Sabtu, 21 September 2013

Keutamaan Hizib Bahar (Diijazahkan Untuk Umum)

Oleh:

Syekh Mursyid As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
(Syekh Mursyid Beberapa Tarekat & Mufti Besar Kesultanan Palembang Darussalam)

As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh.

Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut : Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh. Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam. Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam. Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun. Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya. Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi. Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thariqah syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.


Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :


1. Surat Al Maaidah ayat 56 :


وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ


“Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta’ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang”.


2. Surat Al Kahfi ayat 12 :


ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا


“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu”


3. Surat Ar Ruum ayat 32 :


مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ


“dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka”


4. Surat Al Fathiir ayat 6 :


إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ


“Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”.


5. Surat Al Mujaadalah ayat 19 :


اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ


“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta’ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi”.


6. Surat Mujadalaah ayat 22 :


لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta’ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung”.


Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).


Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at. Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri. Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.


Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swty. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw. Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”. Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”. Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”. Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili: 1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya. 2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga : pertama, karena berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristiqhfar. Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah swt. sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik kembali oleh Allah swt. Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membikin Allah swt. untuk mengujimu.Kalau Allah swt. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi. Memang masih berada di bawah awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling darh dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah swt. dan tidak bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya. SEJARAH HIZIB BAHR Hizb al-bahr ini adalah hizib yang termasyhur disamping dua hizib lagi iaitu hizib an-Nawawi dan Ratib Hadad. Ketiga-tiga ini adalah milik wali-wali Qutub. Wali Qutub ialah ketua para wali atau pusat para wali di dunia ini pada zamannya. Yang mana mereka ini adalah orang yang amat bertakwa kepada Allah secara zahir dan batin. Tujuan asal amalan hizib-hizib adalah untuk membawa diri seseorang itu menjadi dekat dengan Allah S.W.T. Dalam arti kata lain, Mengharapkan redha Allah dalam mengamalkannya disamping melakukan amalan-amalan wajib seperti solat fardu, puasa, mengeluarkan zakat, jauhi maksiat dan sebagainya. Ini kerana Hizib adalah juga kategori doa atau zikir yang bertujuan memperkuat tauhid pengamal tersebut. Terdapat banyak keistimewaan @ kelebihan @ fadhilat bagi sesiapa yang mengamalkankan hizib-hizib ini. Antaranya mendapat redha Allah, sentiasa dalam keadaan hati yang tenang, terpelihara dari hasad dengki khianat orang, terpelihara dari gangguan jin, syaitan serta iblis dan sebagainya. Apapun kelebihan-kelebihan yang ada itu adalah kurniaan Allah kepada hamba yang diredhainya, maka kita sebagai hamba Allah hendaklah mengikhlaskan niat terhadap apa jua amalan yang dilakukan. Berkenaan kelebihan-kelebihan itu kita serahkan kepada Allah dan jangan mengharapkannya. Kerana setiap musihabah yang berlaku keatas kita terkadang ada hikmah disebaliknya dan terkadang menjadi kaffarah (balasan untuk menghapus dosa) atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, cukuplah yang penting kita mengamalkannya hanya mencari redha Allah S.W.T. Kembali kepada Hizb al-Bahr, hizib inilah yang al-Imam selalu berwasiat kepada anak-anak muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Kerana di dalamnya mengandungi al-Ismul A’dzam (nama Allah yang Maha Agung). Hizb ini diajarkan oleh Rasulallah S.A.W melalui mimpi Imam Abu Hasan asy-Syazili sewaktu beliau berdukacita di tengah-tengah Laut Merah. Diceritakan, suatu hari Al-Imam ingin pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan fardu haji melalui jalan laut. Kapten kapalnya itu seorang nasrani (kristian). Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba angin tidak lagi bertiup, ini membuatkan kapal yang al-Imam naiki tidak boleh berlayar. Bukan setakat sehari, malah berhari-hari. Semua awak-awak kapal menjadi gelisah dan berdukacita. Dalam kegelisahan inilah, Imam Abu Hasan asy-Syazili bermimpi bertemu Rasulullah S.A.W. Baginda S.A.W mengajarkan al-Imam akan hizib ini. Apabila tiba waktu siang, al-Imam menyuruh kapten kapal itu bersiap-siap untuk berlayar. Dan ini menyebabkan kapten kapal itu kehairanan, lalu bertanya. Kapten kapal : “Mana Anginnya, tuan?”. Jawab al-Imam : ” Sudah! siap-siap, sekarang angin datang!”. Dengan Izin Allah S.W.T beberapa saat kemudian angin pun datang. Oleh kerana peristiwa yang luar biasa ini, kapten kapal yang seorang nasrani itu pun memeluk Islam. Masya Allah.Di antara keramatnya para Shidiqin ialah :

Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu).Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :

Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari AllahMampu menggantikan Wali Qutub yang lain.Mampu membantu malaikat memikul Arsy.Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin.

Bacaan Hizib Bahar:

حزب البحرللشاذلي رضي الله عنه(بسم الله الرحمن الرحيم)اللهم يا علي يا عظيم يا حليم يا عليم أنت ربي، وعلمك حسبي فنعم الرب ربي ونعم الحسب حسبي تنصر من تشاء وأنت العزيز الرحيم، نسألك العصمة في الحركات والسكنات والكلمات والإرادات والخطرات من الشكوك والظنون والأوهام الساترة للقلوب عن مطالعة الغيوب فقد ابتلي المؤمنون وزلزلوا زلزالا شديدا....وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلا غُرُوراً..فثبتنا وانصرنا وسخر لنا هذا البحر كما سخرت البحر لموسي عليه السلام وسخرت النار لإبراهيم عليه السلام، وسخرت الجبال والحديد لداوود عليه السلام، وسخرت الريح والشياطين والجن لسليمان عليه السلام، وسخر لنا كل بحر هو لك في الأرض والسماء والملك والملكوت وبحر الدنيا وبحر الآخرة، وسخر لنا كل شيء، يا من بيده ملكوت كل شيءكهيعص (ثلاثا) انصرنا فإنك خير الناصرين، وافتح لنا فإنك خير الفاتحين وأغفر لنا فانك خير الغافرين وارزقنا فإنك خير الرازقين واهدنا ونجنا من القوم الظالمين، وهب لنا ريحا طيبة كما هي في علمك، وانشرها علينا من خزائن رحمتك، واحملنا بها حمل الكرامة مع السلامة والعافية في الدين والدنيا والآخرة إنك على كل شيء قدير.(اللهم)... يسر لنا أمورنا مع الراحة لقلوبنا وأبداننا والسلامة والعافية في ديننا ودنيانا وآخرتنا وكن لنا صاحبا في سفرنا وخليفة في أهلنا واطمس علي وجوه أعدائنا وأمسخهم على مكانتهم فلا يستطيعون المضي ولا المجئ إلينا. .وَلَوْ نَشَاء لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ..وَلَوْ نَشَاء لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيّاً وَلا يَرْجِعُونَ..يس..وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ. إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ.عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ.تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ. لِتُنذِرَ قَوْماً مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ.لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ.إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلاَلاً فَهِيَ إِلَى الأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ.وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدّاً وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدّاً فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَ يُبْصِرُونَ....شاهت الوجوه.................... (ثلاثا).وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْماً....طس..طسم..حم..عسق.. مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ....بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ..حم..حم.. حم ..حم ..حم.. حم ..حم.......حم الأمر وجاء النصر فعلينا لا ينصرون، .حم.تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ.غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ....بسم الله بابنا....تبارك حيطاننا...يس سقفنا....كهيعص كفايتنا....حم..عسق.حمايتنا. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.. (ثلاثا) سترالعرش مسبول علينا وعين الله ناظرة إلينا بحول الله لا يقدر علينا.. وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ.. بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ.فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ.فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.إِنَّ وَلِيِّيَ اللّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ.فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ. بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم ..... ( ثلاثا )ولا حول ولا قوة إلا بالله العلى العظيم ) ......( ثلاثا)


وصلي الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين ...نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ.هُوَ الاوَّلُ وَالاخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ. نعم المولى ونعم النصير. غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِير


Nama & Gelar Nabi Muhammad

Oleh:

Syaikh Mursyid Habib Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh 
(Syeikh-Mufti Kesultanan Palembang Darussalam)

Nama dan Gelar Nabi Muhammad menurut Kitab Dalailul Khairat karya Imam Sulaiman Al-Jazuli adalah:
1.      Muhammad Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
2.      Ahmad Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
3.      Hamid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
4.      Mahmud Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
5.      Ahid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
6.      Wahid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
7.      Mahh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
8.      Hasyir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
9.      'Aaqib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
10.  Taha Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
11.  Yaasin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
12.  Tahir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
13.  Mutahhar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
14.  Taiyyib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
15.  Sayyid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
16.  Rasul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
17.  Nabi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
18.  Rasulul Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
19.  Qaiyyim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
20.  Jami' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
21.  Muqtaff Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
22.  Muqaffa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
23.  Rasulul Malaahim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
24.  Rasulur Rahah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
25.  Kamil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
26.  Iklil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
27.  Muddatstsir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
28.  Muzzammil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
29.  Abdullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
30.  Habibullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
31.  Safiyyullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
32.  Najiyyullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
33.  Kalimullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
34.  Khatamul Anbia' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
35.  Khatamul Rusul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
36.  Muhyi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
37.  Munji Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
38.  Muzakkir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
39.  Nasir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
40.  Mansur Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
41.  Nabiyyul Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
42.  Nabiyut Taubah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
43.  Harison 'Alaikum Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
44.  Ma'lum Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
45.  Shahir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
46.  Shaahid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
47.  Shahiid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
48.  Mashhud Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
49.  Bashir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
50.  Mubashhir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
51.  Nazir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
52.  Munzir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
53.  Nur Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
54.  Siraj Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
55.  Misbah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
56.  Hudaa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
57.  Mahdi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
58.  Munir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
59.  Da'i Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
60.  Mad'uu Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
61.  Mujib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
62.  Mujab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
63.  Hafiyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
64.  'Affuw Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
65.  Waliyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
66.  Haqq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam 
67.  Qawiyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
68.  Amin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
69.  Ma'mun Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
70.  Karim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
71.  Mukarram Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
72.  Makin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
73.  Matin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
74.  Mubin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
75.  Muammil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
76.  Wasul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
77.  Dzu Quwwah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
78.  Dzu Hurmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
79.  Dzu Makaanah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
80.  Dzu 'Iz Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
81.  Dzu Fadli Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
82.  Mutaa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
83.  Mutii' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
84.  Qadamu Sidqi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
85.  Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
86.  Bushra Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
87.  Ghauth Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
88.  Ghaith Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
89.  Ghayyath Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
90.  Ni'matullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
91.  Hadiyyatullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
92.  'Urwatun Wuthqa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
93.  Siraatullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
94.  Siraatul Mustaqim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
95.  Zikrullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
96.  Saifullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
97.  Hizbullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
98.  An-Najmuth Thaqib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
99.  Mustaffa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
100.                                                          Mujtaba Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
101.                                                          Muntaqa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
102.                                                          Ummiyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
103.                                                          Mukhtar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
104.                                                          Ajir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
105.                                                          Jabbar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
106.                                                          Abul Qasim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
107.                                                          Abut Tahir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
108.                                                          Abut Taiyyib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
109.                                                          Abu Ibrahim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
110.                                                          Mushaffa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
111.                                                          Shafi' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
112.                                                          Saleh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
113.                                                          Musleh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
114.                                                          Muhaimin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
115.                                                          Sadiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
116.                                                          Musaddiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
117.                                                          Sidq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
118.                                                          Sayyidul Mursalin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
119.                                                          Imamul Muttaqin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
120.                                                          Qaidul Ghurril Muhajjalin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
121.                                                          Khalilul Rahman Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
122.                                                          Barr Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
123.                                                          Mabarr Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
124.                                                          Wajih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
125.                                                          Nasih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
126.                                                          Naasih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
127.                                                          Wakil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
128.                                                          Mutawwakkil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
129.                                                          Kafil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
130.                                                          Shafiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
131.                                                          Muqimus Sunnah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
132.                                                          Muqaddas Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
133.                                                          Ruhul Qudus Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
134.                                                          Ruhul Haq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
135.                                                          Ruhul Qistt Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
136.                                                          Kaaf Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
137.                                                          Muktaff Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
138.                                                          Baaligh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
139.                                                          Muballigh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
140.                                                          Shaff Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
141.                                                          Wasil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
142.                                                          Mausul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
143.                                                          Sabiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
144.                                                          Saaiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
145.                                                          Had Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
146.                                                          Muhdi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
147.                                                          Muqaddam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
148.                                                          Aziz Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
149.                                                          Fadhil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
150.                                                          Mufaddhal Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
151.                                                          Fatih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
152.                                                          Miftah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
153.                                                          Miftahul Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
154.                                                          Miftahul Jannah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
155.                                                          'Alamul Imaan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
156.                                                          'Alamul Yaqin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
157.                                                          Dalilul Khairat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
158.                                                          Musahhihul Hasanaat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
159.                                                          Muqilul 'Atharaat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
160.                                                          Saffuh Aniz Zallat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
161.                                                          Sahibush Shafa'ah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
162.                                                          Sahibul Maqam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
163.                                                          Sahibul Qadim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
164.                                                          Makhsus Bil 'Iz Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
165.                                                          Makhsus Bil Majd Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
166.                                                          Makhsus Bis Sharaf Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
167.                                                          Sahibul Wasilah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
168.                                                          Sahibus Saif Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
169.                                                          Sahibul Fadhilah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
170.                                                          Sahibul Izar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
171.                                                          Sahibul Hujjah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
172.                                                          Sahibus Sultan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
173.                                                          Sahibul Ridaa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
174.                                                          Sahibud Darajaatir Rafiah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
175.                                                          Sahibut Tajj Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
176.                                                          Sahibul Maghfir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
177.                                                          Sahibul Liwaa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
178.                                                          Sahibul Mi'raj Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
179.                                                          Sahibul Qadhib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
180.                                                          Sahibul Buraaq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
181.                                                          Sahibul Khaatam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
182.                                                          Sahibul 'Alamah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
183.                                                          Sahibul Burhan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
184.                                                          Sahibul Bayaan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
185.                                                          Fasihul Lisan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
186.                                                          Mutahharul Janan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
187.                                                          Ra'uff  Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
188.                                                          Rahim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
189.                                                          Uzunukhair Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
190.                                                          Sahihul Islam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
191.                                                          Sayyidul Kaunain Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
192.                                                          'Ainun Na'im Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
193.                                                          'Ainul Ghurr Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
194.                                                          Sa'dullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
195.                                                          Sa'dul Khalq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
196.                                                          Khatibul Umam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
197.                                                          'Alamul Huda Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
198.                                                          Kashiful Kurab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
199.                                                          Raafi'ur Rutab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
200.                                                          'Izzul 'Arab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
201.                                                          Shohibul Faroji Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam

Jumat, 20 September 2013

Nama-Nama Thariqah Seluruh Dunia (Sesuai Urutan Abjad)

Tulisan ini bersumber dari:

Kitab Ensiklopedi Thariqah Mu'tabarah Se-Dunia
Karya: Syekh Mursyid Habib Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

  1. Thariqah Mu'tabarah Abu Madyan
  2. Thariqah Mu'tabarah Adawaiyyah
  3. Thariqah Mu'tabarah Ahadiyyah
  4. Thariqah Mu'tabarah Ahmadiyyah (Bukan organisasi Ahmadiyyah Qadiyani atau Lahore)
  5. Thariqah Mu'tabarah Akbariyyah
  6. Thariqah Mu'tabarah Akmaliyyah
  7. Thariqah Mu'tabarah Alawiyyah
  8. Thariqah Mu'tabarah 'Aliyyah
  9. Thariqah Mu'tabarah Alwaniyyah
  10. Thariqah Mu'tabarah Ammariyyah
  11. Thariqah Mu'tabarah Anbiya Mursalin
  12. Thariqah Mu'tabarah Aqqadiyyah
  13. Thariqah Mu'tabarah Aqqadiyyah Syadziliyyah
  14. Thariqah Mu'tabarah Arqamiyyah (bukan organisasi Darul Arqam yang dulu pernah ada di Malaysia)
  15. Thariqah Mu'tabarah Asyaqiyyah
  16. Thariqah Mu'tabarah Asyrafiyyah
  17. Thariqah Mu'tabarah Asyratul Kiram
  18. Thariqah Mu'tabarah Attariyyah
  19. Thariqah Mu'tabarah Aufiyyah
  20. Thariqah Mu'tabarah Aufiyyah Arqamiyyah Nabawiyyah
  21. Thariqah Mu'tabarah A'zhamiyyah
  22. Thariqah Mu'tabarah Azmatkhaniyyah
  23. Thariqah Mu'tabarah Azmiyyah
  24. Thariqah Mu'tabarah Badariyyah
  25. Thariqah Mu'tabarah Badariyyah Qadiriyyah
  26. Thariqah Mu'tabarah Badawiyyah
  27. Thariqah Mu'tabarah Bakariyyah
  28. Thariqah Mu'tabarah Baktasyiyyah
  29. Thariqah Mu'tabarah Baqliyyah
  30. Thariqah Mu'tabarah Barzanjiyyah
  31. Thariqah Mu'tabarah Budsiyyah
  32. Thariqah Mu'tabarah Bunniyyah
  33. Thariqah Mu'tabarah Burhamiyyah
  34. Thariqah Mu'tabarah Burhaniyyah
  35. Thariqah Mu'tabarah Burhaniyyah Dasuqiyyah
  36. Thariqah Mu'tabarah Burhaniyyah Dasuqiyyah Syadziliyyah
  37. Thariqah Mu'tabarah Busthamiyyah
  38. Thariqah Mu'tabarah Darqawiyyah
  39. Thariqah Mu'tabarah Darqawiyyah Ar-Rusiyyah
  40. Thariqah Mu'tabarah Darqawiyyah Ar-Rusiyyah Al-Hasaniyyah
  41. Thariqah Mu'tabarah Dasuqiyyah
  42. Thariqah Mu'tabarah Fasiyyah
  43. Thariqah Mu'tabarah Fathimiyyah
  44. Thariqah Mu'tabarah Ghazaliyyah
  45. Thariqah Mu'tabarah Haqqiyyah
  46. Thariqah Mu'tabarah Harawiyyah
  47. Thariqah Mu'tabarah Hasaniyyah
  48. Thariqah Mu'tabarah Hashofiyyah
  49. Thariqah Mu'tabarah Husainiyyah
  50. Thariqah Mu'tabarah Ibnu Ajibah
  51. Thariqah Mu'tabarah Idrisiyyah
  52. Thariqah Mu'tabarah Imdadiyyah
  53. Thariqah Mu'tabarah Isawiyyah
  54. Thariqah Mu'tabarah Isawiyyah Qawiqaziyyah
  55. Thariqah Mu'tabarah Isawiyyah Qawiqaziyyah Syadziliyyah
  56. Thariqah Mu'tabarah Ja'fariyyah Sunniyyah (Bukan bagian dari Syi'ah Ja'fariyyah, karena Syiah anti Tarekat)
  57. Thariqah Mu'tabarah Jarullah
  58. Thariqah Mu'tabarah Jauziyyah
  59. Thariqah Mu'tabarah Jazuliyyah
  60. Thariqah Mu'tabarah Jistiyyah
  61. Thariqah Mu'tabarah Junaidiyyah
  62. Thariqah Mu'tabarah Kalabadiyyah
  63. Thariqah Mu'tabarah Kaznazaniyyah
  64. Thariqah Mu'tabarah Khalwatiyyah
  65. Thariqah Mu'tabarah Khatmiyyah
  66. Thariqah Mu'tabarah Khaznawiyyah
  67. Thariqah Mu'tabarah Khidiriyyah
  68. Thariqah Mu'tabarah Khaliliyyah
  69. Thariqah Mu'tabarah Khuzwiriyyah
  70. Thariqah Mu'tabarah Kubrawiyyah
  71. Thariqah Mu'tabarah Madaniyyah
  72. Thariqah Mu'tabarah Maghribiyyah
  73. Thariqah Mu'tabarah Mahdiyyah
  74. Thariqah Mu'tabarah Makkiyyah
  75. Thariqah Mu'tabarah Malamatiyyah
  76. Thariqah Mu'tabarah Maqdisiyyah
  77. Thariqah Mu'tabarah Masyisyiyyah
  78. Thariqah Mu'tabarah Maulawiyyah
  79. Thariqah Mu'tabarah Mawardiyyah
  80. Thariqah Mu'tabarah Mirghiniyyah
  81. Thariqah Mu'tabarah Mirghiniyyah Khatmiyyah
  82. Thariqah Mu'tabarah Muhammadiyyah (Bukan organisasi Muhammadiyyah)
  83. Thariqah Mu'tabarah Muhammadiyyah Syadziliyyah
  84. Thariqah Mu'tabarah Muhasibiyyah
  85. Thariqah Mu'tabarah Nabawiyyah
  86. Thariqah Mu'tabarah Naffariyyah
  87. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah
  88. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah 'Aliyyah
  89. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah Kabbaniyyah
  90. Thariqah Mu'tabarah Naqsabandiyyah Khalidiyyah
  91. Thariqah Mu'tabarah Nawawiyyah
  92. Thariqah Mu'tabarah Nikmatullahi
  93. Thariqah Mu'tabarah Nur Muhammadiyyah
  94. Thariqah Mu'tabarah Qadhiyyah
  95. Thariqah Mu'tabarah Qadhiyyah Hashofiyyah
  96. Thariqah Mu'tabarah Qadhiyyah Hashofiyyah Syadziliyyah
  97. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah
  98. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Budsiyyah
  99. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Naqsabandiyyah
  100. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Naqsabandiyyah Shodiqiyyah
  101. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Rasyidiyyah
  102. Thariqah Mu'tabarah Qadiriyyah Walisongo
  103. Thariqah Mu'tabarah Qawiqaziyyah
  104. Thariqah Mu'tabarah Quraibiyyah
  105. Thariqah Mu'tabarah Quraniyyah
  106. Thariqah Mu'tabarah Qurtubiyyah
  107. Thariqah Mu'tabarah Qusyairiyyah
  108. Thariqah Mu'tabarah Qutubiyyah
  109. Thariqah Mu'tabarah Qutbul Aqtab
  110. Thariqah Mu'tabarah Rahmaniyyah
  111. Thariqah Mu'tabarah Rasyidiyyah
  112. Thariqah Mu'tabarah Rifaiyyah
  113. Thariqah Mu'tabarah Russiyyah
  114. Thariqah Mu'tabarah Sakandariyyah
  115. Thariqah Mu'tabarah Samaniyyah
  116. Thariqah Mu'tabarah Samarqandiyyah
  117. Thariqah Mu'tabarah Sanusiyyah
  118. Thariqah Mu'tabarah Syaththoriyyah
  119. Thariqah Mu'tabarah Sawirisiyyah
  120. Thariqah Mu'tabarah Shiddiqiyyah
  121. Thariqah Mu'tabarah Shiddiqiyyah Syadziliyyah
  122. Thariqah Mu'tabarah Shobiriyyah
  123. Thariqah Mu'tabarah Shodiqiyyah
  124. Thariqah Mu'tabarah Suhrawardiyyah
  125. Thariqah Mu'tabarah Sulamiyyah
  126. Thariqah Mu'tabarah Suyuthiyyah
  127. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah
  128. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Darqawiyyah
  129. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Darqawiyyah Alawiyyah
  130. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Darqawiyyah Habibiyyah
  131. Thariqah Mu'tabarah Syadziliyyah Walisongo
  132. Thariqah Mu'tabarah Syaikhiyyah
  133. Thariqah Mu'tabarah Sya'raniyyah
  134. Thariqah Mu'tabarah Syaukaniyyah
  135. Thariqah Mu'tabarah Sirhindiyyah
  136. Thariqah Mu'tabarah Tijaniyyah
  137. Thariqah Mu'tabarah Tirmidziyyah
  138. Thariqah Mu'tabarah Tustariyyah
  139. Thariqah Mu'tabarah Ulwaniyyah
  140. Thariqah Mu'tabarah Wahidiyyah
  141. Thariqah Mu'tabarah Walisongo
  142. Thariqah Mu'tabarah Walisuci
  143. Thariqah Mu'tabarah Wizaniyyah
  144. Thariqah Mu'tabarah Yahyawiyyah

