Tampilkan postingan dengan label Sejarah Pra Walisongo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Pra Walisongo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2013

Fathimah Binti Maimun, Syarifah Tertua di Nusantara

Ditulis oleh:

BUKTI TERTUA HURUF Arab pada fase awal Islam di Nusantara ditemukan di makam di Desa Leran, delapan kilometer utara kota Gresik, Jawa Timur.[1] Huruf itu, yang terdapat pada nisan Fathimah binti Maimun bin Hibat Allah, semula dibaca bahwa dia wafat pada tanggal 7 Rabi’ al-Awwal 495 Hijriyah atau 1102 Miladiyah.

Demikian hasil pembacaan oleh J.P. Moquette[2] yang diumumkan pada tahun 1919. Data ini dikoreksi oleh Paul Ravaise[3] pada tahun 1925 menjadi 475 H atau 1082 M. Inilah yang kini umum ditulis, misalnya oleh R. Atmodarminto dan Solichin Salam,[4] yang dijadikan rujukan oleh banyak penulis untuk membuat karya tentang Wali Sanga dan awal masuknya Islam di Jawa.

Berdasarkan laporan yang pernah dibuat sebelumnya, Moquette menguraikan “prasasti” Leran ini secara rinci dan kritis bahwa Fathimah berasal dari lingkungan keluarga tehormat, mungkin dari Arab atau tempat lain di Asia Barat. Berdasarkan akhir baris ketiga dan awal baris keempat: al-syahidah Fathimah, Moquette menyatakannya “meninggal syahid”.[5]

Pembacaan ini mendapatkan tanggapan luas. Kalimat al-syahidah Fathimah diperbaiki oleh Th.W. Juynboll menjadi as-syahirah Fathimah.[6] Guru besar Paul Ravaise berpendapat namanya Al-Mutawaqiyah al-Asimah binti Maemun yang berarti “putri Maemun yang terlindung dari dosa dan kesalahan”.[7]

“Pertanggalan ini menunjukkan bahwa nisan anak perempuan Maimun ini merupakan bukti tertua penggunaan tulisan Arab di Asia Tenggara,” demikian dituliskan pada buku panduan Pameran Budaya Islam di aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN, kini: Universitas Islam Negeri = UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tanggal 11-17 September 1995.[8]

Inskripsi nisan Fathimah terdiri atas tujuh baris, ditulis dengan huruf Arab bergaya Kufi Timur abad ke-11[9] dengan tata bahasa Arab yang baik. Nisan ini juga memuat ayat suci Al-Qur’an, antara lain surat Al-Rahman ayat 26-27 dan surat Ali Imran ayat 185.

Nisan ini --bersama nisan Mawlana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabi’ul awal 822 H atau 8 April 1419 M, juga dimakamkan di Gresik-- mengukuhkan pendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Persia dan Gujarat. Ada pula sarjana yang menyatakan batu nisan tersebut mirip kuil tembok Hindu di Gujarat.[10]

Prof.Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat menyatakan, “Buktinya kalau agama Islam … masuk ke Indonesia itu dari Iran (Persia) ialah ejaan dalam tulisan Arab. Baris di atas, di bawah, dan di depan disebut jabar, jer, dan pes. Ini adalah bahasa Iran. … kalau menurut bahasa Arab ejaannya ialah fathah, kasrah, dan dlamah. Begitu pula huruf sin yang tidak bergigi, sedangkan huruf sin dari bahasa Arab adalah bergigi. Ini salah satu bukti yang terang.”[11]

Akan tetapi, Profesor Sayid Qudratullah (S.Q.) Fatimi justru menggunakan tulisan pada nisan Fathimah binti Maimun untuk mendukung teorinya bahwa Islam berkembang ke Nusantara melalui Benggala. Ia mengkritik para ahli yang dinilainya mengabaikan jirat di Leran tersebut, yang dianggapnya justru mirip batu nisan yang ada di Benggala.[12]


(1) Siapakah Fathimah binti Maimun?

PERTANYAAN SEPERTI  ini tentu saja tidak hanya menjadi hak para penelusur sejarah masa sekarang, melainkan siapa pun yang melakukan hal yang sama baik pada lalu maupun masa yang akan datang.

Ahli sejarah Cirebon abad ke-17 Wangsakerta[13] sebagai pangeran ketiga keraton itu bahkan melakukan gotrasawala (musyawarah kekeluargaan) ahli sejarah se-Nusantara.

Sewaktu menelusuri silsilah para syaikh (guru) dan sulthan keturunan Nabi Muhammad s.a.w. yang menjadi tokoh penyebar agama Islam di Nusantara, Wangsakerta dalam gotrasawala pada tahun 1677 berdiskusi dengan mahakawi sejarah dari Pasai, Jawa Timur, Cirebon, Arab, Kudus, dan Surabaya, serta ulama dari Cirebon dan Banten.[14]
Hasilnya sebagai berikut:

D1.      Dari Muhammad ke Al-Uraidi: Rasul Muhammad s.a.w. - Fathimah al-Zahra + Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karamahAllahu wajhah (k.w.) - Husayn al-Sabti - Zayn al-‘Abidin - Muhammad al-Bakir – Imam Ja'far Shadiq - ‘Ali al Uraidi.
D2.      Dari Al-Uraidi ke Fathimah: ‘Ali al Uraidi - Sulayman al-Bashri (menetap di Parsi) - Abu Zayn al-Bashri - Ahmad al-Baruni - Sayyid Idris al-Malik - Muhammad Makdum Sidik - Hibat Allah – Maimun - Fathimah.

Masih menurut penelusuran itu, Fathimah menikah dengan pria bernama Hassan yang berasal dari Arab bagian selatan.
Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan penulis Moh. Hari  Soewarno: “Mungkinkah tokoh Maulana Ali Syamsudin[15] yang disebutkan dalam kitab Sunan Giri III/Prapen, Asrår (1618), suami Fatimah?”[16]

Tentang Fathimah binti Maimun ini, pasangan peneliti H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud menghubungkannya dengan tradisi lisan Jawa tentang Putri Leran atau Putri Dewi Swara.[17] (Padahal, Putri Leran atau Putri Dewi Suwari dari Majapahit meninggal pada tahun 1313 Ç atau 1391 M.)[18] Dalam kaitan ini, kedua pakar Belanda ini juga menerima anggapan bahwa Gresik merupakan pusat tertua agama Islam di Jawa Timur.

Dengan demikian, tidak mustahil Fathimah binti Maimun itu pensyi’ar Islam pertama di Tanah Jawa, bahkan sangat boleh jadi di Indonesia. Namun, ada penulis yang menyatakan kakeknya itu pedagang dari Timur Tengah, yang menetap di Leran dan menikah dengan perempuan setempat. Hibat Allah bahkan diduga sudah membangun masjid.[19]

Pada tahun 1980, setelah membaca ulang epitaf[20]-nya, N.A. Baloch, yang menyatakan agama Islam masuk Nusantara saat Rasulullah s.a.w. masih di Makkah, juga mengangkat Fathimah binti Maimun sebagai princes (putri) yang punya kaitan kekeluargaan dengan Malik Ibrahim.

Tak pelak lagi ini menimbulkan penafsiran bahwa Fathimah memegang kekuasaan eksekutif, yang berlangsung jauh sebelum masa Ken Arok dan Ken Dedes (k. 1222-1227) dan Dewi Suhita (k. 1429-1447) dari Majapahit.[21]

Akan tetapi, L.C. Damais tidak melihat adanya data yang dapat menunjukkan bahwa dia turunan bangsawan, melainkan anak pedagang Arab yang sudah lama bermukim di sana. Batu nisannya berasal dari bahan lokal dan, berdasarkan unsur paleografi,[22] ragam hiasnya tidak dijumpai di negeri Islam mana pun.[23]


(2) Kenapa Desa itu Bernama Leran?

APAKAH FAKTOR kebetulan bila desa tempat Fathimah binti Maimun dimakamkan itu bernama Leran? Tentu saja hal ini telah menjadi perbincangan para ahli sejarah sejak lama.

Cendekiawan muslim Oemar Amin Hoesin, misalnya, berpendapat, "Di Persia itu ada satu suku namanya ‘Leren’. Suku inilah yang mungkin dahulu datang ke Tanah Jawa, sebab di Giri ada … kampung, Leren namanya. Begitu pula ada … suku namanya … Jawi di Persia. Suku inilah yang mengajarkan huruf Arab yang terkenal di Jawa dengan huruf pegon."[24]

Dalam kaitan ini, Moh. Hari Soewarno mencatat, “Leran sebenarnya nama suku di Iran. Mungkin Fatimah berasal dari Parsi, sebab data itu bisa dibandingkan dengan … data lain di Iran sendiri. Di sana pun terdapat … desa yang namanya Jawi, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pada abad ke-11 itu sudah ada … lalu lintas dagang antara negeri kita dengan Parsi. Peristiwa itu pasti terjadi berulang-ulang serta dimengerti banyak orang, baik di Jawa maupun di Iran.”[25]

Menurut dia, orang Parsi yang datang di Jawa merasa kerasan lalu menetap. Sebaliknya, orang Jawa yang merasa senang di Iran lalu menetap di sana, juga logis, lalu menamai desanya Jawi, untuk menunjukkan perkampungan orang Jawa di sana.

“Fatimah binti Maimun jelas orang Parsi yang menetap di Jawa, (tepatnya di) Gresik, lalu perkampungannya di sana hingga sekarang terkenal sebagai Desa Leran,” tulisnya pula.

Lebih jauh, Moh. Hari Soewarno mengutip pendapat G.P. Rouffaer dalam catatan buku W. Fruin-Mees, Geschiedenis van Java, 1918, bahwa “(Di) Kediri pada abad ke-11 … sudah banyak orang membuat rumah indah dengan genting warna-warni, ada yang kuning dan ada yang dicat hijau, … gaya rumah demikian hanya ada di Parsi.”


(3) Kenapa Pula Pelabuhan Gresik?

APAKAH JUGA faktor kebetulan jika dari tanah Persia, Fathimah binti Maimun merantau ke pelabuhan Gresik dan kemudian tinggal serta wafat dan dimakamkan di sana?

Bersama nisan ulama Persia Mawlana Malik Ibrahim yang berangka tahun 822 H (1419 M), nisan Fathimah yang berangka tahun 475 H (1082 M) dilihat sebagai bukti bahwa pada waktu itu banyak orang jelata Gresik yang telah menganut agama Islam.[26]

Bahkan sebelum pengiriman Wali Sanga periode pertama, sudah banyak pedagang Islam datang berniaga sambil menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.[27] Mereka memilih daerah pelabuhan Gresik sebagai tempat tinggal mereka di pulau yang saat itu sedang dalam kekuasaan Majapahit.

Dalam hal ini, R. Atmodarminto menulis, “Karena kedatangan agama Islam ke Jawa melalui hubungan dagang, maka yang terlebih dahulu memeluk agama Islam adalah rakyat jelata, seperti para anak kapal (juragan dan kelasinya). Pemusatannya di daerah pelabuhan seperti Tuban, Jepara, serta Gresik, yang sejak ... Erlangga bertakhta (1019-1041 M) telah dibuka untuk hubungan dagang dengan negara manca.”[28]

Menurut Rouffaer, di pantai Tuban, banyak ditemukan kepingan uang emas dinar Arab bertarikh abad ke-9-10, yang menunjukkan bahwa lalu lintas niaga antara Jawa dan Timur Tengah sudah maju pesat.

Akan halnya kedudukan Gresik yang istimewa ini, ahli obat-obatan bangsa Portugis Tome Pires yang menyusuri pantai utara Jawa pada Maret-Juni 1513 sebagai superintendent[29] dan wakil dagang negaranya, mencatatnya dalam jurnalnya yang terkenal, Suma Oriental.[30]

"Mereka mulai berdagang di negeri itu dan bertambah kaya. Mereka berhasil membangun masjid dan mullah[31] didatangkan dari luar," catat Tome Pires, yang berangkat ke Malaka pada tahun 1511 dan sampai pada tahun 1512.[32]


(4) Berlayar Cari Besi Bahan Keris

MENGENAI KEMAMPUAN melaut orang Jawa, Babad Tanah Djawi versi J.J. Meinsma[33] menggambarkan betapa kapal layar Jawa telah mengarungi samudra sejauh-jauh sampai ke negeri Sofala di pantai Afrika Timur yang berhadapan dengan Madagaskar.

