Rabu, 21 Agustus 2013

Dakwah Walisongo Dengan Kesenian Wayang Kulit

Oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Sebelum Islam datang dan berkembang di pulau Jawa, masyarakat Jawa telah lama menggemari akan kesenian, baik pertunjukan wayang dengan gamelannya maupun seni tarik suara. Maka oleh karena itu para walisongo mengambil siasat menjadikan kesenian itu sebagai alat dakwahnya, guna memasukkan ajaran islam kepada masyarakat Islam kepada masyarakat lewat apa yang selama ini menjadi kegemarannya.

Cara ini adalah merupakan sebagian cara bijaksana dalam pendekatan dan menarik simati rakyat serta memperkenalkan ajaran Islam kepadanya.

Pertunjukan wayang telah ada semenjak zaman Prab Jayabaya raja kerajaan Kediri yang memerintah tahuun 1135 -1157, bahkan dialah yang pertama kali menciptakannya. Namun wayang yang ada pada masa itu adalah wayang purwo yang terbuat dari lembaran kertas lembar? yang kemudian terkenal dengan wayang beber.

Sebelum para wali mengambil wayang sebagai alat dakwahnya, terlebih dahulu walisongo bermusyawarah tentang hukum gambar wayang yang mirip manusia pada masa itu, Sunan Giri berpendapat bahwa wayang itu hukumnya haram jika menyerupai bentuk manusia, sedangkan menggambar manusia hukumnya adalah haram dan itu semua berdasarkan dalil dalil. Sunan Giri berpendapat demikian karena beliau melihat kondisi pada saat itu. Sunan Kalijaga mengusulkan agar tidak menjadi haram, gambar wayang yang ada pada saat itu dirubah bentuknya, umpamanya tangannya lebih panjang dari kakinya, hidungnya panjang panjang, kepalanya agak menyerupai binatang dan lain lain biar tidak serupa persis dengan manusia, kalau sudah tidak serupa tentu saja hukumnya tidak menjadi haram lagi. Akhirnya usul itu disetujui oleh para walisongo. Setelah itu dimulailah penggubahan wayang yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga sendiri, peristiwa itu terjadi kira-kira tahun 1443 M, dan sekaligus para walisongo menciptakan gamelannya. Untuk memainkan wayang dan gamelannya itu para walisongo mengarang cerita yang bernafaskan nilai nilai keislaman. Adapun pelaku cerita dalam pewayangan yang terkenal hingga saat ini adalah cerita tentang punokawan pandowo, yang terdiri dari Semar, petruk, gareng dan bagong. Keempat pelaku itu mengandung faksafah yang amat dalam, diantaranya sebagai berikut :

1. Semar, dari bahasa Arab "Simaar" yang artinya Paku, dikatakan bahwa kebenaran agama Islam adalah kokoh, sejahtera bagaikan kokohnya paku yang tertancap yakni SIMAARUDDUNYA.

2. Petruk, dari bahasa Arab "Fatruk" yang artinya tinggalkan, sama dengan kalimat FATRUK KULUMAN SIWALLAHI yaitu tinggalkanlah segala yang selain Allah.

3. Gareng, dari bahasa Arab "Naala Qoriin" (nala gareng), yang artinya memperoleh banyak kawan, yaitu sebagai tujuan para wali adalah berdakwah untuk memperoleh kawan banyak.

4. Bagong, dari bahsa Arab "Bagha" yang artinya lacut atau berontak, yaitu memberontak terhadap sesuatu yang zalim.

Adapula yang mengatakan bahwa :

"Semar pada hakekatnya adalah lambang nafsu mutmainah,
Gareng lambang dari nafsu amarah
Petruk lambang dari nafsu lauwamah
Bagong lambang dari nafus sufiyah
Togok asal kata Thogut, artinya Iblis.

Pertunjukan wayang itu dimainkan oleh seorang dalang, nama dalang ini juga diambil dari bahasa Arab "Dalla" yang artinya petunjuk maksudnya orang yang menunjukkan ke jalan yang benar.

Selain cerita pelaku pewayangan tersebut diatas masih banyak lagi cerita wayang yang diciptakan oleh para walisongo sendiri, artinya cerita itu tidak diambil dari kitab Mahabarata dan kitab Ramayana versi India. Diantara kisah yang diciptakan walisongo antara lain cerita Dewa Ruci (Kisahnya Nabi Khidir), JImat Kalimasada (kalimat syahadat), Petruk jadi raja, Pandu Pragolo, Mustaka Weni dan lain-lain.

Dalam cerita tentang JIMAT KALIMOSODO (kalimat syahadat), dalam cerita itu digambarkan barang siapa yang memiliki jimat kalimosodo pasti tidak akan mati karena telah memiliki jimat kalimosodo. Arti kiasan ini adaalh bahwa dengan kalimat syahadat berarti dia akan selamat selama lamanya. Dikatakan dalam kisah ini Prabu Darmokusumo mempunyai empat saudara yang dalam cerita itu disebut Pandawo Limo (Pandawa Lima), artinya bahwa rukun Islam itu terdiri dari lima perkara yaitu mengucapkan dua kalimat syahdat, sembahyang, puasa, zakat dan pergi haji.

Kisah lainnya misalnya penggambaran Dewa Ruci. Digambarkan sang Bima menemukan tentang arti kehidupan yang sebenarnya, Bima disuruh oleh gurunya yang bernama Pandito Durno mencari air suci yang adanya didasar laut, dasar samudra yang gelombangnya besar dan menggelegak, dengan ketekadannya sang Bima berhasil sampai kebawah lautan dan disana diceritakan dia menemui Dewa Ruci. Dewa Ruci itu adalah Nabi Khidir.

Demikianlah diantara cerita atau dongeng yang diciptakan para wali terutama Sunan Kalijaga yang banyak mengandung nilai nilai filsafat yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat jawa yang dapay menterjemahkan arti dan maksudnya.

Awal mula langkah da'wah menggunakan kesenia wayang dilakukan di serambi masjid Agung Demak dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Pertama tama ditabuhlah gamelan gong bertalu talu yang suaranya kedengaran dimana-mana. Sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat Jawa pada masa itu apabila mereka mendengar sesuatu bunyi bunyian mereka saling berdatangn, lebih lebih suara itu enak kedengarannya.Maka tidaklah mengherankan kalau gamelan yang dibunyikan oleh para walis itu dikunjungi banyak orang. Dan perlu diingat bahwa Masjid Agung Demak yang didirikan walisongo dan Raden Fattah telah dilengkapi dengan GAPURO (pintu masuk), gapuro artinya ampunan, jadi siap siapa yang mau masuk gapuro dosanya akan terampuni sebab dia telah masuk Islam. Selain itu pula didepan masjid agun demak terutama sebelah kiri ada sebuah kolam tempat mengambil air wudhu. Tiap Tiap pintu gapuro telah dijaga oleh para wali, sebelum orang orang memasuki gapuro diharuskan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai "karcis" masuknya dan ini tentu diajarkan oleh para wali penjaga itu sendiri. Setelah membaca Syahadat baru diperkenankan masuk. Sebelum mereka masuk kemasjid mereka harus mencuci kaki terlebih dahulu dikolam yang telah tersedia didepan masjid. Kolam itu sampai saat ini masih dapat digunakan lagi untuk mengambil air wudhu. Di tepi kolam telah ada wali yang menjaganya, orang orang yang akan mencuci kaki, harus menurut aturan yang dibuat oleh wali, maka dari itu mereka harus diajari cara caranya, antara lain pertama tama muka harus dicuci, lalu kepala (ubun-ubun) harus dibasahi biar adem, dekil dekil yang ada ditelinga harus dihilangkan dengan air, yang terakhir kedua kaki harus dicuci sampai bersih, baru mereka dipersilahkan memasuki serambi mesjid untuk mendengarkan wayang dan gamelannya..

