneh....... Statement dari Permadi yang sering mengaku sebagai Penyambung lidah Bung Karno ini ketika itu langsung dibantah keras oleh KH SLAMET EFFENDI YUSUF yang juga keturunan Raden Fattah. Bahkan KH Slamet effendi yusuf mengancam akan mempidanakan Permadi jika pernyataannya tersebut tidak ditarik. Permadi ini aneh, menghina Raden Fattah tapi dia tidak sadar jika orang orang yang sering dia puji justru banyak keturunan Raden Fattah.

Kebencian terhadap sosok Raden Fattah ini memang sangat luar biasa. Diberbagai tulisan dan beberapa forum sosok yang satu ini sering menjadi sasaran kemarahan bahkan menjadi olok-olok. Dari mulai ayahnya, ibunya, sejarahnya, semua hampir dibuat "aneh". Dan Hal yang paling sering diangkat adalah, bahwa Raden Fattah melalui kesultanan Demak telah menghancurkan dan meruntuhkan kejayaan majapahit, padahal ia adalah "anak" dari Brawijaya 5. Tidak hanya ini saja, perseteruan antara Raden fattah dengan Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging bahkan sering dikatakan sebagai sikap otoriter dan diktatornya seorang Raden Fattah.

Benarkah pernyataan pernyataan itu??? Benarkah Raden Fattah yang meruntuhkan Majapahit terutama pada tahun 1478 Masehi ??? benarkah Raden fattah diktator terhadap Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging? 

Berdasarkan penyelusuran yang saya lakukan diberbagai tulisan, ternyata pada tahun 1478 itu yang menyerang Majapahit Era Brawijaya 5 adalah Dyah Ranawijaya alias Girindrawardhana seperti yang saya kutif dari buku Umar Hasyim dalam buku Biografi Sunan Giri yang mana Umar juga mengambil pernyataan Prof. Dr. N. J. Krom dalam buku “Javaansche Geschiedenis” yang menolak anggapan bahwa pihak yang telah menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V (Kertabhumi) adalah Demak, menurut Prof. Krom serangan yang dianggap menewaskan Prabu Brawijaya V tersebut dilakukan oleh Prabu Girindrawardhana. Demikian juga Prof. Moh. Yamin dalam buku “Gajah Mada” menjelaskan bahwa raja Kertabhumi atau Brawijaya V tewas dalam keraton yang diserang oleh Prabu Rana Wijaya dari Keling atau Kediri. Dyah Rana Wijaya yang dimaksud adalah nama lain dari Prabu Girindrawardhana.

Penyerangan yang dilakukan Dyah Ranawijaya atau Girindrawardana ini perlu diangkat dengan jelas dan terang benderang agar tuduhan terhadap Raden Fattah bisa diklarifikasi, karena akibat penyerangan ini, menyebabkan hilang dan runtuhnya Majapahit disamping faktor faktor lain. Fakta ini harus dikemukakan dengan jelas karena sejarah yang tertera selama kambing hitam dari penyerangan itu justru ditujukan kepada Raden Fattah.

Lantas kalau Raden Fattah tidak menyerang pada tahun 1478, kapankah terjadinya peperangan antara Raden Fattah dengan Majapahit? dan apa motifnya?

Berdasarkan kronologis sejarah yang telah saya pelajari, ternyata pasca penyerangan Dyah Ranawijaya terhadap Brawijaya 5 ditahun 1478 Masehi, dia kemudian mengangkat diri menjadi raja Majapahit dengan gelar Brawijaya VI atau GIRINDRAWARDHANA. Dyah ranawijaya ini ternyata juga menantu Brawijaya 5. Jadi dapat dikatakan dia ini berkhianat sama mertuanya, Kemungkinan adanya penyerangan dari Dyah Ranawijaya ini karena Brawijaya 5 terlalu pro terhadap perkembangan islam, dan walisongo sehingga dengan sikapnya brawijaya 5 itu bisa dianggap melemahkan majapahit. Dyah Ranawijaya ini kemudian memindahkan ibukota majapahit dari Mojokerto ke kediri. Namun pemerintahan Dyah Ranawijaya ini tidak lama karena kedudukannnya dikudeta oleh orang kepercayaannya sendiri yaitu Prabu Udara. Prabu Udara akhirnya mengangkat dirinya menjadi Brawijaya VII. Perlu diketahui bahwa kedudukan Majapahit versi Prabu Udara ini tidak setangguh yang dibayangkan, kedudukannya sudah lemah, kekuatan kerajaan ini jauh dibawah kerajaan demak dan sudah menjadi bagian wilayah Kesultanan demak, namun demikian Raden Fattah membiarkan Majapahit bentukan Prabu Udara ini berkembang. Raden Fattah membiarkan Kerajaan yang sudah kecil ini karena dianggap sudah tidak mungkin eksis lagi. Namun ternyata akhirnya, dikemudian hari Kerajaan Majapahit era Prabu udara telah berkhianat kepada Kesultanan Demak. Sejarah mencatat bahwa Prabu Udara atau Brawijaya VII mengirim utusan kepada Alfonso d’Albuquerque dengan membawa hadiah berupa 20 buah genta, sepotong kain panjang tenunan Kambayat, 13 buah lembing, dan sebagainya. Melihat gelagat yang kurang baik inilah maka kemudian tentara Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Adipati Yunus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor) menyerang Portugis di Malaka dan sekaligus Majapahit di bawah kepemimpinan Prabu Udara untuk membubarkan persepakatan gelap yang terjadi. Seandainya saja Majapahit tidak diserang pada masa Prabu Udara tersebut maka dapat dipastikan bahwa Portugis akan menjajah tanah Jawa lebih cepat dari masa agresi Belanda. Penyerangan inipula untuk mempertahankan harkat dan martabat agama islam yang sudah mulai terancam dengan kedatangan portugis.

