Tampilkan postingan dengan label Sejarah Para Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Para Nabi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

BUKTI AL-AMIN DALAM SEJARAH NABI MUHAMMAD


Oleh: 

Asy-Syaikh Al-Hafizh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan



”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Al-Amin adalah gelar Rasulullah yang artinya "AMANAH" atau "DAPAT DIPERCAYA".

Adapun fakta-fakta Rasulullah merupakan pribadi yang amanah adalah:

  1. Tahun 577-578 Masehi (Saat usia Nabi Muhammad 7-8 tahun), telah dididik sifat "AMANAH" oleh Kakeknya, As-Sayyid 'Abdul Muthallib bin Hasyim untuk mengikuti kafilah perdagangan di 3 Pasar Besar, yaitu: Pasar Ukaz Kuno, Pasar Mujannah, dan Pasar Dzu Majaz. Abdul Muthallib adalah Imam (Pemimpin) dari 3 pasar Tersebut. Rasulullah pertama kali mendapatkan pelajaran berdagang dari kakek kandungnya, tentang arti AMANAH dalam berdagang dan bahaya riba. Gelar Al-Amin sudah disematkan di belakang nama Nabi Muhammad kecil.
  2. Tahun 579-584 Masehi (Saat usia Nabi Muhammad 9-11 tahun), Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya yang bernama As-Sayyid Abu Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim. ABu Thalib menggantikan posisi 'Imam' di 3 pasar besar Pasar Ukaz Kuno, Pasar Mujannah, dan Pasar Dzu Majaz. Ketika usia Nabi Muhammad bin Abdullah masih 9-11 tahun, beliau belajar berdagang, dengan kurikulum: mengenal barang-barang perdagangan yang halal, adab-adab pasar, kejujuran dalam berdagang, amanah dalam berdagang, akad perdagangan yang benar, dan tentang bahaya riba.
  3. Tahun 583 Masehi (Saat usia Nabi Muhammad 12 tahun). Nabi Muhammad yang masih anak-anak ini mengikuti Kafilah Perdagangan Antar Negara yang dipimpin oleh pamannya, As-Sayyid Abu Thalib bin Abdul Muthallib ke Suriah. Saat perjalanan kafilah ini, Muhammad dan Abu Thalib bertemu dengan Bakhira (seorang Ulama Eskatologi yang hafal kitab-kitab Injil, Zabur dan Taurat), ulama ini melihat tanda-tanda kenabian pada diri seorang Nabi Muhammad yang masih anak-anak. Dan Bakhira berpesan kepada Abu Thalib agar menjaganya karena kelak ia (Nabi Muhammad bin Abdullah) adalah NABI AKHIR ZAMAN dan TIDAK ADA NABI SETELAHNYA. Saat inilah Abu Thalib meyakini dan mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul, meskipun saat itu Nabi Muhammad belum menerima wahyu dari Allah. Abu Thalib dan Bakhira benar-benar beriman akan kenabian dari Nabi Muhammad bin Abdullah. Dan merahasiakan keimanan tersebut, serta merahasiakan BERITA BESAR KENABIAN MUHAMMAD, karena dalam rangkan menyelamatkan Nabi Muhammad dari segala ancaman pembunuhan orang-orang yang dengki dan orang kafir yang tidak menginginkan munculnya Nabi Akhir Zaman.
  4. Tahun 590 Masehi (Usia Nabi Muhammad baru 20 tahun) Nabi Muhammad mendirikan Hilful-Fudul. Hilful-Fudul merupakan sebuah lembaga yang bertujuan membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Keadaan di Makkah pada waktu itu memang sedang tidak kondusif, hal ini karena adanya perselisihan antara suku Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl inilah sifat-sifat kepemimpinan Nabi Muhammad mulai tampak. Melalui aktivitasnya dalam lembaga ini, di samping ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal sebagai orang yang terpercaya (amanah). Kejujuran yang sudah kental dan melekat erat dalam jiwa Nabi Muhammad saw akhirnya menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Dengan kejujuran yang dimilikinya, Nabi Muhammad saw akhirnya mampu memperluas relasi dagangnya. Dan dengan kejujurannya itulah, semakin terkenal Nabi Muhammad SAW memperoleh gelar Al-Amin yang artinya orang yang dapat dipercaya.
  5. Tahun 595 Masehi (Usia Nabi Muhammad 25 tahun), Nabi Muhammad berhasil menjadi Pedagang yang sangat Kaya Raya. Dalam sebuah riwayat yang shahih, konon saat usia 25 tahun inilah harta Nabi Muhammad mencapai 6.820.000 dinar dan 17.215 dirham. Riwayat ini secara hitungan keuntungan dagang sangat masuk akal, karena start perdagangan Nabi Muhammad adalah usia 7 tahun, jika usia 25 tahun menjadi manusia TERKAYA, sangatlah wajar, karena ada proses 18 tahun Nabi Muhammad sangat aktif di Perdagangan dan di pasar-pasar Besar saat itu. Nabi Muhammad menjadi sebuah "BRAND PERDAGANGAN" atau "BRAND KAFILAH". Sehingga seorang wanita kaya raya yang bernama KHADIJAH BINTI KHUWAILID mengajukan proposal kerjasama untuk berkongsi dan menanamkan investasi di kafilah dagang "AL-AMIN" milik Nabi Muhammad bin Abdullah. Bahkan Khadijah ini mengutus Maisarah (karyawan laki-laki) untuk mewakilinya mengikuti ekspedisi perdagang Nabi Muhammad ke 17 Pasar yang dipimpin oleh Nabi Muhammad bin Abdullah. Kejujuran dan sifat amanah Nabi Muhammad inilah yang mendorong Khadijah untuk mengajukan lamaran (khitbah) kepada Abu Thalib (Paman Nabi), agar bisa menikahi Muhammad muda yang SUPER KAYA. Dalam riwayat diceritakan bahwa maskawin Nabi Muhammad untuk Khadijah senilai 100 ekor unta muda. Di zaman Nabi, harga seekor unta muda yang kwalitas tinggi adalah 25 dinar atau 250 dirham, maka 100 ekor unta muda sama dengan 25 x 100 = 2.500 dinar emas murni. Subhanallah...sampai saat ini belum ada maskawin (mahar) yang lebih tinggi dari maskawin yang diberikan Rasulullah. Jika kita tengok sejarah pemberian mahar dari Rasulullah kepada para isterinya, tercatat:  (1) Mahar untuk Khadijah 2.500 dinar atau 25.000 dirham, (2) Mahar (maskawin) untuk Aisyah 500 dirham, berdasarkan hadis dari Abi salamah berkata: Aku pernah bertanya kepada Aisyah: Berapakah mahar Rasulullah SAW? Ia menjawab: Adalah mahar kepada istri-istrinya itu dua belas setengah uqiyah. Aisya bertanya: Tahukah engkau apakah annasysyu, jadi seluruhnya yaitu lima ratus dirham” (HR Jama’ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi), (3) Mahar untuk Ummu Habibah adalah 4.000 dirham, berdasarkan hadis “Dan dari “Urwah dari Umi Habibah, sesungguhnya Rasulullah saw. Telah mengawininya, sedang ia berada di Habasyah yang dinikahkan oleh Najasyi (raja Habasyah) dan ia memberi mahar empat ribu (dirham) serta memberi perbekalan dari dirinya sendiri, ia mengirimnya bersama Syurahbil bin Hasanah dan Rasulullah saw. tidak mengirim apapun kepadanya sedang mahar untuk istri-istrinya (yang lain selain Khadijah) adalah empat ratus dirham” (HR Ahmad dan Nasai). Bagi Muhammad bin Abdullah mahar-mahar untuk para isterinya adalah murah, sebagaimana beliau SAW besabda: “Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaqnya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaqnya.” Jika mahar sebesar itu "MURAH" bagi Nabi Muhammad bin Abdullah. Maka sangat jelas sekali bahwa  Nabi Muhammad Saw adalah Manusia yang paling kaya, bahkan Allah sendiri menyebut Nabi Muhammad adalah kaya raya, tidak ada manusia manapun yang disebut ALLAH kaya raya, kecuali hanya 1 orang yaitu Nabi Muhammad, Allah berfirman dalam surah Ad-Dhuha ayat 8: Wawajadaka 'Aa'ilan Fa'aghna (Dan Kami mendapatimu (Muhammad) tidak punya apa-apa, lalu kami jadikan kamu (Muhammad) kaya raya). (QS. Ad-Duha: 8).
  6. Tahun 605 Masehi (Usia Nabi Muhammad 35 tahun), Nabi Muhammad saw selain terkenal dengan kejujurannya, beliau juga terkenal dengan memiliki sifat adil dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam aktivitas beliau di sepanjang sejarah perjuangan islam yang beliau tempuh hingga akhir hayat. Salah satu contoh keadilan yang dilakukan oleh Nai Muhammad saw dapat kita lihat dalam sejarah perbaikan Ka’bah yang rusak karena banjir. Ketika bangunan Ka’bah rusak karena banjir, penduduk Makkah-pun kemudian bergotong-royong untuk memperbaikinya. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin mendapat kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian berkata, “Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu Shafa ini.” Mereka semua berhenti bekerja dan menunggu orang pertama yang akan memasuki pintu Shafa tersebut. Tidak lama setelah itu, tampaklah Nabi Muhammad SAW muncul dari sana. Melihat sosok Nabi Muhammad saw, mereka semua kemudian berseru, “Itu dia Al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua keputusannya.” Setibanya ditempat itu, merekapun menceritakan perselisihan yang tengah mereka hadapi. Setelah mengerti duduk perkaranya, Nabi Muhammad SAW lalu membentangkan sorbannya di atas tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua kepala suku memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah Hajar Aswad telah sampai pada ketinggian yang diharapkan, Nabi Muhammad SAW kemudian meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan cara penyelesaian yang sangat bijak itu. Begitulah akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan yang baik. Sebuah akhlak yang merupakan realisasi dari kitab suci Al Quran. Maka sudah sepatutnya bagi kita selaku umat muslim untuk menjadikan beliau sebagai satu-satunya uswah dalam kehidupan kita.
  7. Tahun 610 Masehi (Usia Nabi Muhammad 40 tahun) Wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad dan beliau menjadi nabi sekaligus rasulullah yang terakhir, di usia 40 tahun inilah, Nabi Muhammad fokus pada dakwah Islam, adapun sebagai pedagang, Rasulullah menjadi Pemimpin perdagangan sampai beliau meninggal dunia. Karena dalam Islam ada ajaran tentang Syariat Perdagangan (Fiqih Buyuu', Fiqih Suuq Islam, Fiqih Dinar, Fiqih Mu'amalah, dan lain-lain). Rasulullah adalah Teladan terbaik untuk sistem perdagangan Islam.