Dengan mengutip data yang ditulis oleh Al-Idrisi pada tahun 549 H/1154 M, B.J.O. Schrieke tak hanya menyebut adanya kapal dari Zabaj (Nusantara) yang secara reguler membawa besi dari Sofala, melainkan juga kehadiran orang Indonesia-Melayu dekat kawasan barat Lautan Hindia pada awal abad ke-12 M. Ia juga menyatakan, pada tahun 844 H/1346 M, ‘Abd al-Razzaq menemukan orang Nusantara di Hormuz.[34]

Moh. Hari Soewarno melihat kepergian jauh itu terkait dengan kemajuan bidang industri pembuatan alat pertanian seperti cangkul dan sabit serta alat persenjataan, yakni keris, yang bahan bakunya harus dicari sampai ke Afrika Timur. “Itulah sebabnya orang Jawa memberanikan diri ... berlayar ke Sophala dengan tujuan mencari bahan mentah besi yang ada di sana,” tulisnya.[35]

Bahkan, ahli keris B.K.R.T. Hertog Djojonegoro menyatakan bahwa yang dicari jauh-jauh itu bukan hanya besi melainkan juga batu meteorit (watu lintang, batu bintang) sebagai bahan pamor. Pamor yang baik ada 111, antara lain berasal dari Gunung Uhud di Arab Saudi, misalnya pamor subhanallahi, alif, dan ahadiyat yang sangat besar kewibawaannya, serta pamor rahmatullahi yang mendatangkan banyak rejeki.[36]

Pengambilan pamor dari Gunung Uhud, menurut Hertog, menunjukkan bahwa suku bangsa Jawa khususnya dan  bangsa Indonesia umumnya pada masa dahulu merupakan bangsa pelaut dan peniaga yang sudah mengunjungi Tanah Arab dan memiliki hubungan dagang dengan banyak negeri di Timur Tengah.

Diakui oleh bangsa asing melalui tulisannya bahwa dalam periode lama sebelum tarikh Masehi orang Indonesia merupakan bangsa pelaut/bahari dan peniaga yang ulung yang mencapai puncaknya pada zaman Sriwijaya, Syailendra, dan Majapahit, kemudian masih berlangsung pada masa Demak dan Mataram di bawah Sultan Agung.

Keahlian membuat keris hanyalah satu dari 10 ilmu asli yang dimiliki orang Jawa. Profesor J.L.A. Brandes dalam majalah Tijdschrift Batavias Genootschap (TBG) edisi 32 tahun 1889 menulis bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal: (1) wayang, (2) gamelan, (3) metrik (cara dan alat penimbang), (4) batik, (5) logam (dan cara mengolahnya), (6) sistem uang, (7) ilmu pelayaran (men kent betrekkelijk veel scheepvaartkunde), (8) astronomi (ilmu perbintangan), (9) penanaman padi basah, dan (10) sistem pemerintahan yang sangat teratur (een zeer geordende staat van bestuur).
(Gus Moen)


Catatan Kaki:

[0]        Istilah ini berarti perempuan yang menyiarkan agama Islam. Yang lelaki disebut mubaligh. Lihat Harimurti Kridalaksana dkk. (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kedua, Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, cetakan kedelapan, 1996, halaman 667.

[1]       Buku Panduan Pameran Budaya Islam di Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN, kini: Universitas Islam Negeri = UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, 11-17 September 1995, halaman 4.

[2]       Drs. H.M. Habib Moestopo, Mandala Pesantren Ampel Denta, Tin jauan Sejarah Keberadaan Sunan Ampel di Majapahit sekitar Abad XV Masehi, makalah Seminar Sunan Ampel dalam Perspektif Dakwah Klasik dan Kontemporer di Norbait Hall, Grand Kalimas Hotel, Surabaya, 13-14 Januari 1996, halaman 35, dengan mengutip J.P. Moquette, De Oudste Mohammedanste incriptie op Java, n.m. de grafteen van Leran, Handelingen 1ste Conggres taal, land en volkenkunde van Java, Weltevreden, 1919. Panitia sebenarnya minta makalah berjudul Potret Masyarakat Jawa/Nusantara Menjelang Kedatangan Sunan Ampel (Tinjauan Sosiologis, Kultural, Politik, dan Religius).

[3]       H.M. Habib Moestopo, op.cit., 1996, halaman 35, dengan mengutip P. Ravaise, L’Inscription Coufique du Leran a Java, TBG, LXV, 1925, halaman 668-703.

[4]       R. Atmodarminto, Babad Demak dalam Tafsir Sosial Politik Episode Keislaman dan Kebangsaan, Millenium Publisher, Jakarta, cetakan pertama, Juni 2000, halaman 39, yang naskah aslinya usai ditulis pada 1954 dalam bahasa Jawa modern saat itu, sebagai tafsir atas kitab kuna Babad Demak yang ditemukan di Yogyakarta, dan Solichin Salam, Sekitar Wali Sanga, Penerbit Menara Kudus, Kudus, cetakan kedua, 1963, halaman 7.

[5]       Moehamad Habib Mustopo, Kebudayaan Islam pada Masa Peralihan di Jawa Timur pada Abad XV-XVI --Kajian Beberapa Unsur Budaya, ringkasan disertasi, Universitas Indonesia, Depok, Rabu 30 Agustus 2000, halaman 14, dengan mengutip J.P. Moquette, op.cit., 1919, halaman 391-399.

[6]       M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip Djajadiningrat, 1927.

[7]       M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip P. Ravaise, op.cit., 1925, halaman 669-703.

[8]       Pameran ini diadakan oleh Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Kedutaan Besar Republik Arab Mesir di Jakarta.

[9]       M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip J.P. Moquette, op.cit., 1919, halaman 391-399. Kufi merupakan salah satu ragam terawal kaligrafi Arab zaman Islam. Kesulitannya ialah orang tidak dapat membacanya dengan cepat. Lihat Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam Ringkas (The Concise Encyclopaedia of Islam), PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Desember 1996, terjemahan Ghufron A. Mas'adi, 1996, halaman 205.

[10]     Solichin Salam, op.cit., halaman 7.

[11]     Solichin Salam, op.cit., halaman 8, wawancara.

[12]     Dr. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, cetakan pertama, September 1994, halaman 25, dengan mengutip S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia, Malaysia Sociological Institute, Singapura, 1963, halaman 31-32.

[13]     Drs. Yoseph Iskandar, d.k.k., Negara Gheng Islam Pakungwati Cirebon, Padepokan Sapta Rengga Ciapus, Banjaran, Bandung, cetakan pertama, Mei 2000, halaman 2.

[14]     Yoseph Iskandar, op.cit., halaman 123.

[15]     Nama ini juga disebut dalam Serat Jayabaya salinan induk dari Kraton Surakarta yang disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan kode Jav. Hs. KBG. 99, tetapi nama kitabnya bukan Asrar melainkan Musarar. Lihat Dra. Astuti Hendrato-Darmosugito (penerjemah), Serat Jayabaya, PT (Persero) Penerbitan dan Percetakan Balai Pustaka, Jakarta, cetakan pertama, 1999, halaman 1.

[16]     Moh. Hari Soewarno, Fatimah Tokoh Da’i Islam di Zaman Erlangga, dalam rubrik Kilas Balik Majalah Panggilan Adzan edisi Januari 1990/Jumadil Akhir 1410, halaman 46-51.

[17]     H.J. de Graaf dan Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa –Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, cetakan keempat, 2001, halaman 22-23.

[18]     M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip Raffles, 1817.

[19]     Prof.Dr. Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar –Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cetakan pertama, September 2004, halaman xxviii, 42-43, dan 83.

[20]     Epitaf = tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur di situ atau pernyataan singkat di monumen. Harimurti Kridalaksana dkk., op.cit., 1996, halaman 268.

[21]     N.A. Baloch, The Advent of Islam in Indonesia, sebagaimana dikutip oleh Prof. Drs. Ahmad Mansur Suryanegara, Sunan Ampel dan Perang Sabil, makalah Seminar Sunan Ampel dalam Perspektif Dakwah Klasik dan Kontemporer di Norbait Hall, Grand Kalimas Hotel, Surabaya, 13-14 Januari 1996, halaman 8.

[22]     Paleografi = ilmu tentang tulisan kuno. Harimurti Kridalaksana dkk., op.cit., 1996, halaman 718.

[23]     M. Habib Mustopo, op.cit., 2000, halaman 14, dengan mengutip L.C. Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pilihan Karangan L.C. Damais, EFEO-Pusat Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, halaman 173. EFEO = ?

[24]     Solichin Salam, op.cit., halaman 9, wawancara.

[25]     Moh. Hari Soewarno, op.cit., halaman 46-51.

[26]     R. Atmodarminto, op.cit, halaman 39-40.

[27]     Solichin Salam, op.cit., 1963, halaman 7.

[28]     R. Atmodarminto, op.cit., halaman 39.

[29]     Istilah superintendent ini berarti “orang yang mengelola, mengawasi, dan mengarahkan”. Lihat F.G. and H.W. Fowler/R.E. Allen, The Pocket Oxford Dictionary, Clarendon Press/Oxford University Press, New York, paperback edition, 1985, halaman 755.

[30]     Drs. Atja, Beberapa Catatan Bertalian dengan Mula-Jadi Cirebon, Majalah Kebudayaan Umum (MBU) Budaja Djaja, Jakarta, Nomor 60 Tahun Keenam Mei 1973, halaman 295-312. Atja mengutip Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires, an Account of the East, from the Red Sea to java, written in Malacca and India in 1512-1515 and The Book of Francisco Rodrigues, Route of a Voyage in the Red Sea, Nautical Rules, Almanac, and Maps, written and drawn in the East before 1515, translated from Portuguese by ... and edited by ..., 1944, vol. I-II.

[31]     Mullah dari kata Arab "mawla" yang di Iran dan Asia tengah merupakan gelar bagi ilmuwan agama atau ulama. Istilah ini hampir searti dengan istilah “faqih” yang berkembang di masyarakat Timur Tengah dan Afrika Utara. Lihat Cyril Glasse, op.cit., halaman 283.

[32]     Atja mengutip kalimat ini dari Hoesein Djajadiningrat, Kanttekeningen bij Het Javaanse Rijk Tjerbon in de eerste Euwen van zijn Bestaan, Bijdragen, D1 113, 4e Afl. 380, 1957, halaman 381, sedangkan Hoesein Djajadiningrat mengutipnya dari Armando Cortesao, op.cit., 1944, halaman 182-183.

[33]     J.J. Meinsma, Babad Tanah Djawi, in proza. Javaansche geschiedenis loopende tot het jaar 1647 der Javaansche jaartelling, s’Gravenhage, 1874. Cetakan kedua buku ini diterbitkan oleh KITLV pada tahun 1844-1899 terdiri atas dua jilid.

[34]     Azyumardi Azra, op.cit., September 1994, halaman 73, dengan mengutip B.J.O. Schrieke, The Indonesian Sociological Studies, van Hoeve, Den Haag, 1957, II, halaman 245.

[35]     Moh. Hari Soewarno, op.cit., halaman 50-51.

[36]     B.K.R.T. Hertog Djojonegoro, Keris sebagai Objek Penjelidikan Ilmu Kebudajaan, Majalah Al-Djami’ah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalidjaga, PT Al-Falah, Jogjakarta, No. 1 Djanuari 1966, Tahun Ke-V, halaman  30-50. Artikel ini merupakan bahan pidato/kuliah umum pada rapat senat terbuka IAIN Jogjakarta tahun kuliah 1964/1965.

Kamis, 22 Agustus 2013

Abdullah Umdatuddin dan Misteri Champa

Oleh:
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan 
·
Sayyid Abdullah Umdatuddin, pernahkah anda mendengar nama yang satu ini? Mungkin banyak dari kita ketika disebutkan nama yang satu ini sedikit bertanya-tanya siapakah beliau ini?.

Sayyid Abdullah Umdatudin memang banyak yang kurang mengetahui, namun jika anda tanya pada pengkaji dan pecinta sejarah walisongo  atau keluarga besar Azmatkhan yang ada di Nusantara atau Asia Tenggara terutama sejarah kesultanan-kesultanan seperti kesultanan  Kelantan, Malaka, Ternate, Banten, Demak, dan Cirebon, nama yang satu ini tidaklah asing. Kenapa tidak asing? Karena nama Sayyid Abdullah Umdatuddin ternyata merupakan leluhur utama dari Kesultanan kesultanan yang disebutkan tadi. Abdullah Umdatuddin sendiri adalah merupakan Sultan Champa yang berada dikawasan Asia Tenggara. Kesultanan Champa sendiri adalah Kesultanan yang sampai saat ini menjadi pro dan kontra dalam sejarahnya. Kesultanan Champa adalah Kesultanan yang dianggap Kontroversial, karena sampai saat ini daerah Champa (Vietnam Tengah) cukup sulit diketemukan  peninggalan peninggalan yang berbau Islam, Sehingga adanya kondisi ini sering membingungkan para sejarawan. Tidak  adanya peninggalan peninggalan yang berbau islam seperti Makam-makam wali, Manuskrip, lambang kerajaan dan peninggalan kebesaran Kesultanan champa akhirnya sering mengundang perdebatan dimana adanya Champa itu.  Melihat kondisi Champa yang mungkin “membingungkan” beberapa analis sejarah juga mengatakan bahwa sangatlah riskan jika Walisongo menjadikan Champa sebagai sentral Dakwah karena saat itu menurut analisis ini penguasa Champa adalah non muslim.