Demikian pula faktor penyebab melemahnya Majapahit juga disebabkan makin pudarnya popularitas kerajaan Hindhu tersebut di mata rakyat. Kehidupan Majapahit terlalu berjarak jauh dengan rakyat. Bangsawan Majapahit lebih berorientasi kepada kehidupan kerajaan semata dibandingkan memikirkan rakyat, posisi rakyat lebih dianggap sebagai kelas yang paling terendah. Sehingga tidak heran dengan sikap mereka seperti itu menyebabkan rakyat mencari sandaran baru dalam kehidupan mereka, sehingga dengan adanya Kesultanan Demak dan Walisongo menyebabkan Keberadaan Majapahit telah tertutupi dengan munculnya kerajaan Demak yang dianggap membawa angin dan perubahan baru. Keruntuhan Majapahit juga tinggal menunggu waktu saja, karena banyaknya daerah daerah di Nusantara yang melepaskan diri dari jajahan Majapahit. Daerah satu dengan yang lain saling menyerang. Pemberontakan terjadi disana sini, perang saudara juga telah menguras kas negara majapahit, pejabat pejabat yang tidak cakap dalam memerintah, kemiskinan juga mulai merajalela, bencana alam sering terjadi seperti banjir besar sungai berantas yang merupakan urat nadi perekonomian majapahit dan juga meletusnya gunung kelud serta bencana bencana lain. Kekuatan Majapahit hanya terfokus pada pemerintah pusat saja, sedangkan didaerah banyak yang terbengkalai. Majapahit tidak sehebat dimasa gajah mada dan raja hayam wuruk. Justru orang-orang yang terbaik di era era akhir majapahit lebih banyak yang memeluk islam dan dekat dengan walisongo dan juga Raden fattah. Sehingga dengan kondisi yang sudah rawan ini, Majapahit tinggal tunggu waktu saja untuk runtuh.

Dengan kondisi yang tinggal waktu itu, pantaskah Raden Fattah dijadikan kambing hitam? Dengan fakta sejarah yang sudah dijelaskan diatas, pantaskah Raden Fattah menjadi biang keladi itu semua? Adapun sikap diktator terhadap Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging, cerita ini tidaklah benar, karena kedua tokoh ini justru berasal dari nasab yang sama dengan Raden Fattah, Ki Ageng Pengging dan Syekh Siti Jenar adalah keluarga besar AZMATKHAN. Tidak ada pertentangan antara mereka ini. Cerita adanya pertentangan antara Raden Fattah bersama Walisongo versus Ki Ageng Pengging bersama Syekh Siti Jenar adalah fiktif dan dibuat-buat. cerita ini banyak berasal dari babad tanah jawi yang justru dibuat setelah sekian ratus dari masa Raden Fattah dan walisongo. Seperti yang kita ketahui bahwa Banyak babad atau serat serat yang isinya patut kita pertanyakan, memang tidak semua salah, namun untuk urusan nasab dan logika dan psikologi sejarah, data dari babad dan serat itu patut diuji ulang tentang validitas isinya...

Wallahu A'lam Bisshowab.

SUMBER :

Sholichin Salam. Sekitar Walisanga. (Menara Kudus, Kudus, 1960). Hal. 13
MB. Rahimsyah. Legenda dan Sejarah Lengkap Walisongo. (Amanah, Surabaya, tth). Hal. 50. 
Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid II. Cetakan V. (PN. Balai Pustaka, Jakarta, 1984). Hal. 451
Umar Hasyim. Sunan Giri dan Pemerintahan Ulama di Giri Kedaton. (Penerbit Menara, Kudus, 1979). Hal. 88 – 89

Deislamisasi Walisongo Secara Sistematis Oleh Penjajah Belanda

Oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan



Berbicara tentang sejarah islam dinusantara, dapat dikatakan jika fakta sejarah yang beredar kini sangat tidak seimbang dengan fakta sejarah yang lain, terutama sejarah islam. Dari sekian banyak fakta sejarah yang banyak terlupakan pada kalangan sejarawan, sejarah islam ini sering tidak diangkat, sejarawan lebih banyak "terpukau" dengan fakta sejarah yang dimiliki budaya yang hindu dan budha sentris, namun ketika mereka berbicara sejarah islam, tiba-tiba muncul sikap "malas' dan tidak ambil pusing dengan data sejarah islam. Diantara fakta sejarah yang sering jarang diangkat oleh para sejarawan adalah walisongo, bila dibandingkan dengan fakta sejarah, fakta sejarah walisongo dapat dikatakan sangat minim untuk dimunculkan.

Bicara walisongo kebanyakan masyarakat lebih senang dengan nuansa yang nyeleneh seperti mistik dan hal-hal yang irasional (khususnya yang bertabrakaan dengan syariat islam). Kenapa selama ini muncul sikap masyarakat seperti ini? kenapa masyarakat seolah olah "diarahkan" oleh "tangan tangan yang tersembunyi untuk lebih mempercayai walisongo dari sisi yang bertabrakan dengan logika logika umum pada masyarakat. Logika logika aneh seolah olah dipaksakan kepada masyarakat tentang kisah walisongo, walisongo lebih digambarkan kepada sosok orang sakti mandraguna ketimbang ulama yang alim, cerdas dan berkarakter. Berapa kali saya bertemu para penziarah pada makam walisongo, kebanyakan ketika membicarakan sejarah para wali, arahnya tetap saja kepada legenda dan mitos. Karomah para wali diplesetkan menjadi kisah-kisah legenda yang bertabrakan dengan syariat islam.

