Rabu, 21 Agustus 2013

Gelar Keilmuan Dalam Ilmu Nasab

Oleh:
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh


  1. An-Naqib = Peneliti Nasab, menguasai ribuan kitab nasab, dan hafal minimal 100.000 nasab ahlulbait dan qabilahnya secara detail serta ia memiliki karya tulis berupa buku tentang nasab dan ilmunya.
  2. Al-Hujjah Fin Nasab = Peneliti Nasab, dan hafal nasab minimal 50.000 nasab ahlulbait
  3. Al-Hafizh Fin Nasab = Peneliti Nasab, dan hafal nasab minimal 10.000 nasab ahlulbait
  4. Al-Munsib Fin Nasab = Peneliti Nasab dan hafal nasab minimal 1000 nasab ahlulbait
  5. Al-Muhaqqiq Fin Nasab = Orang yang memiliki kemampuan untuk mentahqiq nasab dan menetapkannya dalam sebuah lauhah atau paspor nasab.
  6. Al-Mufattis Fin Nasab = orang yang tugasnya meneliti nasab saja dan mencocokkan dengan kitab-kitab nasab yang mu'tabarah.
  7. Al-Katib Fin Nasab = para petugas pencatat nasab di lembaga nasab.


Nasab Yang Membuktikan Jika Sebenarnya Tidak Ada Konflik Dalam Sejarah Keislaman di Kesultanan Jawa

Oleh: 
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Nasab Pangeran Arya Penangsang (Sayyid Husein Azmatkhan)

1. Rasulullah SAW - Al Amin
2. Fatimah Az-Zahra -Al Batul
3. Husein - Asshibti/Abu Syuhada
4. Ali Zaenal Albidin - Ali Assajjad
5. MUhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uradhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Ar-rumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhillah/Abdullah
12.Alwi Al Awwal
13. MUhammad Shohibus Souma'ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi' Qosam
16. Muhammad Shohib Marbath
17. Alwi Ammul Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah Amir Khan
20. Sultan Ahmad Syah Jalaludin
21. Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
22. Ali Nurul Alam/Arya Patih Gajah Mada/Maulana Malik Israel
23. Abdullah Umdatuddin/Sultan champa/Maulana Hud
24. Raden Hasan/Raden Fattah/Sultan Demak 1
25. Sayyid Ali/Raden Kikin/Pangeran Sekar Seda Lepen
26. Sayyid Husein/Pangeran Arya Penangsang/Ratu Sahibul Ma'rifah

Nasab Jaka Tingkir (Sayyid Abdurrahman Azmatkhan)

1. Rasulullah SAW - Al Amin
2. Fatimah Az-Zahra -Al Batul
3. Husein - Asshibti/Abu Syuhada
4. Ali Zaenal Albidin - Ali Assajjad
5. MUhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uradhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Ar-rumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhillah/Abdullah
12.Alwi Al Awwal
13. MUhammad Shohibus Souma'ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi' Qosam
16. Muhammad Shohib Marbath
17. Alwi Ammul Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah Amir Khan
20. Sultan Ahmad Syah Jalaludin
21. Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
22. Muhammad Syarif Kebungsuan/Prabu udayana/Prabu Handayaningrat/Ki Ageng Pengging Sepuh 1/Brawijaya
23. Sayyid Ali/Ki Ageng Pengging 2
24. Sayyid Abdurrahman/Jaka Tingkir

Jadi bagaimana mungkin jika mereka satu nasab, apalagi berasal dari nasab yang mulia, harus saling berperang dan menumpah darahkan sesama ahlul bait, sedangkan mereka dididik oleh seluruh walisongo, rasanya tidak mungkin dan aneh....dari mana asal muasal cerita mereka berkonflik dan saling membunuh???? aneh.....keturunan Pengging berdasarkan informasi yang saya peroleh, mereka juga mengetahui bahwa arya penangsang hidup normal di negeri seberang, dan menurut mereka, mereka tidak pernah mengangkat cerita cerita yang sudah, sebaliknya keturunan arya penangsang yang berada di daerah komering dan sekitarnya dalam riwayat keluarga besarrnya tidak ada satupun yang menceritakan dendam dan peristiwa berdarah-darah, bahkan yang diajarkan adalah selalu menghargai nasab orang lain. Bahkan inti dari ajaran arya penangsang adalah kasih sayang dan silaturahim. Dalam memandang kekuasaan, keturunan trah arya penangsang diharapkan untuk tidak ambisius dan lebih baik menjadi rakyat biasa saja, justru yang ditekankan adalah pengembangan bidang agama....

Nasehat Sunan Drajat bin Sunan Ampel

Oleh:
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

1. Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)

2. Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)

3. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan

untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)

4. Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)

5. Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).

6. Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)

7. Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)

Beberapa "Permata" Keturunan Walisongo

Oleh:
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
Sayyid Iwan Mahmoed Azmatkhan

Imam Bonjol Azmatkhan (Pahlawan perang dari Minangkabau)
Pangeran Diponegoro Azmatkhan (Pahlawan perang Jawa)
Sultan Mahmud Badaruddin Azmatkhan (Pahlawan Perang Palembang)
Syekh Nawawi Bin Umar Al Bantani Azmatkhan (ulama besar dunia)
Kyai Marogan Azmatkhan Palembang (Ulama besar palembang)
Mbah KH Kholil Azmatkhan Bangkalan (paku ulama jawa)
Habib Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh (ulama Ahli nasabnya walisongo)
Mbah KH Hasyim Asy'ry Azmatkhan (Pendiri NU)
Mbah KH Muhammad Dahlan Azmatkhan (Pendiri Muhammadiyah)
Mbah KH As'ad Syamsul Arifin Azmatkhan (ulama besar NU)
Soekarno Azmatkhan (Presiden RI ke 1)
KH Abdurrahman Wahid Azmatkhan (Presiden RI)


Sumber :

Kitab Ensiklopedia Nasab Al Husaini Seluruh Dunia Oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Syekh-Mufti Kesultanan Palembang Darussalam, Penerbit Madawis 2013.

Filosofi Ketupat Menurut Sunan Kalijaga

oleh:
As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

Arti Kata Ketupat.
Dalam filosofi jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.
Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa. Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Laku Papat.
Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.Empat tindakan tersebut adalah:
1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.
Lebaran.Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan.
Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan.
Maknanya adalah habis dan melebur.Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur atau kapur.Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun poemutih dinding.Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Nah, itulah arti kata ketupat yang sebenarnya.Selanjutnya kita akan mencoba membahas filosofi dari ketupat itu sendiri.