Wallahu A'lamu Bish Shawwab


Referensi:
  1. Al-Qur'anul Karim
  2. Imam Bukhari, Kitab Shahih Bukhari
  3. Imam Muslim, Kitab Shahih Muslim
  4. Imam Ahmad, Musnad Ahmad
  5. Imam Nawawi, Tahzhib as-Sirah, sebuah biografi Rasulullah 
  6. Imam Adz-Dzahabi, Siyar Alamin Nubala, 
  7. Imam Ibn Katsir, Al-Bidayah wa Nihayah, 
  8. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari , 
  9. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Zad al-Ma'ad, 
  10. Asy-Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Raudhatul Anwar, 
  11. Michael H. Hart, The 100, , Carol Publishing Group, July 1992, paperback, 576 halaman, ISBN 0-8065-1350-0
  12. Muhammad, prophet of Islam. The Columbia Encyclopedia, Sixth Edition. 2001-07
  13. Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi berdasarkan Sumber Klasik. Jakarta: Penerbit Serambi, 2002. ISBN 979-3335-16-5
  14. John Esposito (1998). Islam: The Straight Path. Oxford University Press. ISBN 0-19-511233-4. p.18
  15. Bullough, Vern; Brenda Shelton, Sarah Slavin (1998). The Subordinated Sex: A History of Attitudes Toward Women. University of Georgia Press. ISBN 978-0-8203-2369-5. p.119
  16. Reeves, Minou (2003). Muhammad in Europe: A Thousand Years of Western Myth-Making. NYU Press. ISBN 978-0-8147-7564-6. p.46
  17. Watt, M. Aisha bint Abi Bakr. Article at Encyclopaedia of Islam Online. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-3912. pp. 16-18