Saya jadi tanda tanya, darimana pemikiran pemikiran sederhana ini muncul? masyarakat memang berfikirnya sederhana, namun demikian bila melihat gejala yang dmiliki masyarakat khususnya ketika memahami sejarah walisongo, saya kok merasa aneh dan tanda tanya ya, Segitu parahkah pola pemikiran masyarakat? salahkah mereka? apakah saya tidak berlebihan dalam memahami pemahaman masyarakat? salahkah saya mempertanyakan (bukan mengadili...) pemikiran sederhana mereka terhadap walisongo?.

Akhirnya sayapun ketika melihat kondisi ini, saya berusaha mempelajari tentang sebab musabab kenapa bisa muncul sikap sikap seperti ini tanpa harus menyalahkan masyarakat tentang walisongo. 

Adanya sikap masyarakat terhadap cerita walisongo yang cenderung bertabrakan dengan nilai nilai logika, baik logika sejarah, logika agama, logika psikologi masyarakat, logika budaya, logika filsafat dan logika logika lain ternyata berasal dari penjajah kolonial seperti yang diungkap oleh Dr. Syamsudin Arif MA dalam Seminar “Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Indonesia” di Aula Pasca Sarjana ITS, Surabaya pada tanggal 12 Juni tahun 2011. Syamsudin Arif mengatakan :“Belanda datang ke Indonesia dan merusak apa yang telah dilakukan Wali Songo,” kata Dr. Syamsuddin Arif, MA. dosen Internasional Islamic University of Malaysia, menurut Syamsudin Deislamisasi yang dilakukan Belanda itu sangat sistematis. Pada awalnya, peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini, Belanda berdagang, bikin benteng, dan lambat laun mulai menindas. Baru setelah itu, Belanda membuat sekolah. Di sekolah itulah, Belanda menyekolahkan dan mendidik anak-anak pribumi. Di sinilah, Belanda menanamkan ide dan konsep-konsep yang banyak bertentangan dengan Islam,” paparnya. Konsep itu, diakui Arif, sedikit banyak mempengaruhi pola pikir generasi penerus bangsa saat itu. Karena itu, wajar bila terjadi perdebatan di konstituante dalam merumusukan dasar negara Indonesia, termasuk menanamkan nilai nilai islam.

Inilah modus yang dilakukan penjajah kolonial terhadap masyarakat dalam menghancurkan sejarah walisongo, kaum pelajar saja bisa mereka bisa hancurkan pemikiran sejarahnya, apalagi masyarakat yang hidupnya mereka sudah jajah habis habisan, sehingga apa kata penjajah mereka semua manut-manut. Para pelajar yang belajar sama belanda betul betul diracuni pola pemikiran sejarahnya, pondasi sejarah islam betul betul dibelokkan dan dirusak secara halus dab bertahap,sehingga banyak para pelajar pribumi sering tidak sadar dengan racun racun dari penjajah ini. Penjajah kolonial dulu memang sangat pintar sekaligus licik, karena untuk menghancurkan sebuah negara, jalan yang paling cepat adalah dengan menghancurkan sejarah bangsa itu, sehingga bangsa itu kehilangan identitas sejarahnya. Belanda dan penjajah lainnya betul betul licik dalam melakukan deislamisasi islam khususnya sejarah walisongo, kenapa walisongo sejarahnya dirusak? karena walisongo itu berhasil menanamkan pondasi pondasi keislaman yang baik dan bisa diterima masyarakat.

Tidaklah perlu heran jika deislamisasi islam sudah berhasil dilakukan penjajah, untungnya para sejarawan muslim kita banyak yang tersadarkan dan mulai melakukan counter counter sejarah buatan dan yang berasal dari penjajah, muncullah nama Mbah Kholil Bangkalan, KH hasyim Asyari, KH Muhammad Dahlan, Sayyid Bahruddin Azmatkhan, Hamka, Ahmad Mansur, KH Abdullah bin Nuh, Taufik Abdullah, Alwi bin Thohir Al haddad, dan sejarawan sejarawan muslim lainnya. Kalau tidak ada mereka, mungkin sejarah islam ini akan terus dilecehkan dan disingkirkan oleh para penganut dan simpatisan para penjajah kolonial....

Mudah mudahan kita semua bisa tersadarkan dengan banyak deislamisasi terhadap sejarah islam oleh fihak yang memang tidak senang islam yang ada di Nusantara, khususnya walisongo..

Wallahu A'lam Bisshowab.......

Walisongo Yang Nasab dan Sejarahnya Banyak Diselewengkan



Oleh:

Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Diantara sekian banyak tokoh agama yang tergabung dalam keluarga besar walisongo dan kehidupannya selalu menjadi perdebatan dalam setiap biografi mereka diantaranya adalah Syekh Siti Jenar, Sunan Kalijaga, Raden Fattah. Tiga tokoh ini tidak bosan-bosannya dalam setiap biografi mereka diselipi cerita tentang kehidupan kehidupan yang kontroversial.

Ketiga tokoh walisongo ini memang sering menjadi perdebatan, baik itu sikap hidupnya maupun ajarannya. Namun untuk Raden Fattah saya fikir sudah terlalu sering dibahas, oleh karena itu Mari kita bahas dua orang walisongo saja yaitu Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga terutama tentang sisi kontroversial mereka yang tidak habis habisnya dibahas banyak orang.