Disitulah mereka asyik mendengarkan cerita cerita gubahan para wali yang bernafaskan Islam. setelah waktu zuhur tiba, mereka semua diajak berdoa agar supaya sang dewa tidak murka, cara berdoanyapun diajarkan oleh seorang wali (dipimpin seorang wali) dengan gerakkan gerakan yang berarti. Kesemuanya itu secara tidak sadar mereka telah diajarkan wudhu dan bersembahyang, namun mereka tidak dikasih tahu bahwa yang diperbuat itu cara cara islam dan mereka telah masuk Islam.

Hari demi hari suasana itu terus berlangsung tersu sehingga secara tidak terasa telah berduyu duyun masyarakat Jawa telah memeluk agama Islam.>Demikianlah Islam masuk ke tanah Jawa secara Damai tanpa paksaan.

Dakwah dengan metode tersebut sangat tepat apabila diterapkan terhadap masyarakat yang masih kolot, masyarakat yang belum mengenal kemajuan, suku suku terasing yang ada dipedalaman. Dan cara seperti ini bisa dilaksanakan apabila seorang Da'i dapatt menyelami adat istiadat masyarakat yang akan didakwahinya.

Dikutif dari buku "Metode Dakwah Walisongo oleh Nur Amin Fattah Tahun 1997, CV Bahagia, Pekalongan.

Kritik Dalam Pembuatan Biografi Walisongo

Oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah

Bicara sejarah, adalah bicara yang siapa yang membuat sejarah tersebut, hitam putihnya sejarah yang nanti dibuat, itu tergantung siapa yang menulis dan menuangkannya. jujur atau munafiknya sejarah itu tinggal tergantung moral sang pembuat sejarah tersebut. Sejarah tergantung dari niat sang penguasa, penulis atau sang penutur. Merekalah yang nanti mewarnai isi dari sejarah tersebut. Masih ingat dalam ingatan saya betapa dahulu ketika masa orde baru begitu berjayanya, sejarah banyak yang suram dan terdistorsikan, sehingga pada masa orde baru, semua sejarah harus berdasarkan kemauan mutlak sang penguasa yang kemudian diikuti oleh sejarawan sejarawan penganut mazhab orde baru, sehingga dapat dikatakan hampir semua materi buku sejarah manut manut apa kata orde baru. Demikianlah pula pada masa Kolonial Penjajah, hampir semua sumber sejarah selalu berdasarkan pesanan dari penjajah. Semua sumber sejarah yang kiranya membahayakan penjajah, dirampas atau dirampok untuk dibawa kenegara-negara tersebut, Sehingga tidak heran manuskrip manuskrip penting sejarah Nusantara kini berada ditangan mereka. Dan sampai kapanpun negara negara yang dulu pernah merampas "harta karun" bangsa ini tidak akan pernah mengembalikan lagi milik bangsa itu, entah dengan alasan apapun termasuk dengan alasan keamanan dan keilmiahan.

Sejarah memang tidak ada yang mutlak, tergantung sudut pandang, Bangsa Jepang bagi bangsa China adalah penjajah dan monster, Bangsa Jepang memandang bangsa Amerika adalah penjagal bangsanya dengan bom Atomnya, Bangsa Jerman dianggap sebagai bangsa yang kejam oleh eropa karena telah banyak membunuh warga eropa dengan mesin perangnya, sebaliknya bangsa Jerman memandang bangsa Rusia adalah bangsa barbar karena tentara merahnya telah banyak memperkosa ribuan wanita jerman pasca perang dunia kedua...

Bagaimana dengan bangsa kita ini. Ternyata terjadi juga perbedaan perbedaan cara pandang dalam penulisan sejarah. Sebenarnya cara pandang itu sah sah saja, namun ketika perbedaan itu tidak didasari dengan tidak adanya sebuah pemahaman, kejujuran, keterbukaan, analisa, kritik, maka sejarah itu akan menjadi tidak berkembang, sehingga ketika bicara sejarah, pokoknya itu dan itu!!
Padahal bicara sejarah, bicara hati nurani, kejujuran dan fakta, apapun yang terjadi harus diungkap. Kujujuran memang begitu pahit..Namun akan menjadi manis jika itu dirasakan sebagai sebuah kebutuhan hidup yang hakiki. Jujur memang berat, namun itu wajib.

Pada kasus walisongo, pada beberapa buku yang saya perhatikan, rupanya masih banyak yang menulis tentang walisongo, mereka masih berdasarkan persepsi yang bertolak belakang dengan kenyataan yang sesungguhnya dari walisongo, Kebanyakan penulisan biografi tentang walisongo lebih banyak sisi irasionalnya ketimbang prestasi dakwah mereka. Jangan heran gara gara tulisan yang banyak irasional ini, banyak dari orang orang yang berasal dari FRONT PEMBELA PENJAGA AKIDAH (tahulah kita siapa mereka....) mengatakan jika WALISONGO adalah PERUSAK AQIDAH BANGSA INDONESIA....ck..ck...ck....luar biasa efek dari tulisan tulisan itu. Harus diakui memang banyak sampai saat ini penulisan tentang walisongo didominasi oleh kejadian kejadian irasional yang menjungkirbalikkan logika. Sehingga dengan adanya cerita irasional itu jadilah kisah walisongo menjadi dongeng dan legenda legenda yang aneh dan kadang bertabrakan dengan dakwah mereka sendiri. Sumber sumber yang dipakai dalam biografi walisongo sendiri kebanyakan banyak memakai buku buku dari beberapa babad yang tingkat akurasinya masih dipertanyakan, bahkan ada seorang penulis sejarah walisongo dengan beraninya memakai sumber sejarah yang kontroversial seperti babad Tanah Jawa dan naskah yang antah berantah yaitu Prof Dr. Slamet Mulyana. Slamet Mulyana mengatakan bahwa walisongo adalah keturunan China, padahal faktanya secara ilmu nasab dan sejarah mayoritas walisongo adalah pendakwah yang berasal dari India dan berleluhurkan arab Hadramaut Yaman dari keturunan Sayyidina Ahmad Bin Isa Al Muhajir Alhusaini, anehnya buku Slamet ini begitu diagung agungkan sebagian orang karena dianggap telah "jujur" didalam pengungkapan sejarah, padahal setelah banyak diteliti oleh beberapa sejarawan, ternyata sumber penulisan Slamet tidak pernah ada terutama naskah Poortman, naskah tersebut ternyata imajinasi!!. Dan buku Slamet juga sudah dinyatakan gugur secara ilmiah oleh UGM. Agus Sunyoto didalam bukunya Rekonsstruksi Walisongo yang Disingkirkan bahkan tidak satupun menggunakan data data atau kitab kitab yang berasal dari ulama ahli nasab!. Saya bahkan berulang ulang membaca dan meyakinkan bahwa saya salah, ternyata setelah saya lihat memang tidak ada rujukan dari kitab nasab para ulama nasab, padahal setahu saya Agus adalah lulusan pondo pesantren yang kenyang "makan" kitab kuning (mudah mudahan saya tidak salah). Ketika saya melihat daftar pustaka yang ia gunakan, saya kaget sama sekali ketika ia masih menggunakan buku Prof Dr. Slamet Mulyana, yaitu runtuhnya Kerajaan Majapahit dan timbulnya kerajaan Islam di Nusantara, Agus juga masih banyak menggunakan referensi luar yang didominasi oleh data data dari barat, Tidak salah memang langkah agus, namun akan lebih adilnya jika ia juga menggunakan data-data dari ulama nasab yang meneliti nasab walisongo. Saya tadinya yang semangat melihat buku Agus, jadi kecewa berat ketika melihat sumber rujukannya, dan saya lebih illfeel lagi ketika didalam bukunya saya menemukan bahkan ia pernah menulis bahwa nasabnya Maulana Malik Ibrahim spekulatif (walaupun ia memberikan tanda kutif). Buku Terakhir yang berjudul SEJARAH LENGKAP WALISONGO yang disusun oleh MAsykur Arief yang berasal dari Situbondo bahkan membuat saya kaget dalam mengidentifikasi nasab nasab walisongo, bahkan dengan cerobohnya dia menyamakan maulana malik ibrahim dengan Ibrahim Asmorokondi, dengan cerobohnya dia menulis nasab Sunan Derajat dari masa Nabi sampai Sunan Derajat baru 9 generasi, wah kemana nama 15 orang lagi...aneh,..dan memang setelah saya lihat daftar pustaka yang dia gunakan, lagi lagi hanya itu itu saja, bahkan ada beberapa daftar pustaka yang menurut sahabat saya yang merupakan penulis sejarah, tidak dijadikan rujukan dalam tulisannya, karena menurut dia, daftar pustaka tersebut banyak yang copi paste dari tulisan tulisan orang lain, gak kreatif kata sahabat saya itu...