Nama Champa sendiri juga terdapat di India,  yang merupakan asal usul  keluarga besar walisongo. Logika yang mudah dirangkai, bisa saja dari Champa India ini leluhur walisongo kemudian hijrah ke Champa Vietnam dan kemudian mendirikan Kesultanan Champa.  Namun walaupun demikian daerah yang berdekatan dengan Champa seperti Patani (Thailand) dan Malaka, Keislamannya sampai kini masih kuat. Jadi sangat boleh jadi jika Champa yang “terakhir” ini memang berada  Di Vietnam, hingga akhirnya kemudian hilang dan lenyap.

Adanya fakta negara-negara yang berbataskan dengan Champa islamnya kuat, membuktikan jika Champa memiliki hubungan yang kuat dengan  kesultanan kesultanan yang disebut tadi dan diindikasikan jaraknya memang tidak jauh dari Patani, Kelantan dan Malaka.  Kuat Dugaan Champa memang pernah menjadi Kesultanan Islam Melayu yang posisinya tidak jauh dari  wilayah kesultanan kesultanan tersebut, namun kemudian dihabisi sampai titik yang paling terendah,  sehingga peninggalan sejarahnya oleh penguasa dari kaum non muslim betul betul dilenyapkan, hingga akhirnya  dikemudian hari kaum muslim  dan ulama champa hijrah secara besar-besaran menuju Patani, Malaka dan Nusantara, sehingga tidak heran nama-nama berbau Champa banyak kita temukan didaerah yang disebut ini.  Minimnya  peninggalan Islam di Champa sangat wajar terjadi mengingat sikap penguasa daerah ini  yang memang tidak senang dengan Islam, dan kini terbukti dengan akan dihabisinya etnis rohingya  sekarang. Kalaupun kini ada etnis Champa yang muslim yang berada Vietnam, keberadaannya mungkin hanya 1 % saja.

Menurut Ahmad Jaelani Halimi dalam bukunya yang berjudul Sejarah & Tamadun Bangsa Melayu Yang diterbitkan tahun 2008 oleh Utusan Publication Kuala Lumpur pada halaman 211 Islam itu sudah masuk Ke Champa sejak abad 10 Masehi, bahkan kota Champa pada masa itu sudah menjadi kota dagang dan ramai dihuni oleh orang Islam, bahkan Halimi yang mengutif pernyataan dari Al Dimasyqi menyatakan bahwa Islam sudah sampai di Champa sejak masa khalifah Usman bin affan dan puncaknya adalah pada masa Bani Umayyah. Untuk membuktikan pendapat ini Halimi bahkan mengatakan pada halaman 213 dibukunya bahwa telah diketemukan keramik keramik dari negara Islam yang terdapat di Pulau Cham (Cu Lao Cham) yang terletak lebih kurang 10 km diluar pantai Hoi An dan juga Tra Kieu bekas ibukota Champa yang dahulunya dikenali sebagai Sinhapura, sungguhpun demikian sikap fanatik sebagian penduduk Champa terhadap agama Budha Mahayana masih terus terjaga dan dianut hingga kini. Walaupun demikian adanya orang Islam di champa tetaplah diakui bahkan keberadaan mereka telah masuk pada kalangan istana bahkan akhirnya berkuasa menjadi Sultan seperti Abdullah Umdatuddin ini. Namun Pada tahun 1471 Masehi Champa diserang oleh Dinasti Dai Viet sehingga runtuhlah champa ini. Dengan jatuhnya Champa maka banyaklah orang islam saat itu melarikan diri ke Malaka, Patani, Kelantan dan Nusantara. Kebanyakan pelarian Champa menetap disekitar kampung Thom dan Kampung cham di Vietnam dimana disitu juga terdapat orang melayu.

Berbicara masalah Kesultanan Champa, nama Abdullah Umdatuddin sangatlah terkenal sebagai Sultan dari Champa.  Ayah beliau yang bernama Ali Nurul Alam juga tidak kalah terkenalnya . Ali Nurul Alam ini bahkan merupakan Anggota Walisongo Angkatan Pertama dengan Gelar Maulana Malik Israel atau Sultan Qonbul atau Arya Gajah Mada.  Ditangan Abdullah Umdatuddin Champa menjadi besar sedangkan Patani dan Kelantan ditangan Ali Nurul Alam juga tidak kalah hebatnya, Ali Nurul Alam juga merupakan Perdaa Menteri Majapahit didaerah Nusantara Kawasan  Melayu sehingga tidak heran Ali Nurul dianugrahi gelar oleh Majapahit dengan Arya Gajah Mada, yang merupakan gelar yang cukup bergengsi dalam kerajaan majapahit. Dalam buku Ahlul Bait, Keluarga Rasulullah SAW dan Kesultanan Melayu, yang disusun Oleh (Tun) Suzana, (Tun) Otman dan H Muzaffar Dato’ Muhammad, Penerbit Crescent News, Selangor Darul Ihsan,Malaysia, Tahun 2006, halaman 170 dikatakan bahwa Abdullah Umdatuddin adalah pendiri kesultanan champa dari jalur ahlul bait, namun menurut mereka ini Champa hanya bertahan empat generasi saja, yaitu hanya sampai periode DATUK LONG BAHA, yaitu NIK IBRAHIM (Po Nrop). Pada masa pemerintahan terakhir champa ini, Kesultanan Champa yang islam runtuh, dan para bangsawan dan sebagian rakyatnya mengungsi ke Patani, Malaka dan kelantan. Karena antara Champa dan Patani, Kelantan, Malaka dan Juga Nusantara  memiliki hubungan kekerabatan yang baik, maka tidak heran ribuan bangsawan dan pelarian champa diterima oleh kesultanan-kesultanan ini, begitu juga kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.

Ali Nurul Alam atau Maulana Malik Israil dan Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah atau Sultan Mesir atau Maulana Israil memang sangat menarik untuk diikaji sejarahnya, terutama nama dan wilayah kekuasaan mereka. Kenapa nama dan wilayah mereka sangat menarik untuk dikaji, terutama Abdullah Umdatuddin ini? Karena ternyata dari data sejarah yang umum tersebar, terutama dan sejarah Banten dan Cirebon, Abdullah Umdatuddin ini sering disebut sebagai SULTAN MESIR ketimbang sebagai Abdullah Umdatuddin.

Dalam sejarah Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten dimana Syarif Hidayatullah dan Sultan Hasanuddin sebagai penguasanya, Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah yang merupakan ayah Syarif Hidayatullah ini disebut dengan tegas sebagai SULTAN MESIR. Abdullah Umdatuddin sendiri kelak mempunyai anak-anak yang banyak menjadi Sultan besar dibeberapa Kesultanan Di Nusantara, seperti Sultan Ahmad Waliyullah/Abu Muzafar yang menurunkan Kesultanan Patani, Kelantan, dan Malaka. Di Kesultanan kelantan nama Abdullah Umdatuddin dikenal sebagai Wan Bon Teri teri. Anak-anak Abdullah Umdatuddin yang lain  seperti Sultan Babullah  juga telah menurunkan Kesultanan Ternate, selanjutnya Syarif Nurullah menjadi Raja Champa sedangkan kakaknya Syarif Hidayatullah juga menurunkan Kesultanan Cirebon, kemudian Raden Fattah yang menurunkan kesultanan Demak. Nama-nama yang disebut ini adalah anak-anak Abdullah Umdatuddin, kecuali 4 nama yang disebut, nama Raden Fattah jarang disebut karena adanya manipulasi data yang dilakukan oleh para orientalis dan penjajah kolonial, sehingga nama Raden Fattah jarang disebut, Namun berdasarkan catatan Nasab pada Keluarga Besar Walisongo yang terhimpun dalam Kitab Nasab Ensiklopedia Nasab Al Husaini Seluruh Dunia, Oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Penerbit Madawis, Tahun 2011, Nasab keluarga besar Raden Fattah bahkan tercatat dengan rapi dan detail.

Adanya nama Abdullah Umdatuddin menjadi SULTAN MESIR memang mahsyur dalam sejarah Cirebon dan Banten. Menyebut nama beliau berarti akan selalu dikaitkan dengan Negara Mesir.  Abdullah Umdatuddin ini jarang diketahui  masyarakat Banten dan Cirebon, justru nama yang mahsyur dalam sejarah Banten dan Cirebon adalah SULTAN MESIR atau MAULANA HUD/MAULANA ISRAIL atau SULTAN MAHMUD. Dalam sejarah kedua kesultanan ini banyak saya temukan cerita cerita yang mengaitkan antara Mesir dan Cirebon, Banten seperti  yang ditulis Oleh Tubagus Rafiudin S, Ag, dalam bukunya yang ditulis dengan gaya Ilmiah yang berjudul Riwayat Kesultanan Banten pada halaman 14, Yang Diterbitkan Oleh Keluarga Besar  Makbaroh Kesultanan Maualana Yusuf, Banten, 2006, yang mengatakan bahwa leluhurnya Sunan Gunung Jati berasal dari mesir dan bernama Syarif Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Husein Jamaludin dan menguasai Bani Israel. Begitu pula dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon oleh P.S Sulendraningrat.

Syarif Abdullah sendiri  dalam sejarah Cirebon dan Banten sering disebut sebagai Sultan Hud Raja Bani Israil yang terhitung keturunan Nabi Muhamad Saw. Agus Sunyoto dalam bukunya  yang berjudul Walisongo Rekonstruksi Sejarah Yang Disingkirkan pada halaman  155 – 156 bahkan mencantumkan secara detail tentang Syarif Abdullah ayah Sunan Gunung Jati ini, Agus banyak mengambil data itu dari beberapa  sumber seperti Serat Purwaka,  Naskah Martasinga, Carita Purwacaraka yang kadang dalam penulisan nama nama  nasab para alawiyyin leluhur Sunan Gunung Jati ini sangat “aneh” dan Janggal, seperti nama-nama Jumadhil Kabir (maksudnya mungkin Syekh Jumadhil Kubro), Jumadhil Kabir ini binnya adalah Zainal Kabir bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, nampak jelas keanehan penyusunan dan nama dari nasab ini, sudah banyak generasi yang hilang, namanyapun banyak yang terlihat aneh, sayangnya agus sunyoto tidak jeli dengan keanehan pada susunan dan penulisan pada nasab ini. Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum dalam Desertasi Doktor Filologi Di Pasca sarjana Universitas Pajajaran tahun 2001 yang kemudian menjelma menjadi buku yang berjudul SUNAN GUNUNG JATI, Petuah, Pengaruh dan jejak jejak Sang Wali di Tanah Jawa, Penerbi Salima, tahun 2012 pada halaman 65 s/d 100 dimana pada halaman-halaman tersebut bahkan dengan “nekat” menampilkan semua versi Silsilah Sunan Gunung Jati dan juga ayahnya Syarif Abdullah, terlihat memang rasa ketidak PD sang Profesor ketika mau memutuskan mana nasab atau silsilah yang benar asli. Wajar saja jika Pak Profesor bingung, karena diantara sekian Silsilah itu banyak tercampur dengan tokoh tokoh wayang dan tokoh tokoh legenda, namun sebenarnya sih kalau Pak Profesor jeli, itu ada satu versi yang validitasnya bisa dipercaya yaitu KH ABDULLAH BIN NUH yang merupakan Ulama Besar Indonesia dan memilki pengetahuan sejarah islam yang jenius disamping juga Hamka, Pada bukunya ini bapak Profesor kita bahkan memberikan “porsi” Cerita tentang Syarif Abdullah pada beberapa halaman untuk sekedar direview. Betapapun demikian karena ini adalah Kajian Filologi yang biasanya mengambil naskah naskah kuno, sikap Pak Profesor menurut saya bisa difahamilah, namun untuk urusan Ilmu Nasab, memang ada baiknya Pak Profesor seharusnya banyak berdiskusi dengan ulama ahli nasab. Namun demikian Pak Profesor dalam menyikapi berbagai silsilah yang satu sama lain berbeda dan boleh jadi  mungkin membuat beliau sedikit bingung, akhirnya Sang Profesor  pada halaman 100 dibukunya itu beliau mengatakan hal ini dengan kalimat yang bijak, “Munculnya Silsilah ini merupakan Ciri Khas dari Cerita Legenda yang menghubungkan keturunan seseorang  dengan tokoh tokoh tertentu yang mempunyai tujuan tertentu pula, baik sebagai usaha untuk mensucikan tokoh itu maupun untuk melegitimasi keberadaanya  sesuai dengan kedudukannya”.