Syekh Siti Jenar, siapa yang tidak dengan nama yang satu ini? Namun sayang, cerita tentang beliau ini sering sekali berbau kontroversial. Banyak sudah tulisan tulisan yang membahas tentang Syekh Siti Jenar ini. Dari beberapa tulisan yang saya amati, kebanyakan sosok siti jenar digambarkan sebagai sosok yang misterius . Kehidupan beliau cenderung dihubungkan dengan hal hal yang mistik alias irasional. Yang lebih aneh lagi, posisi beliau ini sering dijadikan sebagai "lawan" dari majelis dakwah walisongo. Sosok Siti Jenar sering digambarkan sebagai korban dari sebuah "kediktatoran" walisongo dan Kesultanan Demak. 

Cerita-cerita aneh tentang Syekh Siti jenar ini banyak beredar dimasyarakat Jawa dan lucunya banyak yang percaya dengan dengan cerita cerita itu, misalnya ketika Syekh Siti Jenar digambarkan berasal dari cacing yang kemudian menjelma jadi manusia dan kemudian mencuri ilmu Makrifat dari Sunan Giri. Percayakah anda dengan cerita ini? percayakah anda asal usul beliau dari cacing??? Kalau beliau berasal dari cacing, berarti nasabnya terputus dong? Padahal beliau nasabnya jelas, karena beliau adalah seorang Azmatkhan dan merupakan keluarga besar walisongo, Dalam Urusan Nasab memang sering saya dapati jika Syekh Siti Jenar nasabnya dibuat kabur, misalnya dengan dikatakan bahwa Syekh Siti Jenar nasabnya berasal dari Seorang Resi yang beragama Hindu, padahal seperti yang sudah saya katakan bahwa nasab beliau berasal dari Azmatkhan. Percayakah seorang wali sekelas beliau mencuri ilmu??? padahal seseorang yang ingin belajar harus minta izin dulu dari orang yang mempunyai ilmu tersebut, karena tanpa izin dari pemilik ilmu, ilmu yang kita dapat tidak akan membawa berkah. Kontroversi tidak berhenti, ajaran tassawuf yang beliau ajarkan banyak disalahfahami bahkan banyak pula yang menyelewengkan. Manunggaling Kawula Gusti yang saat ini sering dibahas dan sering disamakan dengan ajaran Al Hallaj selalu disematkan kepada beliau . Padahal sebagai seorang ulama yang ruhaninya sudah tinggi, beliau cukup hati hati dalam mengeluarkan setiap pernyataan-pernyataan yang berhubungan dengan dunia tassawuf. Siapa bilang beliau mengatakan dirinya Tuhan??? Ajaran Tassawuf Keluarga Besar Walisongo itu tidak ada yang neko-neko, tarekat yang mereka anut semuanya tidak menyimpang dari ajaran islam, semua tarekat mereka mempunyai sanad yang sampai kepada Rasulullah SAW termasuk Syekh Siti Jenar ini. Kalau ada orang yang sering mempropagandakan ajaran Manunggaling Kawula Gusti dan ajaran itu terdengar aneh dalam akidah islam, berarti kemungkinan besar itu bukan ajaran Syekh Siti Jenar Yang Asli. KH Dr. Lukmanul Hakim, salah seorang pakar tassawuf, dalam forum tanya jawab di majalah cahaya sufi mengatakan jika ajaran Syekh Siti Jenar yang saat ini berkembang sudah banyak yang menyimpang ketimbang ajaran aslinya. Ajaran Syekh Siti Jenar itu memang tidak menyimpang, dan yang bisa menjelaskan tentang ajaran Syekh Siti Jenar itu bukan sembarang orang, setiap orang yang tidak punya sanad ilmu Thariqoh yang sampai kepada Syekh Siti Jenar, itu tidak boleh sembarangan membicarakan ilmu tingkat tinggi ini, Yang bisa menjelaskan ajaran Syekh Siti Jenar itu adalah seorang Mursyid, bukan pengarang atau sejarawan yang tidak punya sanad Thariqoh yang sampai kepada Syekh Siti Jenar. Saya saja ketika suatu saat mendengar penjelasan tentang Thariqoh yang dianut oleh Syekh Siti Jenar yang disampaikan oleh Mursyid saya, saya jadi faham, jika ajaran yang beliau anut itu memang tidak menyimpang dan memang nuansanya sangat tinggi, sampai sampai saya sendiri kadang sulit untuk memahaminya.

Tentang hukuman mati yang diterima Syekh Siti Jenar oleh Majelis Dakwah Walisongo, ternyata cerita ini adalah fiktif, karena Syekh Siti Jenar wafat secara wajar setelah beliau merasakan "kenikmatan" "bertemu" dengan Allah. Cerita dihukum matinya Syekh Siti Jenar di Depan Masjid Demak, adalah cerita yang ngawur dan tidak berdasar, cerita ini berasal dari mana? Babab Tanah Jawi? Hikayat-hikayat? Aneh cerita ini, yang aneh lagi setelah dihukum mati mayatnya ditukar secara diam diam dengan mayat anjing untuk kemudian dipertontonkan kepada rakyat dan pengikutnya sekaligus sebagai pembelajaran kepada masyarakat agar "jangan macam-macam" terhadap ajaran islam, dan salah satu orang yang menyuruh menukar mayat Syekh Siti Jenar adalah Sunan Gunung Jati! Ah rendah sekali moral Sunan Gunung Jati Kalau begitu, sedangkan Anjing saja najisnya sangat berat, Walisongo itu penganut Mazhab Syafii yang dalam menyikapi najis anjing sangat ketat. Dimanakah logika kita ketika Walisongo digambarkan mengancam rakyat dengan sebuah simbolisasi murahan dengan berubahnya mayat Syekh Siti Jenar menjadi anjing seperti itu, cerita keblinger!!! Syekh Siti Jenar itu anggota walisongo, Syekh Siti Jenar itu satu nasab dengan walisongo, Syekh Siti Jenar itu ajarannya sama dengan walisongo. Beliau adalah sufi yang agung namun tetap menjalankan syariat islam seperti masyarakat umumnya, tidak benar beliau tidak sholat, beliau sholatnya bahkan diatas rata-rata, beliau bahkan wafat dalam keadaan sujud. Syekh Siti Jenar adalah korban manipulasi sejarah yang sangat kronis.