Sabtu, 05 Oktober 2013

Mukjizat Nabi Sulaiman Dalam Telaah Ilmu Teleportasi


Oleh:
Asy-Syaikh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
(Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam)

DEFINISI MUKJIZAT DALAM ISLAM
Mukjizat, mu'jizat atau mujizat (Arab معجزة, Baca Mu'jizah) adalah perkara yang di luar kebiasaan, yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya, untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya. (Al Irsyad ila Shahih al I’tiqad oleh Syeikh Shalih al Fauzan)

Kata mukjizat berasal dari kata bahasa Arab yang berarti melemahkan, dari kata ‘ajaza (lemah). Dalam aqidah Islam mukjizat dimaknakan sebagai suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan yang digunakan untuk mendukung kerasulan seorang rasul, sekaligus melamahkan lawan-lawan para rasul. Pengertian ini terkait dengan kehadiran seorang nabi atau rasul. Nabi dan rasul di dalam menyampaikan ajarannya selalu mendapatkan tantangan dari masyarakatnya. Misalnya, ajarannya dianggap obrolan bohong, bahkan dianggap sebagai tipu daya (sihir).
  1. "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala." (Al-Anfal 8:31)
  2. "Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (Shad 38:4)
  3. "Dan tatkala kebenaran (Al Quran) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya." (Al-Zukhruf 43:30)
Untuk membuktikan kerasulan tersebut sekaligus membantah tuduhan para penantangnya, lalu nabi diberi kelebihan (mukjizat) berupa peristiwa besar yang luar biasa. Peristiwa inilah yang disebut dengan mukjizat.

Mukjizat merupakan kejadian/kelebihan di luar akal manusia yang tidak dimiliki oleh siapapun, karena mukjizat hanya dimilki oleh para rasul yang diberikan oleh Allah kepada para rasul-Nya. Sedangkan apabila ada seseorang yang memilki sesuatu yang luar bisa itu tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat melainkan karomah. Kemudian ada pula istilah irhasat dan khawariq, irhasatadalah pertanda yang terjadi untuk menunjukkan tanda kelahiran seorang nabi (sebelum kenabian). Sedankan khawariq adalah kejadian yang terjadi dalam keadaan yang luar biasa.

Mukjizat biasanya berisi tentang tantangan terhadap hal-hal yang sedang menjadi trend pada zaman diturunkannya mukjizat tersebut. Misalnya pada zaman Musa, trend yang sedang terjadi adalah ilmu sihir maka dengan mukjizat tongkat Musa bisa berubah menjadi ular dan mengalahkan ilmu sihir orang lain yang ada di sekitarnya. Juga pada zaman Isa, trend yang sedang berkembang adalah ilmu kedokteran dan pengobatan, maka pada saat itu mukjizat Isa adalah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal yang merupakan puncak dari ilmu pengobatan.

Demikian juga pada zaman Muhammad, trend yang sedang berkembang adalah ilmu sastra. Maka disaat itulah dirunkan Al-Qur'an sebagai mukjizat Muhammad. Nabi yang pada saat itu tidak bisa membaca dan menulis tapi bisa menunjukkan Al-Quran yang diyakini oleh umat Muslim, memiliki nilai sastra tinggi, tidak hanya dari cara pemilihan kata-kata tapi juga kedalaman makna yang terkandung di dalamnya sehingga Al-Quran dapat terus digunakan sebagai rujukan hukum yang tertinggi sejak zaman masa hidup nabi sampai nanti di akhir zaman.
Beberapa contoh mukjizat para nabi dan rasul:
  • Nuh membuat bahtera di padang pasir, ketika Tuhan hendak menenggelamkan kaumnya.
  • Shaleh berupa unta betina yang tidak boleh disembelih, sebagai hujjah atas kaumnya.
  • Ibrahim tidak hangus dibakar, karena api yang membakarnya berubah menjadi dingin.
  • Daud memiliki suara merdu sehingga makhluk lain pun ikut bertasbih bersamanya, sanggup berbicara dengan burung, dan berhasil mengalahkan Jalut seorang prajurit raksasa dari negeri Filistin, sanggup melunakkan besi dengan tangan kosong.
  • Yusuf memiliki ketampanan luar biasa dan mampu mentakwilkan mimpi-mimpi.
  • Yunus bisa hidup di dalam perut ikan nun selama tiga hari.
  • Sulayman sanggup berbicara dalam bahasa hewan, menguasai bangsa jin, mampu menundukkan angin, memiliki permadani yang terbuat dari sutera hijau dengan benang emas dengan ukuran 60 mil panjang dan 60 mil lebar.
  • Musa berupa tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, topan, laut, dan peristiwa-peristiwa di Bukit Thur.
  • Isa berupa kemampuan menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penderita kusta dan menghidupkan orang mati.
  • Muhammad berupa Isra dan Mi'raj, membelah bulan untuk membuktikan kenabiannya terhadap orang Yahudi, bertasbihnya kerikil di tangannya, batang kurma yang menangis, pemberitaan Muhammad tentang peristiwa-peristiwa masa depan ataupun masa lampau, tetapi mukjizat yang terbesar adalah Al-Qur’an.
    Mukjizat-mukjizat tersebut tidak lepas dari bentuk-bentuk berikut ini:
    • Ilmu, seperti pemberitahuan tentang hal-hal ghaib yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi, umpamanya pengabaran Isa kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Sebagaimana pengabaran Muhammad tentang fitnah-fitnah atau tanda-tanda hari kiamat yang bakal terjadi, sebagaimana banyak dijelaskan dalam hadits-hadits.
    • Kemampuan dan kekuatan, seperti mengubah tongkat menjadi ular besar, yakni mukjizat Musa yang diutus kepada Firaun dan kaumnya. Kemudian penyembuhan penyakit kulit, buta, serta menghidupkan orang-orang yang sudah mati, yang kesemuanya adalah mukjizat Isa. Juga terbelahnya bulan menjadi dua yang merupakan salah satu mikjizat Muhammad.
    • Kecukupan, misalnya perlindungan bagi Muhammad dari orang-orang yang menginginkan kejahatan kepadanya. Hal ini sering terjadi, ketika di Makah sewaktu malam hijrah, ketika di dalam gua, lalu dalam perjalanan ke Madinah ketika bertemu dengan Suraqah bin Malik, lalu di Madinah ketika orang-orang Yahudi ingin menculiknya dan lain-lain. Contoh-contoh ini yang diyakini oleh umat Muslim menunjukan bahwa Allah mencukupi rasul-Nya dengan perlindungan, sehingga tidak membutuhkan lagi perlindungan makhluk lain.
    Dari tiga jenis mukjizat para nabi di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya bertujuan untuk membenarkan kerasulan para rasul, dengan kemapuanya melebihi kemampuan masyarakatnya. Masyarakatnya tidak berdaya (‘ajaza) menantang para rasul, sehingga mereka menerima kebenaran ajaran yang dibawa para rasul.
    Para nabi memiliki mukjizat yang berbeda sesuai dengan kondisi masyaraktnya. Musa, karena masyarakatnya sangat ahli dalam ilmu sihir, maka mukjizatnya ialah kemampuan mengubah tongkat menjadi ular besar, yang mampu menelan semua ular yang dimunculkan para penyihir Fir’aun. Isa, karena masyarakatnya ahli di bidang pengobatan, mukjizatnya ialah kemampuan menyembuhkan orang buta sehingga mampu melihat kembali. Sedangkan Muhammad, karena masyarakatnya ahli dalam bidang sastra, maka mukjizatnya ialah Al-Qur’an, yang melebihi sastra Arab gubahan para sastrawan yang dianggap tidak ada yang mampu menyaingi Al-Qur’an ketika itu. Bagaimana canggihnya kemampuan sastrawan Arab, namun mereka tidak mampu (tidak berdaya) menyamai al-Qur’an.