Filosofi Ketupat:
1. Mencerminkan Beragam kesalahan manusia.Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

2. Kesucian hati.Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

3. Mencerminkan kesempurnaan.Bentuk ketupa begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dnegan kemenangan umat islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak idul fitri.

4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dnegan lauk yang bersantan, maka dalam pantun jawa pun ada yang bilang "KUPAT SANTEN", Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf).

Raden Fattah Azmatkhan Sang Revolusioner

Oleh:
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan


Beliau dilahirkan di Negeri Champa, yang pada masanya adalah merupakan kerajaan Melayu Islam yang besar dan berpengaruh. Begitu berpengaruhnya kerajaan ini sampai sampai kerajaan Majapahit dan Kerajaan disekitar Asia Tenggara menjalin kerjasama dengan kerajaan ini, Kerajaan Champa betul-betul sangat terkenal pada masa itu. Hal-hal yang berbau Champa betul-betul melekat, bahkan putri-putri champa sangatlah dikenal kaum bangsawan di bumi Nusantara. Kebanggaan akan muncul tatkala bangsawan bangsawan kerajaan Nusantara bisa bersanding dan mencapatkan putri putri bangsawan champa untuk dinikahi. Champa yang mulai mendapat pengaruh Islam dengan penguasa penguasa pendahulunya yang beragama islam yaitu Sayyid Ali Nurul Alam yang juga bergelar MAULANA MALIK ISRAIL atau SULTAN QONBUL atau ARYA PATIH GAJAH MADA, ternyata dalam proses perjalanan kerajaan ini cukup mendapatkan wibawa dimata kerajaan lain. MAULANA MALIK ISRAIL adalah gelar kebesaran dari SAYYID ALI NURUL ALAM karena pengaruhnya mampu menembus kalangan Yahudi yang berada dikawasan Timur Tengah, terutama pada kantong kantong wilayah Yahudi. Artinya dia bukanlah orang Yahudi seperti apa yang pernah ditulis di sebuah situs internet. Champa sendiri adalah sebuah kerajaan islam yang ironis karena sampai saat ini masih sering mengundang perdebatan. Namun berdasarkan jalur perjalanan para Walisongo, bahwa Champa diperkirakan berada Di India, berdekatan dengan wilayah Kesultanan Naserabad pada masa lalu, Kesultanan Naserabad Kuno sendiri adalah cikal bakal munculnya keluarga besar walisongo. Kesultanan Naserabad adalah sebuah wilayah pemerintahan Islam yang pemimpinnya dipegang oleh keluarga besar dari SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN, yang merupakan cikal bakal leluhurnya walisongo. Sedangkan kota champa itu sampai sekarang masih ada disebuah wilayah distrik India. Sedangkan Naserabad India, posisinya kini berada di Negara India yang berdekatan dengan kota Rajishtan dan Ajmer pada masa sekarang. 

Dari kota Champa yang merupakan daerah Kesultanan Nasirabad India kuno ini kemudian keluarga besar Walisongo kemudian bermigrasi ke wilayah Champa Kamboja. Inilah yang akhirnya mengundang penafsiran jika Champa berada di Vietnam Tengah, posisi Champa itu berdekatan dengan Pattani dan Kelantan. Dari wilayah Champa Kamboja atau Vietnam Tengah ini mereka bergerak lagi kewilayah Kesultanan Patani, Kesultanan Kelantan dan Kesultanan Malaka. Sayangnya kejayaan Champa dengan simbol-simbol KEISLAMAN seperti tidak berbekas lagi, jangankan artefak, makam, peninggalan dalam bentuk tulisan, dapat dipastikan semua itu hampir tidak ada, yang ada cerita-cerita kejayaan Islam Champa dari beberapa warga etnis champa yang masih tersisa pada saat ini. Kerajaan Champa yang pernah mengalami masa jaya beberapa periode terutama dari masa Sayyid Ali Nurul Alam sampai anaknya Abdullah Umdatudin betul betul hilang dari bumi Asia Tenggara. Kerajaan Champa dulunya pernah menjadi negara Islam saat ini sejarahnya telah dilenyapkan oleh rezim penguasa vietnam pada masa lalu bahkan sampai sekarang, mereka tidak pernah mau mengakui bahwa negara mereka pada masa lalu adalah negara besar ISLAM!. Namun sampai saat ini walaupun Kerajaan Champa telah hilang ditelan zaman, namun ternyata sebagian etnis ini masih eksis didbeberapa tempat, bahasa yang mereka pakai adalah bahasa Melayu.

Dalam kondisi kerajaan yang terus berkembang pada kerajaan champa ini, maka lahirlah seorang anak yang bernama Sayyid Hasan atau kelak nanti bernama Raden Hasan dan setelah menjadi Sultan Demak sering disebut Raden Fattah. Beliau lahir pada Hari Senin Tanggal 22 Bulan Shofar Tahun 827 Hijriah bertepatan dengan tanggal 24 Januari 1424 Masehi. Raden Fattah bukan lahir pada tahun 1955 Masehi seperti yang selama ini beredar, sebab nanti Tahun 1466, Raden Fattah menjadi anggota Walisongo, sehingga sangat mustahil ia dia menjadi anggota walisongo dalam usia 11 tahun!. Raden Fattah lahir di Kerajaan Champa lewat rahim Syarifah Zaenab binti Ibrahim Al Hadrami/ Ibrahim Al Ghazi/ Ibrahim As Samarkand/Ibrahim Asmorokondi Azmatkhan Al Husaini. Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarkand atau Ibrahim Asmorokondi adalah saudara kandung dari Sayyid Ali Nurul Alam yang merupakan salah satu pejabat tinggi di Kesultanan Kelantan dan Patani. Ibrahim Asmorokondi ini sering disebut Wali Tertua dimasanya, khususnya wilayah Jawa Timur. Syarifah Zaenab sendiri adalah adik kandung dari Sayyid Ahmad Rahmatullah atau SUNAN AMPEL AZMATKHAN ALHUSAINI. Artinya Raden Fattah adalah keponakan dari Sunan Ampel. Saat kelahiran Raden Fattah di Champa, Keberadaan Sunan Ampel masih ada di Champa untuk mengikuti dakwah ayahnya yaitu Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi dan kakeknya yaitu Sayyid Husin Jamaludin atau Syekh Jumadhil Kubro. Ayah dari Raden Fatah sendiri adalah Sayyid Abdullah Umdatudin bin Sayyid Ali Nurul Alam bin Sayid Husin Jamaludin. Sayyid Abdullah Umdatudin adalah Raja Champa. Adapun Nasab Raden Fattah adalah sebagai berikut:

NASAB RADEN FATAH 

Dari Jalur Ayah nasab Raden fatah adalah :
1. Nabi Muhammad SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein Asshibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An Naqib
9. Isa Arrumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhilah
12. Alwi Al Awwal
13. Muhammad Shohibus Souma’ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi’ Qosam
16. Muhammad Shohib Mirbath
17. Alwi Ammil Faqih 
18. Abdul Mali Azmatkhan
19. Abdullah Azmatkhan
20. Sultan Syah Ahmad Jalaluddin
21. Husein Jamaludin/Syekh Jumadhil Kubro
22. Ali Nurul Alam/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Patih Gajah Mada
23. Abdullah Umdatuddin/Sultan Champa/Maulana Hud
24. Raden Hasan/Raden Fattah/Sultan Demak 1

Sedangkan Nasab dari Ibunda Raden Fattah adalah : 
1. Nabi Muhammad SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein Asshibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An Naqib
9. Isa Arrumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhilah
12. Alwi Al Awwal
13. Muhammad Shohibus Souma’ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi’ Qosam
16. Muhammad Shohib Mirbath
17. Alwi Ammil Faqih 
18. Abdul Mali Azmatkhan
19. Abdullah Azmatkhan
20. Sultan Syah Ahmad Jalaluddin
21. Husein Jamaludin/Syekh Jumadhil Kubro
22. Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As Samarkand/Ibrahim Asmorokondi
23. Syarifah Zaenab/Thobiroh/Putri Champa >> melahirkan Raden Fattah

Ayah Raden Fattah bukanlah Brawijaya V atau Bhre Kertabumi Raja Majapahit terakhir dari Dinasti Raden Wijaya. Sebagian mengatakan bahwa orangtua yang dianggap selama ini sebagai ayah kandung Raden Fattah adalah Brawijaya IV atau Kertajaya, dan ini yang lebih mendekati fakta, bahwa yang dimaksud oleh banyak orang selama ini adalah Kertajaya itu bukan Kertabumi, dan dialah yang seharusnya dinyatakan sebagai ayah "kandung" Raden Fattah, Raden Fattah sendiri bila dibandingkan dengan Kertabumi atau Brawijaya 5 ternyata hampir seumuran usianya. Namun kenyataannya sampai saat ini ternyata Bre Kertabumi atau Brawijaya 5 inilah yang selama ini dipercaya masyarakat Jawa sebagai ayah Raden Fattah dan ini juga terdapat didalam beberapa Babad seperti Babad Tanah Jawi Galuh Mataram.

Ayah Raden Fatah yang bernama Abdullah Umdatuddin sendiri adalah Raja Champa kedua dalam kerajaan Islam Champa di Vietnam Tengah (sebelumnya di wilayah Champa India) dan dikenal dengan nama lain di Malaka, Kelantan, Patani sebagai WAN BO. Abdullah Umdatuddin ini sering diartikan sebagai Sultan Mesir dalam sejarah yang berkaitan dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Padahal ia adalah Raja Champa. Kemungkinan besar kenapa ia dinamakan Sultan Mesir karena boleh jadi mesir adalah satu medan dakwah dari Abdullah Umdatuddin. Dari Abdullah Umdatuddin akan banyak menurunkan orang orang yang bergerak dalam bidang politik pemerintahan serta ulama ulama besar.

Antara Sayyyid Abdullah Umdatudin dengan Syarifah Zaenab dan Sayyid Ahmad Rahmatullah atau Sunan Ampel adalah saudara sepupu. Pernikahan antar kerabat dalam keluarga walisongo itu adalah biasa. Adapun anak-anak dari Abdullah Umdatudin sangat banyak, namun yang mahsyur dalam dunia nasab adalah :

1. Ahmad Waliyullah atau Sultan Abul Muzhafar yang kelak menurunkan beberapa para sultan di Malaka, Patani, Kelantan, dan beberapa Kerajaan di Malaysia.
2. Sultan Babullah yang menurunkan sultan sultan di Ternate dan Maluku.
3. Sultan Nurullah yang menggantikan posisi Raja Champa berikutnya..
4. Syarif Hidayatullah yang kelak menurunkan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon
5. Raden Fattah yang kelak menurunkan Kesultanan Demak.

Adapun yang paling terkenal sebagai anak Sayyid Abdullah Umdatuddin adalah Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kenapa sampai saat ini kenapa posisi Raden Fattah jarang sekali disebut dalam dunia nasab sebagai anak dari Abdullah Umdatudin (bahkan terkesan disembunyikan), hal ini disebabkan banyak faktor, salah satunya karena adanya pengkaburan dan manipulasi sejarah Kerajaan Islam oleh para kolonialis penjajah serta oknum oknum yang memang tidak menginginkan Islam dalam bentuk kekhalifahan berjaya di Bumi Nusantara ini. Nasab Raden Fattah adalah salah satu nasab yang paling banyak mendapat pendustaan oleh kalangan yang tidak memahami sejarah perkembangan ilmu nasab. Nasab Raden Fatah adalah nasab yang paling sering dimanipulasikan oleh berbagai oknum demi kepentingan pribadi atau juga golongannya. Nasab Raden Fattah dapat dikatakan merupakan nasab yang sering dipermasalahkan oleh banyak sejarawan dan juga beberapa ahli silsilah karena dianggap "tidak memiliki" data primer, padahal sebagai seorang sultan yang besar yang luas kekuasaannya hampir seluruh Jawa, sepertinya tuduhan seperti ini sangat aneh , karena pada kenyataannya nasab Raden Fattah telah tercatat dengan baik oleh kalangan Ulama Ahli Nasab khususnya Keluarga Besar Walisongo lebih khusus lagi keluarga Besar Sunan Kudus dan juga keturunan keturunan Raden Fattah sendiri, terutama keturunan Raden Fattah yang sumber nasabnya berasal dari Pencatatan turun temurun dan berdasarkan catatan nasab dari Keturunan Keluarga Besar Sunan Kudus.