Disamping ketiga buku ini sebenarnya ada juga beberapa buku terdahulu yang membahas tentang walisongo seperti karyanya sholihin salam, atau umar hasyim, widji Saksono, atau Hadi Sutrisno, rahimsyah, dll namun lagi lagi saya masih melihat jika pembuatan biografi itu banyak yang tidak bersumber dari ulama ahli nasab, yang biasa meneliti nasab walisongo. lebih banyak bersumber dari satu buku kebuku lain, jadi bisa dibilang seolah olah seperti tukar tukaran daftar pustaka saja. Apakah saya anti dengan hal demikian? oh tidak...saya hanya ingin menggugat dan mengkritik, kenapa jika bicara tentang nasab dan sejarah walisongo, data data ulama ahli nasab tidak dilirik? padahal data nasab dan sejarah ulama ahli nasab, jauh lebih lengkap dan terpercaya, dan banyak yang masuk logika sejarah, kenapa demikian??? karena data tersebut mempunyai sanad dan terjaga secara turun temurun oleh keturunan walisongo, baru baru sekarang saja saya lihat banyak yang yang selalu menisbatkan beberapa datanya kepada ulama ahli nasab, sebelum sebelumnya hampir tidak ada.

Jadi ada baiknya dalam setiap pembuatan biografi walisongo sudah saatnya data data tentang walisongo itu justru lebih banyak yang berasal dari tulisan dan penelitian ahli nasab, bukan dari dari sumber sumber yang memang memang dipertanyakan kredibilitasnya....walisongo adalah fakta, bukan legenda, walisongo adalah organisasi berarti ada sistem yang bisa dipelajari, walisongo adalah gerakan dakwah yang multikultural, itu yang harus diangkat, walisongo adalah gerakan agama yang menjadikan budaya sebagai strategi cerdas, walisongo adalah Fam atau keluarga besar yang nasabnya masih terjaga dengan baik dimasing masing keturunan mereka, jadi data mereka masih terus terjaga dengan baik...

So.....sudah saatnya merubah cara penulisan tentang biografi walisongo, agar kedepannya gak bikin orang bingung dan tidak rancu dan pada akhirnya justru bisa dipakai sebagai kajian yang ilmiah..Semoga....

Wallahu A'lam bisshowab...

Majelis Dakwah Walisongo 1404-Sekarang Tetap Eksis Dalam Dakwah Yang Santun Dan Cerdas

Oleh:
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Walisongo....sebuah kata yang sudah banyak orang kenal, siapapun orangnya, jika ia berbicara tentang Penyebaran Islam yang ada di Indonesia pasti mengenal yang namanya Walisongo. Nama Walisongo memang sudah begitu sangat melegenda dan selalu mendapatkan kedudukan yang terhormat, khususnya pada masyarakat Jawa. Dari walisongolah Islam bisa berkembang secara sporadis diberbagai wilayah Jawa. Hampir semua pelosok Jawa bisa mereka tembus dengan dakwah Islamiah, bahkan dibeberapa daerah Nusantara, dari mulai Aceh, Palembang, Lampung, Bukit Tinggi, Ternate, Tidore dan beberapa daerah Nusantara lainnya bisa mereka jangkau. Ini dibuktikan dengan banyak murid murid beliau yang berdatangan kepondok pesantren ampel denta dibawah kepemimpinan Sunan Ampel dan Pondok Pesantren Giri Kedaton dibawah naungan Sunan Giri

Dakwah Islamiah yang dilakukan oleh Walisongo dapat dikatakan sangat berhasil dengan gilang gemilang. Indikator keberhasilan walisongo dalam berdakwah adalah dengan banyak orang orang yang masuk Islam secara suka rela, dari mulai Rakyat Jelata sampai pada bangsawan bisa mereka pengaruhi dengan cara yang santun dan cerdas. TIdak banyak yang bisa berhasil melakukan dakwah dengan cara seperti walisongo jika tidak didasari dengan semangat, motivasi dan ketabahan serta kesabaran. Memang dalam sejarah penyebaran Islam, walisongo lebih mengedepankan pendekatan yang persuasif dan dinamis. Hampir disetiap medan dakwah mereka, mereka selalu berusahan menghindari adanya unsu-unsur kekerasan dan sikap sikap yang provokatif. Mereka lebih senang bergerak dengan tatanan ahlak atau contoh contoh moral yang aplikatif dan dinamis yang ditujukan kepada seluruh masyarakat. Adanya pendekatan pendekatan cerdas ala walisongo inilah yang banyak menyebabkan masyarakat jadi jatuh cinta dengan sosok mereka. Tidak heran pada setiap tempat yang mereka dakwahi, sampai sekarang cerita cerita tentang kemuliaan mereka masih harum. Namun dibalik itu semua, ternyata tidak banyak yang tahu, bahwa sebenarnya yang bernama walisongo itu adalah sebuah majelis atau kumpulan banyak orang yang memiliki sistem dan cara yang sistematis dalam berdakwah. Artinya Walisongo itu sebenarnya adalah sebuah organisasi dakwah.

Organisasi Dakwah ini, salah satu pencetusnya adalah Sultan Muhammad 1 dari Kesultanan Turki Usmani. Organisasi ini nama sebenarnya adalah MAJELIS DAKWAH WALISONGO. Kenapa dinamakan walisongo, karena jumlah mereka terdiri dari sembilan orang yang masing masing mereka punya kemampuan atau spesialisasi dalam bidang tertentu, artinya keberadaan mereka mewakili bidang kehidupan masing masing, ada yang ahli tata negara, ada yang ahli pengobatan, ada yang ahli perdagangan, ada yang ahli diplomasi, ada yang ahli hikmah, ada yang ahli pertanian, ada yang ahli hukum, ada yang ahli militer dan ada yang ahli politik. Semua punya spesialisasi, namun demikian walaupun mereka punya spesialisasi dibidang masing-masing mereka juga bisa melakukan bidang bidang lain, spesialisasi mereka agar mereka fokus dan konsentrasi pada tugasnya masing masing.