Tingkatan Kualitas Fuqoha (Ulama)


Oleh:

Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam



Dalam jagad perulama-an fikih, ada tingkatan-tingkatan tertentu yang ditetapkan sesuai dengan kapasitas kwalitas tiap ulama. Tingkatan yang mereka miliki pun menentukan posisi dan keistimewaan dalam berpendapat maupun menelurkan produk hukum (fatwa). Berikut ini adalah tingkatan-tingkatan ulama fikih:
  1. Mujtahid Mustaqil yaitu mujtahid yang membuat kaidah-kaidah ushul sendiri ( berdasarkan hasil penelitian mereka ), dan membangun hukum-hukum furu' di atas ushul tersebut, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi'i, dan Imam Ahmad.
  2. Mujtahid Muthlaq Muntasib yaitu mujtahid yang menetapkan hukum furu' dg ijtihad yang bersandar kepada kaidah-kaidah ushul yang dibuat oleh Mujtahid Mustaqil, seperti Abu Yusuf, Muhammad ( Hanafiyah ), Ibnul Qasim, Asyhab, ( Malikiyah ), al-Buwaithi, al-Muzani ( Syafi'iyyah ), Al-Atsram, dan al-Marwazi ( Hanabilah).
  3. Mujtahid Muqayyad ( Mujtahid takhrij ) yaitu mereka berijtihad pada masalah-masalah yang tidak terdapat nash dari imam mazhab, seperti : al-Karkhi, al-Sarkhasi, ( Hanafiyah ), al-Abhari, Ibnu Abi Zaid ( Malikiyah ), al-Syirazi, Ibnu Khuzaimah ( Syafi'iyyah), Abu Ya'la, dan Abu 'Ali ( Hanabilah ).
  4. Mujtahid Tarjih yaitu mereka yang mampu mentarjih pendapat2 imam mazhab ( ketika terdapat beberapa riwayat ), mentarjih antara pendapat imam mazhab dengan pendapat murid-murid nya atau dengan imam-imam yang lain, seperti al-Marghinani ( Hanafiyah ), khalil ( malikiyah ), al-Rafi'I, al-Nawawi, ( Syafi'iyah ), dan Abu al-Khaththab ( Hanabilah ).
  5. Mujtahid Fatwa yaitu mereka yang menyebarkan, menuqil, dan memahami secara mendalam mazhab imamnya serta mampu membedakan yang kuat yang lemah dalam mazhab, tetapi memiliki kelemahan dalam mengurai dalil-dalilnya, seperti pengarang al-Durr al-Mukhtar ( Hanafiyah ), dan al-Ramli ( Syafi'iyah ).
  6. Muttabi', atau muqallid, yaitu mereka yang hanya mengikuti hukum yang ditetapkan dan difatwakan oleh para mujtahid di atas (nomor 1 s/d 5). 