RADEN FATTAH & SUNAN KUDUS

Raden Fattah (Sultan Demak) adalah BESAN dengan Sunan Kudus, karena Dewi Ratih binti Raden Fattah menikah dengan Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus dan melahirkan 19 anak, anak yang paling tua bernama Sayyid Sholih bin Amir Hasan, yang bergelar Panembahan Pakaos (Sultan Ampel Kedaton), dari Panembahan Pekaos kemudian menikah dengan Ratu Maduratna dan melahirkan Sayyid Ahmad Baidhowi (Pangeran Ketandur Bangkal yang kemudian menjadi Sultan Bangkalan Madura). Keturunan dari TRAH INI tercatat nama: Syekh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, Syekh Muhammad Kholil Bangkalan, Syekh As'ad Syamsul Arifin.

Ratu Maduratna binti Khalifah Ismail bin Khalifah Ibrahim bin Khalifah Sughra bin Khalifah Husain (Sultan/ Raja Madura Pertama/ Pendiri Kerajaan Madura).

GAMBARAN FISIK RADEN FATTAH

Raden Fattah memiliki perawakan yang tinggi dan tegap, tinggi beliau melewati angka 185 cm, kondisi fisik beliau ini mirip dengan Sunan Kudus yang tinggi dan tegap, dan ini nanti kelak banyak diturunkan kepada beberapa anak cucunya yang banyak memiliki fisik-fisik yang tinggi, kulit beliau putih bersih seperti juga para walisongo, wajah beliau berkarakter tegas namun teduh, dan beliau memiliki wajah dengan tipe timur tengah (arab). Beliau selalu memakai pakaian keulamaan seperti juga walisongo dengan Imamah dikepala dan jubah, sangat tidak benar jika ada foto Raden Fattah yang digambarkan dengan pakaian ala Kerajaan Majapahit, apalagi pakaian-pakaian kebesaran dari Penjajah kelonial. Foto Raden Fattah yang beredar selama ini adalah palsu dan menyesatkan.

NAMA NAMA RADEN FATTAH

RADEN FATTAH mempunyai nama yang banyak, seperti kebiasaan para walisongo yang juga mempunyai banyak nama karena berbagai faktor, baik itu budaya, sosial, maupun politik. Nama nama beliau yang mahsyur adalah : 

1. Sayyid Hasan atau Raden Hasan (nama kecil dan dewasa dan nama yang terkenal saat beliau di Nyantri di Pondok Pesantren Ampel) dan nama saat beliau di Palembang, 
2. Sayyid Yusuf (panggilan kesayangan dari ibunya).
3. Abdul Fattah/ Al Fattah (karena kemenangannya Demak terhadap Majapahit, sekaligus orang yang pertama kali membuka kerajaan Islam di Jawa). Nama Al Fattah ini adalah menjadi Fam dari keturunan Raden Fattah, mereka disebut BANI AL FATTAH
4. Senopati Jim Bun/Panembahan Jim Bun (karena perhormatan dari Etnis Tionghoa di Jawa terhadap peran dan wibawanya, 
5. Adipati Natapraja (saat demak masih dibawah wilayah kerajaan Majapahit), 
6. Sultan Syah Alam Al Akbar/Sultan Surya Alam (saat beliau dilantik menjadi Sultan pertama Kesultanan Demak. 
7. Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama (gelar yang mendapat pengakuan dari penguasa/Syarif Mekkah dan Palembang), 
8. Sultan Bintoro (berdasarkan nama sebuah hutan yang bernama Glagah Wangi dan kemudian diirubah namanya menjadi Bintara/Bintoro untuk dijadikan tempat pemerintahan beliau).

Ibunya dikenal dengan panggilan yang banyak didalam kerajaan Majapahit, namun yang cukup akrab adalah Tobhirah terutama saat beliau masih di champa, sedangkan saat beliau sudah di Majapahit ada yang mengatakan Dewi Drawati, Kencana Wungu, Nyai Endang, Putri China, Putri Champa, dll sehingga banyak membuat orang terkecoh dan rancu akan sejarah dirinya. Namun dari semua nama yang populer, Nama Drawati adalah nama yang paling terkenal. Ibunda Raden Fattah adalah seorang muslimah yang taat dan berilmu, karena pendidikan agamanya didapat langsung dari bapaknya yang merupakan walisongo angkatan pertama yaituIbrahim as samarkand atau IBRAHIM ASMOROKONDI..Ibunda Raden Fatah tidaklah hamil saat dicerai Brawijaya 5 (orang yang dianggap sebagai suami Drawati), beliau suci dari fitnah itu, karena pada kenyataannya Raden Fattah telah lahir di Champa. Ibunda Raden Fattah dimakamkan di Ampel Berdekatan dengan Sunan Ampel, Beliau kembali Ke ampel setelah Suami ketiganya wafat terlebih dahulu di Palembang, yaitu Arya Dillah/Sultan Abdillah atau Arya Damar.

Artinya Raden Fattah nasab kedua orangtuanya adalah Alhusaini melalui jalur Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih yang merupakan keturunan Sayyidina Ahmad Al Muhajir (nenek moyangnya seluruh kaum Alawiyyin yang ada di Nusantara dan Asia Tenggara. Raden Fattah adalah keturunan ke 24 dari Rasulullah melalui ayah dan Ibunya...

MASA KECIL DAN DEWASA RADEN FATTAH

Raden Fattah menghabiskan waktu kecilnya di Champa, dalam asuhan ibunda dan ayahnya yang tercinta yaitu Sayyid Abdullah Umdatudin dan Syarifah Zaenab/Thobiroh/Drawati, namun masa kecil Raden Fatah tidaklah lama dalam kebahagiaan karena Abdullah Umdatuddin dan Syarifah Zaenab berpisah karena Sultan Abdullah Umdatuddin kondisinya sering sakit sakitan, sehingga tidak lama kemudian beliau akhirnya wafat, sehingga dengan kondisi yang sakit sakitan dan uzur ini, maka Abdullah Umdatuddin menceraikan Istrinya ini, agar mencari kehidupan yang lebih layak guna untuk mendidik Raden fattah yang masih kecil, Oleh Sebab itu Abdullah Umdatuddin mengusulkan agar mantan istrinya ini mengikuti saran Sunan Ampel untuk menikahi Raja Majapahit yang sudah masuk Islam yaitu Kertajaya (Brawijaya 4). Abdullah Umdatuddin pun tidak keberatan mantan istrinya itu menikah dengan Kertajaya karena hubungan Abdullah Umdatuddin dengan Kertajaya sangatlah baik, apalagi kerajaan mereka adalah sekutu. Abdullah Umdatudinpun memesan kepada Kertajaya melalui Sunan Ampel, agar Kertajaya mau untuk mendidik anaknya yaitu Raden Fattah seperti mendidik anaknya sendiri, artinya Raden Fattah dititipkan Abdullah Umdatudin kepada Kertajaya untuk menjadi anaknya sendiri, namun tetap dalam didikan kerajaan yang dipenuhi etika dan tata krama...