Majelis Dakwah Walisongo didirikan tahun 1404, dan ketua umum pertamanya adalah Maulana Malik Ibrahim, sedangkan yang lain adalah anggota. Banyak orang yang tidak tahu jika nama walisongo itu sudah dimulai pada tahun 1404 dengan sosok anggota yang lain daripada yang selama ini digambarkan oleh banyak orang. Sosok-sosok walisongo ditahun 1404 ini berbeda dengan sosok sosok walisongo yang populer. Sosok Sosok yang populer itu memang benar adalah walisongo, namun ternyata satu itu berbeda orangnya, satu sama lain orang, sosok sosok itu berbeda pada setiap zamannya. Sosok-sosok yang populer itu kelak juga menjadi anggota walisongo, hanya periode berbeda dan sudah tidak sama dengan tahun 1404 Masehi. Gerakan dakwah Majelis Dakwah Walisongo, pada tahun 1404 lebih banyak dilakukan oleh para ayah atau kakeknya walisongo yang populer itu (seperti Maulana Malik Ibrahim, sunan kudus, Sunan ampel, sunan derajat, sunan giri, sunan kalijaga, sunan muria, sunan kalijaga, sunan gunung jati).

Majelis Dakwah Walisongo tidaklah terdiri dari 9 wali yang populer itu saja. Nama-nama keluarga besar Trah Jumadhil Kubro juga masuk ke Majlis Dakwah ini, begitupun keluarga besar Kesultanan Demak. Nama nama Raden Fattah, Syekh Siti Jenar, Maulana Ishak, Ibrahim Asmorokondi, dll, itu juga masuk menjadi anggota. Majelis Dakwah Walisongo juga tidak terbatas pada sembilan wali yang ngetop itu saja. anggota mereka banyak, dan setiap anggota akan diganti bila ada anggota lainnya wafat. Majelis Dakwah Walisongo berdiri tahun 1404 dan terus menerus bergerak sampai 11 periode sempat dibekukan oleh fihak penjajah namun masih bisa bertahan secara kuat sampai tahun 1926 Masehi (berdirinya NU), namun walaupun demikian dari tahun 1926 sampai sekarang keberadaan majelis ini masih eksis dan independen dengan nama Thariqah Walisongo. Majelis Walisongo tidak berafiliasi kepada ormas manapun, majelis netral dan selalu mengadakan pendekatan persuasif kepada berbagai fihak, sesuai dengan cara cara dakwah walisongo pada masa lalu.

Selama berdirinya majelis ini, anggotanya terus aktif dalam menyebarkan agama Islam, dan satu ciri khas gerakan dakwah ini adalah santun, cerdas dan menghindari perpecahan didalam dakwah. Namun identitas Majelis Dakwah Walisongo yang paling tidak disenangi oleh fihak penguasa kolonial adalah dengan tidak pernah mau tunduknya mereka pada pemerintah kolonial penjajah, dari mulai portugis, VOC, Inggris, Belanda, sampai Jepang mereka terus bergerak untuk selalu melawan, tidak heran banyak dari keluarga dari anggota Majelis Dakwah Walisongo selalu diburu dan dibunuh para penjajah, sehingga adanya perburuan dari penjajah ini menjadikan gerakan mereka selalu bawah tanah. Kenapa demikian? karena dari dulu fihak penjajah paling kerepotan dan sangat benci dalam melawan gerakan majelis dakwah ini. salah satu tokoh yang nyaris membuat bangkrut belanda adalah pangeran diponegoro. karena majelis dakwah walisongo yang memang paling keras kepala melawan para penjajah, maka semua gerakan mereka selalu dipantau, sehingga tidak heran, semua keturunan walisongo banyak yang menyamar dengan identitas dirinya, karena selalu diawasi dan dicari cari oleh penjajah...

Akhirnya setelah sekian ratus tahun berjuang...Majelis Dakwah Walisongo kembali lagi untuk mengibarkan dakwah islamiah sesuai dengan cita cita dan amanat walisongo yang terdahulu....

Wallahu A'lam Bisshowab..........

Nasab Kia Telingsing, Muslim China Yang Berguru Kepada Walisongo

Oleh:
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

Kiai Telingsing (The Ling Sing) adalah putera dari Sunan Sungging (The Sung Xing). Kia Telingsing lahir sekitar tahun 1388 M. Nasabnya adalah Kiai Telingsing bin Sunan Sungging (The Sung Xing) bin Zhao Bing bin Zhao Shi bin Zhao Xian bin Zhao Qi bin Zhao Yun bin Zhao Kuo bin Zhao Dun bin Zhao Shen bin Zhao Gou bin Zhao Huan bin Zhao Ji bin Zhao Xu bin Zhao Xu bin Zhao Shu bin Zhao Zhen bin Zhao Heng bin Zhao Kuangyi bin Zhao Kuangyin bin Zhao Hongyin bin Zhao Ting. Jadi Kyai Telingsing adalah seorang Muslim China yang hijrah ke Jawa. Bukan seorang Sayyid.

Bung Tomo, Azmatkhan Dengan Takbirnya Yang Menggelegar

Oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Pertempuran 10 November 1945 adalah pertempuran yang paling mencekam dan heroik dalam sejarah perang di Indonesia. Semua elemen turun kelapangan untuk mempertahankan kota Surabaya dari serangan sekutu. Untuk para pejuang, pertempuran 10 November itu tidak akan pernah terlupakan. Pertempuran yang legendaris ini betul betul sangat terkenal diberbagai mancanegara pada masa itu. Banyak yang tidak menyangka jika arek arek suroboyo saat itu mampu melakukan perlawanan yang gila gilaan, semua sudah tidak memikirkan nyawa lagi, semua berjuang sampai titik darah terakhir, sikap bondo nekat arek suroboyo betul betul keluar pada pertempuran ini.

Pertempuran ini memang sangat terkenal, dan tokoh tokoh pada pertempuran ini juga tidak kalah terkenal. Tokoh tokoh 10 November yang paling terkenal adalah BUNG TOMO. Bung Tomo terkenal sebagai pejuang dengan nyali macan, beliau orang karakternya keras dan apa adanya, kalau salah dia bilang salah, kalau benar dia bilang benar, Soeharto saja pada tahun 1974 pernah dia kritik melalui sebuah surat yang terdapat dalam buku biografinya. Bung Tomo pada saat pertempuran 10 November terus menerus menggelorakan perlawanan melalui orasi dan takbirnya. berkali-kali beliau berteriak Allahu Akbar, berkali kali dia mengangkat moral semua kalangan di surabaya, dari mulai tukang becak, buruh, warga daerah semua beliau berikan motivasi, sehingga tidak heran dengan teriakan teriakan orasi dan takbirnya yang menggelegar semua elemen disurabaya turun bertempur..

