Jumat, 23 Agustus 2013

Nyai Gedhe Pinatih Ibu Angkat Sunan Giri Versi Slamet Moentadhim

Oleh:
Slamet Moentadhim

WANITA SAUDAGAR TERKAYA di kota pelabuhan Gresik, Jåwå Timur, pada abad ke-15, Nyai Gedhé Pinatih, adalah ibu angkat Sunan Giri I atau Pandhitå Ratu Giri Satmåtå. Menurut hasil penelitian Chen Yu-song (Tan Yeok Seong), sinolog dari South Sea Society (Perhimpunan Laut Selatan) di Singapura, dia adalah satu dari tiga putri Shi Jin-qing (Shih Chin Ching), Cina muslim pemimpin Kukang (Chiu-chang, harfiah: Pelabuhan Lama, kini: Palembang).[1]

Jabatan“pemimpin” Shi Jin-qing ini dalam bahasa Inggris disebut overlord(harfiah: tuan besar, maharaja). Demikian hasil penelitian bibliografis MohammadGuntur Shah, S.Ag., lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Radèn Patah,Palémbang.[2]

Profesor KongYuan Zhi dari Universitas Peking (Beijing University) bahkan menyebutnya sebagaiputri sulung Shi Jin-qing. “Yang menarik pula ialah putri sulung Shi Jin-qingadalah Nyai Gedhé Pinatih. Dia terpaksa meninggalkan Palémbang akibat tekanan...saudaranya. Setelah tiba di Jåwå, gadis itu memohon bantuan kepada Raja Måjåpahit.Berkat simpati Sang Raja, dia diangkat sebagai syahbandar di pelabuhan Gresik.Kemudian Nyai Gedhé Pinatih terkenal sebagai penyebar agama Islam di Jåwå. Dananak angkatnya tak lain adalah Radèn Paku, salah satu Wali Sångå di Jåwå.”[3]

Agak berbeda sedikit, Guntur menulis bahwa jabatan syahbandar Gresik diwarisi oleh NyaiGedhé Pinatih dari Patih Sambojå, setelah suaminya itu meninggal. Patih Sambojåsendiri semula menjadi punggawa di Blambangan. Karena salah menjalani tugas, iadipecat. Ia kemudian menemui Raja Måjåpahit, menyatakan keinginannya untuk suwitå(Jåwå, harfiah: mengabdi). Ia diterima dan diangkat menjadi syahbandar dipelabuhan Gresik.[4]

Menurut ChenYu-song, Shi Jin-qing beranak laki-laki satu: Shih Chi-sun (Sie Tjie Soen) dantiga anak perempuan: Pi Na Ti, Shih Er Chih, dan istri Chiu Yan Chen. Setelahkematian Shih Chin Ching, kekuasaan di Palémbang dipegang oleh Shih Er Chih.Tentu saja, Shih Chi Sun yang didukung iparnya, Chiu Yan Chen, menentang. Iapun mencoba mendapatkan pengakuan sebagai penguasa yang sah dari Dinasti Ming,karena ia menganggap diri lebih berhak.[5]

Peranakan Cinå yang lahir di Semarang, Drs. Amen Budiman, menambahkan bahwa sumber sejarahdari masa Dinasti Ryukyu di wilayah Kepulauan Ryukyu menyatakan Shih Chin Chingmeninggal pada tahun 1421. Setelah itu, di kalangan keluarganya, terjadiperebutan kekuasaan.[6]

Untuk mengatasi kemelut itu, pada tahun 1422, Laksamana Cheng Ho, yang merasa  berkepentingan, memerlukan datang ke Palémbang.Tampaknya ia tidak berhasil memenuhi harapan Shih Chi Sun, karena Shih Er Chihbersikukuh mempertahankan kekuasaan. Setelah kejadian ini, Shih Chi Sun merasasangat kecewa dan tidak terdengar lagi kabar beritanya.[7]

Sementara itu, Pi Na Ti pindah ke Jåwå. Dalam cerita Jåwå, selain disebut Nyai Gedhé Pinatih,Pi Na Ti juga dikenal dengan nama Nyai Janda Sembojå, janda Patih Sambojå dariBlambangan.[8]


(0)   Penangkapan Perompak Chen Zhu-yi

MENURUT SEJARAHWAN sejarahwan Singapura Chen Yu-song, Shi Jin-qing diangkat oleh Måjåpahit untuk mengurusmasalah keagamaan dan administrasi di Palémbang, setelah runtuhnya Çriwijaya.[9]
Akan tetapi, komunitas perantau Cinå di sana pada akhir abad ke-14, tepatnya pada tahun1397,[10]lebih memilih Liang Dao-ming (Liang Tao-ming, Lian Tan Ming) sebagai pemimpinmereka. Hanya saja, Liang yang berasal dari Nan Hai (Guangdong atau Kanton) menunjukShi sebagai pembantunya yang utama.[11]Bahkan, Liang mengangkat Shi sebagai kepala keamanan pelabuhan itu pada tahun1405.[12]

“Di Palémbang,peristiwa penting yang menunjukkan bahwa pelabuhan itu telah dijaga agarsenantiasa aman ialah pengangkatan Shih Chin Ching oleh Liang Tao-ming untukmenjaga keamanan tempat tersebut sebelum ia berangkat ke Cinå. Pemimpinperompak di Palémbang, Ch’en Tsui-yi, tidak mengganggu kawasan ini, hingga selepas Liang Tao-ming bertolak ke Negeri Cinå pada tahun 1405.”[13]

Chen Zhu-yi(Tan Tjo Gi) itu Cinå non-muslim dari suku Hokkien, yang berasal dari Chao-zhou(Teochiu) di Provinsi Guangdong. Karena melanggar hukum di Cinå, ia melarikandiri bersama keluarganya ke Palémbang. Mula-mula ia bekerja pada RajaÇriwijaya. Setelah Sang Raja mangkat, ia mengerahkan bajak laut setempat danmengangkat diri sebagai gembongnya. Ia suka berbuat sewenang-wenang, antaralain merampok kapal niaga yang berlalu lalang di situ.[14]

“Pada kira-kiratahun 1405, kota Palémbang dan kota Jambi jatuh ke tangan... bajak laut Cinå.Palémbang disebut Kieu-Kiang (Pelabuhan Lama). Kapal dagang tidak banyak lagidatang ke situ dan kedua kota itu makin mundur,” tulis Sanusi Pané.[15]

Penduduksetempat dan pedagang dari luar daerah amat benci kepada gembong  bajak laut itu. Bukan hanya barang daganganyang dirampok, pedagang juga dibunuh di laut oleh Chen Zhu-yi. Bahkan, armada ZhengHe (Cheng Ho) yang datang pada tahun Yong Le kelima, 1407 M, dalam perjalananpulang, diincarnya pula. Chen main intrik. Ia akan pura-pura menyerah, padahalia berniat busuk merampas segala harta benda yang diangkutnya.[16]

Peristiwa inilah yang justru menjadikan Shi Jin-qing resmi menjadi pemimpin Kukang, baikdi mata komunitas etnis Cinå perantau di Palémbang, kerajaan Måjåpahit, maupunDinasti Ming.

“Shih ChinChing, (sebagai) pemerintah sah masa itu, berpeluang memberi tahu Cheng Hodalam perjalanan balik dari pelayarannya yang pertama, tentang gangguan itu sebelum(Sang Laksamana) sampai. Lanun tersebut dan pengikutnya ditumpas dalampertempuran pada tahun 1407 dan Shih dilantik sebagai ketua resmi kawasan tersebut,” tulis M. Guntur Shah dalam manuskripnya. “Chen Chu Yi... akhirnyadijatuhi hukuman pancung. Shih Chin Ching dianugerahi gelar Suan We Shih dariChiu-chang.”[17]

Dalam hal ini, CatatanTahun Melayu, kronik Cinå-Jåwå yang ditemukan Kelenteng Sam Po Kong diGedong Batu, Semarang, pada bagian Awal Ekspansi Cina menulis:

1407: Armada Tiongkok Dinasti Ming merebut Kukang (Palembang), yang sudahturun-temurun menjadi sarang perampok Tionghoa non-Islam dari Hokkien. Cen TsuYi, kepala perampok di Kukang, ditawan, dirantai, dan dibawa ke Peking. Disitu, ia mati dipancung di depan umum. Ini merupakan peringatan bagi orangTionghoa Hokkien di seluruh Nan Yang. Di Kukang, dibentuk komunitas Cinå muslimHanafi pertama di Kepulauan Indonesia. Tahun itu juga didirikan satu lagi diSambas, Kalimantan.[18]

Menurut pakarsejarah Indonesia asal Belanda, H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, tindakanCheng Ho dan eksekusi pemimpin perompak itu juga disebutkan dalam naskah CinåDaratan dan dalam kutipan W.P. Groeneveldt.[19]

Sejarahwan Cina daratan Liu Ru-zhong menulisnya secara rinci. “... bertemu dengan Zheng He,gembong bajak laut itu berpura-pura mengambil sikap bersahabat. Malamnya iamembawa beberapa kapal cepat untuk untuk menyerang armada Zheng He. Malam itumega mendung menggulung, angin ribut meniup dengan dahsyatnya, sehingga lautmenjadi gelap gulita. Ketika... kapal bajak laut mendekati armada... takkelihatan satu lampu pun yang menyala... Beberapa anak buah Chen curiga,jangan-jangan awak kapal Zheng He telah memasang perangkap. Tapi, Chen segeramemberanikan mereka dengan mengatakan bahwa awak kapal Zheng He sudah tidursemua dan inilah kesempatan yang terbaik untuk merampok.”

“Namun, ketika...kapal bajak laut itu sudah amat mendekat, meluncurlah serentak peluru meriamdari armada. Dalam sekejap mata, lidah api menjilat dan asap peluru menjalar.Bajak laut menjadi kalang kabut dan banyak di antaranya terjatuh ke laut...Sisanya berebutan melarikan diri dalam kepanikan, akan tetapi mereka segeradibuat mati kutu oleh kepungan awak armada Zheng He dengan menjunjung obor ditangannya. Gembong bajak laut Chen pun ditawan seketika itu juga.”[20]

Bahkan, MingShi Lu (Catatan Sejarah Dinasti Ming) Jilid 71 mencatat bahwa Zheng Heberhasil membasmi bajak laut Chen lebih dari 5.000 orang, membakar habis 10kapal, merebut tujuh kapal, dan menyita dua setempel Chen yang terbuat dariperunggu. Chen Zhu-yi sendiri dan dua kawanannya digiring ke Cinå dan dihukummati. “Dengan gelar Xuan Wei Shi, Shi Jin-qing menjadi pemimpin perantau Cinåyang sah di Palémbang dan menurut Ming Shi Jilid 324, Shi Jin-qing tetaptunduk kepada Måjåpahit di Jåwå, meskipun menerima anugerah dari Kaisar Ming,”tulis Profesor Kong.[21]


(Gus Moen)


Catatan Kaki:

[1]       Mohammad Guntur Shah, S.Ag., dan MartinMoentadhim S.M. (editor), Sit-Lam: Sejarah Cina-Islam di Indonesia,manuskrip, Sanggar Jangka Langit, Bekasi, Januari 2004, halaman 109, denganmengutip hasilpenelitian Tan Yeok Seong, sinolog dari South Sea Society (PerhimpunanLaut Selatan) di Singapura.
[2]       M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 237.
[3]       Profesor Madya Kong Yuan Zhi, Sam PoKong dan Indonesia, tanpa penerbit, Jakarta, cetakan pertama, September1992, halaman 62, dengan mengutip Li Xue-min dan Huang Kun-zhang, SejarahPerantau Cina di Indonesia, Penerbitan Pendidikan Perguruan TinggiGuangdong, 1987, halaman 61. Buku Profesor Kong ini disunting oleh Prof.Dr.H.M. Hembing Wijayakusuma, Ph.D., dan diterbitkan oleh Hj. Sri LestariMasagung.
[4]       M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 237.
[5]       M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 109.
[6]       M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 109, dengan mengutip Drs. AmenBudiman, Semarang Riwayatmu Dulu, Jilid I, Tanjung Sari, Semarang, 1978,halaman 29-30.
[7]       M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 109.
[8]       M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 109.
[9]       Kong Yuan Zhi, op.cit., September1992, halaman 61, yang juga mengutip hasil penelitian sejarahwan SingapuraChen Yu-song.
[10]      Angka tahun ini diambil dari M. Guntur Shahdan M. Moentadhim S.M. (ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 104.
[11]      Kong Yuan Zhi, op.cit., September1992, halaman 61.
[12]      M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 104.
[13]      M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 104-105, dengan mengutip O.W.Wolters, op.cit., 1990, halaman 82-83.
[14]      Kong Yuan Zhi, op.cit., September1992, halaman 59-60.
[15]      Kong Yuan Zhi, op.cit., September 1992,halaman 60, dengan mengutip Sanusi Pane, Sejarah Indonesia, I, BalaiPustaka, Jakarta, cetakan keempat, 1950, halaman 106.
[16]      Kong Yuan Zhi, op.cit., September1992, halaman 60.
[17]      M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 107, dengan mengutip O.W. Wolters,Kejatuhan Srivijaya dalam Sejarah Melayu, penerjemah Toh Kim Hui danRanjeet Kaur Khaira, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia,Kuala Lumpur, cetakan pertama, 1990, halaman 83.
[18]     M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M. (ed.),op.cit., Januari 2004, halaman 108.
[19]      M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M.(ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 108, dengan mengutip H.J. deGraaf  dan Th.G.Th. Pigeaud, CinaMuslim di Jawa Abad XV dan XVI: Antara Historisitas dan Mitos, pengantarM.C. Ricklefs, Penerbit Tiara Wacana, Yogyakarta, 1998, halaman 55, yangbersumberkan W.P. Groeneveldt, Note on the Malay Archipelago and Malaca,..., dalam Miscellaneous Papers Relating to Indo-China, 2nd series,1987, Volume I.
[20]      Kong Yuan Zhi, op.cit., September1992, halaman 60-61, dengan mengutip Liu Ru-zhong, Zheng He Berlayar keSamudra Barat, Toko Buku Tionghoa, Beijing, 1983, halaman 15-16.
[21]      Kong Yuan Zhi, op.cit., September1992, halaman 61, dengan mengutip Ming Shi Lu Jilid 71 dan Ming ShiJilid 324.

Syekh Subakir Versi Slamet Moentadhim

Oleh:
Slamet Moentadhim


SIAPAKAH WALI YANG tidak hanya dikaitkan dengan mitos penanaman “bibit” manusia di Tanah Jåwå, melainkan juga masuk senarai Walisångå angkatan pertama dan berusaha mengislamkan Raja Småråtunggå yang membangun candi Båråbudhur? Ia termasyhur dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi hingga kini sebagai Syèkh Subakir.

“Di antara kemungkinan… raja di Jåwå yang sudah masuk Islam… adalah Raja Småråtunggå (k. 800--825 M) pada era Kerajaan Mataram Kuna (tepatnya: Medang Mataram, GM) di Jåwå Tengah sesudah Piagam Canggal tahun 732 M, yang berdialog dengan Syèkh Subakir,” begitu ditulis oleh Kiai Haji (K.H.) Muhammad Sholikhin. Pada catatan kaki, ia menambahkan “(Pada) tahun 820 M, Raja Småråtunggå membangun candi terbesar, Båråbudhur. Tampaknya kedatangan Syèkh Subakir dan kontaknya dengan Sang Raja terjadi pada… masa akhir pemerintahan Raja Småråtunggå.”[1]

Sayang, hanya satu alinea itu plus catatan kaki tersebut yang ditulisnya. Bahkan, ia sama sekali tidak menyebutkan sumbernya. Tampaknya Sang Kiai benar-benar hanya menyodorkan kemungkinan. Memang, secara logika tidaklah mungkin raja yang membangun sarana ritual keagamaan yang begitu besar seperti Båråbudhur pernah memikirkan kemungkinan meninggalkan kepercayaannya untuk merengkuh agama baru.