Ibunda Raden Fattah dan juga Raden Fattah diberangkatkan dari Champa bersama dengan wali walisongo yang lain untuk menuju Majapahit. Perjalanan dari Champa menuju Majapahit ditempuh dengan jarak sekitar kurang lebih satu bulan. Setelah tiba beberapa saat di Majapahit, sesuai dengan tujuan pertama, maka Syarifah Zaenab dinikahkan dengan Kertajaya. Pernikahan ini nantinya akan mengundang perdebatan, karena ini jelas tentu akan bertabrakan dengan konsep pernikahan yang biasa dianut keluarga besar walisongo yaitu kafa'ah, apalagi karena disatu sisi Syarifah Zaenab adalah seorang Ahlul Bait, sedangkan Kertajaya adalah seorang raja yang mualaf dengan keislaman yang tidak semua orang tahu, kecuali beberapa kerabat dekatnya. Namun demikian rahasia pernikahan ini hanya Sunan Ampel dan wali wali lainnyalah yang lebih tahu bagaimana kedepannya nanti. Betapapun demikian Konsep pernikahan Kafa'ah antar keluarga besar walisongo tetap terjaga Namun memang pasca pernikahan ini Islam bisa berkembang dengan pesat berkat lindungan dari Kertajaya dan nanti diteruskan oleh Brawijaya 5 atau Kertabumi. Sayang pernikahan ini tidak lama, karena adanya intrik intrik yang terjadi dalam keluarga besar Kertajaya, sehingga menyebabkan Syarifah Zaenab dan Raden Fattah tersingkir. Syarifah Zaenab diceraikan Kertajaya, dan setelah masa iddah lewat maka Syarifah Zaenab diserahkan kepada Arya Dillah yang merupakan bawahannya di Palembang. Pernikahan antara Kertajaya dan Syarifah Zaenab tidak menghasilkan keturunan, artinya Kertajaya tidak bisa menghasilkan keturunan lewat rahim Syarifah Zaenab, lagipula kondisi Kertajaya saat itu juga mulai sakit sakitan.

Dari pernikahan antara Syarifah Zaenab dengan Arya Dillah Lahirlah Raden Husein. Raden Fattah dan adiknya dididik dan dibesarkan di Palembang. Di Palembang pada masa kecil dan dewasa nama Raden Fattah adalah Raden Hasan. Setelah Dewasa ia bersama adiknya menuju Pondok Pesantren Ampel untuk belajar kepada Pamannya yang bernama Sayyid Ahmad Rahmatullah atau Sunan Ampel. Setelah kurang lebih 3 tahun mereka mondok, maka Raden Fatah mengabdi kepada ayah tirinya sambil membuka sebuah kawasan untuk pusat penyiaran agama Islam yang berada disebuah hutan yang bernama Bintoro.

ISTRI ISTRI RADEN FATTAH : 

1. Siti Asyiqah/Dewi Murtasimah binti Sunan Ampel
2. Putri Randusanga binti Adipati Randusanga
3. Putri Jipang binti Adipati Jipang
4. Alwiyah binti Syekh Subakir

Semua istri Raden Fattah mempunyai keturunan, baik itu laki laki maupun perempuan, dan semua istri Raden Fattah ini adalah Bangsawan bangsawan yang berasal dari Majapahit serta dari Keluarga Besar Walisongo. Istrinya adalah perpaduan yang cukup unik, disinilah Raden Fattah menunjukkan bahwa ia dan juga Walisongo mampu untuk berbaur dan berasimilasi dengan rakyat nusantara pada saat itu, dan sebelum era Raden Fattah pernikahan dengan Pribumi juga telah dilakukan. Sehingga Raden Fattah tidaklah merasa sombong dan angkuh walaupun ia seorang Sultan dan juga seorang Ahlul Bait Rasulullah SAW.

ANAK ANAK RADEN FATTAH

1. Patih Rodin/Komaruddin/Badruddin
2. Sayyid Muhammad Yunus/Sultan Yunus Surya/Raden Surya/Pangeran Seberang Lor1/Adipati Unus 1/Pati Unus 1/Sultan Demak II
3. Sayyid Ali/Raden Bagus Surawiyata/Raden Kikin/Pangeran Sekar Seda Lepen
4. Syarifah Jamilah/Ratu Mas Nyawa/Putri Gunung Ledang >< menikah dengan Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus Al Mukhrawi Azmatkhan/Pati Unus 2
5. Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sultan Trenggono/Sultan Demak III
6. Pangeran Purbo
7. Raden Bagus Sido Kali
8. Dewi Ratih (Menikah dengan Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus Azmatkhan)
9. Radeng Tumenggung Kanduruhan (Senopati Japan Ratu Sumenep)
10. Pangeran Sulaiman
11. Pangeran Daud
12. Pangeran Musa
13. Pangeran Yusuf
14. Pangeran Muhammad
15. Raden Pamekas

Semua anak Raden Fattah ini mempunyai banyak keturunan yang menyebar diberbagai wilayah Nusantara dan juga beberapa wilayah Asia Tenggara. Dan kelak dari keturunan Raden Fattah ini banyak yang menjadi ulama ulama besar serta tokoh tokoh politik dan juga pemimpin bangsa, baik dari bidang pemerintahan politik maupun militer. Mereka semua anak anak Raden Fattah menyebar luas keberbagai daerah untuk menyebarkan dakwah islamiah yang sesuai dengan cita-cita Majelis Dakwah Walisongo yang salah satu anggotanya adalah Raden Fattah. Tidak hanya Raden Fattah, semua keluarga Walisongo keturunannyapun banyak yang mirip dalam hal apapun dengan keluarga besar Raden Fattah.