Saya sendiri ketika mendengar rekaman suara bung tomo, cukup merinding mendengarnya. siapapun mereka ketika mendengar orasi yang beliau lontarkan akan bergetar. Orasi dan teriakan takbir yang disuarakan oleh bung tomo ini memang lain daripada yang lain. Suaranya keras, tegas dan berwibawa. Untuk melakukan hal seperti ini setahu saya memang membutuhkan kemampuan khusus yang tidak semua orang punya, nah bung tomo punya modal seperti itu, baik bakat maupun ketrampilan orasinya. Bung Tomo memang pejuang sejati, tidak hanya dilapangan dia mampu namun orasipun dia cukup piawai. Bahasanya tidak berbelit-belit seperti para politikus , bahasanya jelas, lugas dan mengena. Perjuangan semua sisi beliau lakukan, namun demikian perjuangan yang beliau lakukan itu juga berdasarkah restu para ulama seperti KH Hasyim Asy'ary. Bung Tomo juga sangat terkenal dalam menghormati ulama, beliau adalah pejuang yang juga dekat dengan ulama dan ini terbukti dengan adanya teriakan takbirnya. Siaran radio yang dia gelorakan keseluruh rakyat surabaya membawa dampak yang hebat, Surabaya menjadi ladang pertempuran yang heroik, berbagai kalangan bahu membahu dalam mempertahankan kota surabaya, walaupun kedudukan tidak seimbang baik itu dari sisi senjata dan personil, namun perlawanan arek arek suroboyo ini benar-benar diluar dugaan tentara sekutu. Akibatnya dengan adanya pertempuran 10 Novembr ini mata dunia jadi terbuka tentang Indonesia.

Bung Tomo adalah sosok pejuang sejati, namun tidak banyak yang tahu jika nasab beliau bersambung pada keluarga besar walisongo (Azmatkhan). Berdasarkan Kitab Nasab ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA, OLEH AL ALLAMAH SAYYID BAHRUDDIN AZMATKAHN ALHAFIZH DAN SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN AL AHAFIZH (SYEKH MUFTI KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM), PENERBIT MADAWIS TAHUN 2011, Beliau adalah Keturunan dari Raden Fattah yang merupakan pendiri kesultanan demak. Kesultanan Demak juga merupakan pelopor perlawanan terhadap penjajah kolonial, karena pada tahun 1518 telah mengadakan penyerangan demi mengatasi penjajahan portugis di malaka.
Bung Tomo adalah trah bangsawan, namun sekalipun beliau keturunan tokoh hebat pada masa lalu, sosok beliau lebih dikenal secara sederhana dan apa adanya, sikapnya tidak dibuat buat. gaya beliau gaya suroboyoan yang apa adanya dan terbuka. Memang banyak dari pejuang kita jika diteliti nasabnya kebanyakan mereka memiliki hubungan nasab dengan walisongo, termasuk Bung Tomo ini. Namun seperti kebiasaan para keturunan walisongo, kebanyakan nasab yang mereka miliki hanya disimpan dan tidak dipamer pamerkan keumum. Kebanyakan keturunan walisongo lebih senang dirinya menjadi orang Indonesia sejati ketimbang dikenal sebagai ahlul bait (bukan berarti mereka mengingkari). Soeharto sendiri dengan sosok Bung Tomo cukup segan, sehingga diantara tokoh politik yang pernah mengkritik Pak harto, nyaris tokoh bung tomo tidak pernah "disentuh" pada masa orde baru. Ketika Bung tomo tidak pernah diangkat menjadi Pahlawan, keluarga besarnya malah bersikap biasa saja, karena walaupun dulu sempat tidak pernah diangkat menjad pahlawan, bung tomo tetap harum harum.

Bung Tomo adalah salah satu sosok keluarga besar walisongo yang patut ditiru, teriakan takbirnya betul betul bermakna dan meresap bagi orang yang mendengarnya, teriakan takbir seperti yang dilakukan Bung tomo betul betul menjadi sebuah fakta sejarah yang tidak terbantahkan, karena itu terekam dengan jelas. Takbirnya itu betul betul lain daripada yang lain, tidak ada nuansa politik atau kekerasan, semua murni karena Allah untuk mempertahankan kemerdekaan. Takbir takbir seperti ini yang harusnya kita contoh, bertakbir namun bermakna, ketimbang bertakbir ada unsur politik dan juga unsur kekerasan. 

Pada tahun 1980 saat beliau melaksanakan ibadah haji, akhirnya bung tomo wafat, lagi lagi indonesia kehilangan putra terbaiknya. Namun kisah heroik beliau dalam mengumandangkan takbir tidak akan pernah lenyap dalam kenangan bangsa ini...

Selamat Jalan pejuang sejati....

Keluarga Besar walisongo akan selalu bangga terhadap dirimu.....

Jenderal Soedirman, Jenderal Azmatkhan Dengan Setengah Paru-Paru (Jenderal Dengan Perang Gerilya Yang Legendaris)

Oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Jenderal Sudirman? Siapa yang tidak kenal dengan nama Jenderal yang satu ini, Jenderal yang satu ini sangat legendaris dimata bangsa indonesia, Kepiwaiannya dalam melakukan perang gerilya diakui kawan dan lawan. Melalui perlawanan dan perjuangannya Indonesia akhirnya diakui kemerdekaannya. Sudirman adalah tipikal pejuang sejati. Dalam usia yang masih dibawah 30 tahun dia telah berhasil menjadi pemimpin militer di negara ini. Dimata TNI sendiri, Sudirman adalah sosok yang sangat diidolakan. Foto beliau terpasang dengan gagah di Markas Besar TNI. Jenderal Besar Abdul Haris Nasution bahkan dalam tulisan di beberapa bukunya seperti Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1 s/d 9, sering menyebut nama Jenderal Sudirman sebagai orang yang memberi pengaruh dalam karir militernya. Nasution bahkan meniru prinsip prinsip hidup dari Sudirman. Nasution bahkan menjadikan Sudirman idolanya. Bisa dikatakan jika Nasution Copi Paste cara hidup dari Pak Dirman yang penuh dengan Kesederhanaan, Intelek, Agamis, Jagoan Lapangan dan Cerdas. Buku Pokok Pokok Perang Gerilya yang ia Susun bahkan mengambil dari ajaran ajaran Pak Dirman (begitu nasution memanggil Jenderal Sudirman). Buku pokok pokok perang gerilya ini bahkan diadopsi oleh vietkong pada saat perang vietnam dan Amerika, sehingga akhirnya Amerika keluar dari Vietnam dengan memalukan. Perang Gerilya yang dilakukan Pak Dirman kemudian dijadikan sebuah sistem oleh Pak Nas, besar kemungkinan Pak Dirman juga mengadopsi dari Pangeran Diponegoro, karena bila dilihat secara geografis perang mereka, Pak Dirman dan Pangeran Diponegoro sama-sama satu wilayah. Jadi dengan kontur daerah yang sama sangat wajar jika perang gerilya Pak Dirman dan Pangeran Diponegoro sama.

Perang Gerilya yang dilakukan Pak Dirman dengan pasukannya memang sangat legendaris. Perang ini adalah perang yang menentukan dalam mempertahankan kemerdekaan. Beberapa kali penyergapan yang dilakukan Belanda, namun dengan cara perang gerilya ini Pak Dirman selalu mampu meloloskan diri. Perjuangan ini sangat berat, karena pasukan Pak Dirman selalu melakukan perjalanan kaki dengan jarak yang panjang dan tidak terbatas, perjalanan ini dikenal dengan nama Long March. 