Di ranah literatur, misalnya di Tatar Sundå, nama Småråtunggå muncul dipersamakan dengan Rakè Garung (k. 794--820 M), måhåråjå Mataram Purbå. Småråtunggå ini ayah yogini Pramodåwardani (k. 820--842 M), istri Rakè Pikatan (k. 842--856 M). “Kaisar” yang terakhir ini mertua Dyah Lokåpålå Rakai Kayuwangi (k. 856--886 M).[2]

Akan tetapi, ini tak sesuai dengan senarai dalam Prasasti Wanua Tengah III 830 Ç (908 M) yang ditemukan petani di sawah Dukuh Dunglo, Desa Gandulan, Kecamatan Kaloran, Kabupatèn Temanggung, Jåwå Tengah, pada bulan November 1983. Prasasti dua lempeng tembaga 53,5x23cm2 bertulisan Jåwå Kuno ini memang mengubah catatan sejarah.[3]

Daftar raja dalam Prasasti Wanua Tengah III dimulai dengan pendiri Mataram Purbå, Rahyangta ri Medang, yang dalam Prasasti tembaga Mantyasih 829 Ç (907 M) disebut Rakai Mataram Sang Ratu Sanjåyå atau Rahyangta Rumuhun ri Medhang ri Poh Pitu. Kedua prasasti ini peninggalan Rakai Watukurå Dyah Balitung.

Senarai raja dan tahun pelantikannya itu berlanjut dengan nama Rakai Panangkaran (746 M), Rakai Panaraban (784 M), Rakai Warak Dyah Manårå (803 M), Dyah Gulå (827 M), Rakai Garung (828 M), Rakai Pikatan Dyah Saladu (846 M), Rakai Kayuwangi Dyah Lokåpålå (855 M), Dyah Tagwas (885 M), Rakai Panumwangan Dyah Déwåndrå (885 M), Rakai Gurunwangi Dyah Bådrå (886 M), Rakai Wungkai Dyah Jobang (894 M), dan Rakai Watukurå Dyah Balitung Sri Iswåråkesåwåtunggåréndråmurti (898 M), yang mendirikan kerajaan baru, Balitung.

Apa yang salah pada penulis sastra kuna kita, sehingga kesalahan ini terjadi, mengingat prasasti lebih valid (sahih) dari karya tulis. Yang teraba hanyalah tradisi tulis baru datang kemudian setelah tradisi lisan. Dengan kata lain, karya sastra yang didasarkan pada fakta sejarah baru ditulis beberapa abad setelah peristiwa terjadi, berdasarkan ingatan yang tertinggal melalui tradisi lisan.

Akan halnya Syèkh Subakir, wali yang berasal dari Persia (kini: Iran) itu,[4] konon, datang untuk berdakwah di Tanah Jåwå pada tahun 808 H (1404 M), bersama delapan Walisångå periode pertama yang lain atas perintah Sultan Muhammad I dari Turki. Begitu, lagi-lagi konon, menurut Kanzul ‘Ulum karya Ibnu Bathuthåh (h. 1304--1378),[5] yang penulisannya diteruskan oleh Mawlana Muhammad Al-Magråbi.

Setiba di Jåwå, mereka berbagi tugas. Syèkh Subakir berkeliling, menumbali tempat angker. Ia memilih tanah yang bagus untuk dijadikan pesantren. Padahal, lahan itu ditempati jin yang cenderung menyesatkan manusia. Syèkh Subakir membuat tumbal dari batu.[6] Setelah banyak tempat ditumbali, ia pulang ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat di sana.

Membuat tumbal dari batu? Agak sulit menjawab pertanyaan ini. Tradisi agåmå Adam ajaran Samin Suråsentikå (h. 1859--1914), yang hidup di Blora, tetapi pengaruhnya merebak hingga Pati, Bojonegoro, dan Madiun, misalnya, justru mewariskan do’a Nabi Zakaria dalam hal mencari lahan yang baik untuk ditempati. Doa’ ini diselipkannya dalam buku pandom (pedoman) kehidupan yang diwariskannya, Serat Lampahing Urip.

“Bila tanah berwarna hitam, berbau amis, singkiri saja, tak bisa dihuni. Ini do’a Nabi Zakaria untuk menumbali tanah. Saratnya garam segenggam, do’anya dibaca tujuh kali, garam ditaburkan ke kiri, puasa sehari semalam atau sehari. Insya-Ållåh ta’ala, tidak kekurangan. Ini do’anya: Ållåhumma ma’alaihi nasirun. Anna firqun firqun qådirun, minnu ya Ållåh ya råbbal ‘alamin, waya khåirun nashirin, biråhmatika ya arham ar-råhimin.”[7]

Begitu sedikit diceritakan orang tentang Syèkh Subakir. Kalaupun ada yang tertulis, seperti yang telah diceritakan di atas, kisahnya bercampur dengan mitos dan legenda. Lebih parah dari itu, kedatangannya dikaitkan dengan penempatan pertama “bibit” manusia di Tanah Jåwå,[8] yang terjadi pada paro kedua abad pertama Masèhi atau menjelang awal tahun Çåkå.

Padahal, mayoritas orang Jåwå tahu, terjadinya tahun Çåkå berkaitan dengan kedatangan Aji Çåkå dari Pallawa di India selatan. Ia mengalahkan raja raksasa Déwåtå Cengkar, yang konon suka memakan manusia rakyatnya sendiri. Aji Çåkå lalu bertakhta di kerajaan Medang Kamulan itu, menetapkan hari kedatangannya sebagai awal tahun Çåkå, menyebarkan agama Hindu, dan menciptakan huruf Jåwå.[9]

Versi kuna asal-usul manusia Tanah Jåwå yang bersifat bellum omnium contra omnes (perang pemusnahan jenis manusia yang satu oleh yang lain), bukan evolusi (perubahan pelan-pelan dari kera) seperti yang diduga oleh ilmuwan Inggris Charles Robert Darwin (h. 1809--1882), diceritakan oleh sejarahwan Cirebon, Pangéran Wångsåkertå (w. 1713) dan Pangéran Sulaéman (P.S.) Sulèndråningrat.

Versi lain dari “penanaman” manusia di Tanah Jåwå malahan melibatkan Radèn Ngusman Haji dari Bani Isråil.[10] Dongeng yang banyak diceritakan orang di wilayah Madiun dan Yogyåkartå ini sangat boleh jadi berasal dari serat Paråmåyogå tulisan Radèn Mas Ngabèhi (R.M.Ng.) Rånggåwarsitå (h. 1802--1873) yang baru “terbit”di Suråkartå pada tahun 1884.

Padahal, banyak sumber lain menyatakan Radèn ‘Utsman Haji itu tak lain dari Sunan Ngudhung, ayah Sunan Kudus II.
Yang pasti, baik Wångsåkertå, Sulèndråningrat, maupun Rånggåwarsitå menggunakan sumber yang sama: Jitapsårå karya Begawan Pålåsårå, yang mengutip Puståkå Daryå asal Tanah Hindustan, serta Miladuniren asal Najran, Silsilatul Guyub asal Sailan, Musarår, dan Jus al-Gubet asal Tanah Rum (-Asia) alias Turki.[11]


(1)       Syèkh Subakir versus Semar dan Togog[12]

BERIKUT INI kisah Syèkh Subakir “menanam” manusia di dan menumbali Tanah Jåwå yang ditulis oleh Pangéran Sulaéman (P.S.) Sulèndråningrat, guru Pengguron Caruban Krapyak Kaprabonan Cirebon.[13]

“… Pada suatu malam… Raja dari Rum Asia, yakni Turki, dalam mimpinya dapat ilham perintah dari Illahi agar Pulau Jåwå diisi dengan manusia. Pada esok harinya, ia memanggil patihnya dan… menyelenggarakan pengumpulan 20.000 orang untuk diberangkatkan ke Pulau Jåwå dengan kapal layar. … manusia pertama itu… tertumpas… oleh siluman. … hanya tersisa 40 orang… lari ke negeri Turki dan menghadap Raja….”

Raja pun memanggil Syèkh Subakir, memerintahkan kepadanya agar bersama Sang Patih mengambil 20.000 orang Keling untuk dimukimkan di Jåwå. Mereka berlabuh di Tanah Jåwå pada tahun 1 Jåwå, yang menurut naskahnya sama dengan tahun 87 Masèhi.[14]

“Kemudian Syèkh Subakir menuju Gunung Tidar. Di puncaknya, ia menanam tumbal. Demikian pula di tiap-tiap gunung lain. … ternyatalah keampuhan tumbal… terjadilah hujan, angin ribut besar, menggelegar suaranya, gunung runtuh, kilat, geledek, guruh mengobrak-abrik, bersahut-sahutan, mendung gelap gulita meliputi Pulau Jåwå.”

“… geger panik seluruh lelembut, jin, setan, banaspati, ilu-ilu, janggitan, kemangmang, wéwé gombèl, iprit, dan kebanyakan merkayangan lari tunggang langgang menuju ke laut, sedangkan gendruwo pada bubar, banyak siluman… mengosongkan Pulau Jåwå. … ketuanya ialah Sanghyang Semar dan Sanghyang Togog yang berdedukuh di hutan Gunung Merbabu.”

“Sanghyang Semar memberitahu, ‘… ada pendeta dari Rum Turki telah datang di Pulau Jåwå untuk merusak dedemit dengan tumbal… yang ditanam di puncak gunung… Mari kita lihat, kita jumpai Sang Pandhitå utusan Raja Rum yang menenung… merusak brakasakan/merkayangan. Semua dedemit Nuså Jåwå ketakutan dan gègèr.’ … Kemudian sampai mereka ke tempat Syèkh Subakir dan bertemu di Gunung Tidar.”

Mereka bertegur sapa. Sang Pandhitå berkata pula, “Menurut kabar, di Pulau Jåwå, belum ada manusia, masih kosong, dan masih berhutan besar belaka.”

Sanghyang Semar berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Jåwå dari zaman kuno, lama sebelum Tuan datang, menetap di… puncak gunung, sudah sembilan ribu tahun lamanya (sejak Sanghyang Wenang, mengingat Bathårå Semar adalah… titisan… Sanghyang Wenang), juga di Gunung Tidhar, kami punya padépokan sudah selama seribu tahun lebih hingga sekarang.”

Syèkh Subakir heran. “Kalian ini orang apa. Betulkah kalian manusia, karena umurmu… kelewatan. Saya belum melihat ada orang berumur sepuluh ribu tahun. Nabi Adam berusia panjang, tapi cuma seribu tahun. Anda itu, Kaki, harap berterus terang kepadaku, kalian bukan manusia, karena umurmu kelewatan berlebih-lebihan amat sangat panjang sekali. Kalau manusia, belum ada yang berumur sepuluh ribu tahun.”

Sanghyang Semar pun menjawab, “Sesungguhnya, aku ini… bukan manusia, Raja Dahyang (Jan) Tanah Jåwå, aku… Dahyang Sepuh, titisan dari Jengkåwå Dèwi (Babu Håwå) yang berdosa. Nama Manikmåyå adalah aku. Sanghyang Nurcahyå ialah aku. Sanghyang Wenang ialah aku. Sanghyang Srigati ialah aku. Wargutåmå ialah aku. Råjå Jåyåkusumå, Ki Jåkå Pandhak, Sanghyang Ismåyå ialah aku, pula adalah aku yang bernama Sanghyang Semar. Pada zaman purba kuna, sejak ibuku dahulu mengeluarkan benihnya, yang… telah diambil Idajil, kemudian akhirnya menjelma jadi aku. Inilah proses kejadian dari… aku… para dewa itu semua darahku. Juga semua dahyang di tanah seberang dan Jåwå itu adalah turunanku, beserta seluruh lelembut adalah cucuku. Jin, iprit, seluruh dedemit, ilu-ilu, gendruwo, bergola, dan lain-lain juga adalah cucuku. Adapun kakak ini adalah titisan Siti Sundari, lahirnya masih sekeluarga denganku. Kami berdua berdedukuh di Jåwå. Kami berdua datang menjumpai Tuan di sini, mohon tanya kepada Tuan dengan sesungguhnya, apa sebabnya Tuan datang merusak negara. Seluruh anak cucuku pada ketakutan oleh tenung… Tuan yang ampuh. Mereka semua wadyå lelembut mengungsi ke laut.”

Syèkh Subakir menjawab, “Saya ini, Kaki, diutus oleh Raja Rum. Saya diperintah untuk mengisikan manusia di Pulau Jåwå ini, agar berkembang biak membuka hutan. Yang saya isikan ini adalah orang dari Keling, ... 20.000 orang, lelaki dan perempuan. Ini adalah karya Hyang Widi, kalian tidak boleh menghalang-halanginya.”

Sanghyang Semar berkata, “Syukur setuju beribu setuju, kalau kehendak Raja Rum itu adalah perintah Hyang Widi, diperintah ke Pulau Jåwa, agar membuka hutan. Hanya aku mohon, turunanku supaya diperbolehkan turut menetap di Pulau Jåwå.”

Itulah kisah yang ditulis oleh Pangéran Sulaéman Sulèndråningrat, yang sebetulnya secara turun-temurun didongengkan dari mulut ke mulut di hampir semua wilayah orang berbicara dalam bahasa Jåwå. Bagian mana yang benar dari kisah ini? Wållåhu a’lam bish-shåwwab.


(2)       Serat Sèh Subakir dan Petilasannya

KISAH SERUPA ditulis orang menjadi Serat Sèh Subakir dalam huruf Jåwå, yang menilik jenis kertasnya, mungkin dibuat pada dasawarsa 1930-an. Naskah kitab ini ditemukan dan disimpan orang di Gandusari, Kabupatèn Blitar, Jåwå Timur. Jilidannya sudah copot. Sebagian lembarannya hilang. Separo halaman tulisan pada naskah sisanya sudah luntur terkena air.[15]

Dibanding naskah Cirebon, ada perbedaan tentang asal manusia yang ditanam, yakni bukan orang Keling, melainkan orang Arab. Kisah dalam Serat Sèh Subakir itu lalu berlanjut ke sejarah keraton di Jåwå mulai dari Medang Kamulan hingga Mataram.

Masih di Kabupatèn Blitar, 11 kilometer dari kota ke utara, tepatnya di Kecamatan Nglegok, ada petilasan yang dianggap dan dihias seperti makam Syèkh Subakir. Letaknya masih di dalam kompleks candi Penataran, tetapi di sebelah utaranya.
Petilasan ini, yang hanya salah satu dari banyak maqåm wali itu di seantero Jåwå Timur dan Jåwå Tengah, serta masjid dan halamannya yang menyatu, diperbaiki bersamaan dengan pemugaran candi Penataran pada era Bupati Siswanto Adi. Yang masih asli mungkin tinggal batu tempat Syèkh Subakir bersujud saat bersembahyang.

Anda mau tawasulan ngalap berkah di sana? Silakan, maqåm itu memang kian rutin dikunjungi orang untuk tawasul serta membaca surat Yasin dan tahlil.

(Gus Moen)


Catatan Kaki:

[1]       K.H. Muhammad Sholikhin, Manunggaling Kawulå-Gusti: Filsafat Kemanunggalan Syèkh Siti Jenar, Penerbit Narasi, Yogyåkartå, cetakan pertama, 2008, halaman 58, 58 catatan kaki 5.

[2]       Yongki Y., Menyingkap Misteri Ratu Laut Selatan: Banyu Bening Gelang Kencånå, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, cetakan pertama, 2003, halaman 508. Sayang, buku ini sama sekali tidak menyebut sumber penulisannya.