Hal ini justru terasa kontradiktif dengan pandangan Syed Muhamad Naquib al-Attas (2011) yang justru juga dikutif oleh Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo yang mengatakan bahwa Silsilah Raja-Raja Cirebon  merupakan keturunan Syarif Hidayatullah dan berasal dari jalur Sayyid Husein Jamaludin sampai terus ke Muhammad Shabib Marbath. Catatan silsilah ini menurud Alatas berdasarkan hasil riset atau penelitian Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan pada tahun 1933 M melalui arsip keraton kesepuhan  Cirebon yang pada saat itu yang  Sultannya adalah Sultan Kasepuhan Muhamad Shamsuddin. Sayyid Salim  Jindan  yang merupakan Ahli Hadist dari Jakarta ternyata telah melakukan penelitian yang mendalam tentang nasab Syarif Hidayatullah ini, namun jangan lupa Sayyid Bahruddin Azmatkhan yang merupakan Ulama Ahli Nasabnya Walisongo dan merupakan kakek Syekh Mufti Kesultanan Palembang jauh lebih awal sudah memiliki catatan lengkap asal usul nasab Syarif Hidayatullah dan ayahnya. Catatan Nasab Sayyid Bahruddin Azmatkhan dan Cucunya Sayyid Shohibul Faroji bahkan lebih lengkap dan mendetail.

Adapun Catatan silsilah milik Keraton Kesepuhan yang telah diteliti Sayyid Salim Jindan ini juga telah dibandingkan dengan manuskrip milik Kyai Muhammad Salih Cirebon, Kyai Abbas Ciliduk, Cirebon,  Pangeran Ahmad Kubang Cirebon, Raden Zainal Ashiqin Cirebon dan Kyai Abdul Halim Maja lingga Cirebon yang semua menyatakan jika Syarif HIdayatullah atau Sunan Gunung Jati Nasabnya berasal dari jalur hadramaut bukan mesir, dan berasal dari tokoh keturunan Nabi Muhammad SAW, yang bernama Muhammad Shahib Marbath. Catatan silsilah Cirebon ini juga sesuai dengan catatan yang ada dalam buku Thariqah Menuju Kebahagiaan, Pengantar  Tentang Kaum Alawiyyin oleh Muhammad Al Baqir, Penerbit Mizan, tahun 1989 tepatnya pada halaman 43 s/d 45 dimana dalam halaman tersebut tertulis jika Abdullah Umdatuddin atau Abdullah Azmatkhan yang wafat Di Kampuhea (nama Sebelum Vietnam memiliki beberapa orang putra salah satunya adalah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Keterangan Al Baqir diperkuat pada halaman 45 dengan menampilkan diagram nasab yang dia ambil dari Kitab Khidmatul Asyiroh oleh Abdullah Assegaf, dimana kItab ini juga mengambil dari Kitabnya Ilhafun Nadhoir karya Al Habib Zain bin Abdullah Al Kaff. Yang perlu kita ketahui bahwa Al Habib Zain bin Abdullah Al Kaff yang kitabnya bernama Ilhafun Nadhoir itu  ternyata beliau mengambil sumber nasab ini dari kitabnya Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh yang berjudul Arsyul Muluk. Sayyid Bahruddin Azmatkhan adalah ulama ahli nasabnya Walisongo, dan merupakan kakek dari Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam.

Keterangan tentang Abdullah Umdatuddin juga bisa kita dapatkan melalui buku yang berjudul Penyebaran Islam Di Asia Tenggara, Asyraf Hadramaut dan Peranannya yang Disusun oleh Dr. Muhammad Hasan Al-Idrus yang merupakan Pengajar Sejarah Di Universitas Uni Emirat Arab. Pada bukunya yang diterbitkan oleh Lentera jakarta Tahun 1996 Halaman 74, dikatakan Bahwa Abdullah Umdatuddin tinggal di Indochina dan mempunyai anak salah satunya adalah Sunan Gunung Jati.

Namun demikian ternyata nama  SULTAN MESIR harus diakui memang lebih familier dibandingkan nama Abdullah Umdatuddin. Warga Cirebon, Banten dan juga  keturunan Syarif Hidayatullah tentu sangat bangga karena tokoh mereka ada tautan dengan Negara yang cukup terkenal dalam sejarah Islam. Tidak heran dalam setiap penulisan biografi Sunan Gunung jati nama SULTAN MESIR banyak diangkat, disertai alasan-alasan kenapa bisa berhubungan dengan kesultanan Cirebon, pernyataannya sekarang? Benarkah Abdullah Umdatuddin adalah Sultan Mesir? Benarkah beliau masuk bagian jajaran sultan dalam pemerintahan Negara mesir pada masa itu ? , Benarkah salah satu ibu tirinya berasal dari Mesir dan menikah dengan Abdullah Umdatuddin yang dikatakan Sultan Mesir itu???. Sengaja saya angkat pertanyaan ini, karena Abdullah Umdatuddin ini tidak hanya milik keluarga besar Cirebon dan banten, namun Abdullah Umdatuddin ini juga milik kesultanan kesultanan yang lain, sehingga sejarahnyapun harus diketahui oleh yang lain. Abdullah Umdatuddin adalah leluhur bersama, sehingga saya fikir tidak salah jika kita mencoba mengkaji kembali sejarah beliau ini.

Dalam catatan nasab Keluarga Besar Walisongo yang terhimpun dalam KITAB NASAB ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA, OLEH SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN AL HAFIZH DAN SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN AL HAFIZH, PENERBIT MADAWIS, 2011, Abdullah Umdatuddin ini sering disebut sebagai Sultan Champa dan bernasabkan kepada keluarga besar Azmatkhan, adapun nasabnya adalah berikut  :
1. Muhammad Rasulullah SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein As-Shibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir
6.  Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Ar-Rumi
10.Ahmad Al-Muhajir
11.Ubaidhillah
12. Alwi Al Awal
13. Muhammad Shohibus Souma’ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi’ Qosam
16. Muhammad Shohib Marbath
17. Alwi Ammul faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah Amir Khan
20. Sultan Ahmad Syah Jalaludin
21. Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
22. Ali Nurul Alam/Sultan Qonbul/Maulana Malik Israil/Arya Gajah Mada
23. Abdullah Umdatuddin/Wan Bo Teri Ter/Sultan Champa

 Berdasarkan  KITAB NASAB ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA ini juga bahwa istri istri Abdullah Umdatuddin ternyata tidak ada satupun yang berasal dari pembesar/sultan Mesir, Diantara istri istri beliau yang tersebut dalam kitab nasab ini adalah :

1.Isteri Pertama adalah: Syarifah Zainab binti Sayyid Yusuf Asy-Syandani Azmatkhan (Pattani Thailand) melahirkan 2 anak laki-laki: yaitu: a. Sayyid Abul Muzhaffar, melahirkan para sultan Pattani, Kelantan lama dan Malaysia. b. Sayyid Babullah, melahirkan Sultan-sultan Ternate.

2.Isteri kedua adalah Nyai Rara Santang/Syarifah Mudaim binti Prabu Siliwangi Raja Pajajaran, melahirkan 2 anak, yaitu:
a. Sultan Nurullah (Raja Champa) b. Syarif Hidayatullah (Raja Cirebon) bergelar Sunan Gunung Jati.

3. Istri ketiga adalah Syarifah Zaenab Binti Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi yang juga merupakan ayah Sayyid Fadhol Ali Murtadho, Sunan Ampel dan Maulana Ishak, Artinya Syarifah Zaenab adalah adik dari Sunan Ampel dari tokoh tokoh wali yang disebutkan tadi. Dari Syarifah Zaenab melahirkan 1 anak yaitu: Raden Fatah yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Gelar Akbar dinisbatkan pada gelar ayahnya yaitu Sultan Abu Abdullah (Wan Bo atau Raja Champa) bin Ali Nurul Alam/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Gajah Mada/ bin  Jamaluddin Al-Husain.

Catatan Nasab ini juga diperkuat oleh penelitian Ahli Nasab yang sezaman dengan Sayyid Bahrudin yaitu Sayyid Hadi bin Abdullah Al Haddar. Pendapat ini juga semakin kuat dengan pendapat dari Syeikh Faqih Bin Abdullah Fathani dengan Versi Salinan oleh Syeikh Daud bin Abdullah Fathani  dalam buku TARIKH FATANI yang Diterbitkan oleh Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniah Kuala Lumpur Tahun 1998 M, pada halaman  34 – 35 bahwa Abdullah Umdatuddin yang berasal dari Champa mempunyai hubungan  sejak lama dengan wilayah Nusantara lain, bahkan Syekh Daud memastikan jika Patani Thailand dengan Patani di Ternate Halmahera (Maluku), tepatnya didaerah Tidore, Timur Laut Semenanjung Halmahera berbatasan dengan Maba dan Weda saling itu berkerabat, karena raja mereka adalah Sultan Babullah bin Abdullah Umdatuddin. Keterangan diatas ini jelas makin menguatkan jika Abdullah Umdatuddin secara geografis dan domisilinya  berada Champa bukan Mesir.

Nama Abdullah Umdatuddin Sendiri ini sering disebut sebagai Sultan Champa pada sejarah Kelantan, Patani dan Malaka seperti yang saya tulis terlebih dahulu, lantas darimana muncul nama Sultan Mesir seperti yang beredar pada sejarah Banten dan Cirebon?. Sebelum kita masuk pada analisa nama ini perlu kita tahu, siapa saja sebenarnya penguasa mesir pada era yang sezaman dengan Abdullah Umdatuddin. Dalam BUKU SEJARAH ISLAM SEJAK ZAMAN NABI ADAM HINGGA ABAD XX, OLEH AHMAD AL-USAIRY, PENERBIT AKARMEDIA, JAKARTA, TAHUN 2009 MASEHI HAL 303 -307, Saya mendapati fakta yang mengejutkan bahwa ternyata nama Abdullah Umdatuddin sama sekali tidak terdapat dalam susunan sejarah mesir sebagai sultan. Pada masa berkuasanya Abdullah Umdatuddin, ternyata penguasa mesir pada masa itu adalah berasal dari Bani Mamluk yang berasal orang orang yang merdeka yang kemudian dijadikan budak. Bani Mamluk ini asalnya adalah orang orang yang merdeka, kemudian mereka dibeli saat masih kecil pada masa pemerintahan Ayyubiyah. Mereka ini ditempatkan secara terisolir dari kebanyakan manusia disebuah benteng khusus. Mereka juga dididik secara militer sehingga mempunyai sifat berani dan pantang menyerah dan ini kelak akan berpengaruh pada perlawanan mereka terhadap mongol yang akan mencaplok mesir, kalau saja saat itu mereka tidak berhasil menghalau pasukan mongol.  Maka mungkin mesir tidak menjadi kota peradaban seperti sekarang ini. DIbawah Komando Saifudin Quttus di Lapangan Ain Jalut, secara gemilang   bani mamluk berhasil mengalahkan mongol, padahal saat itu mongol sedang ganas ganasnya dan nyaris beberapa Negara Negara islam tidak berdaya menghadapi invansi pasukan mongol. Orang orang dari Bani Mamluk ini kebanyakan berasal dari Asia tengah dan Asia kecil seperti Turkistan, Kaukasus (sekarang sebagian masuk wilayah Rusia). Dan memang orang orang dari daerah ini apalagi kaukasus terkenal tanggguh dalam berperang dalam segala medan, lihat Pasukan Merah Rusia dan Pejuang Checnya yang sampai saat ini terkenal tangguh dalam bertempur.

Untuk lebih jelasnya lihat susunan Sultan Mesir Era Dinasti Mamluk terutama bersamaan dengan Eranya Abdullah Umdatuddin dibawah ini.