Wallaahu A'lamu Bish Showwab

Minggu, 15 September 2013

Daftar Mufti Seluruh Dunia


  1. Al Habib Ali Masyhur bin Hafizh ( kakak dari Habib Umar ), Ketua Dewan Mufti Tarim, Hadhramaut Yaman,
  2. Al-Habib Salim bin Abdullah Asy Syathiri, anggota Dewan Mufti Tarim, Hadhramaut, Yaman.
  3. Al Habib Umar bin Hafizh, anggota Dewan Mufti Tarim, Hadhramaut, Yaman.
  4. Syeikh Mufti Habib Shohibul Faroji Al-Hafizh Azmatkhan Al-Husaini  (Mufti Besar Kesultanan Palembang Darussalam, Indonesia)
  5. Syeikh Mufti Yusuf Al-Qardawi (Mufti Besar Mesir dan Qatar)
  6. Syeikh Mufti Mustafa Çağrıcı (Mufti Besar Istanbul, Turki)
  7. Syeikh Mufti Talgat Tadzhuddin (Mufti Besar Rusia)
  8. Syeikh Mufti Dr. Abdul Wahab Zahid (Mufti Besar Korea)
  9. Syeikh Mufti Ahmad Mohammad Al-Tayyeb (Mufti Besar Al-Azhar, Mesir)  
  10. Syeikh Mufti Ahmad Badreddin Hassoun (Mufti Besar Syiria)
  11. Syeikh Mufti Mawlawi Qiyamuddin Kashaf (Mufti Besar Afghanistan, Ketua Majelis Ulama Afghanistan) 
  12. Syeikh Mufti Habib Muhammad Rizieq Shihab Al-Husaini (Mufti Besar Kesultanan Sulu)
  13. Syeikh Mufti Syed Adnan kakakhail Al-Husaini (Mufti Nigeria)
  14. Syeikh Mufti Abu Hurairah Moihuddin (Mufti  Pakistan)
  15. Syeikh Mufti Masood (Mufti Karachi, Pakistan)
  16. Syeikh Mufti Muhammad Qasim Madni (Mufti Karachi, Pakistan)
  17. Syeikh Mufti Muhammad Hanif Qureshi (Mufti Pakistan)
  18. Syeikh Mufti Muhammad Naeem (Mufti Pakistan)
  19. Syeikh Mufti Dr, Ashraf Asif Jalail Saheb (Mufti Pakistan)
  20. Syeikh Mufti Hafiz Sabri Kocki (Mufti Albania)
  21. Syeikh Mufti Dr. Abderrazak Qessoum (Mufti Aljazair, Ketua Organisasi Ulama Muslimin Aljazair)
  22. Syeikh Mufti Shah Sadruddin (Mufti London, Inggris)
  23. Syeikh Mufti Abu Layth (Mufti Birmingham, Inggris)
  24. Syeikh Mufti Muhammad ibn Adam al-Kawthari (Mufti Leicester, Inggris)
  25. Syeikh Mufti Ismail Menk (Mufti Harare, Zimbabwe)
  26. Syeikh Mufti Qazi Muhammad Ibrahim (Mufti Bangladesh)
  27. Syeikh Mufti Fayezullah (Mufti Chittagong, Bangladesh)
  28. Syeikh Mufti Amini (Mufti Lalbagh. Bangladesh)
  29. Syeikh Mufti Abdur Razzaq bin Yusuf (Mufti Nawdapara, Rajshahi, Bangladesh)
  30. Syeikh Mufti Akmal Attari Qadri Madani (Mufti India) 
  31. Syeikh Mufti Anas Younus (Mufti Punjab, India)
  32. Syeikh Mufti Dr.Muhammad Ashraf Asif Jalali (Mufti Gujranwala)
  33. Syeikh Muftija Muamer Zukorlić - citati (Mufti Turki)
  34. Syeikh Mufti Hussain Kamani (Mufti Amerika Serikat)
  35. Syeikh Mufti Syed Ziauddin Naqshbandi (Mufti Hyderabad, India)
  36. Syeikh Mufti Asif Saeed Qadri (Mufti Saeedabad, Pakistan)
  37. Syeikh Mufti Shams ul Huda Misbahi (Mufti Chisti Pakistan)
  38. Syeikh Mufti Taqi Utsmani (Mufti Pakistan)
  39. Syeikh Mufti Nazir Ahmad Qurashi (Mufti Pakistan)
  40. Syeikh Mufti Muhammad Saeed Shafiq (Mufti Pakistan)
  41. Syeikh Mufti Gulam Dastagir Qadri Sahab (Mufti Karachi Pakistan)
  42. Syeikh Mufti Muhammad Ismail Hussain Noorani (Mufti Karachi Pakistan)
  43. Syeikh Mufti Muhammad Asif Madni (Mufti Karachi Pakistan)
  44. Syeikh Mufti Abdul Rahim Sikandari (Mufti Sakandari Pakistan)
  45. Syeikh Mufti Muhammad Ismail Toru (Mufti Toru Pakistan)
  46. Syeikh Mufti Abdur Rahman ibn Yusuf (Mufti London, Inggris)
  47. Syeikh Mufti Muhammad Rahim Sikandari (Mufti Sakandari Pakistan)
  48. Syeikh Mufti Muhammad Madani Raza (Mufti Karachi Pakistan)
  49. Syeikh Mufti Syed Arif Shah Owaisi (Mufti Pakistan)
  50. Syeikh Mufti Muhammad Ansar ul Qadri Sahib (Mufti Pakistan)
  51. Syekh Mufti Mehmet Emin Sinikoğlu (Mufti Yunani)
  52. Syekh Mufti Mehmet Gormez (Mufti Turki)
  53. Syeikh Mufti Sadeq Al-Ghariani (Mufti Libya)
  54. Syeikh Mufti Othman Battikh (Mufti Tunisia)
  55. Syeikh Mufti Mohammed Ahmad Hussein (Mufti Al-Quds, Yerussalem, Palestina)
  56. Syeikh Mufti Ramadan Bayan Risvi (Mufti Kuwait)
  57. Syeikh Mufti Ahmad bin Hamad al-Khalili (Mufti Oman)