[3]       Lebih jauh mengenai pembicaraan ini, baca Djoko N. Witjaksono, Menuliskan Kembali Sejarah Mataram (Kuno): Beberapa Prasasti yang Mengubah Jalannya Penulisan Sejarah, katalog Pameran Keliling Budaya Tulis dan Benda Cagar Budaya di Jåwå Tengah di Blora, 5--9 Mei 2004, Museum Jåwå Tengah Ronggowarsito dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jåwå Tengah, Semarang dan Prambanan, halaman 6--14.

[4]       K.H. Dachlan Abdul Qohar, Wali Sångå, dalam Ibrohim Ghozi, Kenang-kenangan Haul Agung Sunan Ampèl Ke-539, Panitia Haul Agung Sunan Ampèl, Suråbåyå, 1989, halaman 12.

[5]       Abu Abdullåh Muhammad Ibn Bathuthåh (h. 704--780 H/1304--1378 M) itu pengembara bangsa Arab yang lahir di Tangiers, Aljazair, dan mulai mengembara pada usia 21 tahun dan baru kembali 24 tahun kemudian, lalu berangkat lagi ke Spanyol dan lalu ke Timbuktu dan Nigeria. Pada masa akhir hidupnya, ia menulis kisah perjalanannya, Tuhfatal-Nuzzarfi Gharå’ib al-Amshår wa’ajaib al-Ashfar. Ini karyanya yang pertama, belakangan di Aljazair ditemukan naskah yang lebih lengkap. Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas (The Concise Encyclopaedia of Islam), PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Desember 1996, terjemahan Ghufron A. Mas'adi, halaman 146--147.

[6]       Dachlan A.Q., op.cit., dalam Ibrohim Ghozi, op.cit., 1989, halaman 22.

[7]       Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo, Tradisi dari Blora, Penerbit Citra Almamater, Semarang, cetakan pertama, 1996, halaman 31--32, dengan mengutip Samin Suråsentikå, Serat Lampahing Urip.

[8]       Pangéran Sulaéman Sulèndråningrat, Beralihnya Pulau Jåwå dari Agama Sanghiyang kepada Agama Islam, diktat, Pengguron Caruban Krapyak Kaprabonan Cirebon, Cirebon, 1978, dalam Drs. Yoseph Iskandar, Drs. Dedi Kusnadi Aswin, R. Soenarto Martaatmadja, S.E., Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta H. Gozali Sumarta Winata dan Hj. Mutiah Siti Wulandari (editors), Negara Gheng Islam Pakungwati Cirebon, Padepokan Sapta Rengga Ciapus, Banjaran, Bandung, cetakan pertama, Mei 2000, halaman 97--101.

[9]       Kisah ini saya dengar sebagai dongeng ketika saya masih sekolah di Taman Kanak-Kanak Perwari, Blora, dan kemudian saya dengar lagi dari guru saya, Bambang Soenaryo Kayoenpoetra, di Sekolah Rakyat (SR) Negeri No. 2, nJethis, desa tempat saya lahir. Pak Bambang adalah wartawan (foto) pertama di Blora yang bekerja untuk harian Suara Merdeka yang terbit di Semarang.

[10]     Prof. Dr. Hasanu Simon, Misteri Syèkh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jåwå, Pustaka Pelajar, Yogyåkartå, cetakan pertama, September 2004, halaman 13.

[11]     Otto Sukatno Cr. (penerjemah), Paråmåyogå Ronggowarsito: Mitos Asal-Usul Manusia Jåwå, Yayasan Bentang Budaya, Yogyåkartå, cetakan pertama, Oktober 2001, halaman 1 dan P.S. Sulèndråningrat, op.cit., dalam Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi Aswin, Soenarto Martaatmadja, Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta Gozali Sumarta Winata dan Mutiah Siti Wulandari (eds.), op.cit., Mei 2000, halaman 105.

[12]     Kisah ini saya dengar pertama kali ketika saya disunat pada kelas 4 SD Negeri 2 (mBalun) Cepu kira-kira pada tahun 1964. Pada malam setelah saya disunat, Bapak --mungkin bersama kakak kelasnya di Pesantren Raudlåt al-Thålibin, Rembang, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) K.H. Bisri Mustofa-- membacakan naskah mitos Syèkh Subakir tawar-menawar di Gunung Tidar dengan Semar dan Togog, minta izin untuk "menanam" manusia di Tanah Jåwå. Saya tidak tahu naskah berhuruf Arab pegon apa yang dibacakan oleh Bapak saat itu. Bapak hanya menyebutnya Jåyåbåyå Syèkh Subakir. Berbilang tahun kemudian, tepatnya pada hari Senin 19 Maret 2001, di Teluk Angsan Permai, Bekasi Jaya, tempat rentetan kisah yang sekarang salah satu bagiannya Anda baca ini mulai ditulis, barulah saya mendapatkan buku yang diterbitkan oleh bukan penerbit resmi itu yang membicarakan karya sejarahwan Cirebon abad ke-17, Pangéran Wångsåkertå (w. 1713), yang menceritakan kisah yang sama.

[13]     P.S. Sulèndråningrat, op.cit., dalam Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi Aswin, Soenarto Martaatmadja, Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta Gozali Sumarta Winata dan Mutiah Siti Wulandari (eds.), op.cit., Mei 2000, halaman 97--101.

[14]     Inilah keanehan naskah Pangéran Sulaéman Sulèndråningrat, selisih tahun Jåwå dan tahun Masèhi itu 87 tahun, bukan 78 tahun sebagaimana lazimnya. Menurut dia, tahun Jåwå baru disebut tahun Çåkå kurang lebih pada 700 M dan bahwa Sultan Agung mengubah perbedaan tahun itu dari 87 tahun ke 78 tahun. P.S. Sulèndråningrat, op.cit., dalam Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi Aswin, Soenarto Martaatmadja, Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta Gozali Sumarta Winata dan Mutiah Siti Wulandari (eds.), op.cit., Mei 2000, halaman 101.

[15]     Agus Prasmono, Petilasan Sèh Subakir ing Penataran Salah Kaprah Dikirå Pesaréyan, dalam majalah Mingguan Kulåwargå Båså Jåwå, Jåyå Båyå, Suråbåyå, No. 49/LIX, Minggu I (7--13) Agustus 2005, halaman 14--15.

Syekh Quro Perspektif Manuskrip Tjaritå Purwåkå Tjaruban Nagari

MUSLIM CINÅ ASAL Cempå yang bermaksud menyebarkan agama Islam di Pulau Jåwå, Syaikh Hasan al-Din (baca: Hasanuddin), penganut madzhab Hanafi[1], tiba di Purå Dalem, Karawang, Jåwå Barat, pada tahun 1416 M, demikian dikisahkan dalam manuskrip Tjaritå Purwåkå Tjaruban Nagari.[2] Ia putra Syèkh Yusuf Siddik.[3] Sayang, hingga naskah ini rampung tersusun, hanya didapatkan data bahwa Syèkh Yusuf Siddik itu “masih ada garis… turunan dengan Syèkh Jamaluddin serta Syèkh Jalaluddin, ulama besar Makkah.”[4]

Pangéran Aryå Carbon menulis Tjaritå Purwåkå Tjaruban Nagari di Cirebon pada tahun 1720 M, berdasarkan karya Pangéran Wångsåkertå, Puståkå Nagårå Kretåbhumi, yang dirangkum pada tahun 1694--1695, dengan bahan antara lain karya Mpu Prapåncå: Kåthå Puståkå Desåwarnnånå,[5] yang Anda lebih mengenalnya sebagai Nagårå Kertagåmå.

Aryå Carbon mulai mengetuai Jaksa Pepitu pada tahun 1681. Dalam Tjaritå Purwåkå Tjaruban Nagari, dipaparkan riwayat berdirinya Keraton Cirebon dan beberapa kisah lain, termasuk cerita pembangunan permukiman Islam pertama di Jåwå Barat.[6]

Syaikh Hasan datang bersama anaknya: Syèkh Bantong alias Tan Go-hwat, yang kemudian tinggal di Gresik sebagai saudagar besar dan guru agama. Dari istrinya, Siu Te-yo, Syèkh Bantong memperoleh anak perempuan, Siu Ban-ci, yang diperistri oleh Prabu Bråwijåyå V Kertåbhumi. Dari perkawinan ini, lahirlah Pangéran Jin-bun atau Radèn Pråbå alias Radèn Patah, raja pertama Kesultanan Demak-Bintårå.[7]

Karena mengajar orang mengaji Al-Qurän, penduduk setempat memanggil Syaikh Hasan al-Din itu Syèkh Qurå dan pusat pengembangan agama Islam yang didirikannya disebut Pondok Qurå Purå Dalem.[8] Dengan menyebut namanya Syèkh Quråtul-‘Ain Pulobata, ada yang menulis bahwa pesantren ini didirikannya pada tahun 1428.[9]

Syèkh Qurå menikah lagi dengan Ratna Sondari, anak Ki Ageng Karawang. Dari perkawinan ini, lahir Syaikh Ahmad yang menjadi penghulu pertama Karawang. Putri Ahmad, Nyai Mas Kedhaton, melahirkan Musanuddin, yang kelak menjadi lebè Cirebon dan memimpin Masjid Sang Ciptå Råså pada masa Sunan Gunung Jati. Lebè Musa inilah yang disebut Lebè Gusa oleh Tomé Pires.[10]


(1)  Naik Kapal Cheng Ho

SYÈKH QURÅ datang di Karawang dari Cempå menumpang kapal angkatan laut Cinå, yang mengadakan perjalanan keliling atas perintah Kaisar Cheng Tsu atau Yung Lo, raja ketiga Dinasti Ming. Armada yang sedang dalam pelayaran ke Måjåpahit ini dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) alias Sam-Po-Tay-Kam yang beragama Islam, sedangkan juru tulisnya: Ma Huan.[11]

Karena itu, angka tahun 1416 yang ditulis dalam Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari harus disesuaikan. Menurut Dr.(H.C.) Uka Tjandrasasmita, mungkin peristiwa itu berhubungan dengan ekspedisi Cheng Ho pada tahun 1413--1415, seperti diceritakan oleh Ma Huan, penulis dan penerjemahnya. Pada pelayaran keempat tersebut, tempat yang amat penting antara lain Cempå, Jåwå, Palémbang, Malåkå, Samudrå, Ceylon (Sri Lanka), dan Kalikut (Kalkuta), serta Hormuz.[12]

J.V.G. Mills menduga jalan yang dipakai Cheng Ho dari Suråbåyå ke Palémbang (Chiu-chang, Kukang) melalui Selat Bangka (Peng-chia). Untuk mencapai tempat itu, ia mungkin melalui pesisir utara Jåwå ke arah barat melalui Demak (Tanmu), Pekalongan (Wueh), Cirebon (Che-li-wen), dan Sundå Kelåpå (Chia-lu-pa). Kemudian, ia melintasi Lampung (Lam-pan) di Sumatera dan berlayar sepanjang pesisir ke arah utara lewat muara Wai Tulang Bawang (Tu-lu-pa-wang).[13]

Dikatakan pula bahwa, meskipun di antara tempat penting itu, Cirebon (Che-li-wen) disebut-sebut, namun Ma Huan tidak menceritakan kegiatan apa pun oleh orang Cinå yang dipimpin Cheng Ho tersebut. Ekspedisi tahun 1413--1415 itu menelusuri pesisir utara dari Suråbåyå ke Palémbang, lewat Cirebon dan Sundå Kelåpå.[14]

Menurut Tjaritå Purwåkå Tjaruban Nagari, armada Cheng Ho terdiri atas 63 kapal, dengan prajurit 27.800 orang. Tujuannya yang utama ialah menjalin persahabatan dengan raja tetangga di seberang lautan. Setelah Syèkh Qurå dan anaknya turun di Karawang, armada itu melanjutkan perjalanannya ke timur dan singgah seminggu di pelabuhan Muara Jati, Cirebon.[15]

Dibandingkan dengan catatan Ma Huan dalam bukunya, Ying Yai Seng Lan (Pemandangan Indah di Seberang Samudra), ini berarti berlawanan arah. Buku ini ditulis pada tahun 1451. Orang Hui yang berasal dari Kabupatèn Hui Ji (kini: Shao Xing) ini muslim yang pandai berbahasa Arab. Sebagai penerjemah, Ma Huan ikut dalam pelayaran keempat, keenam (1421--1422), dan ketujuh (1431--1433).[16]


(2)  Nyai Subang Larang

SALAH SATU murid Syèkh Qurå ialah dara jelita Nyai Subang Larang,[17] yang lahir pada tahun 1404 M sebagai putri Mangkubumi Mertåsingå Ki Ageng Tåpå. Ketika berangkatbaligh pada usia 14 tahun, dia diajak oleh bibinya ke Malåkå. Dua tahun kemudian, dia kembali ke Jåwå dan berguru kepada Syèkh Qurå selama kurang lebih dua tahun.[18]

Selesai nyantri, jelita Mertåsingå itu dipersunting oleh Radèn (Pa)manah Råså, raja muda di Sumedang Larang, yang bergelar Prabu Naléndra Pujå Premånå atau Rajasunu. Saat itu, Pajajaran sedang dalam masa perwalian oleh pamannya, Prabu Susuk Tunggal. Dari perkawinan ini, lahir:

  • Pangéran Walang Sungsang pada tahun 1424 M,
  • Nyai Lårå Santang pada tahun 1427 M,[19] dan
  • Råjå Sengårå.[20]

Radèn Manah Råså diangkat menjadi raja Pajajaran dengan gelar Sri Badugå Måhåråjå Ratu Purånå Prabu Guru Déwåtåsrånå (k. 1425--1513). Penganugerahan gelar ini dilakukan oleh kakeknya, Prabu Niskålå Wastu Kencånå, raja Galuh. Keratonnya dinamakan Sang Bimå Untråyånå Madurå Surådipati.[21]

(Sambungannya masih diriset --Gus Moen)


Catatan Kaki Rujukan:

[1]      Paham hukum ini diajarkan oleh Imam Abu Hanifah. Namanya yang sesungguhnya ialah Nu’am bin Tsabit bin Zauthå bin Mah. Ia bangsa Ajam keturunan bangsa Parsi yang bermukim di Afghånistan. Orang tuanya pindah ke Iraq. Ia dilahirkan pada tahun 80 H (669 M) di kota Kufah pada masa pemerintahan Islam dipegang oleh ‘Abd al-Malik bin Marwan, raja Bani Ummayah. Drs. Yoseph Iskandar, Drs. Dedi Kusnadi Aswin, R. Soenarto Martaatmadja, S.E., Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta H. Gozali Sumarta Winata dan Hj. Mutiah Siti Wulandari (editors), Negara Gheng Islam Pakungwati Cirebon, Padepokan Sapta Rengga, Ciapus, Banjaran, Bandung, cetakan pertama, Mei 2000, halaman 70.

[2]      T.D. Sudjana, Pelabuhan Cirebon Dahulu dan Sekarang, dalam Susanto Zuhdi (penyunting), Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, cetakan pertama, 1996, cetakan kedua 1997, halaman 212, dengan mengutip Atja (editor), Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon),Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972.

[3]      Drs. Adeng, Dra. Wiwi Kuswiah, Drs. Herry Wiryono, Drs. Heru Erwantoro, dan Drs. Supratikno Rahardjo, M.Hum., (ed.), Kota Dagang Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutera, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (PIDSN), Direktorat Sejarah dan Tata Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Edisi I, 1998, halaman 21, dengan mengutip
  • Masyhuri, Ensiklopedia Nasional Indonesia, Jilid IV, Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1989, halaman 150,
  • Atja (ed. dan penerj.), Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sejarah Muladjadi Tjirebon), Seri Monografi No. 5, Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972, halaman 3, dan
  • Toguh Asmar, d.k.k., Sejarah Jawa Barat dari Masa Prasejarah hingga Masa Penyebaran Agama Islam, Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat, Bandung, 1975, halaman 88.