Kalau Syekh Siti Jenar sudah diacak acak sejarah dan nasabnya, Sunan Kalijaga yang merupakan wali di tanah Jawa juga tidak luput dari kondisi ini , Wali yang satu ini adalah wali yang mahsyur, namun betapapun mahsyurnya beliau, masih banyak pula yang memahami beliau secara salah, terutama dari sisi nasab dan sejarahnya. Sampai saat ini nasabnya Sunan Kalijaga masih saja sering diperdebatkan, bahkan kalimat umum yang sering saya dengar dari beberapa orang sejarawan islam, bahwa 1 dari 9 wali berasal dari jawa asli dan sisanya adalah keturunan Arab, Yang satu ini ternyata adakah Sunan Kalijaga. Benarkah Sunan Kalijaga adalah Jawa Tulen? Ini bukan masalah mengangkat masalah SARA, tidak sama sekali! Tapi ini adalah berbicara masalah Fakta dan Kebenaran. 

Beberapa biografi yang ditulis oleh Sholihin Salam atau Umar Hasyim dan beberapa penulis lain seperti Prof Slamet Mulyana ketika bicara tentang nasab Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nasabnya sering dinisbatkan kepada Majapahit dan Bani Abbasiah dan China. Namun berdasarkan catatan Nasab Keluarga Besar Walisongo yang terhimpun dalam kitab ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI yang DISUSUN OLEH SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN dan SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN< PENERBIT MADAWIS TAHUN 2011, Bahwa Sunan Kalijaga bukan berasal dari nasab Majapahit dan juga Bani Abbasiah. Nasab beliau yang asli berasal dari Keluarga besar Azmatkhan. Adanya penisbatan nasab kepada Majapahit oleh karena ayahnya menjadi pejabat Majapahit, sehingga banyak orang keliru. Setiap pejabat majapahit belum tentu ia asli orang jawa, banyak dari pejabat majapahit juga berasal dari etnis yang lain, termasuk arab. Kenapa mereka bisa menjadi pejabat majapahit? Itu karena mereka mampu berasimilasi dengan baik, termasuk keluarga besar Sunan Kalijaga, sehingga jangan heran jika Sunan Kalijaga itu bisa berasimilasi dengan budaya Nusantara, karena bapak, kakek dan buyutnya sudah lebih dahulu mampu berasimilasi dengan kehidupan dan budaya setempat. 

Banyaknya orang islam yang menjadi pejabat di Majapahit, membuktikan jika islam pada masa itu sudah dikenal dan diterima para bangsawan dan masyarakat. Pejabat majapahit saat itu lebih banyak memakai gelar jabatan yang ada dan ini memang sudah menjadi tradisi sampai sekarang. Ayah dan Kakek dan buyut Sunan Kalijaga itu kesemuanya adalah Azmatkhan. Tumenggung Wilatikto yang bernam asli Sayyid Ahmad Sahuri adalah ayah Sunan Kalijaga sedangkan Syekh Subakir/Maulana Mansur Azmatkhan adalah kakek Sunan Kalijaga. Penisbatan ke Bani Abbasiah juga terasa aneh, karena Bani Abbasiah yang ada di Indonesia pada kurun waktu itu hampir tidak ada, kebanyakan penyebar agama islam apalagi walisongo adalah keluarga besar keturunan Bani Hasyim dari jalur Sayyidina Husein binti Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW. Hampir sulit diketemukan Bani Abbasiah yang hijrah Ke nusantara, Kebanyakan Bani Abbasiah ketika dihancurkan mongol melarikan diri ke arah timur tengah, namun untuk Nusantara sangat jarang terdengar. Dua penisbatan Nasab itu masih belum cukup, ada lagi penisbatan nasab Sunan Kalijaga yang dihubungkan kepada China, seperti yang dikemukakan Prof. Dr. Slamet Mulyana. Namun akhirnya pendapat ini gugur karena berdasarkan penelitian beberapa sejarawan, rujukan Slamet Mulyana yang berasal dari naskah Residen Poortman ternyata tidak pernah ada, dengan kata lain penisbatan Sunan Kalijaga ke China, tidak diterima.