  58. Syeikh Mufti Ali Laraki (Mufti Maroko)
  59. Syaikh Mufti Rafi’ Ar-Rifa’i (Mufti Irak)
  60. Syeikh Mufti Mahdi al-Sumidai (Mufti Iraq)
  61. Syekh Mufti Mohammed Rashid Qabbani (Mufti Lebanon)
  62. Syekh Mufti Imam Khalifa (Mufti Gambia)
  63. Syekh Mufti Dr Ibrahim Abu Mohammed (Mufti Australia)
  64. Syeikh Mufti Usman Alimov (Mufti Uzbekistan)
  65. Syeikh Mufti Abdul 'Azīz bin' Abdu'llāh bin Muḥammad ibn Abdul Lathif Āl ash-Syaikh (Mufti Arab Saudi)
  66. Syeikh Mufti Rawil Gaynetdin (Mufti Rusia)
  67. Syekh Mufti Yusuf Sucimez (Mufti Ciprus Utara)
  68. Syeikh Mufti Naim Tërnava (Mufti Kosovo)
  69. Syeikh Mufti Yerzhan Mayamerov (Mufti Kazakhstan)
  70. Syeikh Mufti Akhtar Raza (Mufti India)
  71. Syeikh Mufti Muhammad Madani Miya Ashrafi al-Jilani (Mufti India)
  72. Syeikh Mufti Soheib Bencheikh (Mufti Marseille, Prancis)
  73. Syeikh Mufti Shawki Ibrahim Abdel-Karim Allam (Mufti Mesir)
  74. Syeikh Mufti Allahshukur Pashazade (Mufti Kaukasus)
  75. Syeikh Mufti Husein Kavazović (Mufti Bosnia Herzegovina)
  76. Syeikh Mufti Fehmi Naji El-Imam (Mufti Australia)
  77. Syeikh Mufti Mufti Selim Muca (Mufti Albania)
  78. Syeikh Mufti Ndrecim Sulejmani (Mufti Shkodër Albania)
  79. Syeikh Mufti Abu-Bekir Shabanovič (Mufti Belarus)
  80. Syeikh Mufti Ali Varanovič (Mufti Belarus)
  81. Syeikh Mufti Edhem Čamdžić (Mufti Banja Luka, Bosnia)
  82. Syeikh Mufti Šefko Omerbašić (Mufti Zagreb, Kroasia)
  83. Syeikh Mufti Muamer Zukorlić (Mufti Besar Novi Pazar, Serbia)
  84. Syeikh Mufti Nedžad Grabus (Mufti Slovenia)
  85. Syeikh Mufti Mustafa Alish Hadji (Mufti Bulgaria)
  86. Syeikh Mufti Salikh Kvaratskhelia (Mufti Abkazhia)
  87. Syeikh Mufti Rahmatilla Egemberdiev (Mufti Kyrgyzstan)
  88. Syeikh Mufti Romualdas Jakibauskas (Mufti Lithuania)
  89. Syeikh Mufti Zenun Berisha (Mufti Makedonia)
  90. Syeikh Mufti Reif Fejzic (Mufti Montenegro)
  91. Syeikh Mufti Tomasz Miskiewicz (Mufti Polandia)
  92. Syeikh Mufti Murat Yusuf (Mufti Rumania)
  93. Syeikh Mufti Rawil Gaynetdin (Mufti Moskow)
  94. Syeikh Mufti Ahmad Abdullayev (Mufti Makhachkala)
  95. Syeikh Mufti Mufti Gayaz-Hazrat Zakirov (Mufti Nizhny Novgorod)
  96. Syeikh Mufti Ildus Yunusov (Mufti Kazan)
  97. Syeikh Hazrat Muhammad Baybikov (Mufti Ulyanovsk)
  98. Syeikh Mufti Emirali Ablaev (Mufti Ukraina)
  99. Syeikh Mufti Dr. Juanda bin Jaya (Mufti Perlis, Malaysia)
  100. Syeikh Mufti Dato’ Sheikh Muhamad Baderudin bin Haji Ahmad (Mufti Kedah, Malaysia)
  101. Syeikh Mufti Dato’ Haji Hassan bin Haji Ahmad (Mufti Pulau Pinang, Malaysia)
  102. Syeikh Mufti Tan Sri Dato’ Seri Dr. Haji Harussani bin Haji Zakaria (Mufti Perak, Malaysia)
  103. Syeikh Mufti Dato’ Setia Haji Mohd. Tamyes bin Abd. Wahid (Mufti Selangor, Malaysia)
  104. Syeikh Mufti Dato’ Haji Wan Zahidi bin Haji Wan The (Mufti Wilayah Persekutuan, Malaysia)
  105. Syeikh Mufti Dato’ Haji Mohd. Yusof bin Haji Ahmad (Mufti Negeri Sembilan, Malaysia)
  106. Syeikh Mufti Datuk Wira Haji Rashid Redza bin Haji Md. Saleh (Mufti Melaka, Malaysia)
  107. Syeikh Mufti Dato’ Haji Mohd Tahrir bin Dato’ Shamsudin (Mufti Johor, Malaysia)
  108. Syeikh Mufti Dato’ Haji Abd. Rahman bin Haji Osman (Mufti Pahang, Malaysia)
  109. Syeikh Mufti Dr. Haji Alias bin Abdullah (Mufti Terengganu, Malaysia)
  110. Syeikh Mufti Dato’ Hj. Muhamad Shukri bin Muhamad (Mufti Kelantan, Malaysia)
  111. Syeikh Mufti Datuk Haji Ahmad Alawi bin Haji Adnan (Mufti Sabah, Malaysia)
  112. Syeikh Mufti Datu Haji Loling Othman bin Haji Alwi (Mufti Sarawak, Malaysia)
  113. Syeikh Mufti Tuan Imam Dato Paduka Seri Setia Ustaz Haji Awang Abdul Aziz bin Juned (Mufti Kesultanan Brunai Darussalam)
  114. Syeikh Mufti Ustaz Mohamed Fatris Bakaram (Mufti Singapore)
  115. Syeikh Mufti Azadhan Muhanoğlu (Mufti Mongolia)
  116. Habib Abu Bakar Alattas (Mufti Kesultanan Ternate)