SULTAN SULTAN DINASTI MAMLUK  TAHUN 1389 -1517 MASEHI

Azh-Zahir Barquq - 1389 Masehi – wafat
An-Nashir Farj Barquq – 1398 Masehi –Dicopot dari jabatan
Al-Manshur Abdul Aziz bin Barquq –  tiga bulan berkuasa –Dicopot dari jabatan
An-Nashir Farj – 1405 Masehi – dibunuh
Al-Muayyid Syaikh 1412 Masehi –wafat
Al-Muzhaffar Ahmad ibnul-Muayid –beberapa bulan berkuasa – Dicopot dari jabatan
Az-zahir Thutfar – beberapa bulan berkuasa  – wafat
As-Shalih Muhammad bin Thutfar –beberapa bulan berkuasa – Dicopot dari jabatan
Al-Asyraf Barsibal – 1421  Masehi – wafat
Al Aziz Yusuf bin Barsibal – beberapa bulan berkuasa –wafat
Azzahir Jaqmaq – 1438 Masehi – wafat
Al-Manshur Usman bin Jaqmaq – beberapa bulan berkuasa – dicopot dari jabatan
Al-Asyraf Inal – 1453 Masehi – wafat
Al Muayyid Ahmad bin Inal – beberapa bulan berkuasa – dicopot dari jabatan
Azzahir Khasqodam – 1460 Masehi –wafat
Az-Zahir Balba – Dua bulan berkuasa -  dicopot dari jabatan
Azzahir Tamrigha Dua Bulan Berkuasa – Dicopot dari jabatan
Khairbeik – Satu Malam berkuasa – Dicopot dari jabatan
Al-Asyraf Qaytabai – 1467 Masehi – wafat
An-Nashir Muhammad bin Qaytabi – 1495 Masehi – Dicopot dari Jabatan
Qanshuh – 1496 Masehi – Dibunuh
An-Nashir Muhammad – 1497 Masehi – Dibunuh
Azzahir Qanshuh – 1498 Masehi – Dicopot
Janbalath – 1499 Masehi – Dibunuh
Al Adil Thumanbai I – beberapa bulan berkuasa – Dibunuh
Al-Asyraf Qanshuh Al Ghawi – 1500 Masehi - Dibunuh
Thumanbai II 1516 – 1517 Masehi – dibunuh

Pemimpin 27 raja ini yang paling menonjol adalah Al-Asyraf Barsabai, Al Asyraf Qaitabaai, dan Al-asyraf qanshuh Al-Ghawri.  Dalam pemaparan ini ini sudah jelas nama Abdullah Umdatuddin tidak ada dalam urutan penguasa mesir saat itu. Nama-nama yang ada disini juga banyak yang bukan merupakan nama-nama yang umum seperti yang dipakai pada keluarga besar Azmatkhan.  Secara nasab Dinasti Mamluk nasabnya dipertanyakan, banyak sisi gelap dari nasab mereka, karena mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda dan sangat minim identitas, sedangkan keluarga besar walisongo atau azmatkhan terjaga dengan baik. Abdullah Umdatuddin dan Dinasti kesultanan azmatkhan  ketika didirikan tidak dengan kekerasan, sedangkan Dinasti Mamluk berdiri ada nuansa kekerasan, dan ini wajar karena Bani Mamluk berasal wilayah yang terisolir dibasis militer sehingga membuat mereka superior. Sebagai orang orang yang dianggap budak menyebabkan sensitifitas mereka tinggi apalagi ketika mereka berkuasa sebagai sultan. Tidak heran pasukan mongol yang terkenal kejam saja berhasil mereka kalahkan dengan kemampuan militer mereka.

Tentang SULTAN MESIR yang dikatakan berkedudukan di Kota Ismailiyah (berada di Timur Laut Cairo Mesir), sebuah kota yang berdekatan dengan Negara Israel dan Palestina, ternyata berdasarkan Laporan Kunjungan Perjalanan ke Canal Suez Ismailiyah Unversity  Cairo oleh Tim dari Prof. Dr. A. Syaiful Anam, M.Ag yang merupakan Guru Besar IAIN SUNAN AMPEL JAWA TIMUR pada Tanggal 1 Juli 2010, bahwa KOTA ISMAILIYAH ternyata didirikan baru pada  tahun 1863 Masehi, jauh sekali dari masa Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah ini. Penduduk  Ismailiyah sendiri saat ini hanya sekitar 750.000 jiwa saja. Letak kota ini di tepi Barat Terusan Suez. Kota ini didirikan pada tahun 1863 oleh Khedive Ismail sebagai penguasa mesir saat itu, saat Terusan Suez dalam proses pembangunan, dan atas jasa beliau sehingga kota ini dinamakan Ismailiyah. Kota ini memang tenang mirip dengan kota kota yang ada Di Jawa Timur namun yang kearah Bali.

Dengan adanya fakta ini, apakah mungkin kota yang dibangun pada tahun 1863 Masehi tapi telah  disebut sebagai kota pusat pemerintahan Syarif Abdullah yang berkedudukan di Mesir. Nama Ismailiyah ini setelah saya cari-cari dari beberapa sumber ternyata cukup sulit juga jika diketemukan perannya pada abad 14 s/d 15. Berdasarkan buku yang saya miliki yang berjudul Ensiklopedi Sejarah Islam Dari Masa Kenabian Sampai Daulah Mamluk, Oleh Tim Riset Dan Studi Islam Mesir yang dikepalai oleh DR. Raghib As-Sirjani, Penerbit Al Kautsar, Tahun 2013,  tidak ada satupun nama kota Ismailiyah disebut sebagai pusat pemerintahan, yang paling sering disebut adalah Kota Cairo dengan Al Azharnya, dan memang pusat pemerintahan Dinasti Mamluk saat itu berada dikota Cairo dekat Universitas Al Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah. Buku ini merupakan buku terlengkap dalam sejarah mesir dan ditulis secara ilmiah dan obyektif dan bersumber dari penelitian kitab kitab tarikh klasik pada masa itu, jadi keterangan sejarah pada masa itu pasti tertulis dan terjaga. Mesir memang saat itu terkenal sebagai kota peradaban dan kota ilmu pengetahuan, jadi rasanya cukup aneh juga jika nama nama Ismailiyah tidak disebut begitu juga nama Syarif Abdullah apalagi jika dhubungkan dengan kekuasaan. Berdasarkan nama saja, nama Abdullah atau Syarif Abdullah tidak dipakai oleh para penguasa Mamluk. Tidak ada nama-nama pada penguasa Mamluk itu yang mencerminkan sebagai Ahlul bait yang nama namanya tidak jauh dari nama keluarga Nabi Muhammad SAW. Secara nama sudah tidak sesuai begitu juga jabatan atau gelar, tidak ada satupun mereka yang memakai Gelar Sayyid atau Syarif sebagai identitas keturunan Ahlul Bait, dan memang pada dasarnya Dinasti Mamluk bukan Dinasti Ahlul Bait apalagi mereka adalah mereka berasal dari nasab yang belum jelas keberadaanya. Kalaupun Syarif Abdullah tetap dianggap sebagai orang yang berkuasa di Mesir, barangkali itu bukan sebagai sultan, karena sesuai dengan urutan penguasa sultan, tidak ada satupun nama Syarif Abdullah ini. Sepertinya  pengertian yang bisa masuk logika sejarah mungkin kata kata Sultan Mesir itu bisa diganti dengan kata “penguasa” atau mungkin walikota. Dan sepertinya ini mungkin lebih masuk akal seperti yang diungkapkan oleh Yosef Iskandar dengan Bukunya Sejarah Jawa Barat, Penerbit  Ceger Sunten Bandung, Tahun 1997, pada halaman 258 bahwa Syarif Abdullah itu merupakan walikota atau penguasa pada sebuah provinsi di Mesir. Syarif Abdullah atau abdullah Umdatuddin ini berkuasa ditanah Palestina tempat tinggalnya sebagian Bani Israil atau Yahudi. Ia menjadi Walikota pada masa Kekuasaan Bani Mamluk yang didirikan Dinasti Ayyubiyah. Kenapa bisa menjadi penguasa disana??? Ya tidak aneh, bukankah jaringan dan kerjasama ulama Azmatkhan itu meliputi seluruh dunia??? Jadi tidak aneh bila keluarga besar Azmatkhan ada dimana mana dan bisa jadi penguasa dan itu terbukti terjadi di Nusantara ini, dimana banyak keturunan azmatkhan menjadi Sultan atau penguasa dari beberapa Kerajaan Nusantara, baik itu Hindu, Budha atau Islam. Bukanlah merupakan sebuah hal yang mengagetkan jika suatu saat Abdullah Umdatuddin menjadi penguasa/walikota ditanah Mesir atau Palestina, karena di Palestina sendiri saat itu ada juga keluarga Azmatkhan yang lahir dan besar disana seperti keluarga besar Sunan Kudus. Mesir dan Palestina saat itu bukan seperti sekarang, yang sudah terkotak-kotak dan nyaris dikuasai Yahudi. Pada masa itu Yerusalam dengan Baitul Maqdisnya berada pada kekuasaan negara Mesir, tidak seperti sekaran, dimana Mesir dan Palestina sudah menjadi negara yang berdiri sendiri sendiri.

Pada masa lalu Mesir dan Yahudi menjadi pusat perhatian dunia. Pada masa itu para kaum Yahudi tidaklah seperti sekarang, karena mereka banyak menyebar keberbagai Negara, setelah Umar bin Khottob menyuruh mereka keluar dari Bumi Palestina karena sepak terjang mereka yang sering membuat kerusakan dalam kehidupan. Tidak heran Yahudi jadi dendam, sehingga walaupun sebagian besar mereka telah keluar dari negeri Palestina namun, keberadaan mereka tetap masih ada disekitar Negara Negara yang berdekatan dengan Yahudi yang salah satunya adalah Mesir. Banyak saat itu orang dari berbagai Negara datang ke negeri ini untuk belajar dan juga berjihad dalam mempertahankan Negara ini dari invansi militer mongol dan pasukan dari kerajaan yang ada di eropa, sedangkan Palestina saat itu menjadi pusat ziarah kaum Kristen, yahudi, islam dari berbagai seluruh dunia. Adanya penziarah tiga agama yang datang dari berbagai penjuru dunia, sebagai bukti siapapun bisa menetap dinegeri ini. Apalagi pasca perjanjian gencatan senjata dalam rangka perang salib, kota ini semakin ramai dan padat akan pengunjung Kristen yang datang dari berbagai Negara eropa, selama 5 tahun gencatan senjata berlangsung baik antara Fihak Salahudin Al Ayyubi dengan Ricahrd The Lion Heart dari kerajaan Inggris. Posisi Mesir dan Palestina memang posisi yang sangat strategis karena disitu ada peradaban dan pusat 3 agama dunia, jadi tidak heran negeri ini selalu ramai dikunjungi termasuk keluarga besar walisongo. Disamping itu pula jangan lupa bahwa ayah Abdullah Umdatuddin yaitu Ali Nurul Alam juga tidak kalah besar pengaruhnya diberbagai Negara. Buktinya nama-nama gelar yang beliau sandang itu, seperti misalnya Maulana Malik Israil atau Arya Gajah Mada, atau Sultan Qonbul, ini menunjukkan jika Ali Nurul Alam adalah diplomat ulung untuk berbagai Negara, dan punya pengaruh yang besar pada beberapa Negara termasuk Kesultanan Otoman Turki. Berdirinya Majelis Dakwah Walisongo boleh jadi karena hubungan baik keluarga besar azmatkhan termasuk Ali Nurul Alam dengan Sultan Muhammad 1 Turki Ottoman. Ali Nurul Alam memang saat itu merupakan Perdana Menteri Kelantan yang mana dalam hubungan diplomasi keluar negeri ia yang paling berperan.

Yosep menambahkan bahwa Syarif Abdullah ini kemudian menikah dengan rara santang yang ketika melakukan itu sedang ibadah haji bersama kakaknya Walang Sungsang. Pertemuan antatra rara santang dan Syarif Abdullah saya fikir tidak ada yang aneh, kenapa tidak aneh? Lho bukankah ibu rara santang yaitu  Nyi Subang Larang bin Ki Gedeng Tapa adalah murid kesayangan dari Syekh Quro atau Maulana Hasanuddin bin Syekh Yusuf Sidiq yang ternyata Syekh Yusuf Sidiq ini adalah adik Ali Nurul Alam yang merupakan ayah Abdullah Umdatuddin!.  Jadi Abdullah Umdatuddin ini  sebenarnya menikahi murid dari sepupunya sendiri. Syekh Quro sendiri berasal dari Champa. Jadi apa yang aneh dengan pertemuan mereka??? Pastilah Abdullah Umdatuddin juga mengetahui siapa sesungguhnya Rara Santang ini sehingga di kemudian disunting dan dinikahi. Jadi pertemuan antara Rara Santang dan Syarif Abdullah ini tidaklah aneh, semua wajar wajar saja, itu karena hubungan kekerabatan antar keluarga mereka sudah lama terjalin. Mereka menikah sekaligus untuk menyambung kekerabatan antar keluarga walisongo dan keluarga kerajaan Nusantara, dan setelah melakukan pernikahan setelah itu Abdullah Umdatuddin kembali ke Mesir/Palestina. Pendapat ini menurut saya masuk akal  karena dalam Babad Tanah Sunda yang Disusun oleh PS Sulendraningrat, terutama pada halaman 28 dan 29 disitu diceritakan bahwa Syarif Abdullah pernah bertemu dengan Para parampok yang berasal dari Kaum Yahudi atau Bani Israil berjumlah 9 orang, namun dalam perampokan Para perampok tahluk ditangan Syarif Abdullah sehingga akhirnya mereka berguru dan belajar kepada Syarif Abdullah sampai syarif Abdullah kembali kemesir. Sehingga dikemudian hari nama Syarif Abdullah sering disebut sebagai Maulana Israil atau Maulana Hud, tidak heran jika dikemudian hari dalam cerita tersebut ada pengikut atau orang kepercayaan Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah bernama dengan ciri Yahudi.