Kisah populer tentang Sunan Kalijaga adalah ketika ia diceritakan bertapa selama tiga tahun dipinggir kali sampai sampai akar-akar menutup tubuhnya. Sunan Kalijaga diperintahkan Sunan Bonang untuk diam ditepi sungai sambil menunggui tongkat Sunan Bonang, dan tidak boleh bergerak sampai Sunan Bonang kembali. Benarkah cerita ini? Sunan Kalijaga disuruh bertapa dipinggir kali demi untuk mencari ilmu kepada Sunan Bonang sambil menunggu tongkat, benarkah Sunan Bonang mengajarkan muridnya tentang KETAATAN namun dengan cara seperti ini. Mari kita berfikir jernih, apakah ada metode BERTAPA dalam agama Islam? Metode BERTAPA atau MEDITASI itu lebih dekat dengan agama Hindu yang pada masa itu sering dilakukan oleh para Resi atau Pendeta Hindu. Bertapa adalah kebiasaan para Resi ketika itu terutama untuk mengasah kesaktian atau mencari petunjuk Sang Dewa (Tuhan mereka), baik itu dilakukan di Hutan, Gunung, Gua, Pinggir Pantai atau Pinggir Sungai. Sunan Bonang bukan Resi, Beliau adalah Ulama yang menjalankan Syariat Islam secara normal alias tidak neko neko, Resi lebih banyak bicara dunia dewata yang hindu sentris dan kadang banyak sisi mistik yang tentu tidak sejalan dengan Islam, wajarkah Wali yang besar menyuruh seseorang diam ditepi sungai demi memperoleh sebuah ilmu? Kenapa pula tidak beliau ajak Ketempat beliau untuk beliau ajarkan langsung, ketimbang ditelantarkan dipinggir sungai. Konyolnya dalam cerita Sunan Bonang lupa sampai tiga tahun!!!. Wah kasihan sekali Sunan Kalijaga sudah ditelantarkan Sunan Bonang selama tiga tahun, seolah olah Sunan Bonang itu masa bodoh terhadap nasib orang. Terus terang cerita ini sangat aneh jika dihubungkan dengan kitab kitab tentang adab belajar. Bertapa itu beda dengan Uzlah seperti yang sering dilakukan para ulama sufi. Sufi atau Ulama yang melakukan Uzlah (menyendiri) mereka tetap sholat, berzikir, dan kegiatan kegiatan lain sedangkan bertapa berbeda, Bertapa sudah jelas betul betul tidak bergerak kesana kemari. Silahkan anda perhatikan jika orang bertapa, kebanyakan mereka tidak bergerak, dan anehnya mereka sanggup berhari hari seperti yang dilakukan beberapa orang pendeta hindu di India. Mungkin pertanyaannya, bagaimana mereka minum, makan, buang air kecil dan besar? Entahlah bagaimana mengatasi hal itu, namanya juga bertapa, sudah tentu banyak yang tidak sesuai dengan syariat islam. Nah Bagaimana dengan Sunan Kalijaga? 

Menurut saya cerita beliau bertapa dipinggir sungai adalah fiktif! Bagaimana mungkin beliau bertapa secara Full tidak bergerak selama tiga tahun, sedangkan beliau sedang menempuh ajaran islam, bagaimana sholatnya???? Masak untuk belajar agama islam, hal yang paling penting dan mendasar seperti sholat malah dihilangkan. Kemampuan manusia bertapa itu jika diukur dengan logika paling kuat Cuma beberapa hari saja, kalau ada yang kuat sampai 40 hari, menurut saya itu adalah hal yang aneh, kalaupun ada berarti kemungkinan besar kemampuan seperti ini wajib dipertanyakan dari mana asal muasal kemampuan seperti ini. 

Kesalah fahaman tentang cerita Sunan Kalijaga, itu karena banyak orang kurang memahami arti dan sejarah dari nama KALIJAGA itu. Mentang-mentang ada nama KALIJAGA, langsung saja kesimpulan kita mengatakan, Oh itu Ulama yang dulu bertapa dipinggir kali ya..... Munculnya nama Kalijaga itu bukan berarti bahwa Sunan Kalijaga pernah bertapa dipinggir kali. Inilah pentingnya ilmu nasab khususnya bab tentang Nama. Dalam Ilmu Nasab pembahasan tentang Nama Wali itu betul betul dikupas tuntas agar kedepannya bisa difahami secara ilmiah dan rasionsal. Nama Sunan Kalijaga harus kita fahami sebagai sebuah makna yang berhubungan dengan produktifitas dakwah sunan kalijaga. Nama Kali yang berarti air yang mengalir (kali atau sungai pasti airnya mengalir....) dan nama Jaga yang artinya menjaga harus difahami secara filosofis bukan leterleks. Artinya Nama Sunan Kalijaga itu harus difahami secara tersirat bukan tersurat. Nama Kalijaga itu harus difahami secara Pengertian yang luas yang tentu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga itu sendiri. Diantara Wali wali yang lain, Dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga ini memang unik dan menarik untuk dikaji, Dakwah beliau ini sangat kultural sekali, Sunan Kalijaga sebagai ulama tidak pernah menunjukkan antipati terhadap perbedaan ajaran atau aliran (seperti sungai yang mengalir) yang tidak sesuai dengan Islam. Adanya perbedaan akidah dan budaya justru disikapi dengan bijaksana. Perbedaan aliran/akidah/budaya itu beliau jaga (seperti menjaga) dengan baik dengan cara hidup berdampingan. Aliran aliran yang saat itu berkembang, mulai dari hindu, budha, animisme, dinamisme, dll disikapi dengan toleransi yang tinggi. Toleransi yang beliau terapkan betul betul mengena kepada masyarakat yang aliran atau akidahnya berbeda. Sebagai ulama yang mampu beradaptasi dan mampu memahami budaya lokal, Sunan Kalijaga bahkan dianggap sebagai satu satunya wali yang faham mendalami dan menjaga segala aliran atau agama yang hidup ditengah masyarakat untuk bisa berdampingan dengan agama Islam.