    MUKJIZAT NABI SULAIMAN DALAM TELAAH ILMU TELEPORTASI
    Catatan sejarah mengenai pertemuan antara Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba’ menjadi jelas dengan penelitian yang dilakukan negeri tua Saba’ di Yaman Selatan. Penelitian yang dilakukan ter-hadap reruntuhan mengungkapkan bahwa seorang “ratu” pernah hidup di kawasan ini antara tahun 1000-950 SM dan melakukan perjalanan ke utara (ke Yerusalem). Nabi Sulaiman mencoba menunjukkan kekuatan kepada Ratu Kerajaan Saba’ ini. Beliau meminta salah seorang asistennya untuk membawa singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba’ di Yaman ke Palestina, sebelum pemiliknya tiba.

    Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. (QS An-Naml [27]:40.

    Allah SWT mengabadikan kisah ini dalam QS. An-Naml [27] ayat 38-44. Dari kitab Tafsir Rahmat oleh H Oemar Bakry halaman 741, menerangkan ayat 38 s/d 44 dalam empat pokok bahasan. Marilah kita kutip dua dari empat pokok bahasan tersebut. Pertama: Ayat-ayat ini melanjutkan kisah Nabi Sulaiman dengan Ratu Bulqis. Setelah Sulaiman menolak hadiah yang disampaikan Balqis, ia menyuruh utusan itu pulang kembali dan memberikan peringatan akan menyerang Kerajaan Balqis. Sulaiman telah memberi contoh bahwa upeti (hadiah) lebih baik tidak diterima. Upeti (hadiah) sering tidak jujur tujuannya. Ada udang di balik batu.Demikianlah suatu iktibar bahwa upeti (hadiah) itu menutupi keadilan dan kebenaran. Kedua: Sulaiman yakin sang Ratu akan datang menghadap. Sebelum ia datang Sulaiman meminta agar singgasana sang Ratu dipindahkan ke istananya. Ada seseorang dengan rahmat Allah, sanggup memindahkan singgasana itu dalam sekejap mata. Itu adalah mukjizat yang harus kita percayai. Lebih dari itu Allah sanggup menciptakan.

    Menurut (Tauhid Nur Azhar & Eman Sulaiman, dalam bukunya Ajaib Bin Aneh: 52), pemindahan tahta Ratu Balqis dari Yaman ke Palestina yang berjarak sekitar 1500 mil ini dapat disebut quantum teleportation, yaitu proses pemindahan suatu benda dengan memanfaatkan keacakan tempat tanpa terkena jarak. Bagaimana hal ini terjadi?

    Menurut Albert Einstein, kecepatan tertinggi dalam dunia relatif adalah kecepatan cahaya yang berjarak tempuh 299,792,458 meter/detik. Seandainya semua partikel dapat diubah menjadi kecepatan cahaya, kecepatan tempuhnya pun akan menyamai kecepatan cahaya.

    Permasalahannya, apakah seseorang itu bisa mengubah karakter dirinya menjadi karakter menyerupai cahaya? Rupa-rupanya asisten Nabi Sulaiman ini memiliki kemampuan untuk mentransformasi karakter partikel singgasana Ratu Balqis.

    Ada dua cara yang mungkin ia lakukan-sebetulnya masih menjadi hipotesis para ahli fisika. Pertama, dipapari medan magnet yang sangat kuat sehingga semua partikel singgasana tersebut berubah karakter. Contoh konkretnya terlihat dalam proses fusi nuklir dan cahaya matahari. Di dalamnya terdapat reaksi fusi yang melibatkan energi sangat kuat. Prinsip ini digunakan dalam teori quantum teleportation di film Star Trek. Mr. Spock (partikel-partikel selnya) diubah, dibuat berputar lebih cepat, didekoding dan ditransfer ke tempat tujuan. Sesampai di sana, ia di-encoding sehingga bisa utuh kembali. Hal yang sulit dilakukan adalah bagaimana proses meng-encoding dan menyadikan tersebut dilakukan, sehingga tidak terjadi perubahan struktur pada benda yang dikirimnya. Itulah kelebihan teknologi pada zaman Nabi Sulaiman.