Perjalanan panjang atau Long March ini memang berat, Kita bisa bayangkan mereka para pejuang harus jalan kaki, naik dan turun gunung, melewati hutan, berjalan diaspal panas, bahkan banyak pasukan Pak Dirman yang tidak memakai sepatu lapangan. Jangankan sepatu lapangan, baju dan atribut militer saja banyak yang tidak punya, Pak Dirman sendiri dalam melakukan siasat perangnya lebih banyak memakai jubah seperti jubahya ulama dan ikat kepala (blangkon ala sunan kalijaga) dengan tongkat. Saya sendiri jika melihat sosok Pak Dirman dengan pakaian seperti itu seolah olah mengingatkan saya akan keluarga besar walisongo. Betul-betul pada masa itu perjuangan Pak Dirman dan Pasukannya sangat berat. Beberapa Prajurit TNI AD yang saya kenal bahkan pernah berseloroh dan bergurau kepada saya, “Gara-gara” Pak Dirman, mereka harus melakukan Long March (jalan kaki) dalam Pendidikan dan Latihan Dasar Militer dengan jarak ratusan Km. Kopassus bahkan untuk melakukan pembaretan harus menempuh long march yang jaraknya cukup “mematikan”. Jika gagal di Long March ini, maka gagallah ia menjadi prajurit kebanggaan TNI AD. Saya sendiri saat Pendidikan Dasar Wanadri tahun 2001 pernah merasakan bagaimana “nikmatnya” Long March dengan jarak yang cukup “mencekam” . Lebih Gak enaknya ketika jarak 35 km harus Long March melewati Bantalan Rel Kereta Api Dengan Cuaca yang panas menyengat. Tidak heran Fase ini banyak yang gugur dan dipulangkan kerumah. Dari subuh kembali subuh dengan membawa beban ransel yang berat saya dan teman teman harus melewati berbagai rintangan. Pendidikan Dasar Wanadri khususnya Long March sendiri mirip Kopassus, sedangkan Kopassus mengadopsi Long Marchnya Pak Dirman.

Perjalanan Long March adalah perjalanan kekuatan mental, sangat melelahkan dan mampu membuat fisik kita anjlok pada titik yang ternol. Bagi yang memiliki mental kerupuk, sudah pasti dia “gugur” saat diperjalanan. Bagaimana pula pada masa Pak Dirman ketika ia berperang dengan sistem gerilya apalagi jika kondisinya musim kemarau dengan makanan dan minuman yang serba terbatas. Yang mengagumkan dengan kondisi yang serba darurat tersebut, Pak Dirman masih bisa bertahan dengan setangah paru-paru. Bayangkan! Dengan setengah paru-paru ia sanggup melakukan perlawanan disana sini. Walaupun ia harus ditandu kesana kemari, namun sikap kerasnya terhadap penjajah tidak luntur, Bahkan saat Soekarno masih ingin berdiplomasi dengan Belanda, Pak Dirman masih bersikeras melawan penjajah belanda (sebuah sikap pejuang sejati). Dengan paru-paru yang tinggal sebelah yang berfungsi, mungkin secara logika pertempuran akan sulit dikontrol, namun Pak Dirman membuktikan jika ia bukanlah Jenderal Kemarin Sore, Pak Dirman membuktikan jika ia bukan jenderal cengeng, yang baru sakit sedikit sudah mengeluh. Sebagai seorang Panglima Besar penyakit seperti ini tentu secara logika sangat mengganggu, namun Pak Dirman tidak pernah menunjukkan dirinya jika dia “berpenyakitan” . Tidak terlihat jika ia seperti orang sakit. Inilah yang membuat nyali pasukannya tidak pernah turun. Pemimpin mereka yang sudah kritis saja masih bisa bertempur apalagi mereka yang sehat dan segar bugar. Dengan kondisi setengah paru-paru pertempuran demi pertempuran terus berlanjut. Tentu dengan kondisi setengah paru-paru yang kurang berfungsi baik, Penjajah akan menyangka jika Pak Dirman tinggal tunggu waktu kematiannya saja, namun penjajah kecele, karena dari tahun 1945 sd 1949 perlawanan Pak Dirman dan Pasukannya tidak pernah berhenti, bahkan tidak pernah tertangkap. 

Pasukan Pak Dirman memang terkenal hebat dan terkenal cerdik, tidak heran alumni pasukan Pak Dirman ini banyak yang jadi tokoh militer yang sukses seperti Jenderal AH Nasution dan Presiden RI Soeharto, sehingga tidak heran Pak Dirman, Pak Nas dan Pak harto mempunyai Pangkat Jenderal Besar dengan 5 bintang, karena jasa jasa dalam bidang militer. Terlepas Pak Harto dulunya Kontroversial, namun jasa dia dalam bidang militer tetap harus diingat.

Namun Dibalik sosok Pak Dirman yang sederhana, tidak banyak yang tahu jika ternyata beliau ini adalah keturunan dari keluarga besar walisongo. Dalam Kitab Nasab Ensiklopedia Nasab Al Husaini yang disusun oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al Hafizh, Penerbit Madawis, Tahun 2011, sosok Pak Dirman ternyata masih menjadi bagian keluarga besar walisongo. Artinya beliau ini adalah Azmatkhan Tulen. Keluarga Besar Walisongo pantas bersyukur memiliki putra terbaiknya dalam memperjuangkan negara ini. Saat perjuangan dulu hubungan Pak Dirman dengan beberapa Kyai Kyai di Jawa Barat, tengah, dan Timur juga berlangsung baik. Perjuangan Pak Dirman yang tidak kenal lelah sangat didukung ulama ulama di Jawa dan Daerah lain. Sekalipun beliau berasal dari guru yang berlatar belakang muhammadiyah namun hubungan baik beliau dengan berbagai elemen bahkan cukup baik, termasuk ulama ulama NU hubungan Pak Dirman sangat Akrab, bahkan Pak Dirman pernah kagum dengan perlawanan KH Noer Ali dengan pasukannya Hizbullahnya saat mempertahankan diri Bekasi, sehingga perlawanan KH Nur Ali dibuatkan syair oleh salah seorang penyair yang terkenal yaitu Khairil Anwar dengan judul Karawang Bekasi.

Perlawanan Pak Dirman terhadap agresi militer belanda terus dilakukan, namun dengan setengah paru-parunya yang memang sudah parah, kondisi pak dirman lambat laun menurun. Sekalipun usia beliau pada saat menjadi Panglima Besar TNI masih muda, namun dengan kondisi kesehatan yang sudah menurun akhirnya ditahun 1949 Pak Dirman wafat. Indonesia kehilangan putra terbaiknya. Pak dirman wafat dalam usia 34 tahun. Sebuah usia yang masih sangat muda. Namun dengan usia yang masih muda itu beliau telah mampu mengukir sejarah. Dengan usia yang masih muda, beliau telah mencapai gelar tertinggi dalam karir militer, dalam usia yang masih muda, sosoknya banyak dikagumi oleh kawan dan lawan. Presiden Soekarno sendiri ketika mendengar kewafatan Pak Dirman, beliau sangat bersedih, Pak Karno sangat menghormati sikap dan prinsip hidup Pak Dirman, sekalipun dirinya dan Pak Dirman sering berbeda pendapat dalam cara mempertahankan kemerdekaan, namun hubungan keduanya sangat erat, salah satu foto mereka yang ketika berpelukan menandakan jika hubungan mereka sangatlah dekat, Sehingga sangat wajar Pak Karno sangat terpukul dengan kematian Pak Dirman. Namun pejuang tetaplah pejuang, sekalipun ia telah tiada, perjuangannya tidak akan pernah berhenti ditangan penerusnya...