Metode Dakwah dengan budaya yang diterapkan Sunan Kalijaga dan juga beberapa wali ternyata berhasil mengena dihati masyarakat. Lambat laun akhirnya banyak dari mereka yang masuk islam dengan sukarela, karena tertarik dengan gaya dakwah sunan kalijaga yang kultural dan damai karena mampun menjaga toleransi terhadap aliran atau agama yang berbeda ditengah masyarakat, sehingga tidak heran bila kelak Nama Sunan Kalijaga terus melekat ketimbang nama asli beliau.

Betapapun Sejarah dan Nasab Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga sering disalahfahami, diselewengkan bahkan “dirusak” oleh tangan tangan yang tersembunyi, namun nama besar mereka sampai sekarang tetap dikenang banyak orang. Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga adalah dua permata keluarga besar Azmatkhan yang terus akan dikenang banyak orang.
Semoga Sejarah dan Nasab mereka tetap terus terjaga ditangan para ulama ahli nasab...
Wallahu A’lam Bisshowab..........

Warisan Kitab Nasab dan Sejarah Walisongo

Ditulis oleh:
As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
As-Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan




Berikut adalah dokumen-dokumen yang dipastikan kebenarannya sehubungan dengan Nasab dan Sejarah Walisongo;

  1. Al-Mausuuah Li Ansaabi Al-Imam Al-Husaini (ENSIKLOPEDI NASAB IMAM AL HUSAINI), Kitab ini adalah Kitab Nasab yang disusun oleh Al-Allamah Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al-Hafizh) Yang lahir tahun 1899 Masehi dan Wafat tahun 1992 Masehi. Kitab Nasab ini adalah kitab Nasab yang berisi Nasab-nasab Al Husaini Seluruh Dunia, Sayyid Bahruddin Sendiri memulai penelitian Nasab sejak tahun 1919 Masehi, Sebelumnya Penelitian dan pendataan Nasab telah dilakukan oleh ayah, kakek, buyut terus sampai kepada Sunan Kudus. Semua nasab keluarga besar walisongo tercatat dengan rapi di kitab yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW ini. Standarisasi ketika menentukan sebuah nasab itu shohih atau tidak di kitab ini sangatlah super ketat!!!. Ratusan Metode yang ilmiah menjadi standar kitab ini, sehingga nasab yang masuk ke dalam kitab ini betul betul sudah teruji kesahihannya. Sayyid Bahruddin memang ulama ahli nasab yang luar biasa, hafalan nasabnya juga sangat menakjubkan (beliau hafal puluhan ribu nasab), beliau ini hafizh quran dan juga hadits. Kitab ini memang sangat mencengangkan, Dari mulai nasab Walisongo, nasab Raja dan Sultan, tokoh tokoh bangsa, dan yang lain-lain, semua ada di dalam kitab yang super langka ini. Saat ini keberadaan kitab ini dipegang oleh cucunya dan dilanjutkan pendataannya oleh cucu beliau yang juga peneliti nasab serta sejarawan walisongo sekaligus sebagai Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam yaitu Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh. Kitab Nasab ENSIKLOPEDI NASAB IMAM AL-HUSAINI adalah Kitab Nasab yang diakui dan dijadikan referensi di berbagai lembaga nasab di dunia, seperti: di Baitul Ansab Lil Asyraf Azmatkhaniyyah yang berpusat di Nasarabad India, Markaz Ansab Li Ansab Ahlulbait yang berpusat di Maroko, Majmaa Al-Ansaab Al-'Alami Li Ahlilbait yang berpusat di Syiria Damaskus, Daaratus Saadah Al-Asyraaf yang berpusat di Iraq, Niqobatul Asyraaf Al-Kuba yang berpusat di Mesirk, dan Lembaga Nasab di Yaman, Yordan, Saudi Arabia, Libya, Tunisia, Palestina dan Lebanon. Keberadaan kitab ini terjaga dengan rapi ditangan pewaris Sayyid Bahruddin Azmatkhan yaitu Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam. Kelebihan kitab ini, di setiap nama yang ditulis selalu diberikan footnote atau keterangan panjang lebar tentang sejarah, biografi serta keterangan-keterangan yang mendetail dari nama tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana tebal kitab ini. Oleh karenanya bagi orang yang coba-coba membuat nasab palsu yang dinisbahkan kepada keluarga besar walisongo, akan bisa terdeteksi kepalsuan-nya, karena catatan nasab walisongo ini lengkap dan terperinci. Kitab ini tidak diperjual belikan apalagi difotocopi. Dan memang kitab nasab itu tidak boleh diperjual belikan apalagi sampai difotocopi. Kenapa demikian??? karena kitab nasab ini bersanad, sehingga orang yang bersanadlah yang boleh menyimpan, mendata dan menerangkan kepada orang lain. 
  2. Kitab Arsyul Muluk, karya Sayyid Bahruddin Azmatkhan menerangkan tentang nasab Azmatkhan Seluruh dunia.
  3. Kitab Tajul Muluk, adalah Kitab Nasab yang disusun oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, berisi sejarah dan Nasab Walisongo dalam versi lengkap. Kitab Nasab ini sebagai salah satu bukti kuat dan sahih jika walisongo mempunyai keturunan hingga sekarang.
  4. Kitab Ilhafun Nadhoir, Kitab Nasab Yang disusun oleh Al-Habib Zein bin Abdullah Al-Kaff, berisi nasab-nasab keturunan keluarga besar walisongo. Kitab ini juga mengambil dari catatan nasab Sayyid Bahruddin Azmatkhan. Kitab nasab ini juga sebagai bukti kepada keluarga besar Alawiyyin yang lain jika nasab walisongo terjaga dengan rapi.
  5. Kitab Tarikhul Aulia, Kitab Sejarah walisongo yang ditulis dan disusun oleh KH Bisri Mustofa Azmatkhan, pada tahun 1954 Masehi. Kitab ini tidak terlalu tebal namun isinya sangat luar biasa, karena menjelaskan sejarah walisongo dengan cukup ringkas.
  6. Kitab Suluk Sunan Bonang atau “Het book van Bonang”, buku ini ada di perpustakaan Leiden-Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari zaman Walisongo. Dokumen ini dibawa Belanda, sudah tentu kita bisa menebak kenapa dokumen sepenting ini bisa jatuh ke tangan mereka, Selalu saja, dalam setiap alasan para akademisi belanda mengatakan, jika dokumen ini tidak dibawa ke Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap, sebuah pernyataan yang sepihak dan terkesan meremehkan, kalau dikatakan lenyap, buktinya sampai saat ini di berbagai keraton nusantara masih banyak buku buku kuno yang tersimpan dengan baik. Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.
  7. “Suluk Linglung”, buku karya Sunan Kalijogo. Buku ini berbeda dengan buku ‘Suluk Linglung’ karya Imam Anom yang banyak beredar.
  8. “Kropak Farara”, buku yang amat penting tentang walisongo ini diterjemahkan oleh Prof.Dr. GJW Drewes ke dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Wahyudi ke dalam bahasa Indonesia.
  9. “Kitab Walisana”, kitab yang disusun oleh Sunan Giri ini berisi tentang ajaran Islam dan beberapa peristiwa penting dalam perkembangan masuknya agama Islam di tanah Jawa.