[4]      Anonim, “Syekh Quro”, 4 September 2008.03:51, sebagaimana dikutip oleh Anonim1, “Syekh Jumadil-Kubro,” dalam http://ahmadsamantho.wordpress.com/, 5 Desember 2011.

[5]      Naskah ini telah dialihaksara menjadi dua jilid oleh Saleh Danasasmita dari huruf Purwå Jåwå. Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi Aswin, Soenarto Martaatmadja, Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta Gozali Sumarta Winata dan Mutiah Siti Wulandari (eds.),op.cit., Mei 2000, halaman 178, 24.

[6]      Mohammad Guntur Shah, S.Ag., dan Martin Moentadhim S.M. (editor), Sit-Lam: Sejarah Cina-Islam di Indonesia, manuskrip, Sanggar Jangka Langit, Bekasi, Januari 2004, halaman 211, catatan kaki 2.

[7]      T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 212.

[8]      T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 213.

[9]      Anonim, op.cit., 4 September 2008, sebagaimana dikutip oleh Anonim1, op.cit., dalamhttp://ahmadsamantho.wordpress.com/, 5 Desember 2011.

[10]     T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 213.

[11]     T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 212.

[12]     M. Guntur Shah dan M. Moentadhim S.M. (ed.), op.cit., Januari 2004, halaman 213, dengan mengutip Uka Tjandrasasmita, Bandar Cirebon dalam Jaringan Pasar Dunia, dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 57.

[13]     Ibid., dengan menyitir J.V.G. Mills, Ma Huan, Ying-Yai Sheng-Lan, The Overall Survey of The Ocean's Shores, 1433, Cambridge University Press for The Hakluyt Society, London, Extra Series No. XLII, 1970, halaman 35.

[14]     Ibid.

[15]     T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 212.

[16]     Profesor Madya Kong Yuan Zhi, Sam Po Kong dan Indonesia, tanpa penerbit, Jakarta, cetakan pertama, September 1992, halaman 128, 132--133. Buku ini disunting oleh Prof. Dr. H.M. Hembing Wijayakusuma, Ph.D., dan diterbitkan oleh Hj. Sri Lestari Masagung.

[17]     Yoseph Iskandar, Dedi Kusnadi Aswin, Soenarto Martaatmadja, Harry Supriadi, Tony S. Martakusumah, serta Gozali Sumarta Winata dan Mutiah Siti Wulandari (eds.), op.cit., Mei 2000, halaman 70, 76,

[18]     T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 211.

[19]     T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 211.

[20]     Adeng, Wiwi Kuswiah, Herry Wiryono, Heru Erwantoro, dan Supratikno Rahardjo (ed.), op.cit., 1998, halaman 21.

[21]     T.D. Sudjana, op.cit., dalam Susanto Zuhdi (peny.), op.cit., 1997, halaman 211.

Fathimah Binti Maimun, Syarifah Tertua di Nusantara

Ditulis oleh:

BUKTI TERTUA HURUF Arab pada fase awal Islam di Nusantara ditemukan di makam di Desa Leran, delapan kilometer utara kota Gresik, Jawa Timur.[1] Huruf itu, yang terdapat pada nisan Fathimah binti Maimun bin Hibat Allah, semula dibaca bahwa dia wafat pada tanggal 7 Rabi’ al-Awwal 495 Hijriyah atau 1102 Miladiyah.

Demikian hasil pembacaan oleh J.P. Moquette[2] yang diumumkan pada tahun 1919. Data ini dikoreksi oleh Paul Ravaise[3] pada tahun 1925 menjadi 475 H atau 1082 M. Inilah yang kini umum ditulis, misalnya oleh R. Atmodarminto dan Solichin Salam,[4] yang dijadikan rujukan oleh banyak penulis untuk membuat karya tentang Wali Sanga dan awal masuknya Islam di Jawa.

Berdasarkan laporan yang pernah dibuat sebelumnya, Moquette menguraikan “prasasti” Leran ini secara rinci dan kritis bahwa Fathimah berasal dari lingkungan keluarga tehormat, mungkin dari Arab atau tempat lain di Asia Barat. Berdasarkan akhir baris ketiga dan awal baris keempat: al-syahidah Fathimah, Moquette menyatakannya “meninggal syahid”.[5]

Pembacaan ini mendapatkan tanggapan luas. Kalimat al-syahidah Fathimah diperbaiki oleh Th.W. Juynboll menjadi as-syahirah Fathimah.[6] Guru besar Paul Ravaise berpendapat namanya Al-Mutawaqiyah al-Asimah binti Maemun yang berarti “putri Maemun yang terlindung dari dosa dan kesalahan”.[7]

“Pertanggalan ini menunjukkan bahwa nisan anak perempuan Maimun ini merupakan bukti tertua penggunaan tulisan Arab di Asia Tenggara,” demikian dituliskan pada buku panduan Pameran Budaya Islam di aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN, kini: Universitas Islam Negeri = UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tanggal 11-17 September 1995.[8]

Inskripsi nisan Fathimah terdiri atas tujuh baris, ditulis dengan huruf Arab bergaya Kufi Timur abad ke-11[9] dengan tata bahasa Arab yang baik. Nisan ini juga memuat ayat suci Al-Qur’an, antara lain surat Al-Rahman ayat 26-27 dan surat Ali Imran ayat 185.

Nisan ini --bersama nisan Mawlana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabi’ul awal 822 H atau 8 April 1419 M, juga dimakamkan di Gresik-- mengukuhkan pendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Persia dan Gujarat. Ada pula sarjana yang menyatakan batu nisan tersebut mirip kuil tembok Hindu di Gujarat.[10]

Prof.Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat menyatakan, “Buktinya kalau agama Islam … masuk ke Indonesia itu dari Iran (Persia) ialah ejaan dalam tulisan Arab. Baris di atas, di bawah, dan di depan disebut jabar, jer, dan pes. Ini adalah bahasa Iran. … kalau menurut bahasa Arab ejaannya ialah fathah, kasrah, dan dlamah. Begitu pula huruf sin yang tidak bergigi, sedangkan huruf sin dari bahasa Arab adalah bergigi. Ini salah satu bukti yang terang.”[11]

Akan tetapi, Profesor Sayid Qudratullah (S.Q.) Fatimi justru menggunakan tulisan pada nisan Fathimah binti Maimun untuk mendukung teorinya bahwa Islam berkembang ke Nusantara melalui Benggala. Ia mengkritik para ahli yang dinilainya mengabaikan jirat di Leran tersebut, yang dianggapnya justru mirip batu nisan yang ada di Benggala.[12]


(1) Siapakah Fathimah binti Maimun?

PERTANYAAN SEPERTI  ini tentu saja tidak hanya menjadi hak para penelusur sejarah masa sekarang, melainkan siapa pun yang melakukan hal yang sama baik pada lalu maupun masa yang akan datang.

Ahli sejarah Cirebon abad ke-17 Wangsakerta[13] sebagai pangeran ketiga keraton itu bahkan melakukan gotrasawala (musyawarah kekeluargaan) ahli sejarah se-Nusantara.

Sewaktu menelusuri silsilah para syaikh (guru) dan sulthan keturunan Nabi Muhammad s.a.w. yang menjadi tokoh penyebar agama Islam di Nusantara, Wangsakerta dalam gotrasawala pada tahun 1677 berdiskusi dengan mahakawi sejarah dari Pasai, Jawa Timur, Cirebon, Arab, Kudus, dan Surabaya, serta ulama dari Cirebon dan Banten.[14]
Hasilnya sebagai berikut:

D1.      Dari Muhammad ke Al-Uraidi: Rasul Muhammad s.a.w. - Fathimah al-Zahra + Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karamahAllahu wajhah (k.w.) - Husayn al-Sabti - Zayn al-‘Abidin - Muhammad al-Bakir – Imam Ja'far Shadiq - ‘Ali al Uraidi.
D2.      Dari Al-Uraidi ke Fathimah: ‘Ali al Uraidi - Sulayman al-Bashri (menetap di Parsi) - Abu Zayn al-Bashri - Ahmad al-Baruni - Sayyid Idris al-Malik - Muhammad Makdum Sidik - Hibat Allah – Maimun - Fathimah.

Masih menurut penelusuran itu, Fathimah menikah dengan pria bernama Hassan yang berasal dari Arab bagian selatan.
Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan penulis Moh. Hari  Soewarno: “Mungkinkah tokoh Maulana Ali Syamsudin[15] yang disebutkan dalam kitab Sunan Giri III/Prapen, Asrår (1618), suami Fatimah?”[16]

Tentang Fathimah binti Maimun ini, pasangan peneliti H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud menghubungkannya dengan tradisi lisan Jawa tentang Putri Leran atau Putri Dewi Swara.[17] (Padahal, Putri Leran atau Putri Dewi Suwari dari Majapahit meninggal pada tahun 1313 Ç atau 1391 M.)[18] Dalam kaitan ini, kedua pakar Belanda ini juga menerima anggapan bahwa Gresik merupakan pusat tertua agama Islam di Jawa Timur.

Dengan demikian, tidak mustahil Fathimah binti Maimun itu pensyi’ar Islam pertama di Tanah Jawa, bahkan sangat boleh jadi di Indonesia. Namun, ada penulis yang menyatakan kakeknya itu pedagang dari Timur Tengah, yang menetap di Leran dan menikah dengan perempuan setempat. Hibat Allah bahkan diduga sudah membangun masjid.[19]

Pada tahun 1980, setelah membaca ulang epitaf[20]-nya, N.A. Baloch, yang menyatakan agama Islam masuk Nusantara saat Rasulullah s.a.w. masih di Makkah, juga mengangkat Fathimah binti Maimun sebagai princes (putri) yang punya kaitan kekeluargaan dengan Malik Ibrahim.

Tak pelak lagi ini menimbulkan penafsiran bahwa Fathimah memegang kekuasaan eksekutif, yang berlangsung jauh sebelum masa Ken Arok dan Ken Dedes (k. 1222-1227) dan Dewi Suhita (k. 1429-1447) dari Majapahit.[21]

Akan tetapi, L.C. Damais tidak melihat adanya data yang dapat menunjukkan bahwa dia turunan bangsawan, melainkan anak pedagang Arab yang sudah lama bermukim di sana. Batu nisannya berasal dari bahan lokal dan, berdasarkan unsur paleografi,[22] ragam hiasnya tidak dijumpai di negeri Islam mana pun.[23]


(2) Kenapa Desa itu Bernama Leran?

APAKAH FAKTOR kebetulan bila desa tempat Fathimah binti Maimun dimakamkan itu bernama Leran? Tentu saja hal ini telah menjadi perbincangan para ahli sejarah sejak lama.

Cendekiawan muslim Oemar Amin Hoesin, misalnya, berpendapat, "Di Persia itu ada satu suku namanya ‘Leren’. Suku inilah yang mungkin dahulu datang ke Tanah Jawa, sebab di Giri ada … kampung, Leren namanya. Begitu pula ada … suku namanya … Jawi di Persia. Suku inilah yang mengajarkan huruf Arab yang terkenal di Jawa dengan huruf pegon."[24]

Dalam kaitan ini, Moh. Hari Soewarno mencatat, “Leran sebenarnya nama suku di Iran. Mungkin Fatimah berasal dari Parsi, sebab data itu bisa dibandingkan dengan … data lain di Iran sendiri. Di sana pun terdapat … desa yang namanya Jawi, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pada abad ke-11 itu sudah ada … lalu lintas dagang antara negeri kita dengan Parsi. Peristiwa itu pasti terjadi berulang-ulang serta dimengerti banyak orang, baik di Jawa maupun di Iran.”[25]

Menurut dia, orang Parsi yang datang di Jawa merasa kerasan lalu menetap. Sebaliknya, orang Jawa yang merasa senang di Iran lalu menetap di sana, juga logis, lalu menamai desanya Jawi, untuk menunjukkan perkampungan orang Jawa di sana.

“Fatimah binti Maimun jelas orang Parsi yang menetap di Jawa, (tepatnya di) Gresik, lalu perkampungannya di sana hingga sekarang terkenal sebagai Desa Leran,” tulisnya pula.

Lebih jauh, Moh. Hari Soewarno mengutip pendapat G.P. Rouffaer dalam catatan buku W. Fruin-Mees, Geschiedenis van Java, 1918, bahwa “(Di) Kediri pada abad ke-11 … sudah banyak orang membuat rumah indah dengan genting warna-warni, ada yang kuning dan ada yang dicat hijau, … gaya rumah demikian hanya ada di Parsi.”


(3) Kenapa Pula Pelabuhan Gresik?

APAKAH JUGA faktor kebetulan jika dari tanah Persia, Fathimah binti Maimun merantau ke pelabuhan Gresik dan kemudian tinggal serta wafat dan dimakamkan di sana?

Bersama nisan ulama Persia Mawlana Malik Ibrahim yang berangka tahun 822 H (1419 M), nisan Fathimah yang berangka tahun 475 H (1082 M) dilihat sebagai bukti bahwa pada waktu itu banyak orang jelata Gresik yang telah menganut agama Islam.[26]

Bahkan sebelum pengiriman Wali Sanga periode pertama, sudah banyak pedagang Islam datang berniaga sambil menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.[27] Mereka memilih daerah pelabuhan Gresik sebagai tempat tinggal mereka di pulau yang saat itu sedang dalam kekuasaan Majapahit.

Dalam hal ini, R. Atmodarminto menulis, “Karena kedatangan agama Islam ke Jawa melalui hubungan dagang, maka yang terlebih dahulu memeluk agama Islam adalah rakyat jelata, seperti para anak kapal (juragan dan kelasinya). Pemusatannya di daerah pelabuhan seperti Tuban, Jepara, serta Gresik, yang sejak ... Erlangga bertakhta (1019-1041 M) telah dibuka untuk hubungan dagang dengan negara manca.”[28]

Menurut Rouffaer, di pantai Tuban, banyak ditemukan kepingan uang emas dinar Arab bertarikh abad ke-9-10, yang menunjukkan bahwa lalu lintas niaga antara Jawa dan Timur Tengah sudah maju pesat.

Akan halnya kedudukan Gresik yang istimewa ini, ahli obat-obatan bangsa Portugis Tome Pires yang menyusuri pantai utara Jawa pada Maret-Juni 1513 sebagai superintendent[29] dan wakil dagang negaranya, mencatatnya dalam jurnalnya yang terkenal, Suma Oriental.[30]

"Mereka mulai berdagang di negeri itu dan bertambah kaya. Mereka berhasil membangun masjid dan mullah[31] didatangkan dari luar," catat Tome Pires, yang berangkat ke Malaka pada tahun 1511 dan sampai pada tahun 1512.[32]


(4) Berlayar Cari Besi Bahan Keris

MENGENAI KEMAMPUAN melaut orang Jawa, Babad Tanah Djawi versi J.J. Meinsma[33] menggambarkan betapa kapal layar Jawa telah mengarungi samudra sejauh-jauh sampai ke negeri Sofala di pantai Afrika Timur yang berhadapan dengan Madagaskar.