    Cara kedua, asisten Nabi Sulaiman ini mampu memasuki sebuah dimensi di mana ruang dan waktu tidak lagi menjadi pembatas. Mungkin, inilah yang dinamakan dimensi malaikat. Dengan cara ini, suatu benda bisa berpindah dan dipindahkan tanpa terhalang jarak dan waktu. Agar bisa memasuki dimensi ini, boleh jadi ada kata kunci atau password untuk membukannya. Password ini sampai sekarang belum kita temukan. Namun, kita tak berasumsi bahwa gerbang dimensi itu ada pada persepsi. Artinya, keyakinan atau persepsi, kita menyebutnya kualitas keimanan, bisa membawa seseorang, memasuki dimensi yang tidak terkait oleh jarak dan waktu. Wallaahu a’lam.

    Sebagai catatan. Pada tahun 1993, ide tentang teleportasi berpindah dari ranah fiksi ilmiah ke dalam dunia nyata. Ini terjadi ketika fisikawan Charles bennet dan tim peneliti dari IBM mengkonfirmasikan bahwa teleportasi kuantum adalah mungkin, tapi hanya jika objek asli yang dipindahkan di hancurkan. Pencerahan ini pertama di singgung oleh Bennet pada saat annual meeting American Physical Society (APS) pada Maret 1993, diikuti dengan tulisannya tentang Physical review letters pada tanggal 29 Maret 1993. Sejak saat itu, eksperimen menggunakan photons telah membuktikan bahwa teleportasi kuantum adalah mungkin.

    Pada tahun 1998, ahli fisika di California Institute of technology (Caltech), bersama dengan tim dari eropa, mengubah ide IBM menjadi kenyataan dengan sukses men-teleportasikan photon, partikel energi yang dalam cahaya. Grup Caltech berhasil membaca struktur atom dari photon, mengirimkan informasi ini melewati 3,28 kaki (kira-kira 1 meter) kabel koaksial dan menciptakan replikanya. Sesuai perkiraan, photon asli tidak lagi eksis setelah replica di buat.

    Eksperimetn selanjutnya, tim Caltech berhasil mengatasi prinsip ketidakpastian Heisenberg, rintangan terbesar dalam teleportasi objek yang lebih besar dari photon. Prinsip ini mengatakan bahwa anda tidak dapat mengetahui lokasi dan kecepatan partikel secara bersama-sama. Tapi jika anda tidak dapat mengetahui posisi suatu partikel, lalu bagaimana anda men-teleportasikannya? Untuk men-teleportasikan photon tanpa melanggar prinsip Heisenberg, ahli fisika Caltech menggunakan sebuah fenomena yang di sebut Entanglement.

    Teleportasi adalah proses untuk menguraikan sebuah objek menjadi atom dan menyusunnya kembali di tempat lain. Pada Juni 2002 lalu, seorang ahli fisika Australia, Ping Koy Lam, melakukan teleportasi sinar leser. Sinar leser yang terdiri atas miliyaran foton, oleh Lam diukur kecepatan pertikel, bentuk, dan polarisasinya, untuk kemudian dibentuk ulang menggunakan sekumpulan foton di tempat lain. Lam meramalkan bahwa lima tahun ke depan, seseorang bisa melakukan teleportasi atom atau molekul. Lalu, bagaimana dengan teleportasi manusia? Cerita akan lain. Pasalnya, tubuh manusia terdiri tas 10 pangkat 28 molekul atom atau lebih dari satu triliun atom, sehingga sangat sulit diuraikan untuk kemudian di susun kembali di tempat lain, walaupun hal ini bisa saja terjadi.

    Wallahu A'lamu Bish Shawwab

    5 Konspirasi Mencuri Jasad Nabi Muhammad


    Oleh:
    Asy-Syaikh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

    KONSPIRASI PERTAMA (TAHUN 386 H)
    Niat jahat untuk memindahkan jasad Rasulullah SAW dari kota Medinah (Masjid Nabawi) untuk dipindahkan ke Mesir adalah ide al-Hakim al-‘Ubaidi, yang mengutus Abu al-Futuh untuk melaksanakan tugas mencuri jasad Nabi SAW dan dua orang sahabat yang dimakamkan di areal Masjid Nabawi. Usaha pencurian ini gagal karena Abu al-Futuh kemudian insyaf setelah penduduk kota Madinah membacakan Surah At-Taubah ayat 12 – 13 kepadanya. (Sumber: Tarikh Baghdad karya Ibn al-Najjar) 

    KONSPIRASI KEDUA (TAHUN 411 H)
    Niat jahat al-Hakim ternyata tidak surut. Ia kembali mengutus orang-orangnya untuk berusaha mencoba lagi membongkar makam Nabi SAW dan mencuri jasadnya untuk dibawa ke Mesir. Ketika para utusan itu sedang menggali di bawah tanah, penduduk Madinah melihat banyak cahaya dan terdengar suara gaib: “Wahai manusia, Nabi kalian sedang digali”.Maka penduduk kota Madinah secara beramai-ramai menangkap utusan al-Hakim, lalu mereka semua dihukum mati. Menurut sahibul hikayat, peristiwa usaha jahat (yang pertama dan kedua) untuk melakukan pencurian jasad Nabi ini terjadi sekitar tahun 386 – 411 H. (Sumber: Tarikh Baghdad karya Ibn al-Najjar) 