Bagaimana dengan kedudukannya sebagai Sultan Champa? Besar kemungkinan setelah dari Mesir ia kemudian berhijrah untuk berdakwah mengikuti jejak para leluhurnya dan juga keluarga besar walisongo menuju Asia tenggara, Secara geografis memang medan dakwah keluarga besar walisongo lebih banyak di Asia Tenggara dibandingkan di Mesir. Besar Kemungkinan bila jabatan walikota yang beliau sandang itu tidak lama karena beliau sudah lebih dahulu hijrah ke Champa. Kalaupun Keberadaan Syarif Abdullah ini tidak tercatat dalam sejarah mesir, itu karena mungkin kekuasaan beliau hanya merupakan walikota dan bisa saja karena kekuasaanya sebentar sehingga akhirnya tidak tercatat dalam sejarah Mesir. Justru kekuasaan beliau ini lebih berlangsung lama di Champa bahkan malah tercatat dengan lengkap dan detail bahkan keturunan beliau banyak yang jadi Sultan seperti Sunan Gunung Jati dan Raden Fattah. Bisa dikatakan bahwa saat beliau di Mesir itu adalah merupakan “magang” beliau sebelum masuk ke Champa. Kasus tidak adanya keterangan Syarif Abdullah Di Mesir ini mirip juga dengan kasus Raden Fattah yang sejarahnya Di Champa dan beberapa Kesultanan nyaris tidak terdeteksi, karena beliau hijrah dari champa saat masih kecil. Namun demikian secara ilmu nasab keberadaan Abdullah Umdatuddin atau Raden Fattah tetap tercatat rapi dibuku nasab ENSIKLOPEDIA NASAB AL HUSAINI SELURUH DUNIA. Sejarah memang tidak mencatat, namun ilmu nasablah yang menyelamatkan semua data sejarah yang seperti ini. Abdullah Umdatuddin atau Syarif Abdullah ini setelah di champa, sejarahnya nyaris tergerus oleh sejarah dengan lenyapnya Kesultanan champa, dan hal ini juga kasusnya mirip dengan Raden Fattah yang merupakan anaknya, dimana setelah Raden Fattah wafat nyaris sejarah Raden Fattah dan Kesultanan Demak hilang sejarahnya dan cenderung memang banyak yang ingin “menghabisi” sejarah dan nasab mereka. Untungnya data data mereka seperti Abdullah Umdatuddin dan anak-anaknya yaitu Sunan Gunung Jati, Syarif Nurullah, Sultan Babullah, Sultan Abu Muzaffar, Raden Fattah, semua bisa terjaga dengan baik berkat pencatatan keluarga besar Sunan Kudus, kalau tidak ada catatan nasab ini, barangkali sejarah Abdullah Umdatuddin dan anak anaknya hanya tinggal kenangan saja.

Yang dijelaskan diatas ini, adalah kronologis secara jabatan/kekuasaan, Sosiologi, idiologi, geografi, silsilah, dan nama yang kebanyakan hasilnya tidak mengindikasikan adanya korelasi yang kuat, kronologis lain yang juga tidak kalah pentingnya seperti Kronologis pernikahan juga menjadi tanda tanya, secara Ilmu pernikahan hal ini patut dipertanyakan, karena pada kenyataan Syarif Abdullah ini tidak ada istrinya yang berasal dari Mesir. Istri beliau lebih banyak berada dikawasan Asia tenggara. Anak anak beliaupun semua rata rata berada di Nusantara, hubungan beliau dengan raja raja Di nusantarapun terjalin dengan baik seperti dengan Majapahit. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada sejarah yang ada pada Kesultanan Cirebon dan Banten, teori Syarif Abdullah yang berasal asli dari mesir mungkin bisa kita tambahi dan direvisi keterangannya dengan penambahan data dan fakta yang terbaru, toh saya juga yakin ketika munculnya nama-nama seperti SULTAN MESIR atau MAULANA ISRAEL itu pasti ada latar belakangnya, tidak mungkin orang orang menisbatkan sesuatu tanpa ada sebab atau latar belakangnya, termasuk julukan SULTAN MESIR itu, hanya ketidaktahuan kita saja akan latar belakang munculnya gelar itu sehingga  banyak orang sering salah duga akan sejarah munculnya gelar itu. Sehingga karena ketidak tahuan masyarakat, akhirnya yang muncul lebih banyak sisi legenda dan mitosnya saja ketimbang sisi sejarah yang sebenarnya banyak yang faktual. Kecintaan masyarakat kepada tokoh kadang memang berlebihan dengan adanya cerita-cerita yang tidak sesuai dengan logika sejarah. Tapi menyalahkan masyarakat, juga tidak bijak, yang ada mungkin, mari kita perbaiki secara bertahap tentang adanya sumber sejarah yang sering disalahfahami secara berlebihan. Dan saya fikir ini bisa dilakukan oleh para intelektual dari keturunan walisongo.

Secara kronologis sejarah hal ini bolehlah kita pandang secara positif, adanya nama Sultan Mesir atau Maulana Israil atau Sultan Hud yang dinisbatkan kepada Syarif Abdullah membuktikan jika peta penyebaran keluarga besar Ahlul Bait khususnya Klan Azmatkhan itu telah merambah keberbagai belahan dunia. Dalam berdakwah boleh jadi jasa mereka telah tertanam disebagian masyarakat yang mereka temui dan dakwahi, sehingga sebagai bentuk cinta masyarakat yang didakwahi, banyak Nama-nama walisongo yang dinisbatkan dibelakang nama mereka dengan nama daerah-daerah  pada masyarakat tersebut, dan hal itu bisa kita lihat belakang nama mereka atau juga sejarah hidup merekai, Walisongo periode pertama sampai periode berikutnya banyak dibelakang namanya dinisbatkan pada negara negara tertentu, sehingga banyak orang menyangka jika asal usul asli para walisongo itu berasal dari negara negara yang dinisbatkan tersebut. Dan memang hal ini bukan merupakan hal yang aneh jika nama-nama keluarga besar walisongo seolah olah identik dengan negara tersebut, dan menurut saya itu logis dan tidak masalah, karena leluhur Alawiyyin dari mulai masa Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Ali, Sayyidina Husein, Sayyidina Hasan, Sayyidina Ali Zaenal Abidin, Imam Ahmad Al Muhajir, Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro s/d Walisongo semua hidupnya banyak yang berpindah-pindah dari satu negara kenegara yang lain, semua dalam rangka dakwah islamiah. Siapa bilang aslinya Imam Ahmad Al Muhajir itu dari Yaman Hadramaut? Aslinya beliau kan justru berasal dari kota Basrah pada provinsi Irak. Siapa bilang Sayyid Abdul Malik Azmatkhan asli India? Lha wong beliau lahir di Hadramaut Yaman serta besar disana, Siapa bilang Sayyid Husein Jamaluddin Asli Bugis karena dimakamkan di Wajo? , lha wong beliau itu lahir dan besar di India, siapa bilang keturunan walisongo itu asli Jawa atau Melayu?, lha wong leluhur mereka  aja keturunan Arab India,  Makanya saya sendiri kadang bingung kalau ditanya asal usul, kalau saya bilang saya asli Palembang, saya lahir di Jakarta dan saya lebih merasa jadi orang Betawi, kalau dikatakan saya keturunan Palembang justru leluhur saya dari Jawa, lha kalau dibilang Jawa, ternyata mereka ada juga yang berasal dari champa, lha kalau dibilang dari champa ternyata justru asal usulnya dari India, dikatakan India tidak juga karena asal usulnya dari Hadramaut, Dikatakan dari Hadramaut ternyata aslinya dari Irak, dikatakan dari irak ternyata leluhurnya dari Madinah, dikatakan dari Madinah ternyata Asli dari Mekkah, dikatakan dari Mekkah ternyata nenek moyangnya dari wilayah arab lain, dikatakan dari Nabi Adam, Nabi Ada ternyata berasal dari tanah, ujung-ujungnya Akhirnya kembali kepada tanah juga....

Adanya teori yang berbeda-beda tentang asal usul walisongo menurut saya adalah hal yang wajar, namun yang penting adalah ketika teori itu muncul,  teori itu tidak aneh dan terkesan dibuat buat seperti adanya teori yang mengatakan jika walisongo keturunan china, padahal faktanya data keturunan china ini lemah dan tidak jelas sumbernya. Adanya perbedaan sudut pandang tentang asal usul walisongo karena melihat tempat dan asal usul mereka, menurut Faris Khoirul Anam Lc, Dalam bukunya yang berjudul Al Imam Al Muhajir Ahmad Bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib Di Indonesia, Penerbit Darkah Media Malang, Tahun 2010, terutama pada halaman 124 mengatakan bahwa tempat tempat yang dinisbatkan kepada nama walisongo pada dasarnya lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh walisongo daripada merupakan asal muasal mereka yang mereka yang merupakan kaum Sayyid atau Syarif yang merupakan Ahlu Bait atau keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Ahlul Bait Rasulullah SAW sendiri peta penyebaran atau diaspora mereka meliputi belahan dunia, jangan kira Ahlul Bait itu hanya ada di Timur Tengah saja, justru Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW itu juga banyak terdapat dinegara-negara lain seperti kawasan Asia Tenggara seperti Patani Thaillad, Malak, Kelantan, Indonesia, Brunei, Singapura, dll dan Asia Selatan seperti negara negara India, Afganistan, Pakistan, Bangladesh, Sri Langka, dll.  Jadi penisbatan nama pada seorang tokoh seperti walisongo termasuk Abdullah Umdatuddin menjadi Sultan Mesir adalah hal wajar, yang penting nama yang dinisbatkan mereka itu bisa kita fahami dan ada kronologisnya serta bisa masuk pada logik dan psikologi sejarah.

Wallahu A’lam Bisshowab.......

Daftar Pustaka

Agus Sunyoto, Walisongo Rekonstruksi Sejarah Yang Disingkirkan, Penerbit Transpusaka,  halaman  155 – 156, Tahun 2010.
Ahmad Al Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adan Hingga Abad XX, Penerbit Akarmedia, Jakarta, Halaman 303 - 307,  Tahun 2009.
Ahmad Jaelani Halim, Sejarah & Tamadun Bangsa Melayu, Penerbit Utusan Publication Kuala Lumpur oleh Utusan Publication Kuala Lumpur, Hal 211 – 213, Tahun 2008.
Dadan Wildan, Suna Gunung Jati, Petuah, Pengaruh dan Jejak Jejak Sang Wali di Tanah Jawa, Penerbit Salima, Jawa Barat, Halaman 65,  Tahun 2012.
Faris Khoirul Anam, Al Imam Al Muhajir Ahmad Bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib Di Indonesia, Penerbit Darkah Media Malang, Halaman 124, Tahun 2010.
Muhammad Al Baqir, Thariqah Menuju Kebahagiaan, Pengantar  Tentang Kaum Alawiyyin, Penerbit Mizan, Bandung, Halaman 43 – 45, Tahun 1989.
Muhammad Hasan Al-Idrus (Pengajar Sejarah Di Universitas Uni Emirat Arab), Penyebaran Islam Di Asia Tenggara, Asyraf Hadramaut dan Peranannya. Penerbit Lentera, Jakarta, Halaman 74, Tahun 1996.
Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al-Husaini dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Husaini, Ensiklopedia Nasab Al Husaini Seluruh Dunia, Penerbit Madawis,  Tahun 2011.
Syaiful Anam, Laporan Kunjungan Perjalanan ke Canal Suez Ismailiyah Unversity  Cairo oleh Tim GURU BESAR IAIN SUNAN AMPEL JAWA TIMUR pada Tanggal 1 Juli 2010.
Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda- Babad Cirebon, Penerbit ?, halaman 28 dan 29, Tahun ?
Syeikh Faqih Bin Abdullah Fathani dengan Versi Salinan oleh Syeikh Daud bin Abdullah Fathani,  TARIKH FATANI, Penerbit Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniah, Kuala Lumpur, Halaman 34 – 35,  Tahun 1998.
Tim Riset Dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Dari Masa Kenabian Sampai Daulah Mamluk, Penerbit Al Kautsar, Jakarta, Tahun 2013.
Tubagus Rafiudin S, Riwayat Kesultanan Banten,  Penerbit  Keluarga Besar  Makbaroh Kesultanan Maualana Yusuf, Halaman 14, Banten, Tahun 2006.
(Tun) Suzana, (Tun) Otman dan H Muzaffar Dato’ Muhammad,  Ahlul Bait, Keluarga Rasulullah SAW dan Kesultanan Melayu,   Penerbit Crescent News, Selangor Darul Ihsan, Malaysia,  halaman 2006, Tahun 2006.
Yosef Iskandar,  Sejarah Jawa Barat, Penerbit  Ceger Sunten, Bandung, Halaman 258, Tahun 1997.