Dengan mengutip data yang ditulis oleh Al-Idrisi pada tahun 549 H/1154 M, B.J.O. Schrieke tak hanya menyebut adanya kapal dari Zabaj (Nusantara) yang secara reguler membawa besi dari Sofala, melainkan juga kehadiran orang Indonesia-Melayu dekat kawasan barat Lautan Hindia pada awal abad ke-12 M. Ia juga menyatakan, pada tahun 844 H/1346 M, ‘Abd al-Razzaq menemukan orang Nusantara di Hormuz.[34]

Moh. Hari Soewarno melihat kepergian jauh itu terkait dengan kemajuan bidang industri pembuatan alat pertanian seperti cangkul dan sabit serta alat persenjataan, yakni keris, yang bahan bakunya harus dicari sampai ke Afrika Timur. “Itulah sebabnya orang Jawa memberanikan diri ... berlayar ke Sophala dengan tujuan mencari bahan mentah besi yang ada di sana,” tulisnya.[35]

Bahkan, ahli keris B.K.R.T. Hertog Djojonegoro menyatakan bahwa yang dicari jauh-jauh itu bukan hanya besi melainkan juga batu meteorit (watu lintang, batu bintang) sebagai bahan pamor. Pamor yang baik ada 111, antara lain berasal dari Gunung Uhud di Arab Saudi, misalnya pamor subhanallahi, alif, dan ahadiyat yang sangat besar kewibawaannya, serta pamor rahmatullahi yang mendatangkan banyak rejeki.[36]

Pengambilan pamor dari Gunung Uhud, menurut Hertog, menunjukkan bahwa suku bangsa Jawa khususnya dan  bangsa Indonesia umumnya pada masa dahulu merupakan bangsa pelaut dan peniaga yang sudah mengunjungi Tanah Arab dan memiliki hubungan dagang dengan banyak negeri di Timur Tengah.

Diakui oleh bangsa asing melalui tulisannya bahwa dalam periode lama sebelum tarikh Masehi orang Indonesia merupakan bangsa pelaut/bahari dan peniaga yang ulung yang mencapai puncaknya pada zaman Sriwijaya, Syailendra, dan Majapahit, kemudian masih berlangsung pada masa Demak dan Mataram di bawah Sultan Agung.

Keahlian membuat keris hanyalah satu dari 10 ilmu asli yang dimiliki orang Jawa. Profesor J.L.A. Brandes dalam majalah Tijdschrift Batavias Genootschap (TBG) edisi 32 tahun 1889 menulis bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal: (1) wayang, (2) gamelan, (3) metrik (cara dan alat penimbang), (4) batik, (5) logam (dan cara mengolahnya), (6) sistem uang, (7) ilmu pelayaran (men kent betrekkelijk veel scheepvaartkunde), (8) astronomi (ilmu perbintangan), (9) penanaman padi basah, dan (10) sistem pemerintahan yang sangat teratur (een zeer geordende staat van bestuur).
(Gus Moen)


Catatan Kaki:

[0]        Istilah ini berarti perempuan yang menyiarkan agama Islam. Yang lelaki disebut mubaligh. Lihat Harimurti Kridalaksana dkk. (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kedua, Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, cetakan kedelapan, 1996, halaman 667.

[1]       Buku Panduan Pameran Budaya Islam di Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN, kini: Universitas Islam Negeri = UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 11-17 September 1995, halaman 4.

[2]       Drs. H.M. Habib Moestopo, Mandala Pesantren Ampel Denta, Tin jauan Sejarah Keberadaan Sunan Ampel di Majapahit sekitar Abad XV Masehi, makalah Seminar Sunan Ampel dalam Perspektif Dakwah Klasik dan Kontemporer di Norbait Hall, Grand Kalimas Hotel, Surabaya, 13-14 Januari 1996, halaman 35, dengan mengutip J.P. Moquette, De Oudste Mohammedanste incriptie op Java, n.m. de grafteen van Leran, Handelingen 1ste Conggres taal, land en volkenkunde van Java, Weltevreden, 1919. Panitia sebenarnya minta makalah berjudul Potret Masyarakat Jawa/Nusantara Menjelang Kedatangan Sunan Ampel (Tinjauan Sosiologis, Kultural, Politik, dan Religius).

[3]       H.M. Habib Moestopo, op.cit., 1996, halaman 35, dengan mengutip P. Ravaise, L’Inscription Coufique du Leran a Java, TBG, LXV, 1925, halaman 668-703.

[4]       R. Atmodarminto, Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik Episode Keislaman dan Kebangsaan, Millenium Publisher, Jakarta, cetakan pertama, Juni 2000, halaman 39, yang naskah aslinya usai ditulis pada 1954 dalam bahasa Jawa modern saat itu, sebagai tafsir atas kitab kuna Babad Demak yang ditemukan di Yogyakarta, dan Solichin Salam, Sekitar Wali Sanga, Penerbit Menara Kudus, Kudus, cetakan kedua, 1963, halaman 7.

[5]       Moehamad Habib Mustopo, Kebudayaan Islam pada Masa Peralihan di Jawa Timur pada Abad XV-XVI --Kajian Beberapa Unsur Budaya, ringkasan disertasi, Universitas Indonesia, Depok, Rabu 30 Agustus 2000, halaman 14, dengan mengutip J.P. Moquette, op.cit., 1919, halaman 391-399.

[6]       M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip Djajadiningrat, 1927.

[7]       M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip P. Ravaise, op.cit., 1925, halaman 669-703.

[8]       Pameran ini diadakan oleh Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Kedutaan Besar Republik Arab Mesir di Jakarta.

[9]       M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip J.P. Moquette, op.cit., 1919, halaman 391-399. Kufi merupakan salah satu ragam terawal kaligrafi Arab zaman Islam. Kesulitannya ialah orang tidak dapat membacanya dengan cepat. Lihat Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas (The Concise Encyclopaedia of Islam), PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Desember 1996, terjemahan Ghufron A. Mas'adi, 1996, halaman 205.

[10]     Solichin Salam, op.cit., halaman 7.

[11]     Solichin Salam, op.cit., halaman 8, wawancara.

[12]     Dr. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, cetakan pertama, September 1994, halaman 25, dengan mengutip S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia, Malaysia Sociological Institute, Singapura, 1963, halaman 31-32.

[13]     Drs. Yoseph Iskandar, d.k.k., Negara Gheng Islam Pakungwati Cirebon, Padepokan Sapta Rengga Ciapus, Banjaran, Bandung, cetakan pertama, Mei 2000, halaman 2.

[14]     Yoseph Iskandar, op.cit., halaman 123.

[15]     Nama ini juga disebut dalam Serat Jayabaya salinan induk dari Kraton Surakarta yang disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan kode Jav. Hs. KBG. 99, tetapi nama kitabnya bukan Asrar melainkan Musarar. Lihat Dra. Astuti Hendrato-Darmosugito (penerjemah), Serat Jayabaya, PT (Persero) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, Jakarta, cetakan pertama, 1999, halaman 1.

[16]     Moh. Hari Soewarno, Fatimah Tokoh Da’i Islam di Zaman Erlangga, dalam rubrik Kilas Balik Majalah Panggilan Adzan edisi Januari 1990/Jumadil Akhir 1410, halaman 46-51.

[17]     H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa –Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 22-23.

[18]     M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip Raffles, 1817.

[19]     Prof.Dr. Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar –Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cetakan pertama, September 2004, halaman xxviii, 42-43, dan 83.

[20]     Epitaf = tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di situ atau pernyataan singkat di monumen. Harimurti Kridalaksana dkk., op.cit., 1996, halaman 268.

[21]     N.A. Baloch, The Advent of Islam in Indonesia, sebagaimana dikutip oleh Prof. Drs. Ahmad Mansur Suryanegara, Sunan Ampel dan Perang Sabil, makalah Seminar Sunan Ampel dalam Perspektif Dakwah Klasik dan Kontemporer di Norbait Hall, Grand Kalimas Hotel, Surabaya, 13-14 Januari 1996, halaman 8.

[22]     Paleografi = ilmu tentang tulisan kuno. Harimurti Kridalaksana dkk., op.cit., 1996, halaman 718.

[23]     M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip L.C. Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan L.C. Damais, EFEO-Pusat Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, halaman 173. EFEO = ?

[24]     Solichin Salam, op.cit., halaman 9, wawancara.

[25]     Moh. Hari Soewarno, op.cit., halaman 46-51.

[26]     R. Atmodarminto, op.cit, halaman 39-40.

[27]     Solichin Salam, op.cit., 1963, halaman 7.

[28]     R. Atmodarminto, op.cit., halaman 39.

[29]     Istilah superintendent ini berarti “orang yang mengelola, mengawasi, dan mengarahkan”. Lihat F.G. and H.W. Fowler/R.E. Allen, The Pocket Oxford Dictionary, Clarendon Press/Oxford University Press, New York, paperback edition, 1985, halaman 755.

[30]     Drs. Atja, Beberapa Catatan Bertalian dengan Mula-Jadi Cirebon, Majalah Kebudayaan Umum (MBU) Budaja Djaja, Jakarta, Nomor 60 Tahun Keenam Mei 1973, halaman 295-312. Atja mengutip Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires, an Account of the East, from the Red Sea to java, written in Malacca and India in 1512-1515 and The Book of Francisco Rodrigues, Route of a Voyage in the Red Sea, Nautical Rules, Almanac, and Maps, written and drawn in the East before 1515, translated from Portuguese by ... and edited by ..., 1944, vol. I-II.

[31]     Mullah dari kata Arab "mawla" yang di Iran dan Asia tengah merupakan gelar bagi ilmuwan agama atau ulama. Istilah ini hampir searti dengan istilah “faqih” yang berkembang di masyarakat Timur Tengah dan Afrika Utara. Lihat Cyril Glasse, op.cit., halaman 283.

[32]     Atja mengutip kalimat ini dari Hoesein Djajadiningrat, Kanttekeningen bij Het Javaanse Rijk Tjerbon in de eerste Euwen van zijn Bestaan, Bijdragen, D1 113, 4e Afl. 380, 1957, halaman 381, sedangkan Hoesein Djajadiningrat mengutipnya dari Armando Cortesao, op.cit., 1944, halaman 182-183.

[33]     J.J. Meinsma, Babad Tanah Djawi, in proza. Javaansche geschiedenis loopende tot het jaar 1647 der Javaansche jaartelling, s’Gravenhage, 1874. Cetakan kedua buku ini diterbitkan oleh KITLV pada tahun 1844-1899 terdiri atas dua jilid.

[34]     Azyumardi Azra, op.cit., September 1994, halaman 73, dengan mengutip B.J.O. Schrieke, The Indonesian Sociological Studies, van Hoeve, Den Haag, 1957, II, halaman 245.

[35]     Moh. Hari Soewarno, op.cit., halaman 50-51.

[36]     B.K.R.T. Hertog Djojonegoro, Keris sebagai Objek Penjelidikan Ilmu Kebudajaan, Majalah Al-Djami’ah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalidjaga, PT Al-Falah, Jogjakarta, No. 1 Djanuari 1966, Tahun Ke-V, halaman  30-50. Artikel ini merupakan bahan pidato/kuliah umum pada rapat senat terbuka IAIN Jogjakarta tahun kuliah 1964/1965.

Kamis, 22 Agustus 2013

Abdullah Umdatuddin dan Misteri Champa

Oleh:
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan 
·
Sayyid Abdullah Umdatuddin, pernahkah anda mendengar nama yang satu ini? Mungkin banyak dari kita ketika disebutkan nama yang satu ini sedikit bertanya-tanya siapakah beliau ini?.

Sayyid Abdullah Umdatudin memang banyak yang kurang mengetahui, namun jika anda tanya pada pengkaji dan pecinta sejarah walisongo  atau keluarga besar Azmatkhan yang ada di Nusantara atau Asia Tenggara terutama sejarah kesultanan-kesultanan seperti kesultanan  Kelantan, Malaka, Ternate, Banten, Demak, dan Cirebon, nama yang satu ini tidaklah asing. Kenapa tidak asing? Karena nama Sayyid Abdullah Umdatuddin ternyata merupakan leluhur utama dari Kesultanan kesultanan yang disebutkan tadi. Abdullah Umdatuddin sendiri adalah merupakan Sultan Champa yang berada dikawasan Asia Tenggara. Kesultanan Champa sendiri adalah Kesultanan yang sampai saat ini menjadi pro dan kontra dalam sejarahnya. Kesultanan Champa adalah Kesultanan yang dianggap Kontroversial, karena sampai saat ini daerah Champa (Vietnam Tengah) cukup sulit diketemukan  peninggalan peninggalan yang berbau Islam, Sehingga adanya kondisi ini sering membingungkan para sejarawan. Tidak  adanya peninggalan peninggalan yang berbau islam seperti Makam-makam wali, Manuskrip, lambang kerajaan dan peninggalan kebesaran Kesultanan champa akhirnya sering mengundang perdebatan dimana adanya Champa itu.  Melihat kondisi Champa yang mungkin “membingungkan” beberapa analis sejarah juga mengatakan bahwa sangatlah riskan jika Walisongo menjadikan Champa sebagai sentral Dakwah karena saat itu menurut analisis ini penguasa Champa adalah non muslim.

Nama Champa sendiri juga terdapat di India,  yang merupakan asal usul  keluarga besar walisongo. Logika yang mudah dirangkai, bisa saja dari Champa India ini leluhur walisongo kemudian hijrah ke Champa Vietnam dan kemudian mendirikan Kesultanan Champa.  Namun walaupun demikian daerah yang berdekatan dengan Champa seperti Patani (Thailand) dan Malaka, Keislamannya sampai kini masih kuat. Jadi sangat boleh jadi jika Champa yang “terakhir” ini memang berada  Di Vietnam, hingga akhirnya kemudian hilang dan lenyap.

Adanya fakta negara-negara yang berbataskan dengan Champa islamnya kuat, membuktikan jika Champa memiliki hubungan yang kuat dengan  kesultanan kesultanan yang disebut tadi dan diindikasikan jaraknya memang tidak jauh dari Patani, Kelantan dan Malaka.  Kuat Dugaan Champa memang pernah menjadi Kesultanan Islam Melayu yang posisinya tidak jauh dari  wilayah kesultanan kesultanan tersebut, namun kemudian dihabisi sampai titik yang paling terendah,  sehingga peninggalan sejarahnya oleh penguasa dari kaum non muslim betul betul dilenyapkan, hingga akhirnya  dikemudian hari kaum muslim  dan ulama champa hijrah secara besar-besaran menuju Patani, Malaka dan Nusantara, sehingga tidak heran nama-nama berbau Champa banyak kita temukan didaerah yang disebut ini.  Minimnya  peninggalan Islam di Champa sangat wajar terjadi mengingat sikap penguasa daerah ini  yang memang tidak senang dengan Islam, dan kini terbukti dengan akan dihabisinya etnis rohingya  sekarang. Kalaupun kini ada etnis Champa yang muslim yang berada Vietnam, keberadaannya mungkin hanya 1 % saja.

Menurut Ahmad Jaelani Halimi dalam bukunya yang berjudul Sejarah & Tamadun Bangsa Melayu Yang diterbitkan tahun 2008 oleh Utusan Publication Kuala Lumpur pada halaman 211 Islam itu sudah masuk Ke Champa sejak abad 10 Masehi, bahkan kota Champa pada masa itu sudah menjadi kota dagang dan ramai dihuni oleh orang Islam, bahkan Halimi yang mengutif pernyataan dari Al Dimasyqi menyatakan bahwa Islam sudah sampai di Champa sejak masa khalifah Usman bin affan dan puncaknya adalah pada masa Bani Umayyah. Untuk membuktikan pendapat ini Halimi bahkan mengatakan pada halaman 213 dibukunya bahwa telah diketemukan keramik keramik dari negara Islam yang terdapat di Pulau Cham (Cu Lao Cham) yang terletak lebih kurang 10 km diluar pantai Hoi An dan juga Tra Kieu bekas ibukota Champa yang dahulunya dikenali sebagai Sinhapura, sungguhpun demikian sikap fanatik sebagian penduduk Champa terhadap agama Budha Mahayana masih terus terjaga dan dianut hingga kini. Walaupun demikian adanya orang Islam di champa tetaplah diakui bahkan keberadaan mereka telah masuk pada kalangan istana bahkan akhirnya berkuasa menjadi Sultan seperti Abdullah Umdatuddin ini. Namun Pada tahun 1471 Masehi Champa diserang oleh Dinasti Dai Viet sehingga runtuhlah champa ini. Dengan jatuhnya Champa maka banyaklah orang islam saat itu melarikan diri ke Malaka, Patani, Kelantan dan Nusantara. Kebanyakan pelarian Champa menetap disekitar kampung Thom dan Kampung cham di Vietnam dimana disitu juga terdapat orang melayu.