Rabu, 28 Agustus 2013

Beratnya Beban Moral Menyandang Nama Fam Dalam Nasab

Oleh: 
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan 


Apalah arti sebuah nama, kata pujangga shakespeare..namun tidak bagi umat Islam, nama adalah perhiasan, nama adalah doa, ketika nama seorang dipanggil berarti ia sedang didoakan oleh orang memanggilnya. Semakin baik arti sebuah nama, akan semakin banyak doa yang kita terima, sebaliknya, semakin buruk nama yang kita sandang, maka akan semakin terus abadi doa yang buruk melekat pada orang tersebut. Oleh karena itu Nabi Muhammad sangat melarang keras umatnya untuk memberi anak mereka dengan panggilan atau nama-nama yang buruk, seperti nama binatang, nama-nama musuh Allah, nama-nama yang berbau jahat seperti nar/api, nama-nama yang berbau penghinaan. Nabi sendiri berapa kali sering mengganti nama-nama sahabatnya yang berkonotasi buruk, Beliau sangat senang dengan nama-nama yang indah dimata Allah, seperti Abdullah (hamba Allah), Abdurraman (hamba yang dikasihi/dicintai. Ulama-ulama terdahulu bahkan ketika memberikan nama kepada anak-anaknya banyak yang dinisbatkan kepada para Nabi dan Rasul maupun para sahabat-sahabat Nabi. Jadi secara tegas dapat dikatakan bahwa nama itu bukanlah hal yang remeh, nama adalah identitas seseorang yang terus melekat sampai ia wafat..


Bagaimana dengan nama-nama yang sifatnya bukan pribadi lagi?, artinya nama-nama itu sudah menjadi identitas wajib bagi sebuah kumpulan keluarga besar atau kecil seperti FAM ? Pemakaian FAM adalah sebuah kondisi yang umum terjadi dihampir disetiap negara. 


Pemakaian FAM bukan dominasi etnis atau negara tertentu saja. AS yang merupakan multikultur memakai budaya ini, contoh misalnya keluarga KENNEDY (Presiden AS) , MILLER Keluarga pengusaha Yahudi AS) , CARTER (keluraga Presiden AS), WOOD, DLL, sedangkan di Spanyol kita akan mendapati nama-nama marga atau fam seperti GARCIA, SILVA, PEREZ, ORTEGA, VALDEZ, DLL, sedangkan dibelanda kita akan menemukan nama marga atau fam seperti DE GRAFF, KONINGS, DE GROOT, HUNTELAR (keluarga pesepakbola Klaus Huntelar), dll, sedangkan di Inggris misalnya, WALCOT, PADDOCK, ASTON, DLL, di jerman seperti KOHLER (Keluarga Ahmad Dhani), HAHN, KRUGER, dll. Sebenarnya masih banyak nama fam atau Marga diseluruh dunia ini, namun yang saya ingat baru ini saja, masih banyak ribuan fam/marga di negara-negara tersebut, belum lagi dinegeara Afrika, Asia seperti Korea, Jepang, China. Negara Eropa, Amerika, bahkan ikatan fam atau marganya sangat kuat, dan mereka bangga dengan itu. Kalau anda yang pernah lama tinggal di daerah Australia, berdasarkan sejarah bangsa ini, ternyata banyak sekali leluhur bangsa Australia yang bermigrasi ke negara ini dengan jumlah fam/marga yang banyak, apalagi banyak dari mereka yang berasal dari irlandia atau inggris yang memang terkenal dengan budaya fam atau marga. Yang juga harus kita ketahui nama-nama FAM itu semuanya mempunyai latar belakangnya, kenapa muncul nama-nama fam itu muncul tentu ada sejarah masing-masing, misalnya karena dari kebiasaan keturunan mereka, karakternya, fisiknya, peristiwa atau hal-hal yang berkaitan dengan fam/marga tersebut. Tidak mungkin sebuah nama FAM muncul begitu saja tanpa suatu sebab, pasti ada latar belakangnya.