RADEN FATTAH DAN WALISONGO

Banyak fihak yang tidak mengetahui jika Raden Fattah sebenarnya adalah anggota Walisongo, beliau Raden Fattah disamping sebagai Sultan Demak beliau merangkap sebagai anggota Walisongo, terutama Walisongo Periode ke 4 dengan menggantikan Maulana Ahmad Jumadhil Kubro, sebelumnya tahun 1462 dalam usia 38 tahun diangkat menjadi Adipati Bintoro oleh Kerajaan Majapahit, dan pada tahun 1465 Masehi dalam usia 41 tahun membangun mesjid Demak dan akhinrya diangkat menjadi Sultan Demak dalam usia 44 tahuh pada tahun 1468 Masehi, sehingga setiap keputusan Walisongo, beliau Raden Fattah ikut terlibat sekaligus ikut mengesahkan, karena ia adalah pemimpin Negara. Tidak banyak pemimpin pada masa sekarang yang bisa merangkap dua jabatan seperti ini jika ia tidak punya kemampuan yang kompleks, baik itu tata Negara dan juga agama dan Raden Fattah membuktikan jika ia punya kemampuan seperti itu.

Adapun Periode Wali Songo Angkatan ke-4 yang dalam masa pemerintahan Raden Fattah terutama pada era tahun 1466 – 1513 M, terdiri dari:

1. Sunan Ampel Azmatkhan, asal Champa, Muangthai Selatan (w.1481)
2. Sunan Giri Azmatkhan, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim (w.1505)
3. Raden Fattah Azmatkhan, asal Majapahit, Raja Demak pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra (wafat tahun 1518)
4.Fathullah Khan/Fatahillah Azmatkhan (Falatehan), asal Cirebon pada tahun 1465 menggantikan Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1573)
5. Sunan Kudus Azmatkhan, asal Palestina (wafat tahun 1550)
6. Sunan Gunung Jati Azmatkhan, asal Palestina (wafat tahun 1567)
7. Sunan Bonang Azmatkhan, asal Surabaya, Jatim (wafat 1525)
8. Sunan Derajat Azmatkhan, asal Surabaya, Jatim (wafat 1533)
9. Sunan Kalijaga Azmatkhan, asal Tuban, Jatim (wafat tahun 1513)

GURU GURU RADEN FATTAH

Semua anggota Walisongo, terutama yang usianya diatas Raden Fattah adalah guru dari Raden Fattah, salah satunya gurunya yang paling dekat dengan Raden Fattah adalah Sunan Ampel dan Sunan Kudus. Sunan Ampel adalah paman beliau karena ibu Raden Fattah adalah adik dari Sunan Ampel, sedangkan Sunan Kudus adalah disamping sebagai ulama beliau juga merangkap sebagai Panglima Perang, Penasehat Militer, Naqib Nasab Walisongo, dan mendapat julukan Waliyul ilmi, karena begitu tingginya ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Guru lain yang beliau miliki adalah ayah tiri beliau yaitu Arya Dillah, saat beliau masih berada dalam diPalembang, Arya Dillah ini juga terkenal sebagai seorang pemimpin Palembang, namun juga menguasai ilmu-ilmu agama.

MAZHAB RADEN FATTAH 

Raden Fattah adalah produk dari keluarga besar Walisongo, sehinga setiap yang menjadi keputusan beliau baik itu yang bersifat agama atau umum selalu berdasarkan musyawarah Walisongo. Dasar ajaran Raden Fattah adalah Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah, dengan bermazhabkan kepada Imam Syafi’I dan ini sesuai dengan konsep dan ajaran Walisongo. Thariqoh beliau juga berdasarkan Thariqohnya keluarga besar Alawiyyin. Pada masa Raden Fattah aliran islam Ahlussunah Waljama’ah disebarkan dengan nilai nilai kasih sayang serta toleransi yang tinggi.

MASA PEMERINTAHAN RADEN FATTAH

1. Membuat UUD Kesultanan Demak yang bernama Jughul Mudha.
2. Mendirikan Masjid Agung Demak sebagai sentral penyebaran Islam dan pusat pemerintahan.
3. Membuka Hutan Glagah wangi untuk dijadikan pemukiman yang bernama Bintoro.
4. Menyebarkan Islam dengan Damai sesuai dengan Thariqah Walisongo
5. Memindahkan ke Demak beberapa pusaka, dan beberapa bangunan Majapahit yang terlantar.
6. Tidak mengadakan konfrontasi dengan Majapahit pada masa era Brawijaya 5.
7. Tidak Menyerang Umat Budha dan Hindu yang hidup dibawah wilayah Kesultanan Demak.
8.Menerapkan toleransi yang tinggi terhadap agama lain dengan membiarkan agam lain beribadah dan menjaga bangunan-bangunan agama lain yang sudah ada (kelenteng, kuil, candi)
9. Berperang dengan Majapahit Era Dyah Ranawijaya (Brawijaya 6) disebabkan majapahit versi Brawijaya 6 menyerang Giri Kedaton.
10.Mematahkan kerjasama antara Brawijaya VII (Prabu Udara) dengan Portugis yang akan menjual negara bila berhasil mengalahkan dan mematahkan Islam
11.Menjalin Kerjasama poros politik dengan Kesultanan Cirebon, Banten, Palembang, Malaka.
12. Melibatkan penuh peran walisongo dalam segala keputusan kepemerintahan..
13. Menyebarkan Islam dengan cara damai kepada masyarakat Jawa.
14. Menjadikan Demak sebagai Negara Islam pertama Di Jawa.
15. Diangkat sebagai Sultan pada Kesultanan Demak oleh walisongo dan beliau diangkat bukan karena berdasarkan dia anak tiri kertajaya atau juga Kertabumi, namun karena kemampuan Agam, politik dan militernya yang menonjol.

KRATON KESULTANAN DEMAK 

Keraton Kesultanan Demak bukanlah seperti bangunan mewah, ia hanya merupakan sebuah gedung bahkan rumah biasa yang ditempati oleh Raden Fattah dan Keluarganya, Raden Fattah memiliki hidup yang sederhana, ia tidak terbiasa dengan kehidupan mewah, jadi Kraton milik beliau itu ya rumah beliau itu, sedangkan pertemuan kenegaraan atau pertemuan dengan walisongo dilakukan di Mesjid Demak. Jadi Kraton yang sesungguhnya dari Raden Fattah adalah Mesjid Demak, yang merupakan bangunan multi fungsi, baik dia sebagai tempat ibadah maupun untuk kegiatan kegiatan lainnya..