Berbicara masalah Kesultanan Champa, nama Abdullah Umdatuddin sangatlah terkenal sebagai Sultan dari Champa.  Ayah beliau yang bernama Ali Nurul Alam juga tidak kalah terkenalnya . Ali Nurul Alam ini bahkan merupakan Anggota Walisongo Angkatan Pertama dengan Gelar Maulana Malik Israel atau Sultan Qonbul atau Arya Gajah Mada.  Ditangan Abdullah Umdatuddin Champa menjadi besar sedangkan Patani dan Kelantan ditangan Ali Nurul Alam juga tidak kalah hebatnya, Ali Nurul Alam juga merupakan Perdaa Menteri Majapahit didaerah Nusantara Kawasan  Melayu sehingga tidak heran Ali Nurul dianugrahi gelar oleh Majapahit dengan Arya Gajah Mada, yang merupakan gelar yang cukup bergengsi dalam kerajaan majapahit. Dalam buku Ahlul Bait, Keluarga Rasulullah SAW dan Kesultanan Melayu, yang disusun Oleh (Tun) Suzana, (Tun) Otman dan H Muzaffar Dato’ Muhammad, Penerbit Crescent News, Selangor Darul Ihsan,Malaysia, Tahun 2006, halaman 170 dikatakan bahwa Abdullah Umdatuddin adalah pendiri kesultanan champa dari jalur ahlul bait, namun menurut mereka ini Champa hanya bertahan empat generasi saja, yaitu hanya sampai periode DATUK LONG BAHA, yaitu NIK IBRAHIM (Po Nrop). Pada masa pemerintahan terakhir champa ini, Kesultanan Champa yang islam runtuh, dan para bangsawan dan sebagian rakyatnya mengungsi ke Patani, Malaka dan kelantan. Karena antara Champa dan Patani, Kelantan, Malaka dan Juga Nusantara  memiliki hubungan kekerabatan yang baik, maka tidak heran ribuan bangsawan dan pelarian champa diterima oleh kesultanan-kesultanan ini, begitu juga kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.

Ali Nurul Alam atau Maulana Malik Israil dan Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah atau Sultan Mesir atau Maulana Israil memang sangat menarik untuk diikaji sejarahnya, terutama nama dan wilayah kekuasaan mereka. Kenapa nama dan wilayah mereka sangat menarik untuk dikaji, terutama Abdullah Umdatuddin ini? Karena ternyata dari data sejarah yang umum tersebar, terutama dan sejarah Banten dan Cirebon, Abdullah Umdatuddin ini sering disebut sebagai SULTAN MESIR ketimbang sebagai Abdullah Umdatuddin.

Dalam sejarah Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten dimana Syarif Hidayatullah dan Sultan Hasanuddin sebagai penguasanya, Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah yang merupakan ayah Syarif Hidayatullah ini disebut dengan tegas sebagai SULTAN MESIR. Abdullah Umdatuddin sendiri kelak mempunyai anak-anak yang banyak menjadi Sultan besar dibeberapa Kesultanan Di Nusantara, seperti Sultan Ahmad Waliyullah/Abu Muzafar yang menurunkan Kesultanan Patani, Kelantan, dan Malaka. Di Kesultanan kelantan nama Abdullah Umdatuddin dikenal sebagai Wan Bon Teri teri. Anak-anak Abdullah Umdatuddin yang lain  seperti Sultan Babullah  juga telah menurunkan Kesultanan Ternate, selanjutnya Syarif Nurullah menjadi Raja Champa sedangkan kakaknya Syarif Hidayatullah juga menurunkan Kesultanan Cirebon, kemudian Raden Fattah yang menurunkan kesultanan Demak. Nama-nama yang disebut ini adalah anak-anak Abdullah Umdatuddin, kecuali 4 nama yang disebut, nama Raden Fattah jarang disebut karena adanya manipulasi data yang dilakukan oleh para orientalis dan penjajah kolonial, sehingga nama Raden Fattah jarang disebut, Namun berdasarkan catatan Nasab pada Keluarga Besar Walisongo yang terhimpun dalam Kitab Nasab Ensiklopedia Nasab Al Husaini Seluruh Dunia, Oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Penerbit Madawis, Tahun 2011, Nasab keluarga besar Raden Fattah bahkan tercatat dengan rapi dan detail.

Adanya nama Abdullah Umdatuddin menjadi SULTAN MESIR memang mahsyur dalam sejarah Cirebon dan Banten. Menyebut nama beliau berarti akan selalu dikaitkan dengan Negara Mesir.  Abdullah Umdatuddin ini jarang diketahui  masyarakat Banten dan Cirebon, justru nama yang mahsyur dalam sejarah Banten dan Cirebon adalah SULTAN MESIR atau MAULANA HUD/MAULANA ISRAIL atau SULTAN MAHMUD. Dalam sejarah kedua kesultanan ini banyak saya temukan cerita cerita yang mengaitkan antara Mesir dan Cirebon, Banten seperti  yang ditulis Oleh Tubagus Rafiudin S, Ag, dalam bukunya yang ditulis dengan gaya Ilmiah yang berjudul Riwayat Kesultanan Banten pada halaman 14, Yang Diterbitkan Oleh Keluarga Besar  Makbaroh Kesultanan Maualana Yusuf, Banten, 2006, yang mengatakan bahwa leluhurnya Sunan Gunung Jati berasal dari mesir dan bernama Syarif Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Husein Jamaludin dan menguasai Bani Israel. Begitu pula dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon oleh P.S Sulendraningrat.

Syarif Abdullah sendiri  dalam sejarah Cirebon dan Banten sering disebut sebagai Sultan Hud Raja Bani Israil yang terhitung keturunan Nabi Muhamad Saw. Agus Sunyoto dalam bukunya  yang berjudul Walisongo Rekonstruksi Sejarah Yang Disingkirkan pada halaman  155 – 156 bahkan mencantumkan secara detail tentang Syarif Abdullah ayah Sunan Gunung Jati ini, Agus banyak mengambil data itu dari beberapa  sumber seperti Serat Purwaka,  Naskah Martasinga, Carita Purwacaraka yang kadang dalam penulisan nama nama  nasab para alawiyyin leluhur Sunan Gunung Jati ini sangat “aneh” dan Janggal, seperti nama-nama Jumadhil Kabir (maksudnya mungkin Syekh Jumadhil Kubro), Jumadhil Kabir ini binnya adalah Zainal Kabir bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, nampak jelas keanehan penyusunan dan nama dari nasab ini, sudah banyak generasi yang hilang, namanyapun banyak yang terlihat aneh, sayangnya agus sunyoto tidak jeli dengan keanehan pada susunan dan penulisan pada nasab ini. Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum dalam Desertasi Doktor Filologi Di Pasca sarjana Universitas Pajajaran tahun 2001 yang kemudian menjelma menjadi buku yang berjudul SUNAN GUNUNG JATI, Petuah, Pengaruh dan jejak jejak Sang Wali di Tanah Jawa, Penerbi Salima, tahun 2012 pada halaman 65 s/d 100 dimana pada halaman-halaman tersebut bahkan dengan “nekat” menampilkan semua versi Silsilah Sunan Gunung Jati dan juga ayahnya Syarif Abdullah, terlihat memang rasa ketidak PD sang Profesor ketika mau memutuskan mana nasab atau silsilah yang benar asli. Wajar saja jika Pak Profesor bingung, karena diantara sekian Silsilah itu banyak tercampur dengan tokoh tokoh wayang dan tokoh tokoh legenda, namun sebenarnya sih kalau Pak Profesor jeli, itu ada satu versi yang validitasnya bisa dipercaya yaitu KH ABDULLAH BIN NUH yang merupakan Ulama Besar Indonesia dan memilki pengetahuan sejarah islam yang jenius disamping juga Hamka, Pada bukunya ini bapak Profesor kita bahkan memberikan “porsi” Cerita tentang Syarif Abdullah pada beberapa halaman untuk sekedar direview. Betapapun demikian karena ini adalah Kajian Filologi yang biasanya mengambil naskah naskah kuno, sikap Pak Profesor menurut saya bisa difahamilah, namun untuk urusan Ilmu Nasab, memang ada baiknya Pak Profesor seharusnya banyak berdiskusi dengan ulama ahli nasab. Namun demikian Pak Profesor dalam menyikapi berbagai silsilah yang satu sama lain berbeda dan boleh jadi  mungkin membuat beliau sedikit bingung, akhirnya Sang Profesor  pada halaman 100 dibukunya itu beliau mengatakan hal ini dengan kalimat yang bijak, “Munculnya Silsilah ini merupakan Ciri Khas dari Cerita Legenda yang menghubungkan keturunan seseorang  dengan tokoh tokoh tertentu yang mempunyai tujuan tertentu pula, baik sebagai usaha untuk mensucikan tokoh itu maupun untuk melegitimasi keberadaanya  sesuai dengan kedudukannya”.

Hal ini justru terasa kontradiktif dengan pandangan Syed Muhamad Naquib al-Attas (2011) yang justru juga dikutif oleh Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo yang mengatakan bahwa Silsilah Raja-Raja Cirebon  merupakan keturunan Syarif Hidayatullah dan berasal dari jalur Sayyid Husein Jamaludin sampai terus ke Muhammad Shabib Marbath. Catatan silsilah ini menurud Alatas berdasarkan hasil riset atau penelitian Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan pada tahun 1933 M melalui arsip keraton kesepuhan  Cirebon yang pada saat itu yang  Sultannya adalah Sultan Kasepuhan Muhamad Shamsuddin. Sayyid Salim  Jindan  yang merupakan Ahli Hadist dari Jakarta ternyata telah melakukan penelitian yang mendalam tentang nasab Syarif Hidayatullah ini, namun jangan lupa Sayyid Bahruddin Azmatkhan yang merupakan Ulama Ahli Nasabnya Walisongo dan merupakan kakek Syekh Mufti Kesultanan Palembang jauh lebih awal sudah memiliki catatan lengkap asal usul nasab Syarif Hidayatullah dan ayahnya. Catatan Nasab Sayyid Bahruddin Azmatkhan dan Cucunya Sayyid Shohibul Faroji bahkan lebih lengkap dan mendetail.

Adapun Catatan silsilah milik Keraton Kesepuhan yang telah diteliti Sayyid Salim Jindan ini juga telah dibandingkan dengan manuskrip milik Kyai Muhammad Salih Cirebon, Kyai Abbas Ciliduk, Cirebon,  Pangeran Ahmad Kubang Cirebon, Raden Zainal Ashiqin Cirebon dan Kyai Abdul Halim Maja lingga Cirebon yang semua menyatakan jika Syarif HIdayatullah atau Sunan Gunung Jati Nasabnya berasal dari jalur hadramaut bukan mesir, dan berasal dari tokoh keturunan Nabi Muhammad SAW, yang bernama Muhammad Shahib Marbath. Catatan silsilah Cirebon ini juga sesuai dengan catatan yang ada dalam buku Thariqah Menuju Kebahagiaan, Pengantar  Tentang Kaum Alawiyyin oleh Muhammad Al Baqir, Penerbit Mizan, tahun 1989 tepatnya pada halaman 43 s/d 45 dimana dalam halaman tersebut tertulis jika Abdullah Umdatuddin atau Abdullah Azmatkhan yang wafat Di Kampuhea (nama Sebelum Vietnam memiliki beberapa orang putra salah satunya adalah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Keterangan Al Baqir diperkuat pada halaman 45 dengan menampilkan diagram nasab yang dia ambil dari Kitab Khidmatul Asyiroh oleh Abdullah Assegaf, dimana kItab ini juga mengambil dari Kitabnya Ilhafun Nadhoir karya Al Habib Zain bin Abdullah Al Kaff. Yang perlu kita ketahui bahwa Al Habib Zain bin Abdullah Al Kaff yang kitabnya bernama Ilhafun Nadhoir itu  ternyata beliau mengambil sumber nasab ini dari kitabnya Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh yang berjudul Arsyul Muluk. Sayyid Bahruddin Azmatkhan adalah ulama ahli nasabnya Walisongo, dan merupakan kakek dari Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam.

Keterangan tentang Abdullah Umdatuddin juga bisa kita dapatkan melalui buku yang berjudul Penyebaran Islam Di Asia Tenggara, Asyraf Hadramaut dan Peranannya yang Disusun oleh Dr. Muhammad Hasan Al-Idrus yang merupakan Pengajar Sejarah Di Universitas Uni Emirat Arab. Pada bukunya yang diterbitkan oleh Lentera jakarta Tahun 1996 Halaman 74, dikatakan Bahwa Abdullah Umdatuddin tinggal di Indochina dan mempunyai anak salah satunya adalah Sunan Gunung Jati.

Namun demikian ternyata nama  SULTAN MESIR harus diakui memang lebih familier dibandingkan nama Abdullah Umdatuddin. Warga Cirebon, Banten dan juga  keturunan Syarif Hidayatullah tentu sangat bangga karena tokoh mereka ada tautan dengan Negara yang cukup terkenal dalam sejarah Islam. Tidak heran dalam setiap penulisan biografi Sunan Gunung jati nama SULTAN MESIR banyak diangkat, disertai alasan-alasan kenapa bisa berhubungan dengan kesultanan Cirebon, pernyataannya sekarang? Benarkah Abdullah Umdatuddin adalah Sultan Mesir? Benarkah beliau masuk bagian jajaran sultan dalam pemerintahan Negara mesir pada masa itu ? , Benarkah salah satu ibu tirinya berasal dari Mesir dan menikah dengan Abdullah Umdatuddin yang dikatakan Sultan Mesir itu???. Sengaja saya angkat pertanyaan ini, karena Abdullah Umdatuddin ini tidak hanya milik keluarga besar Cirebon dan banten, namun Abdullah Umdatuddin ini juga milik kesultanan kesultanan yang lain, sehingga sejarahnyapun harus diketahui oleh yang lain. Abdullah Umdatuddin adalah leluhur bersama, sehingga saya fikir tidak salah jika kita mencoba mengkaji kembali sejarah beliau ini.

Dalam catatan nasab Keluarga Besar Walisongo yang terhimpun dalam KITAB NASAB ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA, OLEH SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN AL HAFIZH DAN SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN AL HAFIZH, PENERBIT MADAWIS, 2011, Abdullah Umdatuddin ini sering disebut sebagai Sultan Champa dan bernasabkan kepada keluarga besar Azmatkhan, adapun nasabnya adalah berikut  :
1. Muhammad Rasulullah SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein As-Shibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir
6.  Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Ar-Rumi
10.Ahmad Al-Muhajir
11.Ubaidhillah
12. Alwi Al Awal
13. Muhammad Shohibus Souma’ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi’ Qosam
16. Muhammad Shohib Marbath
17. Alwi Ammul faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah Amir Khan
20. Sultan Ahmad Syah Jalaludin
21. Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
22. Ali Nurul Alam/Sultan Qonbul/Maulana Malik Israil/Arya Gajah Mada
23. Abdullah Umdatuddin/Wan Bo Teri Ter/Sultan Champa

 Berdasarkan  KITAB NASAB ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA ini juga bahwa istri istri Abdullah Umdatuddin ternyata tidak ada satupun yang berasal dari pembesar/sultan Mesir, Diantara istri istri beliau yang tersebut dalam kitab nasab ini adalah :

1.Isteri Pertama adalah: Syarifah Zainab binti Sayyid Yusuf Asy-Syandani Azmatkhan (Pattani Thailand) melahirkan 2 anak laki-laki: yaitu: a. Sayyid Abul Muzhaffar, melahirkan para sultan Pattani, Kelantan lama dan Malaysia. b. Sayyid Babullah, melahirkan Sultan-sultan Ternate.