    KONSPIRASI KETIGA (TAHUN 557 H/1164 M)
    Pada tahun 557 H, raja-raja Nasrani menyuruh orang-orang Nasrani dari Maroko untuk membongkar makam Rasulullah SAW, dan mencuri jasad beliau. Pada waktu itu yang berkuasa di Mesir adalah Sultan Nuruddin al-Syahid. Alkisah saat Sultan tidur setelah selesai shalat tahajud dan membaca wirid, beliau bermimpi melihat Rasulullah SAW menunjuk dua orang berambut pirang sambil berkata: “Selamatkan aku dari orang-orang jahat ini”.Sultan terbangun kaget. Ketika tidur lagi ia bermimpi hal yang sama lagi. Mimpi buruk itu berlangsung terus sampai tiga kali dalam satu malam.Merasa ada kejadian yang tidak beres, Sultan kemudian memutuskan untuk pergi ke Madinah. Perjalanan dari Mesir ke Madinah pada waktu itu memakan waktu kurang lebih 16 hari. Setiba di Madinah Sultan mengumpulkan seluruh penduduk  kota Madinah dan  membagi-bagikan  harta yang dibawanya. Setelah seluruh penduduk Madinah mendapat bagian, Sultan masih belum menemukan dua orang berambut pirang seperti yang dilihatnya dalam mimpi. Ia bertanya apakah masih ada yang belum kebagian. Penduduk Madinah mengaku sudah menerima semua kecuali dua orang kaya raya yang berasal dari Maroko, karena mereka memang tidak butuh menerima bantuan dari orang lain. Maka dipanggillah kedua orang itu untuk menghadap Sultan Nuruddin. Kedua orang Maroko itu ternyata mirip dengan yang dilihat Sultan dalam mimpinya. Tapi keduanya tetap bersikeras tidak mau mengaku akan mencuri jasad Nabi SAW. Akhirnya Sultan memutuskan untuk melihat penginapan mereka yang ternyata berada dekat dengan makam Rasulullah SAW. Setelah diperiksa dengan seksama, terbukti bahwa di balik tikar tidur mereka terdapat galian yang menuju makam Rasulullah SAW. Sultan Nuruddin al-Syahid akhirnya menghukum mati kedua orang Maroko yang berniat jahat itu. (Sumber: C.Israr, Sejarah Kesenian Islam, Bulan Bintang, 1978;Ali Hafidz, Fusul min Tarikhil Madinah, 1989)

    KONSPIRASI KEEMPAT (TAHUN 678 H)
     Kisah tentang usaha yang keempat kalinya untuk mencuri jasad Rasulullah ini diceritakan oleh ibn Jubair yang pada saat itu sedang mengembara ke Iskandarsyah pada tahun 678 H. Di kota itu ia menyaksikan ada tawanan orang-orang Nasrani dari Romawi yang sedang dipekerjakan untuk membuat kapal.Ternyata setelah kapal yang dibuatnya jadi,  para tawanan itu membawa lari kapal tersebut untuk dibawa kekota Jeddah dimana mereka melakukan beberapa tindak kejahatan dan perampokan. Sesudah itu mereka kemudian menuju kota Madinah dengan maksud mencuri jasad Nabi SAW. Atas ijin Allah SWT mereka dapat tersusul meskipun waktu itu rombongan pengejar sudah tertinggal sekitar satu setengah bulan. Mereka semua kemudian berhasil ditangkap dan dibunuh sebelum niatnya untuk mencuri jasad Nabi SAW terlaksana. (Sumber: Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Sejarah Masjid Nabawi, 2005)

    KONSPIRASI KELIMA (TAHUN 700 H )
    Usaha kali ini (Insya Allah adalah usaha jahat yang terakhir) adalah hasil persekongkolan antara Gubernur Madinah saat itu, dengan beberapa orang yang berasal dari Halab. Mereka memberikan harta yang berlimpah kepada Gubernur agar dapat diijinkan memasuki Masjid Nabawi dan membongkar makam Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya. Kalau istilah jaman sekarang barangkali orang-orang Halab berhati jahat itu berusaha melakukan KKN sekaligus melakukan penyuapan kepada Pejabat Negara. Entah bagaimana ternyata Gubernur Madinah setuju. Dia kemudian memanggil penjaga masjid Nabawi, Syeikh Syamsu al-Dien al-Showab al-Lamthy dan memberitahukan padanya bahwa pada waktu tengah malam nanti akan ada orang-orang yang mengetuk pintu masjid. Dengan tegas Gubernur memerintahkan agar penjaga pintu masjid membukakan pintu untuk orang-orang dari Halab itu. Sang penjaga masjid tentu saja tak kuasa menolak perintah seorang Gubernur.Benar saja. Pada waktu tengah malam terdengar ketukan di pintu Al-Amir (pintu  Babu al-Salam). Ketika pintu dibuka masuklah sekitar 40 orang dari Halab yang membawa perlengkapan untuk menggali dan alat penerangan. Mereka langsung menuju ke makam Rasulullah SAW. Tapi baru saja mereka berjalan sampai mimbar masjid, sekonyong-konyong bumi terbelah dan menelan 40 orang Halab berikut semua perlengkapannya  tanpa tersisa dan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Subhanallah, Allahu Akbar. Ketika esok paginya Gubernur memanggil penjaga lagi untuk menanyakan kejadian semalam, maka penjaga masjid menceritakan apa yang dilihatnya semalam sejelas-jelasnya. Begitulah akhirnya. Usaha jahat yang kelima inipun gagal atas kehendak Allah SWT. (Sumber: Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Sejarah Masjid Nabawi, 2005)

    Wallahu’alam bissawab.

    DAFTAR PUSTAKA
    Ali Hafidz, Fusul min Tarikhil Madinah,1989
    C.Israr, Sejarah Kesenian Islam, Bulan Bintang, 1978;
    Ibn al-Najjar, Tarikh Baghdad, 1979
    Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Sejarah Masjid Nabawi, 2005

    Rabu, 31 Oktober 2012

    (1) Nabi Muhammad


    Oleh:


    A. Kelahiran Nabi Muhammad

    Nabi Muhammad lahir di Makkah, Kerajaan Saudi Arabia, 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi.
    Peta Saudi Arabia, tempat Nabi Muhammad dilahirkan

    B. Genealogi Nabi Muhammad

    Nasab Nabi Muhammad menurut The Genealogies By Ahmad Sibil (Austoria, New York) dan Kitab Sirah Rasulullah karya Ibnu Ishak yang diterjemahkan oleh Professor Gillaume’s, dicetak oleh Oxford University Press, menyebutkan bahwa: Nabi Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Muthallib (Shaiba) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdu Manaf (Al-Mughirah) bin Qusayy (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin An-Nadhir (Al-Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu’ad bin Adnan bin ‘Udad bin Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Yashjub bin Nabit bin Nabi Isma’il bin Nabi Ibrahim bin Tarikh (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Abir bin Shalikh bin Arfakhsyad bin Syam bin Nabi Nuh bin Lamik bin Matushalikh bin Akhnukh (Nabi Idris) bin Halaman bin Mahlabil bin Qinan bin Anusy bin Nabi Syits bin Nabi Adam.