Itu dibelahan dunia lain, bagaimana dengan Indonesia, wah Di Indonesia ini malah paling kaya dengan budaya pemakaian nama FAM. Hampir semua provinsi mempunyai FAM masing-masing, yang paling terkenal adalah Sumatra Utara, tentu kita sering mendengar nama-nama FAM seperti NASUTION, SIREGAR, SITOMPUL, LUBIS, PANJAITAN, dll. Setelah kita tahu ini, bagaimana dengan FAM para ulama kita seperti walisongo, pemimpin pemimpin daulah Islamiah terdahulu? Ternyata merekapun mempunyai FAM. Namun yang unik dan juga bisa kita jadikan contoh adalah bahwa mereka yang saya sebutkan ini, dahulunya tidak pernah menyebutkan atau membangga banggakan nama FAM mereka, padahal secara hak nasab, mereka "seharusnya' wajib menggunakan nama FAM itu. Kenapa justru pada masa lalu mereka tidak melakukan hal itu? karena pada dasarnya WALISONGO dan PEMIMPIN-PEMIMPIN DAULAH ISLAMIAH TERDAHULU itu bersikap tawadhu dan memahami kultur masyarakat Jawa yang saat itu masih didominasi dengan budaya kasta, secara sosialisasi kemasyarakatan, tentu dengan adanya pemakaian gelar FAM akan berpengaruh secara psikologis. Orang akan segan dan sungkan karena merasa bahwa WALISONGO dan PEMIMPIN DAULAH ISLAMIAH ini berasal dari kalangan bangsawan dan orang orang terhormat, sedangkan saat itu mereka butuh orang-orang yang bisa memahami posisi dan status mereka, terutama rakyat jelata. Dan memang secara nasab sebenarnya WALISONGO DAN SEBAGIAN PEMIMPIN DAULAH ISLAMIAH itu boleh saja memakai FAM  mereka yaitu AZMATKHAN atau AL AKBAR, namun akhirnya karena pola dakwah mereka yang memakai pendekatan hati, jadilah nama mereka menjadi lebih lokal dan tidak mencantumkan FAM.


Dan memang bagi mereka yang berhak memakai FAM keluarganya sah-sah saja bila mereka ingin mencantumkan dibelakang mereka, apalagi secara nasab, mereka memang keturunan dari keluarga besar FAM itu. Namun yang jadi masalah adalah, mampukan kita menjaga nama baik dari FAM tersebut dalam kehidupan sehari-hari? mampukah kita berahlak seperti ahlaknya para orang-orang terdahulu, terutama mereka yang pertama kali mendapat anugrah fam atau marga tersebut? mampukah mereka berbuat seperti perilaku kakek-kakeknya itu? terutama FAM yang berhubungan dengan keturunan orang-orang mulia atau ulama atau bangsawan yang ahlaknya pada masa lalu terkenal baik seperti nama-nama FAM seperti : AZMATKHAN (AL AKBAR), BASYAIBAN, ALHADDAD, ALATAS, ALHAMID, BA'ABUD, ASSEGAF, ALJUPRI, AL HABSYI, BASSALAMAH, AL JAELANI, ALMALIKI, JAMALLULAIL, BIN SYEKH ABU BAKR, AL JUNAID, dll, menurut saya nama-nama FAM ini adalah sangat berat sekali kita sandang apalagi bila kita masih berprilaku buruk dan belum bisa menjadi contoh buat orang banyak, ah betapa malunya orang yang menyandang nama-nama ini bila tidak sama dengan datuknya..Saya sendiri dulu dianjurkan oleh guru nasab saya , bahwa saya pada dasarnya sudah boleh dan berhak mencantumkan nama FAM yang saya miliki, karena itu merupakan hak keturunan. Setelah saya mendapat anjuran seperti ini, saya sempat bahagia dan berucap, mudah mudahan dengan nama FAM yang tercantum ini saya bisa lebih baik. Sempat berapa kali saya cantumkan nama FAM itu, namun beberapa saat kemudian, saya tidak berani lagi mencantumkan nama FAM itu, setelah saya merasa bahwa ahklak saya masih buruk, hati saya masih kotor, pikiran saya masih buruk. Saya tidak berani lagi, bukan berarti saya tidak menghargai FAM itu, Namun rasanya saya belum sanggup untuk menyandang gelar FAM yang berasal dari orang-orang mulia, rasanya belum maqom saya untuk menyandang gelar FAM itu. Kalaupun ada banyak saudara saya yang bangga dan berani mencantumkan gelar FAM  seperti AZMATKHAN atau BASYAIBAN dibelakang namanya misalnya, saya tetap berhuznuzhan kepada mereka, saya tetap positip thingking dan mendoakan mereka semua, karena menurut saya mereka mungkin bisa lebih baik dari saya, sedangkan saya masih jauh bila dibandingkan dengan saudara-saudariku ini..Saya hanya ingin mengikuti jejak walisongo, yang lebih cenderung "melokalkan" dirinya dengan kultur setempat terutama dari penempatan nama FAM. Namun sekali lagi bagi siapa saja yang memang bahagia dengan nama FAM dirinya, tidak ada halangan dan larangan untuk tidak memakai atau mencantumkan FAM dibelakang namanya,  nasehat  ini hanyalah nasehat kecil  DARI alfaqir, pakailah nama FAM  itu sesuai dengan perilaku kakek-kakekmu yang terdahulu untuk mendahulukan ahlak yang luhur dalam mengarungi kehidupan...
WALLAHU A'LAM BISSHOWAB....