2.Isteri kedua adalah Nyai Rara Santang/Syarifah Mudaim binti Prabu Siliwangi Raja Pajajaran, melahirkan 2 anak, yaitu:
a. Sultan Nurullah (Raja Champa) b. Syarif Hidayatullah (Raja Cirebon) bergelar Sunan Gunung Jati.

3. Istri ketiga adalah Syarifah Zaenab Binti Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi yang juga merupakan ayah Sayyid Fadhol Ali Murtadho, Sunan Ampel dan Maulana Ishak, Artinya Syarifah Zaenab adalah adik dari Sunan Ampel dari tokoh tokoh wali yang disebutkan tadi. Dari Syarifah Zaenab melahirkan 1 anak yaitu: Raden Fatah yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Gelar Akbar dinisbatkan pada gelar ayahnya yaitu Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) bin Ali Nurul Alam/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Gajah Mada/ bin  Jamaluddin Al-Husain.

Catatan Nasab ini juga diperkuat oleh penelitian Ahli Nasab yang sezaman dengan Sayyid Bahrudin yaitu Sayyid Hadi bin Abdullah Al Haddar. Pendapat ini juga semakin kuat dengan pendapat dari Syeikh Faqih Bin Abdullah Fathani dengan Versi Salinan oleh Syeikh Daud bin Abdullah Fathani  dalam buku TARIKH FATANI yang Diterbitkan oleh Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniah Kuala Lumpur Tahun 1998 M, pada halaman  34 – 35 bahwa Abdullah Umdatuddin yang berasal dari Champa mempunyai hubungan  sejak lama dengan wilayah Nusantara lain, bahkan Syekh Daud memastikan jika Patani Thailand dengan Patani di Ternate Halmahera (Maluku), tepatnya didaerah Tidore, Timur Laut Semenanjung Halmahera berbatasan dengan Maba dan Weda saling itu berkerabat, karena raja mereka adalah Sultan Babullah bin Abdullah Umdatuddin. Keterangan diatas ini jelas makin menguatkan jika Abdullah Umdatuddin secara geografis dan domisilinya  berada Champa bukan Mesir.

Nama Abdullah Umdatuddin Sendiri ini sering disebut sebagai Sultan Champa pada sejarah Kelantan, Patani dan Malaka seperti yang saya tulis terlebih dahulu, lantas darimana muncul nama Sultan Mesir seperti yang beredar pada sejarah Banten dan Cirebon?. Sebelum kita masuk pada analisa nama ini perlu kita tahu, siapa saja sebenarnya penguasa mesir pada era yang sezaman dengan Abdullah Umdatuddin. Dalam BUKU SEJARAH ISLAM SEJAK ZAMAN NABI ADAM HINGGA ABAD XX, OLEH AHMAD AL-USAIRY, PENERBIT AKARMEDIA, JAKARTA, TAHUN 2009 MASEHI HAL 303 -307, Saya mendapati fakta yang mengejutkan bahwa ternyata nama Abdullah Umdatuddin sama sekali tidak terdapat dalam susunan sejarah mesir sebagai sultan. Pada masa berkuasanya Abdullah Umdatuddin, ternyata penguasa mesir pada masa itu adalah berasal dari Bani Mamluk yang berasal orang orang yang merdeka yang kemudian dijadikan budak. Bani Mamluk ini asalnya adalah orang orang yang merdeka, kemudian mereka dibeli saat masih kecil pada masa pemerintahan Ayyubiyah. Mereka ini ditempatkan secara terisolir dari kebanyakan manusia disebuah benteng khusus. Mereka juga dididik secara militer sehingga mempunyai sifat berani dan pantang menyerah dan ini kelak akan berpengaruh pada perlawanan mereka terhadap mongol yang akan mencaplok mesir, kalau saja saat itu mereka tidak berhasil menghalau pasukan mongol.  Maka mungkin mesir tidak menjadi kota peradaban seperti sekarang ini. DIbawah Komando Saifudin Quttus di Lapangan Ain Jalut, secara gemilang   bani mamluk berhasil mengalahkan mongol, padahal saat itu mongol sedang ganas ganasnya dan nyaris beberapa Negara Negara islam tidak berdaya menghadapi invansi pasukan mongol. Orang orang dari Bani Mamluk ini kebanyakan berasal dari Asia tengah dan Asia kecil seperti Turkistan, Kaukasus (sekarang sebagian masuk wilayah Rusia). Dan memang orang orang dari daerah ini apalagi kaukasus terkenal tanggguh dalam berperang dalam segala medan, lihat Pasukan Merah Rusia dan Pejuang Checnya yang sampai saat ini terkenal tangguh dalam bertempur.

Untuk lebih jelasnya lihat susunan Sultan Mesir Era Dinasti Mamluk terutama bersamaan dengan Eranya Abdullah Umdatuddin dibawah ini.

SULTAN SULTAN DINASTI MAMLUK  TAHUN 1389 -1517 MASEHI

Azh-Zahir Barquq - 1389 Masehi – wafat
An-Nashir Farj Barquq – 1398 Masehi –Dicopot dari jabatan
Al-Manshur Abdul Aziz bin Barquq –  tiga bulan berkuasa –Dicopot dari jabatan
An-Nashir Farj – 1405 Masehi – dibunuh
Al-Muayyid Syaikh 1412 Masehi –wafat
Al-Muzhaffar Ahmad ibnul-Muayid –beberapa bulan berkuasa – Dicopot dari jabatan
Az-zahir Thutfar – beberapa bulan berkuasa  – wafat
As-Shalih Muhammad bin Thutfar –beberapa bulan berkuasa – Dicopot dari jabatan
Al-Asyraf Barsibal – 1421  Masehi – wafat
Al Aziz Yusuf bin Barsibal – beberapa bulan berkuasa –wafat
Azzahir Jaqmaq – 1438 Masehi – wafat
Al-Manshur Usman bin Jaqmaq – beberapa bulan berkuasa – dicopot dari jabatan
Al-Asyraf Inal – 1453 Masehi – wafat
Al Muayyid Ahmad bin Inal – beberapa bulan berkuasa – dicopot dari jabatan
Azzahir Khasqodam – 1460 Masehi –wafat
Az-Zahir Balba – Dua bulan berkuasa -  dicopot dari jabatan
Azzahir Tamrigha Dua Bulan Berkuasa – Dicopot dari jabatan
Khairbeik – Satu Malam berkuasa – Dicopot dari jabatan
Al-Asyraf Qaytabai – 1467 Masehi – wafat
An-Nashir Muhammad bin Qaytabi – 1495 Masehi – Dicopot dari Jabatan
Qanshuh – 1496 Masehi – Dibunuh
An-Nashir Muhammad – 1497 Masehi – Dibunuh
Azzahir Qanshuh – 1498 Masehi – Dicopot
Janbalath – 1499 Masehi – Dibunuh
Al Adil Thumanbai I – beberapa bulan berkuasa – Dibunuh
Al-Asyraf Qanshuh Al Ghawi – 1500 Masehi - Dibunuh
Thumanbai II 1516 – 1517 Masehi – dibunuh

Pemimpin 27 raja ini yang paling menonjol adalah Al-Asyraf Barsabai, Al Asyraf Qaitabaai, dan Al-asyraf qanshuh Al-Ghawri.  Dalam pemaparan ini ini sudah jelas nama Abdullah Umdatuddin tidak ada dalam urutan penguasa mesir saat itu. Nama-nama yang ada disini juga banyak yang bukan merupakan nama-nama yang umum seperti yang dipakai pada keluarga besar Azmatkhan.  Secara nasab Dinasti Mamluk nasabnya dipertanyakan, banyak sisi gelap dari nasab mereka, karena mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda dan sangat minim identitas, sedangkan keluarga besar walisongo atau azmatkhan terjaga dengan baik. Abdullah Umdatuddin dan Dinasti kesultanan azmatkhan  ketika didirikan tidak dengan kekerasan, sedangkan Dinasti Mamluk berdiri ada nuansa kekerasan, dan ini wajar karena Bani Mamluk berasal wilayah yang terisolir dibasis militer sehingga membuat mereka superior. Sebagai orang orang yang dianggap budak menyebabkan sensitifitas mereka tinggi apalagi ketika mereka berkuasa sebagai sultan. Tidak heran pasukan mongol yang terkenal kejam saja berhasil mereka kalahkan dengan kemampuan militer mereka.

Tentang SULTAN MESIR yang dikatakan berkedudukan di Kota Ismailiyah (berada di Timur Laut Cairo Mesir), sebuah kota yang berdekatan dengan Negara Israel dan Palestina, ternyata berdasarkan Laporan Kunjungan Perjalanan ke Canal Suez Ismailiyah Unversity  Cairo oleh Tim dari Prof. Dr. A. Syaiful Anam, M.Ag yang merupakan Guru Besar IAIN SUNAN AMPEL JAWA TIMUR pada Tanggal 1 Juli 2010, bahwa KOTA ISMAILIYAH ternyata didirikan baru pada  tahun 1863 Masehi, jauh sekali dari masa Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah ini. Penduduk  Ismailiyah sendiri saat ini hanya sekitar 750.000 jiwa saja. Letak kota ini di tepi Barat Terusan Suez. Kota ini didirikan pada tahun 1863 oleh Khedive Ismail sebagai penguasa mesir saat itu, saat Terusan Suez dalam proses pembangunan, dan atas jasa beliau sehingga kota ini dinamakan Ismailiyah. Kota ini memang tenang mirip dengan kota kota yang ada Di Jawa Timur namun yang kearah Bali.

Dengan adanya fakta ini, apakah mungkin kota yang dibangun pada tahun 1863 Masehi tapi telah  disebut sebagai kota pusat pemerintahan Syarif Abdullah yang berkedudukan di Mesir. Nama Ismailiyah ini setelah saya cari-cari dari beberapa sumber ternyata cukup sulit juga jika diketemukan perannya pada abad 14 s/d 15. Berdasarkan buku yang saya miliki yang berjudul Ensiklopedi Sejarah Islam Dari Masa Kenabian Sampai Daulah Mamluk, Oleh Tim Riset Dan Studi Islam Mesir yang dikepalai oleh DR. Raghib As-Sirjani, Penerbit Al Kautsar, Tahun 2013,  tidak ada satupun nama kota Ismailiyah disebut sebagai pusat pemerintahan, yang paling sering disebut adalah Kota Cairo dengan Al Azharnya, dan memang pusat pemerintahan Dinasti Mamluk saat itu berada dikota Cairo dekat Universitas Al Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah. Buku ini merupakan buku terlengkap dalam sejarah mesir dan ditulis secara ilmiah dan obyektif dan bersumber dari penelitian kitab kitab tarikh klasik pada masa itu, jadi keterangan sejarah pada masa itu pasti tertulis dan terjaga. Mesir memang saat itu terkenal sebagai kota peradaban dan kota ilmu pengetahuan, jadi rasanya cukup aneh juga jika nama nama Ismailiyah tidak disebut begitu juga nama Syarif Abdullah apalagi jika dhubungkan dengan kekuasaan. Berdasarkan nama saja, nama Abdullah atau Syarif Abdullah tidak dipakai oleh para penguasa Mamluk. Tidak ada nama-nama pada penguasa Mamluk itu yang mencerminkan sebagai Ahlul bait yang nama namanya tidak jauh dari nama keluarga Nabi Muhammad SAW. Secara nama sudah tidak sesuai begitu juga jabatan atau gelar, tidak ada satupun mereka yang memakai Gelar Sayyid atau Syarif sebagai identitas keturunan Ahlul Bait, dan memang pada dasarnya Dinasti Mamluk bukan Dinasti Ahlul Bait apalagi mereka adalah mereka berasal dari nasab yang belum jelas keberadaanya. Kalaupun Syarif Abdullah tetap dianggap sebagai orang yang berkuasa di Mesir, barangkali itu bukan sebagai sultan, karena sesuai dengan urutan penguasa sultan, tidak ada satupun nama Syarif Abdullah ini. Sepertinya  pengertian yang bisa masuk logika sejarah mungkin kata kata Sultan Mesir itu bisa diganti dengan kata “penguasa” atau mungkin walikota. Dan sepertinya ini mungkin lebih masuk akal seperti yang diungkapkan oleh Yosef Iskandar dengan Bukunya Sejarah Jawa Barat, Penerbit  Ceger Sunten Bandung, Tahun 1997, pada halaman 258 bahwa Syarif Abdullah itu merupakan walikota atau penguasa pada sebuah provinsi di Mesir. Syarif Abdullah atau abdullah Umdatuddin ini berkuasa ditanah Palestina tempat tinggalnya sebagian Bani Israil atau Yahudi. Ia menjadi Walikota pada masa Kekuasaan Bani Mamluk yang didirikan Dinasti Ayyubiyah. Kenapa bisa menjadi penguasa disana??? Ya tidak aneh, bukankah jaringan dan kerjasama ulama Azmatkhan itu meliputi seluruh dunia??? Jadi tidak aneh bila keluarga besar Azmatkhan ada dimana mana dan bisa jadi penguasa dan itu terbukti terjadi di Nusantara ini, dimana banyak keturunan azmatkhan menjadi Sultan atau penguasa dari beberapa Kerajaan Nusantara, baik itu Hindu, Budha atau Islam. Bukanlah merupakan sebuah hal yang mengagetkan jika suatu saat Abdullah Umdatuddin menjadi penguasa/walikota ditanah Mesir atau Palestina, karena di Palestina sendiri saat itu ada juga keluarga Azmatkhan yang lahir dan besar disana seperti keluarga besar Sunan Kudus. Mesir dan Palestina saat itu bukan seperti sekarang, yang sudah terkotak-kotak dan nyaris dikuasai Yahudi. Pada masa itu Yerusalam dengan Baitul Maqdisnya berada pada kekuasaan negara Mesir, tidak seperti sekaran, dimana Mesir dan Palestina sudah menjadi negara yang berdiri sendiri sendiri.

Pada masa lalu Mesir dan Yahudi menjadi pusat perhatian dunia. Pada masa itu para kaum Yahudi tidaklah seperti sekarang, karena mereka banyak menyebar keberbagai Negara, setelah Umar bin Khottob menyuruh mereka keluar dari Bumi Palestina karena sepak terjang mereka yang sering membuat kerusakan dalam kehidupan. Tidak heran Yahudi jadi dendam, sehingga walaupun sebagian besar mereka telah keluar dari negeri Palestina namun, keberadaan mereka tetap masih ada disekitar Negara Negara yang berdekatan dengan Yahudi yang salah satunya adalah Mesir. Banyak saat itu orang dari berbagai Negara datang ke negeri ini untuk belajar dan juga berjihad dalam mempertahankan Negara ini dari invansi militer mongol dan pasukan dari kerajaan yang ada di eropa, sedangkan Palestina saat itu menjadi pusat ziarah kaum Kristen, yahudi, islam dari berbagai seluruh dunia. Adanya penziarah tiga agama yang datang dari berbagai penjuru dunia, sebagai bukti siapapun bisa menetap dinegeri ini. Apalagi pasca perjanjian gencatan senjata dalam rangka perang salib, kota ini semakin ramai dan padat akan pengunjung Kristen yang datang dari berbagai Negara eropa, selama 5 tahun gencatan senjata berlangsung baik antara Fihak Salahudin Al Ayyubi dengan Ricahrd The Lion Heart dari kerajaan Inggris. Posisi Mesir dan Palestina memang posisi yang sangat strategis karena disitu ada peradaban dan pusat 3 agama dunia, jadi tidak heran negeri ini selalu ramai dikunjungi termasuk keluarga besar walisongo. Disamping itu pula jangan lupa bahwa ayah Abdullah Umdatuddin yaitu Ali Nurul Alam juga tidak kalah besar pengaruhnya diberbagai Negara. Buktinya nama-nama gelar yang beliau sandang itu, seperti misalnya Maulana Malik Israil atau Arya Gajah Mada, atau Sultan Qonbul, ini menunjukkan jika Ali Nurul Alam adalah diplomat ulung untuk berbagai Negara, dan punya pengaruh yang besar pada beberapa Negara termasuk Kesultanan Otoman Turki. Berdirinya Majelis Dakwah Walisongo boleh jadi karena hubungan baik keluarga besar azmatkhan termasuk Ali Nurul Alam dengan Sultan Muhammad 1 Turki Ottoman. Ali Nurul Alam memang saat itu merupakan Perdana Menteri Kelantan yang mana dalam hubungan diplomasi keluar negeri ia yang paling berperan.