    Silsilah Nasab Nabi Muhammad


    C. Agama Nabi Muhammad

    Agama Nabi Muhammad adalah Agama Islam

    D. Ciri Fisik Nabi Muhammad

    Beberapa hadist meriwayatkan beberapa ciri fisik yang diceritakan oleh para sahabat dan istrinya. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad berperawakan sedang, berkulit putih kemerahan, berjanggut tipis, dan digambarkan memiliki fisik yang sehat dan kuat oleh orang di sekitarnya. Riwayat lain menyebutkan Muhammad bermata hitam, tidak berkumis, berjanggut sedang, serta memiliki hidung bengkok yang sesuai dengan ciri antropologis bangsa Semit pada umumnya.

    E. Ayah Kandung Nabi Muhammad

    Ayah Nabi Muhammad bernama ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib (lahir tahun 545 M) dan meninggal di perjalanan kafilah antara Makkah dan Madinah tahun 570 M. Saat ia meninggal Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya Aminah binti Wahab. Nasab ‘Abdullah adalah: 'Abdullah bin 'Abdul Muthallib (Shaiba) bin Hasyim (‘Amr) bin ‘Abdu Manaf (Al-Mughirah) bin Qusayy (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin An-Nadhir (Al-Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu’ad bin Adnan bin ‘Udad bin Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Yashjub bin Nabit bin Nabi Isma’il bin Nabi Ibrahim bin Tarikh (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Abir bin Shalikh bin Arfakhsyad bin Syam bin Nabi Nuh bin Lamik bin Matushalikh bin Akhnukh (Nabi Idris) bin Halaman bin Mahlabil bin Qinan bin Anusy bin Nabi Syits bin Nabi Adam.

    F. Ibu Kandung Nabi Muhammad

    I    Ibu kandung Nabi Muhammad adalah Aminah Az- Zuriyah binti Wahab (Aminah binti Wahab), lahir di Makkah tahun 550 M   dan meninggal pada tahun 577 M ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib (Madinah) untuk mengajak Muhammad  mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya. Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdulmanaf bin Zuhrah bin Kilab. Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul-Uzza bin Usman bin ‘Abduddar bin Qushayy.

    G. Nama & Gelar Nabi Muhammad

    Nama dan Gelar Nabi Muhammad menurut Kitab Dalailul Khairat karya Imam Sulaiman Al-Jazuli adalah:
    1.      Muhammad Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    2.      Ahmad Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    3.      Hamid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    4.      Mahmud Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    5.      Ahid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    6.      Wahid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    7.      Mahh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    8.      Hasyir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    9.      'Aaqib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    10.  Taha Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    11.  Yaasin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    12.  Tahir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    13.  Mutahhar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    14.  Taiyyib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    15.  Sayyid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    16.  Rasul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    17.  Nabi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    18.  Rasulul Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    19.  Qaiyyim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    20.  Jami' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    21.  Muqtaff Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    22.  Muqaffa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    23.  Rasulul Malaahim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    24.  Rasulur Rahah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    25.  Kamil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    26.  Iklil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    27.  Muddatstsir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    28.  Muzzammil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    29.  Abdullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    30.  Habibullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    31.  Safiyyullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    32.  Najiyyullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    33.  Kalimullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    34.  Khatamul Anbia' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    35.  Khatamul Rusul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    36.  Muhyi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    37.  Munji Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    38.  Muzakkir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    39.  Nasir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    40.  Mansur Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    41.  Nabiyyul Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    42.  Nabiyut Taubah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    43.  Harison 'Alaikum Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    44.  Ma'lum Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    45.  Shahir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    46.  Shaahid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    47.  Shahiid Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    48.  Mashhud Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    49.  Bashir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    50.  Mubashhir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    51.  Nazir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    52.  Munzir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    53.  Nur Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    54.  Siraj Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    55.  Misbah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    56.  Hudaa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    57.  Mahdi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    58.  Munir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    59.  Da'i Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    60.  Mad'uu Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    61.  Mujib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    62.  Mujab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    63.  Hafiyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    64.  'Affuw Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    65.  Waliyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    66.  Haqq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    67.  Qawiyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    68.  Amin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    69.  Ma'mun Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    70.  Karim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    71.  Mukarram Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    72.  Makin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    73.  Matin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    74.  Mubin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    75.  Muammil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    76.  Wasul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    77.  Dzu Quwwah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    78.  Dzu Hurmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    79.  Dzu Makaanah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    80.  Dzu 'Iz Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    81.  Dzu Fadli Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    82.  Mutaa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    83.  Mutii' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    84.  Qadamu Sidqi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    85.  Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    86.  Bushra Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    87.  Ghauth Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    88.  Ghaith Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    89.  Ghayyath Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    90.  Ni'matullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    91.  Hadiyyatullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    92.  'Urwatun Wuthqa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    93.  Siraatullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    94.  Siraatul Mustaqim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    95.  Zikrullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    96.  Saifullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    97.  Hizbullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    98.  An-Najmuth Thaqib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    99.  Mustaffa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    100.                                                          Mujtaba Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    101.                                                          Muntaqa Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    102.                                                          Ummiyy Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    103.                                                          Mukhtar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    104.                                                          Ajir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    105.                                                          Jabbar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    106.                                                          Abul Qasim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    107.                                                          Abut Tahir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    108.                                                          Abut Taiyyib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    109.                                                          Abu Ibrahim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    110.                                                          Mushaffa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    111.                                                          Shafi' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    112.                                                          Saleh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    113.                                                          Musleh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    114.                                                          Muhaimin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    115.                                                          Sadiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    116.                                                          Musaddiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    117.                                                          Sidq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    118.                                                          Sayyidul Mursalin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    119.                                                          Imamul Muttaqin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    120.                                                          Qaidul Ghurril Muhajjalin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    121.                                                          Khalilul Rahman Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    122.                                                          Barr Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    123.                                                          Mabarr Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    124.                                                          Wajih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    125.                                                          Nasih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    126.                                                          Naasih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    127.                                                          Wakil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    128.                                                          Mutawwakkil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    129.                                                          Kafil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    130.                                                          Shafiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    131.                                                          Muqimus Sunnah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    132.                                                          Muqaddas Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    133.                                                          Ruhul Qudus Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    134.                                                          Ruhul Haq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    135.                                                          Ruhul Qistt Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    136.                                                          Kaaf Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    137.                                                          Muktaff Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    138.                                                          Baaligh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    139.                                                          Muballigh Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    140.                                                          Shaff Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    141.                                                          Wasil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    142.                                                          Mausul Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    143.                                                          Sabiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    144.                                                          Saaiq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    145.                                                          Had Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    146.                                                          Muhdi Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    147.                                                          Muqaddam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    148.                                                          Aziz Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    149.                                                          Fadhil Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    150.                                                          Mufaddhal Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    151.                                                          Fatih Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    152.                                                          Miftah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    153.                                                          Miftahul Rahmah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    154.                                                          Miftahul Jannah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    155.                                                          'Alamul Imaan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    156.                                                          'Alamul Yaqin Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    157.                                                          Dalilul Khairat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    158.                                                          Musahhihul Hasanaat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    159.                                                          Muqilul 'Atharaat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    160.                                                          Saffuh Aniz Zallat Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    161.                                                          Sahibush Shafa'ah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    162.                                                          Sahibul Maqam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    163.                                                          Sahibul Qadim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    164.                                                          Makhsus Bil 'Iz Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    165.                                                          Makhsus Bil Majd Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    166.                                                          Makhsus Bis Sharaf Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    167.                                                          Sahibul Wasilah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    168.                                                          Sahibus Saif Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    169.                                                          Sahibul Fadhilah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    170.                                                          Sahibul Izar Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    171.                                                          Sahibul Hujjah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    172.                                                          Sahibus Sultan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    173.                                                          Sahibul Ridaa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    174.                                                          Sahibud Darajaatir Rafiah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    175.                                                          Sahibut Tajj Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    176.                                                          Sahibul Maghfir Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    177.                                                          Sahibul Liwaa' Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    178.                                                          Sahibul Mi'raj Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    179.                                                          Sahibul Qadhib Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    180.                                                          Sahibul Buraaq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    181.                                                          Sahibul Khaatam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    182.                                                          Sahibul 'Alamah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    183.                                                          Sahibul Burhan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    184.                                                          Sahibul Bayaan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    185.                                                          Fasihul Lisan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    186.                                                          Mutahharul Janan Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    187.                                                          Ra'uff  Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam
    188.                                                          Rahim Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    189.                                                          Uzunukhair Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    190.                                                          Sahihul Islam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    191.                                                          Sayyidul Kaunain Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    192.                                                          'Ainun Na'im Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    193.                                                          'Ainul Ghurr Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    194.                                                          Sa'dullah Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    195.                                                          Sa'dul Khalq Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    196.                                                          Khatibul Umam Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    197.                                                          'Alamul Huda Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    198.                                                          Kashiful Kurab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    199.                                                          Raafi'ur Rutab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    200.                                                          'Izzul 'Arab Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  
    201.                                                          Sahibul Faroji Shollallâhu ‘Alaihi Wasallam  