KONTROVERSI TERHADAP RADEN FATTAH

1.Dituduh sebagai anak durhaka karena menyerang Majapahit era Brawijaya 5, padahal runtuhnya Majapahit itu karena serangan Dyah Ranawijaya (menantu Brawijaya 5 atau ipar tiri dari Raden fattah).
2. Dituduh telah meruntuhkan kehebatan peradaban nenek moyangnya.
3. Dituduh sebagai anak haram dari Brawijaya 5.
4. Dianggap sebagai biang kerok runtuhnya agama terdahulu yang sudah lebih dulu eksis.
5. Ibunya dituduh sebagai seorang selir dan putri china, padahal ia muslimah sejati..
6. Dituduh lahir dari identitas yang tidak jelas.
7. Dituduh untuk ambisi dan mendesak Sunan Ampel untuk menyerang majapahit.
8. Berusaha dihilangkan peran dan sejarah hidupnya dalam sejarah Majapahit.
9. Lebih dimunculkan mitos dan legendanya daripada peran keislamannya.
10.Dituduh tidak mempunyai anak laki-laki (tidak memiliki keturunan)
11.Sengaja dihilangkan asal usul keluarganya yang berasal dari nasab Keluarga Besar walisongo.
12.Ditonjolkannya sisi lain yang tidak ada hubungan dengan hidupnya agar peran sentral sebelumnyalah yang menjadi acuan dalam menilai sejarah demak, bukan dari keluarga besar Walisongo
13.Dituduh bahwa anak-anak dan cucu-cucunya terlibat konflik berdarah karena perebutan tahta, padahal selama hidupnya Raden Fattah telah mengajarkan kehidupan sufi kepada anak dan cucunya.
14.Menuduh walisongo dimasa Beliau adalah orang-orang yang telah telah menyebabkan hilangnya sebuah Negara besar yang sudah mapan.

KEWAFATANNYA

Beliau wafat pada usia yang cukup sepuh yaitu 94 tahun, pada hari Selasa tanggal 11 Sya’ban Tahun 924 Hijriah atau bertepatan pada tanggal 18 Agustus Tahun 1518 Masehi dan dimakamkan disamping mesjid Demak berdampingan dengan istri, anak dan beberapa kerabatnya. Dengan diiringi kesedihan dari ribuan rakyat Demak, dan diiringi anggota Majelis Dakwah Walisongo saat itu, maka Sang Pendobrak Yang Berani itu akhirnya kembali keharibaan Allah SWT dengan tenang….Semoga Amal Ibadahnya diterima disisi Allah SWT…

Wallahu A’lam Bisshowab

*Apabila dalam penulisan manaqib ini ada beberapa koreksi, mohon disampaikan kepada penulis…..Insya Allah segala koreksi itu menjadi nilai ibadah bagi mereka yang ikhlas mengkoreksinya…..*

DAFTAR PUSTAKA

RUJUKAN UTAMA
Sayyid Baharudin Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, KITAB NASAB ENSIKLOPEDIA NASAB ALHUSAINI, halaman 105 bab Raden Fattah, Penerbit Madawis tahun 2011.

RUJUKAN PENDAMPING
Agus Sunyoto, WALI SONGO, Rekontruksi sejarah yang disingkirkan, Jakarta, Transpustaka, 2011
Abu Amar, Imron, KERAJAAN ISLAM DEMAK, Kudus, Penerbit Menara Kudus, 1996.
Abu Amar, Sunan Gunung Jati Cirebon, Kudus, Penerbit Menara Kudus, Tahun 1992.
Amin, Fatah Nur, METODE DAKWAH WALISONGO, Pekalongan, Penerbit CV Bahagia, 1997.
Aso Sumiarso, CATATAN NASAB KELUARGA BESAR CIGUGUR, Cimahi, tidak diterbitkan, 1964.
Badri Yatim, SEJARAH PERADABAN ISLAM, Jakarta, Penerbit Rajawali Press, Tahun 1993.
Bisyri Mustofa, TARIKHUL AULIA (SEJARAH WALI DINUSANTARA), KUDUS, Penerbit Menara Kudus, Tahun 1952.
Dahlan, KH. Mohammad. HAUL SUNAN AMPEL KE 555, Penerbit Yayasan Makam Sunan Ampel, Surabaya, 1979
Darmawijaya, SEJARAH KESULTANAN NUSANTARA, Jakarta, Penerbit Al Kautsar 2010.
Daryanto, RADEN FATAH, Bara diatas Demak Bintara, Penerbit Tiga Kelana, 2009.
De Graff, KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA, Jakarta, Penerbit Grafiti, 2003.
Darmawijaya, KESULTANAN ISLAM NUSANTARA, Jakarta, Penerbit AL Kausar, 2010
Departemen Agama, ENSIKLOPEDIA ISLAM, Jakarta, Penerbit Depag, 1993.
Haji Unang Sunarjo SH, “Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cerbon 1479-1809” Penerbit Tarsito, Edisi ke 1, Bandung, 1983. 
Helmiati, SEJARAH ISLAM ASIA TENGGARA, Ha, Bandung, Penerbit Nusa Media & Zanaf Publising, Tahun 2011.
Hasanu Simon, MISTERI SYEKH SITI JENAR, Pustaka Pelajar, Tahun 2007.
Iwan Mahmud, SEJARAH DESA GUNUNG BATU DAN ARIA PENANGSANG, PRIBADI, 2005.
Iwan Mahmud, CATATAN NASAB KELUARGA BESAR ARIA PENANGSANG, PRIBADI, 2004.
Joko, PANEMBAHAN SENOPATI (PENDIRI KERAJAAN MATARAM) Jakarta, Penerbit Pradnya Paramita, Tahun 1983
Yosef Iskandar, SEJARAH JAWA BARAT, Hal 263 s/d 270, Bandung, Penerbit CV Geger Sunten, Tahun 1997. 
Kiagus Imran Mahmud, SEJARAH PALEMBANG, Palembang, Penerbit? Tahun……
TIM Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, ENSIKLOPEDIA ISLAM INDONESIA, 2009, Penerbit Djambatan, tahun 1993
Slamet Mulyana, RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU JAWA DAN TIMBULNYA NEGARA NEGARA ISLAM DI NUSANTARA, Hal 242 s/d 245, Jogyakarta, Penerbt LKIS, Tahun 2007.
Sagimun M.D, Sejarah Jakarta Dari Tepi air Ke Kota Sampai Dengan Masa Proklamasi, Pemda DKI, Dinas Musium Sejarah, Tahun 1988.
Suwito, BABAD TANAH JAWI (GALUH MATARAM), Jakarta, Yayasan Idayu, 1970.
Sayyid Thohir Al Haddad, SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DITIMUR JAUH, Jakarta, Penerbit Lentera, 2001.
Umar Hasyim, SUNAN MURIA, ANTARA FAKTA DAN LEGENDA, Kudus, Penerbit Menara Kudus, Tahun 1983
Yuliadi Sukardi, SUNAN KUDUS SYEKH JAKFAR SHODIQ, Bandung, Penerbit Pustaka Setia Bandung, Tahun 2004. 