Rabu, 21 Agustus 2013

Sejarah Syekh Quro (Maulana Hasanuddin Azmatkhan)

Oleh:
Sayyid Iwan Mahmoed Al-Fattah Azmatkhan

Syekh Quro, siapa yang tidak kenal nama yang satu ini, khususnya diwilayah Karawang. Bahkan nama beliau ini juga dikenal dikawasan jawa barat. Dalam Sejarah Jawa Barat dan Betawi nama yang satu ini cukup sering diulas, Ridwan Saidi, sejarawan betawi dalam bukunya yang berjudul "Babad Tanah Betawi, hal 109, penerbit gria media prima, mengangkat nama beliau ini sebagai penyebar agama islam pertama di betawi. Ridwan sangat fanatik dengan sosok Syekh Quro ini, beberapa kali dalam diskusi sejarah betawi, dia selalu bangga dengan sosok Syekh Quro, namun anehnya dia tidak bangga dengan sosok Fatahillah (yang dia anggap membunuh 3000 orang betawi saat membebaskan sunda kelapa). Dalam buku yang saya peroleh dari dinas museum banten lama yang ditulis dengan gaya ilmiyah yang berjudul Riwayat Kesultanan Banten, halaman 5 tahun 2006 olehTubagus Hafiz Rafiudin, sosok Syekh Quro bahkan ditulis dengan jelas sebagai guru besar Agama Islam Di Champa. Pada halaman awal itu nama Syekh Quro langsung tertera sebagai guru besar dan orang yang berpengaruh pada tokoh tokoh atau raja/sultan pada kerajaan Pajajaran, kesultanan Cirebon maupun kesultanan Banten kelak.

Bagi orang Cirebon, Indramayu dan juga banten, nama yang satu ini juga cukup mendapat perhatian, karena sepak terjang dakwahnya yang dapat dikatakan sukses besar. Dakwahnya damai, santun dan cerdik. Beliau berdakwah dengan kemampuan ilmu alqur'annya. Ulama besar yang bergelar Syekh Qurotul’ain ini ternyata nama aslinya adalah Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin. Beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya. Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekkah, penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang ternyata masih merupakan keluarga besar Azmatkhan, karena ayah Syekh Yusuf Siddiq ternyata Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro. Sayyid Yusuf Siddiq sendiri ibunya adalah Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia). Putri Linang cahaya ini dalam kitab Ensiklopedia Nasab Al Husaini dan juga situs Madawis telah melahirkan 3 anak, yaitu: Pangeran Pebahar, Fadhal (Sunan Lembayung), Sunan Kramasari (Sayyid Sembahan Dewa Agung), Syekh Yusuf Shiddiq. Ibu dari Sayyid Yusuf Siddiq ini adalah istri ke 3 dari Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro. Jadi Syekh Quro ini adalah cucu dari Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro, artinya beliau Syekh Quro adalah keluarga besar Walisongo.

Adapun nasab Syekh Quro berdasarkan kitab nasab yang disusun Oleh Al Allamah Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafiz dan Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (TheGrand-Mufti Kesultanan Palembang Darussalam), penerbit Madawis, Tahun 2011 adalah :

1. Muhammad Rasulullah SAW
2. Fatimah Az-zahra
3. Husein As-shibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al-Baqir
6. Jakfar As-Shodiq
7. Ali Al-Uraidhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Ar-Rumi
10. Ahmad Al-Muhajir
11. Ubaidhillah
12. Alwi Al Awwal
13. Muhammad Shohibus Souma'ah
14. Alwi Atsani
15. Ali Kholi' Qosam
16. Muhammad Shohib Marbat
17. Alwi Ammul Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
19. Abdullah Amir Khan
20. Sultan Ahmad Syah Jalaluddin
21. Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
22. Syekh Yusuf Siddiq
23. Syekh Hasanuddin/Maulana Hasanuddin/Syekh Quro Azmatkhan

Pada waktu kedatangan beliau ditanah Jawa, terutama kawasan Jawa bagian barat (saat itu belum ada istilah barat atau timur), wilayah Jawa Bagian Barat masih dibawah kekuasaan Negeri Pajajaran yang saat itu menganut agama Hindu, dengan seorang Raja yang bernama Prabu Anggalarang, Kekuasaan raja pajajaran tersebut meliputi wilayah Karawang dan juga sekitarnya, sebelum datang ke tanah Karawang sekitar tahun 1409 Masehi, Syekh Quro menyebarkan Agama islam di negeri Campa, dari sini beliau lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampai ke Pelabuhan Muara Jati Cirebon, disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati, yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana dan juga oleh masyarakat sekitar, mereka sangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.

Kedatangan awal Syekh Quro tentu tidak mengherankan jika ditinjau dari sisi ilmu nasab dan sejarah, karena sebelum kedatangan beliau, keluarga besar AZMATKHAN atau walisongo sudah periode awal sudah mulai bergerak, dimulai dari Sayyid Husein Jamaluddin, kemudian anak anaknya dan dilanjutkan dengan keturunanya. Jika ditinjau dari nasab dan periodesasi walisongo, beliau ini satu angkatan dengan Maulana Malik Ibrahim dan walisongo angkatan angkatan pertama. Sayangnya memang, dibandingkan dengan walisongo yang lain, sosok beliau ini jarang dikaji dalam bentuk tulisan sejarah atau ilmiah, padahal jasa beliau dalam menyebarkan agama islam itu sangat besar. Jasa beliau ini tidak boleh dianggap kecil, karena beliau inilah yang merupakan pelopor penyebaran agama islam di Jawa Barat, sebelum eranya Sunan Gunung Jati.

Sebelum kedatangan Syekh Quro, dapat dikatakan penyebaran islam belum sporadis, namun sejak kedatangan Syekh Quro ini, Islam mulai mendapat tempat dihati rakyat. namun demikian, penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Quro di tanah Jawa bagian barat ini rupanya sangat mencemaskan Raja Pajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu penyebaran agama Islam dengan titahnya harus segera dihentikan. Perintah dari Raja Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro yang memang pendekatan dakwahnya sangat persuasif. Namun kepada utusan dari Raja Pajaran yang mendatangi Syekh Quro, Syekh Quro mengingatkan kepada utusan tersebut untuk kemudian disampaikan kepada raja pajajaran, "meskipun ajaran agama Islam dihentikan, namun penyebarannya kelak akan meluas hebat, dan justru dari keturunan Prabu Anggalarang nanti akan ada yang menjadi seorang Waliyullah".

Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa, di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang, untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro. Tak lama kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran kembali beserta Rombongan para santrinya, dengan menggunakan Perahu dagang sebagian ahli sejarah mengatakan beliau ikut bersama rombongan titian muhibah laksamana cheng ho (nanti akan dibahas dibawah ini). Dalam rombongan yang bersama beliau diantaranya adalah, Nyi Mas Subang Larang, Syekh Abdul Rahman. Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.

Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Pajajaran, akhirnya rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang.

Menurut Buku Sejarah Jawa Barat Oleh Yosep Iskandar, tahun 1997 Halaman 250, Syekh Quro masuk Karawang sekitar 1416 M. Syekh Quro masuk bersama rombongan besar titian muhibah Laksamana Cheng Ho. Armada Cheng Ho sendiri berangkat atas perintah Kaisar Cheng-Tu atau Kaisar Yunglo, Kaisar Dinasti Ming yang ketiga. Armada laut itu berjumlah 63 kapal, dengan prajurit lautnya sebanyak 27.800 orang termasuk Syekh Quro dan rombongannya. Oleh Karena Syekh Quro atau Maulana Hasanuddin atau Syekh Hasanuddin bermaksud menyebarkan agama islam, Laksamana Cheng Ho mengizinkan, apalagi Cheng Ho dan Syekh Quro sama-sama ahlul bait. Dalam Pelayarannya menuju Majapahit Armada Cheng Ho singgah disebuah daerah yang bernama Pura, nah saat di Pura inilah rombongan besar Syekh quro turun, sedangkan armada cheng ho menuju muara jati cirebon dan beristirahat seminggu lamanya untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa timur.

Syekh Hasanuddin tinggal beberapa lama di Pura Karawang dibawah kegiatan Pemerintahan dan kewenangan Jabatan Dalem (masih bawahan pajajaran). Karena rombongan Syekh quro tersebut, sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan, aparat setempat sangat menghormati dan memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Quro terus menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunnya (sekarang Mesjid Agung Karawang). Dalam berdakwah ajaran Syekh Quro mudah dipahami dan mudah diamalkan, ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.

Di tempat ini pula Syekh Quro menikah dengan Ratna Sondari, putri penguasa daerah karawang yaitu bernama Ki Gedeng Karawang, dari pernikahannya beliau memperoleh putra yang dikenal dengan nama Syekh Ahmad, yang selanjutnya menjadi penghulu (na'ib pertama di Karawang. Cucunya Syekh Ahmad dari putrinya Nyi Mas Kedaton bernama Musanudin yang kelak menjadi lebai di Cirebon dan memimpin tajug sang cipta rasa pada masa pemerintahan susunan jati

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti , Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).

Berita kedatangan kembali Syekh Quro, rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di tanah Jawa, sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya untuk menutup kembali pesantren Syekh Quro. Rupanya ketidak sukaan Raja ini belum pupus terhadap ajaran Islam. Utusan yang datang kali ini ketempat Syekh Quro adalah Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran sendiri yang bernama Raden Pamanah Rasa (kelak bernama Prabu Siliwangi, raja pajajaran yang legendaris). Sesampainya di pesantren tersebut sang putra putra mahkota tersebut justru hatinya tertambat oleh alunan suara yang merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang, ”dalam mengalunkan suara pengajian Al-Qur’an,”. Nyai Subang Larang bin Ki Gedeng Tapa adalah Alumnus pertama Pesantren Quro Dalem Karawang, pesantren Pertama Di Jawa Barat yang didirikan oleh Syekh Quro tahun 1416 Masehi. Silsilah Nyai Subang Larang sendiri masih merupakan kerabat dekat kerajaan pajajaran, sehingga mau tidak mau penguasa pajajaran juga merasa serba salah menyikapi adanya pesantren ini, apalagi dalam berdakwah pondok pesantren ini tidak melakukan kekerasan, pendekatan dakwah pesantren adalah persuasif, damai, santun dan cerdas.

Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya, akhirnya Prabu Pamanah Rasa melamar dan ingin mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya. Pinangan tersebut diterima tapi dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus, yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid. Pernikahan ini membuktikan jika beliau Prabu Pamanah Rasa adalah Islam. Tidak mungkin rasanya tokoh sekelas Syekh Quro akan mudah menikahkan Nyai Subang Larang sembarangan.

Selain itu Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain yaitu, agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja. Semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa. Atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.

Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek. Dan Kekek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan Dua Kalimah Syahadat yang makna pengakuan pada Allah SWT sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan Muhammad adalah utusannya.

Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya. Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya dengan Nyi Subang Larang. Waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Setelah menikah Prabu Pamanah Rasa dan dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.

Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3 anak yaitu:

1.Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi)
2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi)
3.Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Setelah melewati usia remaja Raden Walangsunsang bersama adiknya Nyi Mas Rara Santang pergi meninggalkan Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama besar Syekh Nur Jati Azmatkhan di Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon.

Setelah kakak beradik menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walang Sungsang
Menjadi Pangeran Cakra Buana dengan sebutan Mbah Kuwu Sangkan dengan beristerikan Nyi Mas Endang Geulis Putri Pandita Ajar Sakti Danuwarsih. Sedangkan Nyi Mas Rara Santang waktu pergi ke naik haji ke Mekkah diperisteri oleh Abdullah Umdatuddin (ada yang mengatakan Sultan Mesir, kemungkinan besar mesir adalah tempat belajar atau transit dakwah Sayyid Abdullah Umdatuddin, karena pada era itu tidak ada nama Syarif Abdullah dalam peta pemimpin mesir) , sedangkan Raja Sangara menyebarkan agama islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut. Nyi Mas Rara Santang setalah menikah dengan Sayyid Abdullah Umdatuddin/Sultan Champa/Maulana Hud, Namanya diganti menjadi Syarifah Mudaim, dari hasil pernikahannya dikaruniai dua orang putra, masing-masing bernama Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Abdullah Umdatuddin sendiri memiliki beberapa istri, salah satunya adalah Syarifah Zaenab/Putri Champa binti Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi. Dari Syarifah Zaenab lahir Raden Fattah Azmatkhan/Sultan Demak 1, artinya antara Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah satu bapak beda ibu.