Sebuah lagu tentang beliau yang diajarkan seseorang kawan saya yang juga seorang prajurit TNI yang masih saya ingat yang berjudul SUDIRMAN, bunyinya adalah : 

Didalam Keremangan, dibawah terik matahari
Letih dan Lelah tak dirasakan
Desir peluru selalu mengintai
Hutan Rimba Gunung tinggi Dia Daki
Semangat Bela Pertiwi
Hanya ada Satu cita didalam hati
Merdeka atau Mati!
Hidup Sudirman...Hidup Sudirman
Sudirman Pahlawan Kami...

SELAMAT JALAN PAK DIRMAN, KELUARGA BESAR WALISONGO SANGAT BANGGA AKAN DIRIMU.....

Masturisasi Besar-Besaran Keluarga Besar Walisongo (Azmatkhan) Di Era Kolonial Penjajah

Oleh:

Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Bukannya Azmatkhan itu mastur?, bukannya hampir mayoritas nasab Walisongo itu mastur? Setahu saya rata rata keluarga besar Walisongo itu mastur deh...

Begitulah gambaran singkat kata-kata yang sering saya dengar dan saya baca dari beberapa tulisan. Saking begitu masturnya sampai-sampai kalau ditanya nasabnya, kebingungan...hehehe..

Mastur sendiri dalam pengertian bahasa Indonesianya adalah tersembunyi/menutup/menyamar dan arti-arti yang memiliki sinonim yang tidak jauh berbeda. Kata Mastur ini berasal dari bahasa arab. Kata-kata Mastur ini dalam dunia sufi cukup akrab dan sering sekali dibahas. Dalam beberapa buku yang pernah saya baca tentang Manaqib para wali, seperti buku Jami’ karomatul Aulia oleh Assayid Yusuf Annabhani yang kemudian telah diterjemahkan oleh Yunus Ali Al Muhdor menjadi KISAH KERAMAT PARA WALI, Penerbit Toha Putra Semarang, kata-kata mastur sering saya temukan, terutama pada wali-wali yang tidak ingin jati dirinya diketahui masyarakat ramai. Pada manaqibnya Mbah Hamid Pasuruan yang pernah saya baca, bahkan ada seorang Wali yang “jengkel” pada beliau, gara-gara Mbah Hamid memberikan salam kepada beliau yang berpura pura sebagai pengemis, padahal beliau waliyullah, sehingga Sang waliyullah yang sedang menyamar itu sampai mengucapkan kalimat “kurang ajar si hamid itu”, namun Mbah Pasuruan ketika mendengar kalimat itu menjadi tersenyum simpul. Dan Pasca pemberian salam kepada “sang pengemis” itu, sang pengemis menghilang. KH SAID AGIL SIRAJ, bahkan menjadi saksi hidup ketika Gus Dur meminta doa kepada seorang waliyullah di Mekkah, padahal penampilan waliyullah tidak mencerminkan ulama besar, bahkan sang wali itu bersikap ketus kepada KANG SAID. Bahkan setelah Gus Dur minta didoakan, orang yang meminta doa itu bicara dengan bahasa arab mesir dengan nada bertanya ‘YA ALLAH...DOSA APA HAMBAMU HARI INI, SEHINGGA ADA ORANG TAHU KEDUDUKAN HAMBA???” 

Secara umum digambarkan bahwa yang dimaksud dengan mastur adalah menyembunyikan diri. Namun memang kebanyakan kalimat ini lebih identik dengan sikap tawadhu dan kehati-hatian. Berapa banyak dengan adanya sikap yang mastur ini, kita sering tidak tahu atau bahkan pangling jika yang kita hadapi itu adalah ulama besar, atau wali-wali yang sedang menyamar. Berapa banyak “gara-gara” sikap mastur ini banyak yang tidak tahu jika banyak tokoh tokoh di Indonesia ini adalah keturunan walisongo. Sikap mastur disamping berkaitan dengan akhlak dan kehati-hatian, kata ini juga merambah kepada dunia nasab. Akibatnya dengan adanya sikap mastur pada nasab, banyak nasab-nasab yang sebenarnya nasab terkenal menjadi nasab yang “Termasturi”.

Salahkah sikap menutup diri atau memasturkan diri dalam nasab? 

Menurut saya tidak salah, apapula yang haru disalahkan dengan sikap seperti ini???

Kita harus melihat masalah ini secara jernih dan fair. Bila dibandingkan dengan nasab-nasab lain, dalam sejarahnya, nasab keluarga besar walisongo atau AZMATKHAN memang sering menjadi incaran-incaran dari fihak fihak yang membenci mereka, siapa sajakah mereka yang membenci walisongo dan keturunan keturunannya? Siapa lagi kalau bukan penjajah dan keroco keroconya. Keluarga Besar walisongo memang sering menjadi TO oleh kaum kafir licik ini. Penjajah sangat benci kepada Walisongo dan Keturunannya, karena dari mereka inilah kebanyakan perlawanan-perlawanan digelorakan. Para Ulama dan Sultan-Sultan, bangsawan dan tokoh keturunan walisongo inilah yang sering membuat pusing pemerintah kolonial penjajah baik itu dimulai pada masa portugis sampai belanda. Perlawanan keluarga besar walisongo atau AZMATKHAN sendiri dipelopori oleh Kesultanan Demak, dimana pada tahuun 1518 Masehi dilakukan penyerangan kepada portugis untuk membebaskan dari Kerajaan Katolik ini. Walaupun hasilnya kurang memuaskan namun penyerangan ini rupanya cukup membuat portugis jengkel, apalagi pasca penyerangan ini Ratu Kalinyamatpun ikut “melabrak “ armada laut Kerajaan Katolik Portugis. Setelah perlawanan ini maka perlawanan lain juga ikut menyusul seperti kesultanan Banten, Cirebon, Palembang, Ternate, dll. Keempat kesultanan yang disebut ini semua merupakan keturunan Walisongo Azmatkhan disamping juga Demak. Jangan kira penjajah kolonial tidak tahu perkembangan silsilah keluarga besar walisongo. Siapa bilang penjajah tidak mengerti dunia geneologi, karena mereka mengerti dunia geneologi inilah jadi mereka tahu siapa musuh yang paling militan terhadap pemerintah mereka. 