    Nama & Gelar Nabi Muhammad

    H.      Isteri-Isteri Nabi Muhammad

    Isteri-Isteri Nabi Muhammad adalah:
    1.                  Khadijah binti Khuwailid
    2.                  Saudah binti Zam’ah
    3.                  Aisyah binti Abu Bakar
    4.                  Hafshah binti Umar bin Khattab
    5.                  Hindun (Ummu Salamah) binti Abi Umayyah
    6.                  Ramlah (Ummu Habibah) binti Abu Shufyan
    7.                  Juwairiyyah (Barrah) binti Harits
    8.                  Shafiyyah binti Huyai
    9.                  Zaynab binti Jahsyi
    10.              Zainab binti Khuzaimah
    11.              Maimunah binti Harits
    12.              Maria Al-Qibthiyyah

    I. Anak Kandung Nabi Muhammad

    Anak kandung Nabi Muhammad adalah:
    1.                  Qasim (Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, meninggal waktu kecil)
    2.                  ‘Abdullah (Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, meninggal waktu kecil)
    3.                  Ibrahim (Ibunya adalah Maria Al-Qibtiyyah, meninggal waktu kecil)
    4.                  Zainab (Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, tidak mempunyai keturunan)
    5.                  Uqayyah (Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, tidak mempunyai keturunan)
    6.                  Ummu Kultsum (Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, tidak mempunyai keturunan)
    7.                  Fathimah Az-Zahra (Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, berketurunan)

    J. Kitab yang Diturunkan Kepada Nabi Muhammad

    Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an

    K. Mu’Jizat Nabi Muhammad

    Seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad diberikan irhasat (pertanda) akan datangnya seorang nabi, seperti yang diyakini oleh umat Muslim telah dikisahkan dalam beberapan kitab suci agama samawi, dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa di dalam kandungan, masa kecil dan remaja. Muhammad diyakini diberikan mukjizat selama kenabiannya.
    Umat Muslim meyakini bahwa Mukjizat terbesar Muhammad adalah Al-Qur’an, yaitu kitab suci umat Islam. Hal ini disebabkan karena kebudayaan Arab pada masa itu yang masih barbar dan tidak mengenal peradaban, namun oleh Al-Qur'an hal itu berubah total karena Qur'an membawa banyak peraturan keras yang menegakkan dasar-dasar nilai budaya baru di dunia Arab yang sebelumnya tidak berperadaban serta mengeliminasi akar-akar kejahatan sosial yang mengakar di dunia Arab, serta pada masa yang lebih dekat mengantarkan pemeluknya meraih tingkat perabadan tertinggi di dunia pada masanya.
    Mukjizat lain yang tercatat dan diyakini secara luas oleh umat Islam adalah terbelahnya bulan, perjalanan Isra dan Mi'raj dari Madinah menuju Yerusalem dalam waktu yang sangat singkat. Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasan serta kepribadiannya yang banyak dipuji serta masih menjadi panutan para pemeluk Islam hingga saat ini.

    L.  Wafat dan Makam Nabi Muhammad

    Nabi Muhammad meninggal di Madinah, 8 Juni 632 Masehi