Yosep menambahkan bahwa Syarif Abdullah ini kemudian menikah dengan rara santang yang ketika melakukan itu sedang ibadah haji bersama kakaknya Walang Sungsang. Pertemuan antatra rara santang dan Syarif Abdullah saya fikir tidak ada yang aneh, kenapa tidak aneh? Lho bukankah ibu rara santang yaitu  Nyi Subang Larang bin Ki Gedeng Tapa adalah murid kesayangan dari Syekh Quro atau Maulana Hasanuddin bin Syekh Yusuf Sidiq yang ternyata Syekh Yusuf Sidiq ini adalah adik Ali Nurul Alam yang merupakan ayah Abdullah Umdatuddin!.  Jadi Abdullah Umdatuddin ini  sebenarnya menikahi murid dari sepupunya sendiri. Syekh Quro sendiri berasal dari Champa. Jadi apa yang aneh dengan pertemuan mereka??? Pastilah Abdullah Umdatuddin juga mengetahui siapa sesungguhnya Rara Santang ini sehingga di kemudian disunting dan dinikahi. Jadi pertemuan antara Rara Santang dan Syarif Abdullah ini tidaklah aneh, semua wajar wajar saja, itu karena hubungan kekerabatan antar keluarga mereka sudah lama terjalin. Mereka menikah sekaligus untuk menyambung kekerabatan antar keluarga walisongo dan keluarga kerajaan Nusantara, dan setelah melakukan pernikahan setelah itu Abdullah Umdatuddin kembali ke Mesir/Palestina. Pendapat ini menurut saya masuk akal  karena dalam Babad Tanah Sunda yang Disusun oleh PS Sulendraningrat, terutama pada halaman 28 dan 29 disitu diceritakan bahwa Syarif Abdullah pernah bertemu dengan Para parampok yang berasal dari Kaum Yahudi atau Bani Israil berjumlah 9 orang, namun dalam perampokan Para perampok tahluk ditangan Syarif Abdullah sehingga akhirnya mereka berguru dan belajar kepada Syarif Abdullah sampai syarif Abdullah kembali kemesir. Sehingga dikemudian hari nama Syarif Abdullah sering disebut sebagai Maulana Israil atau Maulana Hud, tidak heran jika dikemudian hari dalam cerita tersebut ada pengikut atau orang kepercayaan Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah bernama dengan ciri Yahudi.

Bagaimana dengan kedudukannya sebagai Sultan Champa? Besar kemungkinan setelah dari Mesir ia kemudian berhijrah untuk berdakwah mengikuti jejak para leluhurnya dan juga keluarga besar walisongo menuju Asia tenggara, Secara geografis memang medan dakwah keluarga besar walisongo lebih banyak di Asia Tenggara dibandingkan di Mesir. Besar Kemungkinan bila jabatan walikota yang beliau sandang itu tidak lama karena beliau sudah lebih dahulu hijrah ke Champa. Kalaupun Keberadaan Syarif Abdullah ini tidak tercatat dalam sejarah mesir, itu karena mungkin kekuasaan beliau hanya merupakan walikota dan bisa saja karena kekuasaanya sebentar sehingga akhirnya tidak tercatat dalam sejarah Mesir. Justru kekuasaan beliau ini lebih berlangsung lama di Champa bahkan malah tercatat dengan lengkap dan detail bahkan keturunan beliau banyak yang jadi Sultan seperti Sunan Gunung Jati dan Raden Fattah. Bisa dikatakan bahwa saat beliau di Mesir itu adalah merupakan “magang” beliau sebelum masuk ke Champa. Kasus tidak adanya keterangan Syarif Abdullah Di Mesir ini mirip juga dengan kasus Raden Fattah yang sejarahnya Di Champa dan beberapa Kesultanan nyaris tidak terdeteksi, karena beliau hijrah dari champa saat masih kecil. Namun demikian secara ilmu nasab keberadaan Abdullah Umdatuddin atau Raden Fattah tetap tercatat rapi dibuku nasab ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA. Sejarah memang tidak mencatat, namun ilmu nasablah yang menyelamatkan semua data sejarah yang seperti ini. Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah ini setelah di champa, sejarahnya nyaris tergerus oleh sejarah dengan lenyapnya Kesultanan champa, dan hal ini juga kasusnya mirip dengan Raden Fattah yang merupakan anaknya, dimana setelah Raden Fattah wafat nyaris sejarah Raden Fattah dan Kesultanan Demak hilang sejarahnya dan cenderung memang banyak yang ingin “menghabisi” sejarah dan nasab mereka. Untungnya data data mereka seperti Abdullah Umdatuddin dan anak-anaknya yaitu Sunan Gunung Jati, Syarif Nurullah, Sultan Babullah, Sultan Abu Muzaffar, Raden Fattah, semua bisa terjaga dengan baik berkat pencatatan keluarga besar Sunan Kudus, kalau tidak ada catatan nasab ini, barangkali sejarah Abdullah Umdatuddin dan anak anaknya hanya tinggal kenangan saja.

Yang dijelaskan diatas ini, adalah kronologis secara jabatan/kekuasaan, Sosiologi, idiologi, geografi, silsilah, dan nama yang kebanyakan hasilnya tidak mengindikasikan adanya korelasi yang kuat, kronologis lain yang juga tidak kalah pentingnya seperti Kronologis pernikahan juga menjadi tanda tanya, secara Ilmu pernikahan hal ini patut dipertanyakan, karena pada kenyataan Syarif Abdullah ini tidak ada istrinya yang berasal dari Mesir. Istri beliau lebih banyak berada dikawasan Asia tenggara. Anak anak beliaupun semua rata rata berada di Nusantara, hubungan beliau dengan raja raja Di nusantarapun terjalin dengan baik seperti dengan Majapahit. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada sejarah yang ada pada Kesultanan Cirebon dan Banten, teori Syarif Abdullah yang berasal asli dari mesir mungkin bisa kita tambahi dan direvisi keterangannya dengan penambahan data dan fakta yang terbaru, toh saya juga yakin ketika munculnya nama-nama seperti SULTAN MESIR atau MAULANA ISRAEL itu pasti ada latar belakangnya, tidak mungkin orang orang menisbatkan sesuatu tanpa ada sebab atau latar belakangnya, termasuk julukan SULTAN MESIR itu, hanya ketidaktahuan kita saja akan latar belakang munculnya gelar itu sehingga  banyak orang sering salah duga akan sejarah munculnya gelar itu. Sehingga karena ketidak tahuan masyarakat, akhirnya yang muncul lebih banyak sisi legenda dan mitosnya saja ketimbang sisi sejarah yang sebenarnya banyak yang faktual. Kecintaan masyarakat kepada tokoh kadang memang berlebihan dengan adanya cerita-cerita yang tidak sesuai dengan logika sejarah. Tapi menyalahkan masyarakat, juga tidak bijak, yang ada mungkin, mari kita perbaiki secara bertahap tentang adanya sumber sejarah yang sering disalahfahami secara berlebihan. Dan saya fikir ini bisa dilakukan oleh para intelektual dari keturunan walisongo.

Secara kronologis sejarah hal ini bolehlah kita pandang secara positif, adanya nama Sultan Mesir atau Maulana Israil atau Sultan Hud yang dinisbatkan kepada Syarif Abdullah membuktikan jika peta penyebaran keluarga besar Ahlul Bait khususnya Klan Azmatkhan itu telah merambah keberbagai belahan dunia. Dalam berdakwah boleh jadi jasa mereka telah tertanam disebagian masyarakat yang mereka temui dan dakwahi, sehingga sebagai bentuk cinta masyarakat yang didakwahi, banyak Nama-nama walisongo yang dinisbatkan dibelakang nama mereka dengan nama daerah-daerah  pada masyarakat tersebut, dan hal itu bisa kita lihat belakang nama mereka atau juga sejarah hidup merekai, Walisongo periode pertama sampai periode berikutnya banyak dibelakang namanya dinisbatkan pada negara negara tertentu, sehingga banyak orang menyangka jika asal usul asli para walisongo itu berasal dari negara negara yang dinisbatkan tersebut. Dan memang hal ini bukan merupakan hal yang aneh jika nama-nama keluarga besar walisongo seolah olah identik dengan negara tersebut, dan menurut saya itu logis dan tidak masalah, karena leluhur Alawiyyin dari mulai masa Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ali, Sayyidina Husein, Sayyidina Hasan, Sayyidina Ali Zaenal Abidin, Imam Ahmad Al Muhajir, Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro s/d Walisongo semua hidupnya banyak yang berpindah-pindah dari satu negara kenegara yang lain, semua dalam rangka dakwah islamiah. Siapa bilang aslinya Imam Ahmad Al Muhajir itu dari Yaman Hadramaut? Aslinya beliau kan justru berasal dari kota Basrah pada provinsi Irak. Siapa bilang Sayyid Abdul Malik Azmatkhan asli India? Lha wong beliau lahir di Hadramaut Yaman serta besar disana, Siapa bilang Sayyid Husein Jamaluddin Asli Bugis karena dimakamkan di Wajo? , lha wong beliau itu lahir dan besar di India, siapa bilang keturunan walisongo itu asli Jawa atau Melayu?, lha wong leluhur mereka  aja keturunan Arab India,  Makanya saya sendiri kadang bingung kalau ditanya asal usul, kalau saya bilang saya asli Palembang, saya lahir di Jakarta dan saya lebih merasa jadi orang Betawi, kalau dikatakan saya keturunan Palembang justru leluhur saya dari Jawa, lha kalau dibilang Jawa, ternyata mereka ada juga yang berasal dari champa, lha kalau dibilang dari champa ternyata justru asal usulnya dari India, dikatakan India tidak juga karena asal usulnya dari Hadramaut, Dikatakan dari Hadramaut ternyata aslinya dari Irak, dikatakan dari irak ternyata leluhurnya dari Madinah, dikatakan dari Madinah ternyata Asli dari Mekkah, dikatakan dari Mekkah ternyata nenek moyangnya dari wilayah arab lain, dikatakan dari Nabi Adam, Nabi Ada ternyata berasal dari tanah, ujung-ujungnya Akhirnya kembali kepada tanah juga....

Adanya teori yang berbeda-beda tentang asal usul walisongo menurut saya adalah hal yang wajar, namun yang penting adalah ketika teori itu muncul,  teori itu tidak aneh dan terkesan dibuat buat seperti adanya teori yang mengatakan jika walisongo keturunan china, padahal faktanya data keturunan china ini lemah dan tidak jelas sumbernya. Adanya perbedaan sudut pandang tentang asal usul walisongo karena melihat tempat dan asal usul mereka, menurut Faris Khoirul Anam Lc, Dalam bukunya yang berjudul Al Imam Al Muhajir Ahmad Bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib Di Indonesia, Penerbit Darkah Media Malang, Tahun 2010, terutama pada halaman 124 mengatakan bahwa tempat tempat yang dinisbatkan kepada nama walisongo pada dasarnya lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh walisongo daripada merupakan asal muasal mereka yang mereka yang merupakan kaum Sayyid atau Syarif yang merupakan Ahlu Bait atau keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Ahlul Bait Rasulullah SAW sendiri peta penyebaran atau diaspora mereka meliputi belahan dunia, jangan kira Ahlul Bait itu hanya ada di Timur Tengah saja, justru Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW itu juga banyak terdapat dinegara-negara lain seperti kawasan Asia Tenggara seperti Patani Thaillad, Malak, Kelantan, Indonesia, Brunei, Singapura, dll dan Asia Selatan seperti negara negara India, Afganistan, Pakistan, Bangladesh, Sri Langka, dll.  Jadi penisbatan nama pada seorang tokoh seperti walisongo termasuk Abdullah Umdatuddin menjadi Sultan Mesir adalah hal wajar, yang penting nama yang dinisbatkan mereka itu bisa kita fahami dan ada kronologisnya serta bisa masuk pada logik dan psikologi sejarah.

Wallahu A’lam Bisshowab.......

Daftar Pustaka

Agus Sunyoto, Walisongo Rekonstruksi Sejarah Yang Disingkirkan, Penerbit Transpusaka,  halaman  155 – 156, Tahun 2010.
Ahmad Al Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adan Hingga Abad XX, Penerbit Akarmedia, Jakarta, Halaman 303 - 307,  Tahun 2009.
Ahmad Jaelani Halim, Sejarah & Tamadun Bangsa Melayu, Penerbit Utusan Publication Kuala Lumpur oleh Utusan Publication Kuala Lumpur, Hal 211 – 213, Tahun 2008.
Dadan Wildan, Suna Gunung Jati, Petuah, Pengaruh dan Jejak Jejak Sang Wali di Tanah Jawa, Penerbit Salima, Jawa Barat, Halaman 65,  Tahun 2012.
Faris Khoirul Anam, Al Imam Al Muhajir Ahmad Bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib Di Indonesia, Penerbit Darkah Media Malang, Halaman 124, Tahun 2010.
Muhammad Al Baqir, Thariqah Menuju Kebahagiaan, Pengantar  Tentang Kaum Alawiyyin, Penerbit Mizan, Bandung, Halaman 43 – 45, Tahun 1989.
Muhammad Hasan Al-Idrus (Pengajar Sejarah Di Universitas Uni Emirat Arab), Penyebaran Islam Di Asia Tenggara, Asyraf Hadramaut dan Peranannya. Penerbit Lentera, Jakarta, Halaman 74, Tahun 1996.
Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al-Husaini dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Husaini, Ensiklopedia Nasab Al Husaini Seluruh Dunia, Penerbit Madawis,  Tahun 2011.
Syaiful Anam, Laporan Kunjungan Perjalanan ke Canal Suez Ismailiyah Unversity  Cairo oleh Tim GURU BESAR IAIN SUNAN AMPEL JAWA TIMUR pada Tanggal 1 Juli 2010.
Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda- Babad Cirebon, Penerbit ?, halaman 28 dan 29, Tahun ?
Syeikh Faqih Bin Abdullah Fathani dengan Versi Salinan oleh Syeikh Daud bin Abdullah Fathani,  TARIKH FATANI, Penerbit Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniah, Kuala Lumpur, Halaman 34 – 35,  Tahun 1998.
Tim Riset Dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Dari Masa Kenabian Sampai Daulah Mamluk, Penerbit Al Kautsar, Jakarta, Tahun 2013.
Tubagus Rafiudin S, Riwayat Kesultanan Banten,  Penerbit  Keluarga Besar  Makbaroh Kesultanan Maualana Yusuf, Halaman 14, Banten, Tahun 2006.
(Tun) Suzana, (Tun) Otman dan H Muzaffar Dato’ Muhammad,  Ahlul Bait, Keluarga Rasulullah SAW dan Kesultanan Melayu,   Penerbit Crescent News, Selangor Darul Ihsan, Malaysia,  halaman 2006, Tahun 2006.
Yosef Iskandar,  Sejarah Jawa Barat, Penerbit  Ceger Sunten, Bandung, Halaman 258, Tahun 1997.