ini saja dulu dokumen dokumen langka dari walisongo yang diketengahkan. Adanya dokumen dokumen penting seperti ini, membuktikan jika keluarga besar walisongo mempunyai budaya tulis menulis yang kuat, dengan kata lain, dunia intelektual dan akademis pada diri mereka tetap terjaga. Jadi tidak benar jika walisongo hanya mewariskan cerita cerita yang cuma berbau legenda dan mitos, walisongo itu keluarga terpelajar, mereka banyak yang terdidik dalam pola pendidikan pesantren pada masa lalu, jadi tidak benar jika walisongo mewariskan sesuatu hanya cerita cerita mistik dan aneh. Dengan keterangan dari dokumen dokumen langka tentang walisongo, maka mulai saat ini keluarga besar walisongo tidak perlu lagi khawatir lagi tentang sejarah dan nasab walisongo. Semua sudah tersusun rapi dan terjaga dengan baik. Jika masih ada orang yang meragukan sejarah dan nasab walisongo, biarkan saja, yang data tentang mereka tetap ada dan terjaga...

Senin, 05 Agustus 2013

4 Azmatkhan Yang Pernah Menjadi Imam & Khatib Masjidil Haram Makkah Mukarramah

oleh: 




1. Asy-Syaikh As-Sayyid Hasan bin Abdul Wahid Azmatkhan Al-Hafizh (dari keturunan Sunan Kudus) wafat 1229H/1814 M pernah menjabat sebagai Imam dan Khatib Masjidil Haram, serta menjadi Mufti Besar Hijaz. 

2. Asy-Syaikh As-Sayyid Sulaiman bin Hasan bin Abdul Wahid Azmatkhan Al-Hafizh (dari keturunan Sunan Kudus) wafat 1250M/1834 M pernah menjabat sebagai Imam dan Khatib Masjidil Haram, serta menjadi Mufti Besar Hijaz. 

3. Asy-Syaikh As-Sayyid Makkiy bin Sulaiman bin Hasan bin Abdul Wahid Al-Hafizh (dari keturunan Sunan Kudus) wafat 1294H/ 1877 M pernah menjabat sebagai Imam dan Khatib Masjidil Haram, serta menjadi Mufti Besar Hijaz.

4. Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi bin ‘Abdul Lathif bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi Azmatkhan (Keturunan Sunan Giri) w. 1334 H (1916 M).
Syaikh Sa’ad Al Ghamidi mengatakan ada orang Indonesia yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram Mekkah. Imam itu bernama Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Bagaimana kisah Syaikh Ahmad Khatib bisa menjadi imam di Masjidil Haram? Bagaimana bisa ia menjadi orang Indonesia yang keempat yang mengisi posisi yang mulia itu?
Mengenai sebab pengangkatan Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah Al Khathib menjadi imam dan khathib, ada dua riwayat yang nampaknya saling bertentangan. Riwayat pertama dibawakan oleh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim (hal. 39).
Menurut Umar 'Abdul Jabbar, jabatan imam dan khathib tersebut diperoleh berkat permintaan Syaikh Shalih Al Kurdi yang tak lain adalah mertuanya sendiri. Ia meminta kepada Syarif ‘Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Ahmad Khatib menjadi imam dan khathib.
Sedangkan riwayat kedua yang dibawakan oleh Hamka dalam tulisannya ‘Ayahku’. Hamka menulis tentang riwayat Hidup ayahnya Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatra.
Dalam tulisannya itu, Hamka menyebutkan kisah Abdul Hamid bin Ahmad Al Khathib, suatu ketika dalam sebuah shalat berjamaah yang diimami langsung Syarif 'Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah.
Mengetahui kesalahan bacaan itu, Ahmad Khatib yang saat itu shalat dibelakang imam dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Setelah usai shalat, Syarif 'Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi.
Lalu ditunjukkannya Ahmad Khatib yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif 'Aunur Rafiq mengangkat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.


SUMBER RUJUKAN:
* Daftar Imam & Khatib Masjidil Haram Sejak Zaman Nabi Muhammad sampai Sekarang, Update data, 6 Agustus 2013