Adapun anak ke 3 dari Prabu Siliwangi yang bernama Raja Sengara kelak bernama Kian Santang yang salah satu keturunannya adalah KH ABDULLAH BIN NUH (ulama besar Indonesia). Kian Santang mengikuti jejak kakak kakaknya untuk menjadi pendakwah, namanya menjadi legenda dibumi jawa barat. Kisahnya cukup banyak, baik itu fakta ataupun mitos. Kian Santang terus bergerak kearah Jawa Barat untuk mengislamkan penduduk penduduk yang masih beragama hindu. Ayahnya sendiri yaitu Prabu Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi masih sering menjadi perdebatan tentang agama yang dianut, apakah ia islam atau hindu. Memang pasca pernikahan beliau dengan Nyai Subang Larang, Prabu Siliwangi kembali ke kerajaannya dimana kondisinya sangat hindu sentris, sehingga keberadaan beliau bisa saja dipengaruhi kembali ajaran lamanya, apalagi intrik intrik dalam kerajaan sangat kuat. istri dan anak-anak Prabu Siliwangi sendiri cukup banyak dan rata rata agama mereka adalah hindu, sehingga boleh jadi mereka juga bisa memberikan pengaruh besar pada keimanan beliau, sebaliknya ketiga anaknya yang lahir dari Nyai Subang Larang terselamatkan akidahnya karena berada pada pendidikan sang ibu yang merupakan jebolan pertama pesantren Quro Dalem Karawang. Ketiga anak beliau dari Nyai Subang Larang ini rupanya tidak kerasan di Kraton Pajajaran dan mereka lebih memilih hidup dengan ibu dan santri santri pesantren Quro. Yang juga harus dikritisi, menurut saya tidak benar jika Kian Santang mengejar ngejar ayahnya untuk masuk islam, apakah memang demikian??? apakah islam mengarjakan paksaan? saya rasa tidak, sebagai orang orang yang dididik oleh keluarga besar walisongo, saya fikir tidak mungkin Kian Santang memaksa ayahnya. cerita darimana ini??? apakah tidak malah merendahkan Kian Santang sebagai seorang pendakwah???. Kita tidak tahu masalah keimanan Prabu Siliwangi diakhir hidupnya. Namun fakta ia menikah secara islam memang benar, karena ia menikah disaksikan Syekh Quro dan juga para Santri Syekh Quro, Adapun bila dikemudia hari di kembali keagama lamanya, wallahu a'lam...hanya Allah yang tahu Jawaban itu semua......

SUMBER :

1. ENSIKLOPEDIA NASAB ALHUSAINI SELURUH DUNIA, OLEH AL ALLAMAH SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN AL HAFIZH & SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN AL HAFIZH (THEGRAND-MUFTI KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM), PENERBIT MADAWIS 2011.
2. SEJARAH JAWA BARAT, OLEH YOSEF ISKANDAR, PENERBIT CV GEGER SUNTEN, BANDUNG , 1997.
3. BABAD TANAH BETAWI, RIDWAN SAIDI, PENERBIT GRIA MEDIA, JAKARTA, 2002.
4. RIWAYAT KESULTANAN BANTEN, TUBAGUS HAFIDZ RAFIUDIN, BANTEN, 2006.
5. CHENG HO-MISTERI PERJALANAN MUHIBAH DI NUSANTARA, PROF. KONG YUANZHI, PUSTAKA OBOR, JAKARTA, 2011
2. DARI SITUS/WEBSITE PON PES RAUDATUL IRFAN (PONDOK PESANTREN DI KARAWANG YANG DIDIRIKAN OLEH KH MEMED TURMUDZI BIN KH ZARKASI -(MURID KH TB AHMAD BAKRI (MAMA SEMPUR).

Senin, 10 Juni 2013

Fakta dan Kesaksian Sayyid Husain Jamaluddin/ Syekh Jumadil Kubra Keturunan Azmatkhan

Oleh:
Al-Mursyid Syekh Mufti Pangeran Panghulu Nata Agama As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh

إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد

Sayyid Husein Jamaluddin atau Syekh Jumadhil Kubro itu adalah mutlak berasal dari keturunan Azmatkhan Al Husaini dan itu diperkuat dengan berbagai catatan dan penelitian para ulama ahli nasab. Jika ada yang menisbatkan nasab beliau kepada fihak yang lain, ini tidak benar dan harus segera diklarifikasi dan diralat. Nasab itu tidak boleh sembarangan untuk dinisbat nisbatkan tanpa ada dasar ilmu nasab yang benar. Jika Nasab Sayyid Husein Jamaluddin atau Syekh Jumadhil Kubro bukan berasal dari Azmatkhan, betapa mengerikannya pendapat ini, karena itu berarti puluhan ribu keturunan dari Nasab Sayyid Husin Jamaluddin yang notabenenya keluarga besar walisongo adalah nasabnya palsu! padahal puluhan ribu keturunan Walisongo itu banyak terdapat ribuan ulama ulama besar....

Tidak benar jika Azmatkhan tidak punya catatan nasabnya, bahkan dari sekian nasab yang ada, dapat dikatakan pencatatan nasab keluarga besar Azmatkhan Alhusaini itu tersusun dengan rapi dan dipegang oleh masing masing keluarga besar walisongo. Dan inilah daftar catatan dan penelitian dari keluarga besar walisongo yang telah disusun oleh Syekh-Mufti Kesultanan Palembang (Mursyid Thariqoh Walisongo)

KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN

KESAKSIAN PERTAMA

Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama’ asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: “Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal hadhramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” .

KESAKSIAN KEDUA

Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata:

“Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul malik Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.

Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang. Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah

Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda. Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.

Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.

Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan didalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.

Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.” Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”.Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.

Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”

Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah.

Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Tailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.

KESAKSIAN KETIGA:

Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: “Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih”.

KESAKSIAN KEEMPAT:

Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Thalib berkta, “”Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih, dan keturunannya masih ada sampai sekarang ini melalui jalur Walisongo di Jawa”.

KESAKSIAN KELIMA:

Penelitian sayyid Zain bin abdullah alkaf dalam kitab Ilhaafun Nazhooir yang dikutip dalam buku khidmatul ‘asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf; MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur Azmatkhan. (Lihat Kitab Khidmatul Asyirah, halaman 1 dan juga di lauhah terakhir kitab Khidmatul Asyirah tentang Walisongo)

KESAKSIAN KEENAM:

Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab Syamsud Zhahirah, yang memvalidkan nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KETUJUH:

Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf Palembang.

Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.

KESAKSIAN KEDELAPAN:

Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif

KESAKSIAN KESEMBILAN:
Fakta dan bukti-bukti catatan nasab dari beberapa kerajaan dan kesultanan yang terhubung sebagai dzurriyyah Walisongo Azmatkhan.  Seperti Kesultanan Palembang, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Giri Kedathon, Kesultanan Ampel Denta, Kesultanan Demak, Kesultanan Jepara dan lain-lain.

KESAKSIAN KESEPULUH:
Rapinya catatan nasab keluarga besar Kyai Marogan, di Palembang, yang menulis bahwa Husain Jamaluddin adalah bernasabkan ke Abdul Malik Azmatkhan dan merupakan leluhur walisongo. Sampai sekarang nasab ini terpasang di Kantor Takmir Masjid Muara Ogan.

KESAKSIAN KESEBELAS:
Rapinya catatan nasab dari keturunan Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta, yang menyimpan data tentang Walisongo, yang menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KEDUABELAS:
Rapinya catatan Nasab dari NAQOBAH KESULTANAN BANTEN tentang keturunan Sunan Gunung Jati, yang merupakan bagian dari Walisongo, yang berasal dari berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KETIGABELAS:
Rapinya catatan Nasab dari KERATON KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM tentang keturunan Sunan Giri dan walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan. Data tersebut tersimpan di Keraton Kesultanan Palembang Darussalam.

KESAKSIAN KEEMPATBELAS:
Rapinya catatan Nasab dari KH. Ubaidillah dan KH. Zaid (Ketua Takmir Masjid dan Ketua Makam Sunan Ampel Surabaya) tentang data keturunan Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Derajat dan Walisongo. yang menyebutkan bahwa Walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.Bisa dihubungi dan dicek ke rumahnya di sekitar pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

KESAKSIAN KELIMABELAS:
Rapinya catatan Nasab dari KH. Kholil Bangkalan dan Habib Bahruddin Azmatkhan yang mendata nasab semua keturunan Sunan Kudus, yang menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KEENAMBELAS:
Rapinya catatan nasab dari KH. Adlan Ali Cukir Tebuireng, Pendiri Pesantren Walisongo, yang mendata nasab keturunan Sunan Derajat dan Walisongo, dan menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KETUJUHBELAS:
Rapinya catatan nasab dari KH. Said Al-Hafizh dan KH.Mustaghfirin Said Al-Hafizh (Pengasuh Pesantren Tahfizhul Qur'an Nurush Sholihin Jember) tentang nasab Sunan Giri dan walisongo, dan menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KEDELAPANBELAS:
Rapinya catatan nasab dari KH.Lutfi Bashari Alwi (Pengasuh Pesantren Ribath Al-Murtadha, Singosari Malang dan Putra Pendiri Pesantren Ilmu Al-Qur'an (PIQ) Malang, dan merupakan murid terdekat Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Makkah Al-Mukarramah) tentang data nasab Walisongo. dan menyebutkan bahwa walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KESEMBILANBELAS:
Rapinya catatan nasab dari keluarga KH. As'ad Syamsul Arifin Asembagus, Situbondo, Jawa Timur dan Kitab Nasab Jawahirul Ansab yang menyebutkan tentang nasab lengkap walisongo, bahwa ia  berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

KESAKSIAN KEDUAPULUH:
Rapinya catatan Nasab dari KH. Damanhuri Batuampar, Madura tentang walisongo berasal dari Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan.

DAN MASIH RIBUAN KESAKSIAN LAINNYA DARI PARA ULAMA KETURUNAN WALISONGO AZMATKHAN

DAFTAR KEPUSTAKAAN (BUKU-BUKU YANG MENJELASKAN) TENTANG AZMATKHAN :

1. Sayyid Ahmad bin Anbah,Umdatuth Thaalib Fii Ansaabi Aali Abi Thaalib
2. Sayyid Aki As-Samhudiy, Jawaahir Al-Aqdaini Fii Ansaabi Abnaai As-Sibthaini
3. Sayyid Abu Thalib Taqiyyuddin An-Naqiibi, Ghaayatu Al-Ikhtishoori Fii Al-buyuutaati Al-’Alawiyyati Al-Mahfuzhati Min Al-Ghayyaari.
4. As-Sayyid Al-Muhaddits Husain bin Abdurrahman Al-Ahdali, Tuhfatuz Zaman Fii Taariikhi Saadaatil Yamani
5. As-Sayyid Abu Fadhal Muhammad Al-Kazhimi Al-Husaini, An-Nafkhah Al-Anbariyyah Fii Ansaabi Khairil Bariyyah
6. As-Sayyid Dhoomin bin Syadqam, Tuhfatul Azhaari Fii Ansaabi Aal An-Nabiyyi Al-Mukhtaari
7. As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Attas, Uquud Al-Almaas
8. Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-Jurjaani Al-Husaini, Musyajjarah Al-Mutadhammin Ansaabi Ahlilbaiti Ath-Thaahiri
9. As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin ‘Amiiduddin Al-Husaini An-Najafiy, Kitab Bahrul Ansaabi
10. As-Sayyid Murtadha Az-Zabiidi, Al-Musyajjir Al-Kasysyaaf Li Ushuulis Saadah Al-Asyraaf
11. As-Sayyid Husain bin Muhammad Ar-Rifaa’i Al-Mishri, Bahrul Ansaabil Muhiith
12. As-Sayyid ‘Ali bin Abi Bakar asy-Syakran, Al-Jawaahir As-Saniyyah Fii Ansaabi Al-Husainiyyah
13. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini Al-Hadrami, Kitab Syamsuzh Zhahiirah
14. As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff, Khidmah Al-’Asyiirah Bi Tartiibi wa Talkhiishi Wa Tadzliili Syamsizh Zhahiirah
15. As-Sayyid Dhiyaa’u Syihaab, Ta’liiqaat Mabsuuthah Wa Mufashsholah ‘Alaa Syamsizh Zhahiirah
16. As-Sayyid Umar bin Alawi Al-Kaff, Al-Faraayid Al-Jauhariyyah Fii Tarraajumi Asy-Syaharah Al-’Alawiyyah
17. As-Sayyid Umar bin Abdurrahman bin Shihabuddin, Syajaratul Alawiyyah
18. As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif
19. As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini, Ansaabi Wali Songo,
20. As-Sayyid Abi Al-Mu’ammar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim Ba’alawi Al-Husaini, Kitab Abnaaul Imam Fii Mishra Was Syaami Al-Hasani Wal Husaini,
21. As-Sayyid Al-Qalqasandiy Al-Hasani, Nihaayatul Urabi Fi Ma’rifati Al-Ansaabi Al-’Arabi,
22. Al-Imam Abi Sa’di Abdil Karim bin Muhammad bin Mansur At-Tamimiy As-Sam’aaniy, Kitab Al-ansaab
23. Al-Imam Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Balaadiri,Kitabu Al-Jumali Min Ansaabil Asyraaf
24. Kemas H.Andi Syarifuddin & Hendra Zainuddin, 101 Ulama Sumsel, Penerbit. Forum Pondok Pesantren Sumatera Selatan, ISBN,978-602-7874-31-2