Situs

http://id.wikipedia.org/wiki/Trenggana
http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang
http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Patah
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Demak
http://id.wikipedia.org/wiki/Walisongo#Walisongo_Periode_Pertama
http://id.rodovid.org/wk/Orang:275008
http://id.rodovid.org/wk/Orang:188326
http://asalsilahipunparanata.blogspot.com/
http://sejarahgunungbatu.blogspot.com/
http://madawis.blogspot.com/
http://demak-ku.blogspot.com/2012/06/manaqib-sejarah-singkat-sultan-fatah.html
http://www.facebook.com/azmatkhanalhusaini
http://ibnurusydi.blogspot.com/2011/06/champa-negara-melayu-yang-hilang-dari_11.html
http://teambulls.wordpress.com/2010/08/16/babad-tanah-jawi-raden-fatah-penakluk-majapahit/
http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=7&id=1148


Kenapa Kesultanan Demak Menyerang Malaka pada Tahun 1518 Masehi?

oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan


Benarkah tuduhan sebagian orang jika Demak menyerang Malaka karena tergiur dengan potensi selat malaka yang kaya akan perekonomiannya. Benarkah penyerangan Ke Malaka merupakan sebuah strategi yang salah dalam Kesultanan Demak?

Ini Jawabanya yang saya kutip sebagian dari pernyataannya Prof Ahmad Mansur Suryanegara:

"Perjuangan nasionalisme menentang penjajah itu tokohnya adalah ulama dan santri. Sehingga, Thomas S. Raffles, dalam bukunya The History of Java, di situ menjelaskan ulama itu tidak melakukan kerjasama dengan sultan. Bahkan tidak mungkin kaki tangan penjajah aman di Indonesia, kendati jumlah ulama dan santri hanya sepersembilan belas dari populasi penduduk di Jawa pada waktu itu. Jadi, adanya penjajahan itu dimulai 1494, dari Paus Alexander ke VI. Paus inilah yang memberikan kewenangan kepada kerajaan Katholik Portugis untuk menguasai belahan dunia timur, dan kerajaan Katholik Spanyol menguasai belahan Barat. Lalu sampailah ke Indonesia orang-orang Portugis itu pada tahun 1511 dengan menguasai Malaka".

Dari mana kaum penjajah menguasai wilayah Islam?

"Sejak itulah ada serangan dari kesultanan Demak terhadap Malaka. Kenapa menyerang Malaka? Karena kuatnya Islam itu tergantung pada penguasaan pasar dan pengusaan maritim. Karena Nabi sendiri, sejak umur delapan tahun sebelum diangkat sampai menjadi Nabi seorang wirausahawan. Di dalam Al-Qur’an sendiri banyak ayat yang berbicara tentang perniagaan dan maritim. Di dalam Al-Qur’an ada 40 ayat yang berbicara tentang maritim. Inilah yang tidak dikuasai para ahli sejarah pada umumnya".

"Mereka sering menggambarkan Rasulullah hanya dengan padang pasir dan onta. Tidak ada orientasi pada kelautan. Padahal, Islam itu kuat karena menguasai laut. Dan jazirah Arabia itu sendiri berarti wilayah yang dikelilingi laut. Karena kita dikuasai sejarah Barat, informasi kelautan itu hanya dimiliki Inggris".

Jadi penyerangan Demak Ke Malaka itu ada tujuannya, dan tujuan yang jelas adalah menyelamatkan Islam dari penjajahan kolonial. Mana mungkin jika jauh jauh dari Demak menuju Malaka hanya untuk kekuasaan, sedangkan wilayah lain disekitar Nusantara saja masih banyak yang harus diurus, lagipula hubungan antara penguasa Malaka dan demak sangat erat, karena adanya persamaan akidah. Sektor Maritim saat itu memang sangat berperan dalam roda perekonomian (juga sampai sekarang). Jadi penyerangan demak terhadap portugis yang memang terkenal sebagai penjajah sangatlah wajar, karena jika roda perekonomian jatuh kepada Penjajah, habislah umat islam. Tidak benar pula jika dalam penyerangan ini Banyak orang Jawa yang berkhianat kepada Malaka seperti yang pernah dituduhkan oleh seorang dari mancanegara sana. Dan tidak benar pula Jika Fatahillah ketika membebaskan Sunda Kelapa dari Portugis membunuh banyak orang, khususnya orang betawi asli seperti yang dikemukakan Ridwan Saidi, Seorang Ulama sekelas Fatahillah tidak mungkin menjadikan rakyat untuk dibantai, sumber dari Ridwan Saidi mengatakan demikian??.

Jadi setiap perlawanan atau pertahanan yang dilakukan berbagai kesultanan Islam, pasti ada latar belakang yang kuat, tidak mungkin mereka mau berperang jika tidak terpaksa, dan terbukti dari semua peperangan yang melakukan provokasi dan adu domba adalah fihak dari penjajah. Percayalah negara ini didirikan bukan melalui kekerasan, kekerasan dan peperasangan justru banyak berasal dari penjajah. Puncak dari setiap peperangan tersebut adalah dengan dihancurkannya Sejarah Sejati dari bangsa ini, terutama sejarah para ulama dan sejarah islam. Jadi marilah mulai sekarang dalam membaca sejarah kita harus hati hati dan teliti dalam menelaah setiap bacaan yang kita miliki terutama sumber bacaan yang berasal dari penjajah kolonial.

Wallahu A'lam Bisshowab...