Begitu bencinya penjajah sampai-sampai nasab-nasab yang ada hubungannya dengan AZMATKHAN banyak yang mereka kaburkan melalui tangan para ilmuannya dan juga tangan-tangan “trampil” yang mengerti sejarah dan budaya bangsa ini namun mereka membenci Islam dan juga keluarga besar walisongo. Informasi dan buku-buku yang kiranya sangat penting dan benar sebisa mungkin dilenyapkan, dirampok atau dibawa kenegeri mereka. Beberapa korban distorsi nasab walisongo yang dilakukan penjajah adalah Raden Fattah, Sunan Kalijaga dan beberapa walisongo lainnya, sehingga sampai sekarang banyak orang lebih percaya versi ilmuwan yang berasal dari penjajah ketimbang versi ulama. Para sejarawan bahkan beberapa orang yang “katanya” ahli nasab lebih percaya Data Primer yang berasal dari Penjajah ketimbang data dari ulama yang bersanad yang sanad ilmu nasabnya sampai kepada Rasulullah SAW. Saya sendiri kadang sering geleng geleng kepada sikap fanatik atau pasrah bongkokkan para Sejarawan dan yang “katanya” ahli nasab kepada sumber data primer dari penjajah. Boleh boleh saja percaya kepada data itu, namun mbok ya juga dikritisi jika ada yang tidak sesuai dengan logika sejarah, psikologi masyarakat, agama, antroplogi, sosilogi dll. Mbok ya kalau menerima data dari penjajah itu, tolong dianalisa dan dicerna dengan seksama. Kita harus tahu, Para penjajah itu pasti tahu benar peta geografis dan diaspora keluarga besar walisongo, apalagi mereka juga bekerjasama dengan Yahudi untuk menghancurkan Islam di Indonesia. Jangan kira Yahudi dan Penjajah tidak tahu dan tidak tertarik dengan dunia dunia geneologi. Sebagai bukti jika mereka peduli terhadap dunia geneologi, ilmuwan dan cendekiawan mereka yang bernama Van Der Berg, bahkan sampai meneliti peta penyebaran Arab hadramaut (asal muasal walisongo) dan juga peta penyebaran walisongo. Hanya Saja Van Der Berg harus gigit jari dalam penelitiannya itu, karena data-data keturunan walisongo sangat sulit dia dapati. Bahkan saking begitu semangatnya pemerintah kolonial belanda, begitu mendengar ada ulama yang menemukan lembaran silsilah kesultanan palembang yang ditulis oleh Tuan Faqih Jalaludin (Mufti Kesultanan Palembang di era itu), mereka berupaya memburu silsilah itu untuk mengetahui siapa saja keturunan kesultanan palembang. Snouck Horgronje bahkan sampai harus ke Mekkah untuk mempelajari siapa siapa saja ulama yang memberikan pengaruh kepada bangsa Indonesia. Dan Memang yang memberikan pengaruh besar pada bangsa ini ternyata ulama-ulama keturunan walisongo seperti Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani, dan Sayyid Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Kyai Marogan, dll.

Saking begitu bahaya kedudukan keturunan walisongo, banyak dari mereka memang benar-benar memasturkan diri secara militan, artinya keberadaan mereka betul betul sulit untuk “dibongkar” nasabnya. Beberapa orang yang mengaku nasabnya ada hubungan dengan sunan ampel pernah bertemu dengan saya saat di makam Sunan Ampel mengatakan, bahwa kakek-kakeknya dulu dalam menyembunyikan nasab keluarganya betul betul rapi, sampai –sampai anak cucunya dibuat “galau” dengan disimpannya nasab mereka itu. Kalau ditanya tentang nasab itu, kakek-kakek mereka Cuma jawab, “SING PENTING AKHLAK LE...” SING PENTING IMAN”...Bahkan ada yang dimarahi kakeknya karena ia ingin mengetahui nasabnya....Si Kakek bahkan berkata ketus sama cucunya dengan mengatakan “BUAT APA NASAB, KALAU KELAKUAN KAMU GAK BENAR”, atau “JANGAN-JANGAN KALAU KAMU TAHU NASABMU KAMU AKAN SOMBONG” serta kalimat-kalimat yang cukup “nyelekit” didengar telinga. Kebanyakan orang-orang terdahulu lebih senang menjadi masyarakat biasa, ketimbang diketahui sebagai keturunan walisongo, apalagi mereka yang ada hubungan dengan kesultanan dan Trah walisongo.

Masturisasi di era Penjajahan memang sangat melekat kuat, hal ini untuk menghindarkan diri dari buruan para penjajah. Syekh Nawawi Banten dalam kitab Ensiklopedia Nasab Al Husaini yang Disusun oleh AL Allamah Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al Hafizh (TheGrand-Mufti Kesultanan Palembang), Penerbit Madawis , tahun 2011, tertulis dalam kitab ini bahwa Syekh Nawawi Banten tidak memakai gelar Azmatkhan atau gelar-gelar Ahlul Bait lainnya salah satu tujuannya adalah untuk menghindari dari buruan penjajah. Dan kitab ini memang benar, karena dalam sejarahnya Syekh Nawawi Banten setelah naik haji pertama dan belajar beberapa tahun di Mekkah sempat pulang ke banten Tanara untuk mengajar, Namun karena suasana yang tidak kondusif dimana beliau selalu diawasi dan diincar oleh penjajah karena sikapnya yang anti penjajah, beliau akhirnya memutuskan kembali ke Mekkah dan hidup disana sampai akhir hayatnya. Walaupun beliau hidup dan mengajar di Mekkah, namun semangat perlawanan dia tanamkan kepada murid-muridnya termasuk KH HASYIM ASY’ARI (PENDIRI NU) dan KH MUHAMMAD DAHLAN (PENDIRI MUHAMMADIYAH) serta murid-murid beliau yang lain. Di Mekkah beliau lebih senang memakai gelar Al Jawi Al Bantani, ketimbang gelar dari keraton atau FAM AZMATKHAN. Di Mekkah saja keberadaan beliau masih sempat dimatai-matai oleh Snouk Horgronye yang pura-pura masuk islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Masturisasi akhirnya terus dilakukan oleh keluarga besar walisongo diberbagai daerah, baik itu di Jawa, Sumatra, Sulawesi, ternate dan daerah-daerah lain, mereka keturunan walisongo lebih senang memakai nama yang lokal, mereka lebih senang berpenampilan khas Nusantara, ada memang yang masih mempertahankan busana takwa ala walisongo seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol. Namun mayoritas memang lebih senang menjadi bagian Nusantara. 

Penjajahan memang kejam, sehingga akhirnya muncullah sikap masturisasi ini, namun dibalik sikap ini, juga kita harus teladani sikap mereka yang mastur namun tetap memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negaranya. 

Kini eranya sudah mulai terbuka, orang-orang yang dahulunya leluhurnya banyak yang mastur, mereka kini banyak yang sudah mulai terbuka karena kesadaran akan ilmu nasab dan mengerti hikmahnya sebuah silaturahim dengan ilmu nasab. Bagi mereka mastur itu boleh boleh saja, namun keterbukaan untuk kebaikan juga perlu. Kini banyak keturunan walisongo banyak yang tidak malu memakai FAM nenek Moyangnya yaitu AZMATKHAN. Sekalipun AZMATKHAN sering dihina oleh orang orang yang Jahil, namun banyak dari mereka tetap bertahan, kebanyakan mereka mengatakan bahwa dicantumkan nama AZMATKHAN itu adalah untuk TABARUKKAN kepada nama tersebut yang telah berjasa menurunkan ulama ulama besar dari walisongo..Dan memang sebaiknya ketika FAM itu dipakai mereka keturunan walisongo harus menjunjung tinggi akhlanya. Ingat Sayyid Abdul Malik Azmatkhan ketika di India terkenal akan akhlaknya, sehingga Sayyid Abdul Malik mendapatkan nama AZMATKHAN (BANGSAWAN KHAN DARI KETURUNAN YANG MULIA/Nabi Muhammad SAW)

Di Era yang sudah modern ini memang sikap mastur ini sudah sebagian terbuka, namun demikian walaupun sudah mulai terbuka, sikap ketawadhuan dan kehati-hatian tetaplah wajib dijaga oleh keturunan walisongo. Era Penjajahan sudah berlalu, namun jangan lupa penjajah lain juga sudah mulai menggejala di kita baik penjajahan dalam bidang sejarah, arkeologi, budaya, seni, aliran agama, pemikiran bahkan sampai tingkatan ilmu nasab atau silsilah saja, banyak orang atau fihak fihak ingin menjajah dan merusak pemikiran keluarga besar walisongo...semoga kita bisa terselamatkan dari penjajahan penjajahan seperti ini..

Wallahu A’lam Bisshowab....